My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Penyesalan merry


__ADS_3

Olivya dan Mad sedang menikmati makanan masakan Italy. Mereka menikmati dalam diam, hanya suara dentingan sendok yang menjadi pemenuh suara direstoran itu.


Mad merasakan sebuah getaran pada saku celananya. Ia meletakkan sendok dan garpu nya lalu merogo sakunya untuk mengambil ponselnya. Mad melihat sebuah panggilan masuk dari pengawal setianya, yaitu Gaston. Mad menggeser tombol hijaunya lalu menempelkan ponselnya pada telinga.


"Halo? Ya, bagus."


"Ya, seret dia keruangan bawah tanah."


"Ya, aku akan segera datang"


Mad meletakkan ponselnya diatas meja dan melanjutkan aksi makannya


"Siapa yang akan kau taruh diruangan bawah tanah?" tanya Olivya yang mulai sedikit bingung.


"Tidak ada. Lanjutkan makan mu."


Olivya hanya mengangguk patuh tanpa ingin tahu selanjutnya. Walau dalam otaknya selalu bertanya-tanya, siapa dia itu.


***


Mad melangkah menuju ruangan bawah tanah. Olivya berada di taman belakang. Ia sedang asyik bermain dengan peliharaan Mad, yaitu macan. Ya, Olivya sudah tidak takut lagi dengan macan saat melihat kemanjaan macan-macan lucu itu.


Tap tap tap


Suara derap kaki Mad menggema di ruangan yang gelap nan sunyi ini. Mad membuka pintu yang menjadi tempat ruangan penyiksaan untuk siapapun yang berani bermain-main dengannya. Mad tersenyum ala devil saat melihat seorang gadis yang diikat dikursi tua dengan dua pengawal disamping kanan dan kirinya. Mad melangkah maju, ia memegang dagu wanita itu. Wajahnya sudah lebam penuh dengan luka pukul.


"Heh, kau kira aku tak tahu akal busuk mu itu? Dengan berkeliaran di mansion ku, kau anggap siasat mu tak ku ketahui?" desis Mad dengan tajam.


"Hiks... Hiks... Ma-maaf tuan."


"Baru mendekati ajal mu, kau baru meminta maaf?"


Mad menjauhkan tubuhnya dari wanita itu.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Mad dengan tenang.


Wanita itu tetap bungkam. Hanya suara Isak tangis yang menjadi jawaban.


"Jawab!!" bentak Mad dengan membanting botol kaca kosong yang berada didekatnya. Wanita itu kaget dan menjadi-jadi Isak tangisnya.


"Maafkan aku tuan."


"Yang ku minta adalah jawaban, bukan permintaan maaf, bodoh!" celetuk Mad.


"Jika kau tak mau menjawab, ku pastikan botol ini akan melayang di kepalamu." sambungnya.


"Tu-tuan--"


"Merry?"


"Oh shit!"


***


Pria berpostur tubuh besar dan tegap sedang berlari menuju sebuah ruangan. Setelah sampai disebuah ruangan yang di tujunya, pria itu langsung masuk dengan segera tanpa mengetuk pintu. Ia tahu, apa akibat yang ia dapat, tapi ini berita penting untuknya.


"Tuan, Merry tertangkap." ucap pria berpostur tubuh tinggi dan gelap itu pada atasannya.


"Sudah ku duga. Mad tak semudah itu untuk dibohongi." gumam pria muda dengan menaruh kedua kepalan tangannya dibawah dagu.


"Misi apa selanjutnya tuan? Jika Merry sampai membocorkan sesuatu, persembunyian kita akan terbongkar tuan."


"Calm down, Ven. Aku Bryan Werson tidak akan terkalahkan. Kau tahu kan siapa Dady ku? Xander Werson. Mafia yang tak mudah untuk dikalahkan."


Ya, Bryan yang pernah menjadi teman Olivya adalah dalang dibalik semua ini. Dengan segala bantuan dari ayahnya, Bryan melakukan hal semena-mena tanpa memikirkan hasil akhir. Bryan tetaplah Bryan. Orang yang melakukan apapun yang dia suka tanpa ada tujuan yang jelas. Wajahnya yang tampan, memikat semua hati wanita. Ladykiller yang pas untuk julukannya.

__ADS_1


Bryan berdiri dari duduknya. Ia menyuruh Ven, anak buahnya untuk ikut dengannya. Langkahnya yang panjang memudahkannya untuk cepat sampai pada sebuah ruangan yang gelap. Ven sendiri tak mengetahui ruangan apa ini. Selama tiga tahun ia bekerja dengan Bryan, baru kali ini ia melihat sebuah ruangan gelap. Dan tak selangkah pun ia melewati depan ruangan itu.


Bryan menyuruh Ven untuk masuk kedalam. Ven terkejut saat mengetahui apa isi di dalam ruangan ini. Begitu menakjubkan, banyak sekali koleksi pistol dan peluru. Tidak hanya itu, banyak juga cairan-cairan yang mematikan.


"Kita akan memulai perang." gumam Bryan dengan senyuman ala Devilnya.


***


Mad menoleh kebelakang. Disana, Olivya berdiri mematung di depan pintu dengan memegang bulu leher si macan putih.


"Apa yang kau lakukan disini Vya?" tanya Mad dengan lembut. Mad berjalan menuju Olivya. Ia merangkul pundak Olivya dan menyeretnya untuk berdiri di hadapan Merry.


Mad telah mengetahui segalanya. Bukan, baru saja. Mad yang cerdik sudah mengetahui dalangnya, namun ia diam. Ia menunggu pelakunya sendiri yang mengaku. Namun yang ia tunggu tak kunjung dapat. Akhirnya ia melakukan cara kasar untuk membuat Merry buka mulut.


Mad tahu dari awal Merry meminta untuk menjadi maid dimansion nya. Mad sudah mencari tahu sehari Merry bekerja dimansionya. Selama ini ia diam. Ia membiarkan Merry melakukan hal apa saja selama pantauannya. Tapi kali ini Mad tak tahan. Karenanya, gadisnya hampir saja kehilangan nyawa.


"Mad, kenapa kau mengikat Merry seperti ini? Apa salah dia?" tanya Olivya dengan bingung. Sebelum menjawab, Mad menyuruh pengawalnya untuk membawa pergi peliharaan kesayangannya yang dibawa oleh Olivya.


Mad menyelipkan anak rambut Olivya dibelakang telinga. "Kamu ingat saat kamu masuk rumah sakit karena hal apa?" bukannya memberi jawaban, Mad justru memberikan pertanyaan balik.


Olivya mengangguk. "kue." jawab Olivya dengan pelan.


"Ya, Merry lah yang telah memberikan racun pada kue yang kau makan hari lalu."


Olivya terkejut bukan main. Kenapa orang yang ia anggap baik, justru melakukan hal jahat padanya? Pertama Violin yang menculiknya dan sekarang.... Merry? Yang parahnya mencoba untuk membunuhnya. "


Olivya melangkah maju. Ia berjongkok didepan Merry. Bukan dendam yang ia rasakan, tapi rasa kecewa dan kasihan saat menatap kondisi Merry.


"Kenapa kamu mencoba membunuhku? Apa salahku? Apakah aku pernah menyakitimu?" tanya Olivya dengan se-pelan mungkin.


Merry hanya menunduk sambil terisak.


"Maafkan aku, Olv. Aku hanya disuruh." jawab Merry disela isakkan tangisnya.


"Aku terpaksa melakukannya Olv. Adikku dan Ibuku disandera. Kondisinya, Ibuku sedang mengalami sakit pada kelenjar payudaranya. Jika aku ingin ibuku dan adikku selamat, aku harus menuruti perintah orang itu. Hiks... Maafkan aku Olv. Kau boleh memakiku, menamparku, dan bahkan... Membunuhku. Tapi kumohon, hiks... Kumohon padamu, selamatkan adikku dan Ibuku. Aku menyayangi mereka. Aku tak mau melihat mereka disiksa terus-terusan." pinta Merry.


Olivya berdiri. Ia membalikan badannya menghadap kearah Mad.


"Kau percaya dengan ucapannya?" tanya Mad yang seakan tahu apa yang akan Olivya minta pada dirinya.


Olivya menoleh kearah Merry.


"Demi tuhan, aku tak berbohong. Untuk apa aku berbohong dengan membawa nama adikku dan ibuku." ujar Merry.


"Mad, tolong lepaskan Merry dan selamatkan adik serta ibu Merry. Aku tahu kamu marah padanya, tapi jangan menyimpan dendam terus menerus Mad." ujar Olivya dengan tulus.


Mad menarik nafasnya. Sungguh mulia sekali hati gadisnya ini. Polos dan baik. Itulah yang membuat Mad menjadi senang.


"Gaston, lacak keberadaan ibu dan adik wanita ini." perintah Mad yang langsung mendapat anggukan oleh Gaston. 


"Terima kasih tuan. Saya minta maaf,  tak seharusnya saya mencoba meracuni Olivya. Olv, maafkan aku." ujar Merry penuh penyesalan.


"Aku sudah maafkan. Tapi tolong, jangan kau ulangi lagi perbuatanmu itu. Kau tahu?  Nyawa itu sungguh berharga."


Merry mengangguk.


"Ayo sayang, kita keluar. Tidak seharusnya kamu berada disini." ujar Mad dengan menggengam dan menarik tangan Olivya. Tapi Olivya menahan kakinya. Mad mengerutkan dahinya.


"Bagaimana dengan Merry? Lepaskan dulu talinya dan aku akan mengobati lukanya. Entah apa yang kau perbuat padanya Mad." ujar Olivya.


"Aku akan menyuruh anak buahku untuk melepaskan ikat talinya. Dan, dimansion ku banyak maid yang bisa mengobati lukanya, jadi kau tak perlu menyentuh wanita menjijikkan itu."


"Mad, jaga ucapanmu. Merry pasti sakit hati kau katai begitu."


"Dia tidak akan sakit hati sayang. Sudah ayo."

__ADS_1


Mad dan Olivya melangkah keluar ruangan. Sesuai ucapannya, Mad tak ingkar dengan ucapannya. Anak buahnya melepaskan ikat tali Merry dan maid lainnya mengobati luka lebam diwajah Merry.


"Mad, kenapa kau selalu bermain kasar? Dia wanita, tak sepantasnya kau berlaku kejam seperti itu." tanya Olivya sambil menaiki sebuah tangga dengan Mad berada disampingnya.


"Itulah aku. Aku tak segan-segan melakukan hal kasar pada seseorang yang telah berani menyakiti orang yang aku sayangi." balas Mad.


Olivya menoleh sekilas, saat sudah berada diatas, Mad langsung mengajak Olivya ke sebuah ruangan yang menjadi ruang kerjanya. Mad menyuruh Olivya untuk duduk disofa yang ada di ruangan kerjanya. Ia meminta Olivya untuk menemaninya selama ia bekerja.


"Mad, aku akan mengambil ponselku." Olivya yang sudah berdiri dan siap untuk meninggalkan ruangan kerja Mad.


"Duduk, aku akan menyuruh maid disini yang mengambilkannya."


Mad memencet sebuah tombol pada telepon kuno tapi masih terlihat elegan.


"Bawakan ponsel gadisku yang berada di... " Mad menatap Olivya untuk meminta jawaban dimana letak ponselnya.


"Di taman belakang." jawab Olivya yang seakan mengerti arti tatapan Mad.


"Ditaman belakang."


Mad menutup panggilannya dan melanjutkan pada titik fokusnya, yaitu laptopnya. Tak lama kemudian, suara ketukan dari luar terbunyi. Spontan Olivya langsung berdiri dan membukakan pintu. Didepan pintu, seorang maid yang sudah hampir tua dengan membawa ponsel milik Olivya. Maid itupun tersenyum sembari memberikan ponsel nya kepada Olivya. Olivya pun tersenyum dan mengambil alih ponsel itu.


"Terima kasih." ucap Olivya dengan tulus.


Maid itupun mengangguk dan pamit untuk pergi. Olivya kembali masuk kedalam ruangan Mad dan tak lupa menutup pintunya. Ia kembali duduk disofa. Matanya tertuju pada Mad yang tak beralih sedikit pun dari laptopnya. Olivya hanya mengedikkan bahunya tanda tak mau tau, kini ia hanya memfokuskan titik perhatiannya pada ponsel.


Hal yang pertama ia buka adalah aplikasi instagram. Ia menganga tak percaya, dalam waktu dua hari, pengikutnya sudah mencapai sepuluh ribu. Apa yang membuatnya langsung tenar secepat itu? Olivya mulai mengambil foto dirinya untuk diposting. Dan benar saja, baru semenit ia memposting, sudah seratus orang yang memberikan like padanya.  Tak hanya like, komen pun masuk secara beruntun.



❤️ 16.578 like's


Anglipa_12  omgggg, you so beautiful. Madrick never leaving you.


Nicolas567 Madrick is bastard man. You can with me.


Herhinohl God bless you. You're his choice.


Verlynngsh Oh My God... Olivya, you so beautiful. I miss you so much:'3


Olivya terperangah. Benar apa dugaannya, ia tenar karena Mad. Ia segera beralih membuka akun Mad. Disana, hanya banyak postingan foto jas formal dan juga pistol.


"Are you hungry? Want eat something?" Mad membuyarkan perhatian Olivya.


Olivya menoleh, "Why not?" balasnya.


"What you want?"


"Emm, i think, i want eat pizza."


Mad mengangguk dan menelpon salah anak buahnya untuk membelikan permintaan Olivya.


"Why you stalker my account?" tanya Mad pada Olivya tanpa melihat Olivya sedikitpun. Matanya tetap tertuju pada sebuah laptop.


"How you know?"


Mad mengalihkan pandangannya kearah Olivya, "I know."


Jawaban dari Mad membuat Olivya berdecak malas. Hal baru yang ia dapatkan dari Mad adalah, Mad akan menjadi cuek dan dingin ketika ia sedang sibuk.


"I'll sleep." ujar Olivya sambil mengubah posisi duduknya menjadi berbaring diatas sofa.


"Okay, sleep well."


TBC

__ADS_1


__ADS_2