
Mad meletakkan sendok dan garpu diatas piring. Makanan telah habis, tapi kekesalannya pada mereka bertiga-Olivya, Zakira dan Jon yang telah membuat mood pagi harinya hancur.
"Mad, aku ingin berkunjung ke Ayah." pinta Olivya.
Mad menatap Olivya sekilas. "Hm." balasnya.
"Ish, yang hamil aku, kenapa kau yang marah?" tanya Olivya.
Jon mengangguk. "Iya, betul. Apakah kau hamil juga?"
Mad menghela nafas dengan berat. "Kalian ini kenapa? Kalian lah yang membuat aku menjadi kesal. Kenapa kalian seakan-akan menyalahkan semuanya padaku?"
"Kau memang salah. Sudah sana mandi, lalu antarkan aku ke rumah Grandpa Adnan."
"Berangkat saja sendiri sana."
Olivya terdiam. "Oke. Aku akan berangkat bersama sopir."
"Kami akan menemani mu nak, kau jangan khawatir. Iya kan, Jon?" sahut Zakira.
"Ya, benar itu. Jika Mad tidak mau, kami bersedia."
"Whatever. Pergilah kalian, otakku akan semakin panas jika kalian masih menunjukkan muka di depanku." ketus Mad dan langsung pergi berlalu.
Zakira, Jon dan Olivya tertawa. Ia senang membuat Mad kesal dan marah. Jika semalam adalah hal yang begitu berkesan bagi Mad, tapi paginya adalah seperti hari terkutuk baginya.
"Kapan terakhir kali dia merasa benar-benar kesal?" tanya Jon sambil menatap Olivya.
Tampak wajah Olivya seperti berpikir. "Saat aku berdekatan dengan Carson." gumam Olivya.
"Carson? Sepupu laki-laki mu itu?"
Olivya mengangguk. Sedetik kemudian, Jon dan Zakira tertawa. Ia tak habis pikir jika Mad se-cemburu itu terhadap sepupu laki-laki gadisnya.
******
Milan, Italy 12.00 pm
Olivya dan Mad keluar dari dalam mobil. Mereka berdua sudah sampai didepan mansion megah milik keluarga Macrime. Hari cukup terik, namun udara tidak terasa begitu panas.
Mad menggandeng telapak tangan kanan Olivya untuk melangkah masuk bersama kedalam mansion. Kedatangan mereka langsung disambut hangat oleh penjaga gerbang. Tanpa harus bertanya ada keperluan apa, sang penjaga gerbang tau dan langsung mempersilahkan Olivya dan Mad masuk.
Mad semakin mengeratkan genggamannya saat melihat Carson yang berjalan kearah mereka. Mata Olivya menatap Mad sambil menggelengkan kepala.
"Kalian sudah datang?" tanya Carson
"Kau buta?" sahut Mad dengan ketus.
Carson membuang nafas dengan berat. "Ayo masuk."
"Tanpa kau persilahkan, aku akan masuk."
"Tunggu perintahku."
"Siapa dirimu?"
"Penguasa mansion."
"Adnan Macrime."
Carson terdiam. Yang dikatakan Mad benar adanya. Adnan-Kakek Carson pemilik, sekaligus penguasa mansion.
Mad menarik tangan Olivya untuk masuk kedalam mansion, meninggalkan Carson dibelakang.
"Kau tak seharusnya lancang seperti itu dengan Carson. Siapa tahu, dia pewaris mansion ini." ujar Olivya.
"Kau membelanya?" tanya Mad tanpa menoleh kearah Olivya.
"Ti-tidak. Hanya memberimu peringatan."
"Kau bodoh untuk itu."
Olivya membuang muka. Ia benar-benar jengkel pada Mad.
Para maid dan yang lain menyambut kedatangan Olivya dan Mad dengan sangat hangat. Armon-ayah Olivya langsung memeluk putrinya dan memberikan kecupan di dahinya. Olivya tersenyum dan membalas mencium dahi ayahnya.
"Apakah aku bisa mendapat jus jeruk dingin?" ujar Mad sambil berjalan menuju Adnan.
Adnan tertawa ringan. Ia menepuk pundak Mad secara jantan dan mengangguk. Diperintahkan para maid untuk membawakan jus jeruk. Tidak hanya satu, tapi beberapa gelas sesuai jumlah orang.
"Vya."
Olivya menoleh. Ia melihat kearah seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik. Dia adalah Nancy-Ibu kandung Carson.
"Aunty, how are you?" tanya Olivya sambil berjalan kearah Nancy. Mereka berdua saling berpelukan.
"Baik. Bagaimana dengan mu dan cucuku?" tanya Nancy sambil mengelus perut Olivya yang sedikit terlihat buncit.
"Nancy, dia cucu ku. Bukan cucu mu." sahut Armon dengan nada tidak terima.
"Ouh, aku minta maaf kakak. Tapi, dia juga cucu ku."
Olivya tertawa. Ia mengelus perutnya.
"Eghem. Dua minggu lagi, aku dan Vya akan melangsungkan pernikahan. Aku meminta kalian semua untuk siap-siap dan membantuku menyiapkan segala keperluan." kata Mad yang mampu membuat semua bungkam dan menatap kearahnya.
"Kenapa?" tanya Mad dengan bingung. Semua orang hanya diam.
"Apa dua minggu lagi?" tanya Olivya memecahkan keheningan.
__ADS_1
"Ya."
"Aku belum memilih gaun."
"Aku sudah memilihkan mu."
"Kenapa tak mengajakku?"
"Wanita itu suka menjengkelkan ketika memilih baju."
"Aku tidak seperti itu."
"Itu benar."
Olivya terdiam sambil menatap kearah Nancy. Nancy tersenyum sambil mengelus pipi Olivya yang terisi. Wajahnya mungil, mirip seperti mendiang ibunya.
"Everything, will be fine." gumam Nancy.
****
Dua Minggu kemudian...
Olivya berdiam didepan cermin. Ia melihat wajahnya yang sudah cantik karena polesan make up. Tinggal menunggu seorang perias yang sedang mengotak-atik rambut panjangnya. Rasa takut, gugup, dan bahagia bercampur aduk perasaannya.
Hari ini, adalah hari dimana perjalanan cinta Olivya yang sesungguhnya akan dimulai. Ia tidak hanya punya Mad, tapi sekarang dirinya adalah pemilik Mad seutuhnya. Oh belum. Sebelum ucapan sakral di lontarkan, Mad masih belum miliknya seuntuh-nya.
"Selesai."
Olivya menatap dirinya dari pantulan kaca. Ia tersenyum menatap kagum hasil kerja tangan periasnya. Rambutnya berubah menjadi sangat cantik.

"Olivya."
Gadis bermata lentik itu mengalihkan pandangannya kearah seseorang yang memanggilnya. Bibirnya diangkat membentuk sebuah lengkungan. Olivya berdiri dengan sangat hati-hati karena gaun yang ia kenakan cukup berat.
"Hai, aunty." sapa Olivya.
Nancy melangkah mendekat kearah Olivya. Diusapnya pipi wanita cantik didepannya ini dengan sangat lembut. Takut jika ia merusak riasan wajah Olivya.
"Sebelumnya, aunty meminta maaf..."
Olivya menempelkan jari telunjuknya didepan bibir Nancy. "Sstt, aku tau apa yang ingin aunty katakan. Tidak sepantasnya aunty meminta maaf. Lupakan semua yang telah lalu, aunty. Tersenyumlah, ini hari bahagia ku. Menangis-lah karena bahagia."
Nancy mengangguk, "Berbahagialah putriku."
Olivya meraih ponselnya. "Aunty, kau sangat cantik. Sini biar ku foto dirimu."

"No! Haha, i'm ugly honey."
"Aku memang tidak berniat untuk foto. Sini biar kau yang ku foto."
"Ah, tidak aunty. Aku akan mendapatkan banyak foto nanti."
"Putriku."
Nancy dan Olivya menoleh kearah sumber suara secara bersamaan. Vya tersenyum dan berjalan melangkah kearah seorang pria yang di cintai pertama kali oleh Olivya. Seorang pria yang begitu berarti dalam hidupnya.
Olivya langsung menjatuhkan pelukannya ke Armon. Ingin sekali Olivya mengeluarkan air mata, namun sekuat tenaga ia tahan agar tidak merusak make up nya. Armon melepaskan pelukannya, ia menatap putri kecilnya yang hendak sudah berubah sangat cantik. Armon akan melepaskan putrinya yang baru menginjak umur delapan belas tahun pada seorang pria yang berusia dua puluh delapan tahun.
Jika kalian bertanya kapan Mad berulang tahun? Jawabannya adalah hari ini.
Ini semua sudah sesuai rencana Mad yang ia susun jauh-jauh hari. Jika tanggal pertunangan mereka bertepatan dengan ulang tahun Olivya, maka Mad juga akan membuat tanggal pernikahan mereka bertepatan dengan ulang tahunnya.
"Kau akan bahagia dan mengukir kisah baru dengan seorang pria pilihanmu." gumam Armon.
Olivya menunduk dan mengangguk.
"Jangan pernah lupakan ayah jik..."
"Sst, apa yang Ayah katakan? Itu tidak akan mungkin. Ayah tetap pria pertama yang aku cintai. Jangan berpikiran jika putrimu ini akan melupakanmu. Itu tidak akan pernah terjadi." potong Olivya.
"Sudah siap?" tanya Nancy yang datang menghampiri Armon dan Olivya.
Armon menatap putrinya. Ia bertanya melalui tatapan dan Vya pun mengangguk.
*****
Olivya memegang tangan Armon dengan kuat. Dia sangat takut dan gemetar. Armon dan Olivya berjalan menuju altar, dimana sudah terdapat Mad yang berdiri dengan tegap menanti uluran tangan Olivya.
Melangkah sangat hati-hati itulah yang dilakukan Olivya. Ia takut jika sewaktu-waktu akan jatuh tersandung gaunnya yang panjang ini. Banyak pasang mata yang menatap kearah Olivya.
Setelah berjalan perlahan cukup memakan waktu yang lama, akhirnya Olivya dan Armon telah sampai diatas altar. Armon memberikan telapak tangan Olivya kepada Mad dengan sangat hati-hati. Dan setelah itu, Armon melangkah mundur dan ikut gabung duduk dengan para undangan lainnya.
Mad dan Olivya saling mengucap janji suci. Saat telah diresmikan sebagai suami-istri, mereka berdua pun berciuman. Sorak bahagia serta tepuk tangan memeriahkan pernikahan Mad dan Olivya.
A few moments letter.
Posisi mentari sudah digantikan oleh rembulan. Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Semua orang menikmati party yang diadakan dengan sangat meriah oleh Mad. Olivya sudah berganti gaun selutut berwarna putih tanpa lengan. Rambutnya diurai hingga menambah nilai plus dalam kecantikannya.
Olivya, Verlyn, Violin, Vale, dan Yuna sedang bersenda gurau. Mereka memegang masing-masing gelas berisi alkohol. Kecuali Olivya, gadis itu tidak diperbolehkan minum saat sedang mengandung. Sebenarnya Olivya sangat ingin mencicipi minuman seperti itu. Tapi apa daya? Dirinya sedang mengandung, dan dia juga tak ingin kehilangan janinnya.
"Hei, nona-nona." mereka berlima — Olivya, Verlyn, Violin, Vale dan Yuna menoleh kearah keempat laki-laki yang datang dengan balutan jas. Diantara mereka, terdapat Carson yang sedang mengenakan jas hitam dengan dasi merahnya.
"Hai..." balas para gadis, kecuali Olivya. Ia tak bisa berbuat seenaknya, karena Mad selalu mengawasinya walaupun sedang tidak bersamanya.
"Mau berdansa?" tawar Carson pada Verlyn yang sedang tersenyum malu-malu.
__ADS_1
"Tentu." balas Carson.
Mereka berempat adalah kawan-kawan Carson di kampus. Teman yang sudah begitu dekat dengan Carson. Bahkan, Carson telah menganggap mereka saudara. Mari kita jelaskan satu.
Kevin Ramles yaitu anak laki-laki berusia delapan belas tahun yang memiliki sikap paling jahil.
Roy Martin, anak laki-laki yang memiliki wajah tampan dan dingin. Hampir seluruh gadis susah untuk mengetuk pintu hatinya. Namun, siapa sangka? Roy jatuh cinta kepada Yuna, gadis blesteran Korea.
Dan terakhir,
Alex Rederson, anak laki-laki yang memiliki sikap standard. Ia bisa serius dan juga bisa humor. Tergantung situasi dan keadaan sekitar.
Mereka berpasang-pasangan untuk berdansa dilantai dansa.
Verlyn × Carson
Violin × Alex
Yuna × Roy
Vale × Martin.
"Vya, bagaimana denganmu?" tanya Vale yang merasa tidak enak meninggalkan Olivya sendirian.
"Pergilah, aku–"
"Dia bersama ku."
Semua menoleh kearah Mad yang baru datang.
"Baguslah, ayo. Tinggalkan pengantin baru ini berdua." pinta Carson dan langsung menarik tangan Verlyn menuju lantai dansa. Begitu dengan yang lain, menyusul Carson dari belakang.
Olivya menatap kepergian teman-temannya. Lalu, ia menatap Mad yang juga sedang menatapnya. Entah mengapa, ia merasa sangat canggung dari sebelumnya.
"Mau berdansa dengan ku, nyonya Vallencio?" pinta Mad sambil mengulurkan tangannya.
Olivya tersenyum malu dan mengangguk. Ia menerima uluran tangan Mad. Mereka berjalan menuju lantai dansa. Disana, sudah banyak orang yang berdansa dengan pasangannya masing-masing. Jon dan Zakira pun berdansa sambil bersenda gurau.
"You're my beautiful wife." bisik Mad tepat didepan wajah Olivya dengan pencahayaan yang minim.
"And you're My Dangerous Mafia." balas Olivya sambil berbisik. Tak memperdulikan yang lain, Mad langsung menyambar bibir ranum Olivya. Seketika, cahaya menyorot ke mereka yang sedang berciuman. Banyak pasang mata yang menatap kearah kedua pasangan yang sedang asyik berciuman.
Mad melepaskan ciumannya. Ia mengusap bibir Olivya yang sedikit membengkak akibat ulahnya dengan ibu jarinya.
Olivya menunduk malu. Ia tak berani mengangkat wajahnya. Entah mengapa, jika berciuman dengan kondisi banyak orang, Olivya sangat malu. Ia tahu, jika itu hal yang biasa di Negaranya.
"Oke, selamat malam semua." ucap seorang Mc yang berdiri diatas panggung dengan balutan jas berwarna biru gelap.
Mad merengkuh pinggang Olivya dengan sangat posesif dan Olivya merasa tidak keberatan soal itu.
"Kalian semua tidak tahu kan jika mempelai pria malam ini sedang berulang tahun? Ayo, berikan ucapan selamat kepada Madrick."
Semua orang bersorak mengucapkan selama ulang tahun kepada Mad. Namun, ekspresi wajah Mad datar dan dingin.
"Mad, kenapa wajahmu datar sekali? Mereka mengucapkan selamat untukmu." bisik Olivya.
"Aku tahu."
"Tersenyumlah, hargai mereka."
"Senyumku hanya untukmu."
Olivya terdiam. Ia justru yang memberikan senyuman kepada para tamu undangan dari kalangan kelas elite.
Mad dipersilahkan untuk menuju kearah kue tart agar segera dipotong. Ia maju tentu tidak sendiri, harus ada Olivya yang menemaninya. Baginya, Olivya adalah orang yang sangat berarti untuknya. Sangat berarti.
Potongan pertama tentu saja diberikan Olivya. Kedua untuk kakek dan neneknya, dan yang terakhir untuk ayah Olivya. Semua bersorak gembira. Jam berakhir party hingga tengah malam dan mereka–para tamu undangan, memiliki banyak waktu untuk menikmati pesta malam ini.
Olivya merasa aneh dengan gejolak di perutnya. Seketika, ia merasa mual dan seketika berlari masuk kedalam toilet. Mad yang melihat itupun merasa khawatir. Ia segera menyusul istrinya di kamar mandi.
"Hoek.. hoek.."
Olivya menunduk didepan wastafel sambil mencoba memuntahkan sesuatu. Tidak ada satu pun yang keluar. Seseorang memijat tengkuknya. Dari bau aroma maskulin yang begitu khas, Olivya tau siapa orang itu.
"Kenapa?" tanya Mad dengan raut wajah yang khawatir.
"Tidak tahu. Mungkin aku sedikit sensitif dengan kue tart."
"Kau harus istirahat diatas." pinta Mad.
Olivya menggeleng, "Tidak. Aku akan tetap berada di pesta."
"Kau sedang tidak baik-baik saja."
"Ini hal yang biasa."
"Tap-"
Olivya menangkup wajah Mad. "Tidak apa-apa, Mad."
Madrick memegang tangan Olivya yang berada di wajahnya. "Kau harus tetap bersama ku. Jangan jauh-jauh dariku."
Olivya mengangguk patuh.
Dan benar, Mad begitu menambah keposesifan-nya kepada Olivya. Bahkan, ia juga mengikuti dimana pun Olivya berada. Biarpun istrinya ini bersama teman-temannya, ia tetap akan berada di samping istrinya.
TBC
Uh, lama gk update wkwk.
__ADS_1
Komen dong.