My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
misi Merry Gagal


__ADS_3

Olivya terbangun. Ia melihat langit-langit kamar yang bercat putih. Ia tahu ini kamar siapa, dari bau maskulin yang begitu khas menyambut indera penciumannya.


"Ssshh.." Olivya mendesis saat merasakan nyeri dikakinya. Ia mengingat kejadian yang membuat kakinya sakit. Ia merintikan airmata nya. Ia sangat trauma dengan suara tembakan dan kini ia menjadi korban tembakan.


"Hiks..." Olivya menangis. Nyeri hebat menyerang kakinya.


Olivya mencoba mendudukkan dirinya dengan bantuan kedua tangannya. Cukup sulit baginya karena harus menahan nyeri dikakinya. Setelah berhasil merubah posisi tidurnya menjadi duduk, ia melihat dua gadis yang tengah meringkuk diatas sofa yang lumayan besar. Olivya tahu siapa gadis itu. Ia haus, namun tak tega membangunkan dua gadis itu. Dengan sekuat tenaga, Olivya meraih gelas yang berisi air diatas nakas. Tangannya gemetar saat hendak meraih gelas tersebut.


Pyarr


Suara pecahan gelas membuat Verlyn dan Violin terbangun. Ia mendapati Olivya yang tengah mencoba meraih gelas, namun justru membuat gelas tersebut jatuh. Verlyn pun tergesa-gesa menghampiri Olivya.


"Oliv, kenapa kau tak membangunkan aku jika butuh sesuatu?" tanya Verlyn dengan lembut.


"Aku tak ingin mengganggu tidur kalian." balas Olivya dengan lesu.


"Kau haus? Baiklah aku akan mengambilkanmu minum. Tunggu sebentar. Violin, tolong jagakan Olivya sebentar ya?" Violin mengacungkan jari jempolnya tanda setuju.


Verlyn melangkah keluar kamar.


"Bagaiman keadaanmu? Apakah sudah baikan?" tanya Violin.


Olivya masih sangat canggung dengan Violin. Ia pun hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Jangan malu padaku, aku akan dengan senang hati berteman denganmu." kata Violin, seakan tahu apa isi pikiran Olivya.


Verlyn pun kembali dengan membawa segelas air. "Ini, diminum." Verlyn menyodorkan gelas berisi air putih kepada Olivya. Olivya pun menerima gelas itu.


"Terima kasih" ucap Olivya dengan tulus. Verlyn berjongkok dan mulai mengambil satu persatu pecahan gelas untuk ia buang.


"Kenapa kau repot membersihkannya? Disini banyak pembantu kan?" tanya Violin.


"Mungkin kau terbiasa menyuruh orang lain, tapi aku tidak. Aku dari kecil selalu diajari oleh mama untuk melakukan hal apapun dengan mandiri tanpa bantuan orang lain selagi itu masih bisa kulakukan." ucap Verlyn melanjutkan aksinya.


"Mama? Apakah itu sebutan bagi seorang ibu?" tanya Olivya dengan bingung. Pasalnya, di negara ini lebih sering menyebut dengan sebutan Momy.


"Ya, di Indonesia banyak yang menyebut mama." balas Verlyn. Ia berdiri dan menuju tempat sampah untuk membuat sisa pecahan gelas.


"Aku jadi ingin bertemu Momy. Aku merindukan wajah Momy yang selama ini aku dambakan." ujar Violin dengan mimik cemberut.


"Kalau begitu, ikutlah ke Indonesia." ujar Verlyn.


"Benarkah? Kapan?" tanya Violin dengan antusias.


"Mungkin bulan depan." jawab Verlyn.


"Baiklah, aku ikut."


"Aku juga ingin tahu Indonesia." sahut Olivya. "lama aku tak keluar negara." sambungnya.


"Mintalah izin kepada Mad, jika dia mengizinkanmu, kau boleh ikut bersama kami." ucap Violin.


"Perlu kah aku meminta izin padanya? Apa hak dia?" tanya Olivya dengan jengkel.


"Karena dia yang peduli padamu." balas Verlyn.


"Lupakan soal itu. Aku tak ingin membahasnya." ujar Olivya.


"Aww.. kakiku." Olivya menyibak selimutnya. Luka kakinya mengeluarkan darah.


"Hei, darahnya keluar. Bagaimana ini? Pasti jahitannya buka." ujar Violin.


"Sebentar, akan kupanggilkan maid." Verlyn berlari keluar kamar. Mad telah menonaktifkan password-nya, untuk memudahkan para maid mengurus Olivya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Verlyn datang dengan Merry yang merupakan maid baru dimansion Mad. Merry duduk disebelah kaki Olivya yang sudah mengeluarkan darah cukup banyak. Merry membuka kotak P3K nya.


"Tunggu." Violin menghentikan Merry saat hendak mengusapkan sebuah bubuk dikaki Olivya.


Violin menarik tangan Merry yang memegang botol bubuk dengan kasar. Violin merampas botol bubuk itu. Violin menuangkan bubuk itu diatas kepala Merry.


"Nona, kau apa-apaan? Kenapa kau menuangku bubuk?" seru Merry tak terima.


"Kau pikir aku bodoh hah?! Kau menuangkan bubuk baracun pada kaki Olivya!" bentak Violin.


"Apa?" tanya Olivya dengan bingung.


"Setelah Mad tau apa yang kau lakukan, setelah itu juga aku tak tahu apa yang terjadi padamu." ucap Violin dengan senyum mengejek.


"Nona, kumohon jangan beritahu tuan Mad. Aku benar-benar tak tahu jika bubuk itu beracun. Itu sudah ada dalam kotak P3K ini." rengek Merry sambil memegang tangan Violin.


"Kau benar-benar tak tau apa benar-benar bodoh? Semua orang pun tau ini bubuk beracun bodoh!" desis Violin.


"Sudah-sudah, itu urusan belakangan. Sekarang cepat panggilkan dokter. Lihat, kaki Olivya sudah membengkak." lerai Verlyn. Merry pun mengangguk dan segera keluar untuk menelpon dokter.


"Sial! Gagal!" desis Merry saat sudah sampai depan tempat telepon rumah.


Merry mulai menelpon dokter. "Hallo dok?"


"...."


"Ya benar, ini dengan kediaman Tn. Vallencio."


"...."


"Iya dok anda dibutuhkan. Ditunggu dikamar tuan Vallencio."


"...."


"Hallo?"


"Bagaimana? Berhasil?" tanya seorang pria dari sebrang sana.


"Belum tuan, semuanya gagal."


"Bagaimana bisa?"


"Seorang gadis telah menggagalkan rencana kita."


"Gadis? Siapa? Apakah Mad punya gadis simpanan lagi?"


"Bukan, gadis ini adalah putri Gaston. Dia cukup cerdik juga tuan."


"Waspadalah dengannya kalau begitu."


"Pasti tuan, aku akan berjaga-jaga darinya---"


"Berjaga-jaga dari siapa Merry?" potong seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping Merry.


"Tuan Mad? Eh--- emmm, itu--"


"Jawab! Merry!!" bentak Mad.


"Itt-tu tuan, ak-aku se-sedang telpon dengan kakakku." jawab Merry bohong.


"Lalu berjaga-jaga?"

__ADS_1


"Maksudnya aku harus berjaga-jaga selalu selama dinegara tetangga."


"Jangan membohongiku Merry."


"Aku tidak bohong tuan."


"Baiklah, kau boleh pergi."


Merry melangkah pergi meninggalkan Mad yang sedang tersenyum ala devil.


"Tuan Mad?" Mad menoleh dan mendapati seorang dokter adalannya.


"Gravios? Adaapa kau ke mansionku?" tanya Mad dengan bingung.


"Aku ditelpon seseorang tuan, katanya ada yang membutuhkanku dan aku disuruh langsung ke kamarmu. Kupikir kau sedang sakit?" jawab Dr. Gravios.


"Kamarku?" tanya Mad. Sedetik kemudian ia ingat.


"Oh ****" umpat Mad dan langsung berlari menuju kamarnya diikuti oleh Dr Gravios.


Saat sudah sampai didepan kamar, Mad membuka pintu kamarnya dengan kasar. Ia mendapati gadisnya yang sedang meraung kesakita.


"Olivya" seru Mad dan langsung duduk dipinggir ranjang sebelah Olivya.


"Gravios cepat tangani." perintah Mad. Gravios pun mengangguk.


Dr. Gravios mulai menyutikan bius pada tangan Olivya. Sedetik kemudian Olivya tertidur dan Dr Gravios mulai melakukan tugasnya.


***


Dr Gravios telah selesai menjahit ulang kaki Olivya.


"Jika sudah sadar, jangan suruh dia untuk bergerak dulu selama jahitannya belum kering." saran Dr Gravios. Mad mengangguk.


"Dan ini, tebus obat ini untuk menghilangkan rasa nyeri." Dr Gravios menyerahkan selembar kertas yang merupakan resep obat.


Mad menerima kertas itu.


"Kalian, tolong berikan ini pada Dady kalian. Suruh ia tebus." Mad memberikan resep itu kepada Verlyn dan langsung diangguki oleh Verlyn.


Violin sempat memprotes namun dihentikan oleh Verlyn melewati isyarat tangan. Verlyn menyeret Violin untuk keluar kamar Mad.


"Apa-apaan kau ini? Mau memprotes hm?" tanya Verlyn saat sudah menutup pintu kamar Mad dari luar.


"Iya, bagaimana bisa dia seenaknya menyuruh Dady kita untuk yang menebus obat? Apakah dia tak punya kaki untuk bergerak sendiri?" balas Violin.


"Ya ampun, kau lupa dengan pekerjaan Dady? Dia anak buah Mad."


"Tap--"


Ceklek


"Hai. Saya permisi." ucap Dr Gravios keluar dari kamar.


"Baiklah hati-hati." balas Verlyn. Dr Gravios tersenyum lalu melenggang pergi.


"Ayo ke Dady. Kuharap kau jangan pernah membantah ucapan Madrick, itu sama saja kau setor nyawa padanya." tegas Verlyn.


"Hm, selalu diingat." balas Violin cuek lalu berjalan meninggalkan Verlyn.


TBC

__ADS_1


Love u all :3


__ADS_2