My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
47. Party and Engagement


__ADS_3

"Are you feel happy, my girlfriend?"


Olivya menoleh kebelakang. Matanya menangkap sosok Mad yang berjalan mendekat kearahnya sambil membawa sebuah rangkaian bunga berukuran besar. Tidak hanya itu, Mad juga sudah berganti memakai tuxedo hitam yang sangat pas melekat pada tubuh kekarnya.


Mad berjalan mendekat. Dalam hati, Olivya terus mengagumi ketampanan Mad. Beruntunglah Olivya mendapat hati batu sosok Mad. Satu wanita pun tidak bisa mengetuk pintu cinta hati seorang Mad, selain Olivya. Langkah Mad semakin mendekat dan setelah itu berdiri tepat dihadapan Olivya. Disini sangat ramai dan banyak orang yang sedang melihat kedua insan yang sedang dilanda asmara.


Mad memberikan rangkaian bunga berukuran besar itu pada wanita cantik didepannya. Seketika lampu menjadi redup, dan hanya menyorot kearah Mad dan Olivya.


"Happy birthday to you, my baby girl. I hope, the best thing is always with you. Thank you for opening my love heart. Thank you for successfully changing half of my dark side."


"Mulut terkadang sulit untuk mengungkapkan kata-kata. Tapi hati bersorak bebas meluapkan segala bentuk perasaan. Terima kasih karena memilih untuk tetap bersama ku, menerima segala sisi buruk ku dan merubah sisi gelap ku. Saya seorang Madrick Vallencio, sang pemilik hati Olivya Macrime ingin mengatakan..."


Mad men-jeda ucapannya. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu. Saat itu juga, Mad berlutut didepan Olivya.


"Will you marry me, mrs Olivya Macrime?"


Semua orang bersorak ria. Olivya menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya yang bebas. Ia tak percaya, malam ini adalah malam yang begitu indah bagi Olivya. Air matanya menetes tanda tangisan haru. Kebahagiaan yang sesungguhnya, baru akan ia mulai dengan Mad. Semua drama yang berlalu,  akan tetap menjadi bumbu penyedap rasa.


"Yes, i do." balas Olivya.


Perut Mad sedang berbunga. Ia memasangkan cincin di jari manis milik Olivya. Sedetik kemudian, Mad berdiri dan langsung mengecup bibir Olivya sekilas.


"Sekarang saatnya potong kue!!" sorak salah satu remaja pria yang merupakan teman satu kampus Olivya. Sorakan nya pun disetujui oleh semua orang. Kue yang begitu indah mendominasi warna biru, persis warna kesukaan Olivya.


Potongan pertama dan suapan pertama untuk Mad tentunya. Karena yang mendampinginya sejak tadi hanya Mad. Setelah menyuapi Mad, Olivya berniat menyuapi suapan kedua untuk ayahnya.


"Ayah? Dimana ayah?" tanya Olivya dengan bingung.


"Ayah? Apakah Armon ada disini?" tanya Adnan yang tak lain adalah ayah kandung Armon dan kakek dari Olivya.


"Ayah disini, sayang." semua orang menoleh kearah seorang laki-laki paruh baya yang berdiri didekat ayunan. Armon melangkah mendekat dan berdiri tepat didepan putrinya.


Keluarga Macrime pun terkejut akan kedatangan Armon. Tak terkecuali Lamora, sang ibunda dari Armon yang sangat merindukan putra sulungnya.


"Selamat ulang tahun, putriku. Diberkati lah kau, nak." ujar Armon. Setelah itu, ia


Mencium puncak kepala Olivya dengan cukup lama.


"Armon?" gumam Lamora.


Armon menoleh kearah belakang. Ia tersenyum sambil menatap wanita tua yang duduk diatas kursi roda. Kakinya melangkah mendekat dan langsung memeluk erat Lamora.


"Ibu merindukanmu." bisik Lamora.


Setalah itu, Armon memeluk secara jantan ayahnya-- Adnan-- yang berdiri dibelakang kursi roda.


Terima kasih, Tuhan. Engkau telah mengembalikkan semua kebahagiaanku. Mad, aku berterimakasih juga untukmu. Mungkin, dirimu lah perantara Tuhan untuk menyampaikan kebahagiaan ku. batin Olivya.


"Let's Party!!"


Teriak salah satu rekan kerja Mad.


Semua orang berpesta. Tak sedikit para remaja gadis dan laki-laki, berenang dengan hanya menggunakan bikini bagi yang perempuan dan boxer pendek untuk laki-laki. Mereka bersenang-senang sambil mengangkat tinggi-tinggi minuman beralkohol.


"Hai, Vya."


Olivya yang sejak tadi diam tak tahu harus melakukan apa, tiba-tiba ada seorang gadis yang datang dan menyapanya. Olivya menoleh sambil tersenyum dan menyapa balik dua gadis yang datang padanya.


"Apa yang kau lakukan disini? Tidak menikmati pesta mu?" tanya remaja perempuan itu yang memakai gaun indah dengan rambut pirang yang dibiarkan terurai.


"Aku tak tahu harus melakukan apa." balas Olivya.


Kalian tahu kan, jika Olivya di kampus tidak dekat siapapun selain Carson? Hal itu membuat Olivya canggung untuk berinteraksi dengan semua orang.


"Hei, ini pesta mu. Kau bebas melakukan hal apapun."


Olivya diam sejenak, "Meskipun ini pesta ku. Tanpa seorang teman, aku tak bisa melakukan hal apapun."


Gadis berambut pirang ini tertawa kecil, "Oh ayolah. Kita ini teman mu, sayang. Benarkan Yun?"


Gadis berambut pendek yang disebut dengan Yun, memiliki nama asli Yuna. Gadis cantik yang memiliki darah keturunan dari Korea.


"Ya, itu benar. Olivya, kita bisa teman mu. Jangan takut atau ragu sama kita. Karena kita nggak pernah berbuat jahat. Aku tahu, kau tertutup ini sebab Caryn kan? Dia gadis yang nakal memang. Kita juga pernah jadi bahan bullyan mereka." kata Yuna.


"Sudahlah. Tak baik membicarakan orang. Oh iya, kita belum sempat kenalan. Mungkin kalian tau nama ku, tapi aku belum mengetahui nama kalian." ujar Olivya.


"Kenalin, aku Vale. Aku asal Belanda, tapi orang tua ku memutuskan untuk pindah ke negara ini." ujar gadis berambut pirang itu.

__ADS_1


"Dan ini, Yuna. Dia teman aku sejak masih duduk di bangku menengah pertama. Dia memiliki darah asli Korea." sambung Vale.


"Hai, Vya." sapa Yuna.


"Hai." balas Olivya.


"Apakah kau mau minum?" tanya Vale.


Olivya terdiam. "Tidak, aku tidak minum." tolak Olivya dengan lembut.


Olivya sedang mengandung. Jika ia akan meminum-minuman seperti itu, tidak akan baik untuk kandungannya. Apalagi, usia kandungannya masih dua Minggu.


"Oh ayolah. Minum sedikit tidak akan membuatmu mabuk, kan?" paksa Yuna.


"A-aku, tak menyukainya."


Vale mengangguk. "Baiklah. Oh iya, boleh aku meminta sedikit kue mu?" tanya Vale dengan malu-malu.


"Tentu."


Olivya mengambilkan Vale potongan kue. Ia membawa tidak hanya satu, namun dua. Olivya akan juga membawakan Yuna kue meskipun, gadis itu tak memintanya.


"Terima kasih, Vya." ujar Vale dan Yuna secara bersamaan.


Olivya tersenyum, "Sama-Sama."


"Vya, comehere."


Olivya, Yuna dan Vale menoleh kearah sumber suara bariton. Mad, pria itu berdiri diantara tiga rekan kerjanya yang masih-masing dari mereka membawa gelas berisi minuman bir. Olivya pamit pada Yuna dan Vale untuk menyusul kearah Mad.


"Pergilah, kami akan menunggumu disini." ujar Vale.


Olivya berjalan menuju kearah Mad. Ia melihat rasa canggung dengan berdirinya dia diantara orang-orang sukses. Untuk meminimalisir kegugupannya, Olivya menautkan kedua telapak tangannya untuk menyalurkan rasa gugupnya.


"Dia terlihat sangat muda sekali untukmu, Mad." ujar salah satu pria yang lebih tua dari Mad.


Mad tertawa renyah. "Ya, aku tak mencari yang tua seperti dirimu." balas Mad dan langsung dibalas gelak tawa dari ketiga rekan kerjanya.


"Haha, kau menyindirku?"


"Itu faktanya."


"Aku lihat, tadi mereka tertawa. Ada apa? Apakah mereka mengejek mu?" tanya Vale dengan wajah yang menunjukkan ekspresi tidak terima.


"No. Mereka tertawa karena Mad membuat lelucon dengan pria tua itu."


"Mad bisa membuat lelucon? Setahuku, dia pria yang amat dingin dan datar." tanya Yuna.


Olivya tersenyum. "Dia hanya berada diluar saja seperti itu. Sebenarnya, Mad pria yang baik."


A few moments letter


Pesta telah selesai. Olivya berjalan masuk kedalam mansion tanpa beralas kaki. Ia menenteng kedua sepatunya lantaran, merasa sangat pegal. Ditaruhnya sepatu yang semula ia tenteng tadi diatas rak sepatu khusus dan langsung berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.


Tangannya meraih gelas kaca berukuran sedang dan siap mengambil minuman dingin. Saat hendak membuka kulkas, sebuah tangan menghentikan pergerakannya. Olivya menatap siapa pemilik tangan itu. Mad, pria itu datang dengan pakaian kemejanya yang sudah kusut.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Mad.


Olivya menghembuskan nafas dengan berat. "Kau buta? Aku mengambil minuman."


"Tidak."


"Kenapa? Apakah Kau membiarkan aku mati karena menahan haus?"


"Tidak."


"Terus?"


Mad melepaskan pegangan tangannya pada tangan Olivya. Ia menarik tangan Olivya untuk menuju meja makan dan menyuruh Olivya duduk menunggunya disana. Olivya melihat punggung besar Mad yang bergerak ke sana kemari. Ia tak tahu, apa yang Mad lakukan disana.


Tak membutuhkan waktu lama, Mad kembali dengan membawa segelas susu. Bisa ditebak, jika susu itu adalah susu kehamilan.


"Minum susu ini." pinta Mad sambil menyodorkan gelasnya kearah Olivya.


"Mad, aku tak ingin minum su-"


"Minum." potong Mad dengan suara tegas.

__ADS_1


Mau tak mau, Olivya harus meminum susu itu. Dengan cepat, ia menghabiskan susunya dan sedikit membanting gelas susunya yang sudah kosong. Ia berjalan menjauh dan menaiki tangga meninggalkan Mad di meja makan.


"Kenapa dia itu? Ingin sekali aku minum air dingin, tapi kenapa dia sok ngatur?" gerutu Olivya sambil mengelus perutnya yang mulai buncit. Ingin segara tidur, Olivya melepaskan gaunnya yang menggantinya dengan piyama tidur. Membersihkan make up terlebih dahulu dan lalu membasuh mukanya.


Ia meraih ponselnya untuk ia cas. Setelah itu, dibaringkannya tubuh nya diatas kasur dan tak membutuhkan waktu lama, matanya terpejam.


"Kau sudah tidur?"


Mad yang baru saja masuk dan melihat gadisnya sudah berbaring memunggunginya. Untuk memastikan bahwa Olivya benar-benar sudah tidur, Mad berjalan memutari setengah tempat tidur dan berhenti tepat didepan wajah Olivya.


Mad berjongkok didepan wajah Olivya. Ditatapnya wajah imut nan menggemaskan itu, baginya. Nafas kekasihnya ini benar-benar sudah teratur. Ia tahu, pasti Olivya sangat kecapean. Belum lagi tadi siang, ia ajak berjalan-jalan.


"Good night, my little angle." bisik Mad dan langsung mencium pipi gembul milik Olivya. Yang paling disukai Mad adalah tubuh berisi milik Olivya saat hamil.


***


Olivya mengerjapkan matanya saat sinar matahari masuk melalui celah-celah gorden. Ia merasakan, sebuah tangan kekar yang memeluk tubuhnya dari belakang. Ia tahu siapa pemilik tangan tersebut. Disingkirkan perlahan tangan kekar milik Mad yang berada diatas perutnya untuk memudahkan ia beranjak dari tempat tidur.


"Jangan bergerak, tidur lah." gumam Mad dengan suara serak yang terdengar begitu seksi.


"Mad, singkirkan tanganmu. Aku mau pergi mandi." ujar Olivya.


"Ehm, berikan satu kecupan morning kiss, aku akan melepaskan mu."


"Tidak. Aku masih marah padamu."


"Kenapa?" tanya Mad yang masih memejamkan matanya.


"Semalam kau melarang ku untuk minum air dingin."


"Minum air dingin di malam hari tidak bagus untuk usia kandungan mu yang masih sangat muda."


Olivya terdiam. Ia melepaskan secara paksa tangan Mad dari perutnya. Entah mengapa, masa kehamilannya ini, ia merasa sangat sensitif terhadap Mad dan tak ingin melihat wajah pria itu. Apakah ini semua kemauan dari anaknya?


Olivya masuk kedalam kamar mandi setelah berhasil melepaskan dirinya dari kukungan Mad. Segera mungkin ia membersihkan diri dan turun kebawah untuk sarapan. Btw, ayah Olivya sudah tidak berada di mansion ini lagi. Keluarga Macrime telah membawa ayahnya. Ini membuat Olivya sedih, karena tidak bisa sarapan pagi lagi bersama ayahnya.


"Kau tak mau bangun?" tanya Olivya dengan posisi berdiri disamping ranjang, sambil meletakkan kedua tangannya dimasing-masing pinggang kanan dan kiri. Mad tak menyahut, seakan-akan pertanyaan dari Olivya hanyalah angin lewat.


"Whatever." gumam Olivya dan langsung beranjak keluar kamar. Saat hendak menuruni tangga, ia tak sengaja melihat anak kucing sedang berguling-guling diatas lantai. Apa yang dilakukan kucing itu, berhasil merebut perhatian Olivya. Sesegera mungkin Vya mengambil anak kucing itu dan digendongnya. Berjalan menuruni tangga sambil menggendong anak kucing yang lucu ini, membuat Vya senang.


Saat sudah sampai diujung tangga, Vya bertemu dengan nenek Mad yang sedang menata makanan. Hal seperti itu sudah sering kali Zakira kerjakan selama di mansion, cucunya. Padahal, Vya dan Mad sudah melarangnya dan harus beristirahat menikmati kenyamanan fasilitas kemewahan mansion Mad. Tapi, Zakira menolak. Ia jika berdiam terus, itu akan menyebabkan dia mudah sakit.


Di umurnya yang sudah tua ini, Zakira harus terus berolah raga. Dengan cara membantu pekerjaan kecil para maid.


"Grandma, kau duduk saja. Aku yang akan membantu mereka menata makanan." pinta Olivya sambil melepaskan gendongan anak kucing ke bawah.


"Lebih baik Grandma saja. Kamu sedang hamil, nggak baik kalau kelelahan." balas Zakira.


Olivya terdiam. " Berta, tolong suruh yang lain menata makanan dimeja. Biarkan Grandma duduk dan menikmati makan paginya."


"Kau ini."


Vya tersenyum, "Ayo duduk, Grandma."


Tak lama kemudian, Jon datang sambil raket badminton yang baru saja ia gunakan untuk bermain di lapangan komplek bersama para orang tua lainnya.


"Bagus sekali. Usai olah raga, aku langsung makan." ujar Jon dan langsung dibalas gelak tawa dari Zakira dan Olivya.


Mereka bertiga duduk dimeja makan. Zakira menanyakan keberadaan Mad pada Olivya, dan Olivya menjawab jika Mad masih tidur. Ah, mungkin pria itu sangat kelelahan.


"Kalian tak mengajakku?"


Olivya, Zakira, dan Jon menghentikan aktivitas sarapan paginya. Mereka menoleh kearah sumber suara yang terdengar seperti orang bangun tidur.


Dan benar saja, Mad datang sambil mengenakan celana training olah raga dan telanjang dada.


"Kita lebih menyenangkan sarapan tanpa mu." seru mereka bertiga secara bersamaan dan tertawa bersamaan.


Mad memasang wajah masam dan langsung duduk berhadapan dengan Olivya. Dengan wajah dongkol, Mad mengambil sarapan paginya dengan sedikit agresif.


"Kau marah, kami senang." seru lagi mereka bertiga secara bersamaan.


"Diam lah."


TBC


Rindu nggak nih? Awokawoak. Beberapa hari ini, nggak mood dalam nulis wkwk.

__ADS_1


Love you all:3


Tinggalkan komentar kalian, ya. Wkwk.


__ADS_2