
Mad masih senantiasa menunggu didepan pintu ruangan dimana terdapat Olivya didalamnya. Sudah dua jam berlalu dan sang dokter pun belum menunjukkan akan kehadirannya yang akan membawa kabar gembira untuk Mad.
Bagaimana jika itu kabar buruk?
Rasa khawatir yang begitu mendalam dan rasa takut kehilangan, menyelimuti seluruh isi pikiran Mad. Setelah bertahun-tahun, akhirnya Mad merasakan kembali akan sebuah ketakutan yang mendalam. Pertama kali ia rasakan saat takut kehilangan orang tua yang begitu ia sayangi, dan ketakutan itu muncul kembali untuk gadis yang begitu ia cintai.
Setelah menunggu berjam-jam, dokter pun keluar dengan satu asistennya yang membuntutinya. Mad berdiri dan menanyakan kondisi gadisnya.
"Hampir saja anda terlambat membawa kerumah sakit. Lima puluh persen racun dalam tubuh gadis anda menjalar ke seluruh tubuh. Tapi, jangan khawatir. Kami akan melakukan pencucian darah untuk mengeluarkan seluruh racunnya. Tapi untuk saat ini, kami hanya berhasil mengeluarkan racun yang tidak tercampur oleh darah." jelas sang dokter pria yang sudah menginjak umur lima puluh tahun.
"Cuci darah?" tanya Mad memastikan.
"Ya. Gadismu akan di pindahkan keruangan pencucian darah. Sebelum itu, mohon untuk ditandatangani surat persetujuan penangan pasien agar kami bisa melaksanakan secepatnya. Kasihkan map nya." sang dokter memerintahkan asistennya untuk memberikan sebuah map pada Madrick.
Mad membaca sekilas sebelum akhirnya ia tanda tangani.
"Terima kasih, untuk kamar nya mau yang umum atau---"
"VVIP." balas Mad dengan cepat. Apapun ia lakukan untuk gadisnya, termasuk kenyamanan fasilitas.
"Baik, kami permisi." Sang dokter dan asistennya pun melenggang pergi meninggalkan Mad.
Mad meraup wajahnya dengan kasar, "Sungguh, takkan ada ampun untukmu." desisnya dengan tatapan tajam.
***
Mad melangkah masuk kedalam mansion megahnya. Beberapa bodyguard dan asistennya menunduk hormat padanya. Namun sikapnya hanya acuh dan dingin. Tak mempedulikan sapaan dari siapapun.
"SEMUA!! KUMPUL DISINI!!" teriak Mad menggema di seluruh ruangan mansion yang megah.
Seluruh maid dan juga bodyguardnya langsung berlari untuk berkumpul. Semua berdiri didepan Mad dengan kepala menunduk. Mad menatap tajam satu persatu untuk ia lihat siapa yang memiliki wajah mencurigakan.
"Saya ingin kalian semua jujur dihadapan saya atau saya akan membuat kalian jujur dengan cara saya." ujar Mad dengan tenang namun terkesan mengerikan.
"Siapa yang telah memberikan kue beracun pada Vya?" tanya Mad masih dengan tenangnya.
Hening, tak ada yang berani bicara ataupun mengaku.
"SIAPA?!" bentak Mad dengan keras.
"Berta, kau kepala maid disini. Kau tahu siapa yang membuat kue dan memberikannya pada Olivya?" tanya Mad pada Berta yang selaku kepala maid disini.
"Itu-itu, tu-tuan--"
"Katakan!!" potong Mad dengan suara keras.
"Merry yang memberikan kue itu pada Olivya tuan, tapi saya tidak tahu siapa yang membuatnya." jawab Berta dengan kepala menunduk.
"Merry?" Mad menatap tajam kearah Merry yang tengah ketakutan dan meremas ujung bajunya.
"I-iya tuan?" tanya Merry dengan gugup. Keringat dingin sudah membanjiri pelipisnya.
"Kau dalang dibalik ini semua?" tanya Mad dengan tenang.
__ADS_1
Merry mengangkat kepalanya dan menatap Mad, "Bukan tuan, saya membeli kue itu ditoko roti. Saya tidak pandai membuat kue."
Mad mengangkat satu alisnya. "Apakah yang kau katakan itu benar?" tanya Mad.
"Iya tuan."
"Bisakah aku percaya padamu?"
"Tentu tuan, anda bisa percaya pada saya."
"Kalau tidak bagaimana?"
Merry menelan ludahnya dengan berat. Ia berpikir akan habis riwayatnya.
"Saya hanya bercanda." dengan situasi seperti ini, Mad masih bisa memberikan candaan kecil. Seketika itu Merry bernafas lega.
"Lega? Jangan dulu. Aku akan menunggu, Vya sendiri yang akan memberikan hukuman. Tentunya dengan bantuan kecil dariku."
"Semuanya bubar."
Seluruh maid bubar dan kembali pada tugasnya masing-masing. Mad menuju kearah ruang tamu dan membanting tubuhnya diatas sofa empuk. Ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut.
"Tuan?" panggil seseorang bodyguardnya.
"Adaapa?"
"Ada yang ingin mengirim paket untuk nona Olivya." Karem-- Bodyguard Mad itu memberikan sebuah kotak sederhana yang hanya dibungkus kotak tak besar dan juga tak kecil berwarna coklat.
Mad merampas langsung kotak itu, ia memerintahkan Karem untuk pergi dan setelah itu ia membuka kotak tersebut. Siapapun akan terkejut melihatnya, tapi beda dengan Mad yang hanya diam dengan guratan marah pada wajahnya yang sudah merah padam.
"Gaston!" panggil Mad pada seorang kepercayaannya.
"Ya tuan?" Gaston yang kebetulan lewat dan langsung menghampiri tuannya.
"Cari tahu siapa pengirim kotak sial itu."
"Kotak? Yang mana tuan?" tanya Gaston dengan bingung.
Mad menunjuk tempat sampah yang menjadi tempat pembuangan kotak sial itu dengan dagunya.
Gaston memungut kotak itu dan membukanya. Ia langsung memundurkan sedikit kepalanya dan menutup mata karena terkejut. Tak mau berlama-lama membiarkan kotak tersebut terbuka, Gaston langsung menutupnya kembali.
"Cari tau pengirimnya." perintah Mad dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku.
"Baik tuan. Saya permisi." Gaston melangkah mundur lalu melenggang pergi meninggalkan Mad.
***
Setelah membersihkan diri, Mad kembali kerumah sakit dengan pakaian kasual nya. Bahkan, ia tak nampak seperti seorang mafia yang kejam. Kaos hitam yang melekat pas pada tubuh kekarnya ditambah celana jins hitam dengan sobekan sedikit dilututnya membuatnya sangat tampan.
Mad menemani Olivya yang masih terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit dengan banyak selang yang menempel pada tangannya. Olivya tengah menjalankan pencucian darah dengan kondisi tak sadarkan diri.
Dokter lebih menyarankan untuk melakukan cuci darah setelah Olivya sadar. Tapi Mad menolak, karena jika menunda pencucian darah, racun yang ada pada tubuh Olivya akan menyebar. Apa yang Mad katakan ada benarnya, kita juga tak dapat memprediksi akan kesadaran Olivya saat melihat kondisinya yang lemah.
__ADS_1
Mad berjalan kearah dekat ranjang Olivya dan duduk disebelah Olivya. Tangan gadisnya pun ia genggang untuk menyalurkan kehangatan. Tangan Olivya pun sangat dingin. Mad mengecup beberapa kali tangan Olivya dengan sayang. Ia berdiri dan mengecup pipi, Pucak kepala Olivya dan terakhir bibir Olivya. Cukup lama ia mengecup bibir Olivya, lalu ia lepaskan. Merapikan sedikit rambut Olivya yang menutupi wajah cantiknya. Mata indahnya serta bulu mata yang panjang dan lentik tertutup rapat seperti tak ingin membukanya.
"Sadarlah sayang, kita akan bersama-sama membalaskan dendam kepada orang yang telah meracunimu. Aku tahu kau kuat." gumam Mad tepat didepan wajah Olivya.
Mad mengangkat wajahnya, ia melihat keselilingnya. Sepi, tak ada siapapun selain dirinya dan Olivya. Selang beberapa detik, Seorang wanita datang dengan membawa rangkaian bunga mawar dan melati. Gadis yang sesusia dengan Olivya itu berjalan mendekat kearah Mad dan langsung memeluk Mad dengan erat.
Mad diam, tak memberontak ataupun membalas pelukan gadis itu.
"Aku merindukanmu, Mad." ucap gadis itu dengan kepala yang menyadar pada dada bidang Mad.
"Lepas." ujar Mad dengan santai dan dingin.
"Biarkan seperti ini Mad."
"Aku bilang lepas. Atau kulepaskan secara paksa" mau tak mau, gadis itu melepaskan rengkuhannya.
"Setelah berani menculik gadisku dan bermain-main denganku, kau masih berani menunjukkan muka?" sindir Mad.
"Kau tahu Mad, aku melakukan itu karena aku tak ingin kau dimiliki siapapun. Kau hanya milikku, milik seorang Lexi Arlexa."
Lexi Arlexa adalah seorang gadis yang dulu pernah bertahta dihati Mad. Sebelum Mad menjadi seorang mafia kejam, Mad memperlakukan Lexi seperti ratu kerajaan. Saat Lexi menjadi kekasih seorang Mad, hidup Lexi menjadi berkelimangan harta. Apapun yang ia minta selalu Mad turuti. Bahkan untuk sebuah mansion.
Sejak kedua orang tua Mad mengalami kebangkrutan yang mengharuskan menjual seluruh aset berharganya, Lexi pergi meninggalkan Mad dan memilih jalan dengan lelaki lain yang sukses dan kaya tentunya. Sejak itu Mad menjadi marah dan hidupnya selalu uring-uringan. Selalu bergonta-ganti wanita, pergi ke Club malam, dan pulang dengan keadaan mabuk berat dengan mengingau nama Lexi.
Kembali ke topik. Lexi adalah wanita yang pernah menculik Olivya. Kalian ingatkan saat Olivya diculik oleh seorang wanit? Wanita itu adalah Lexi. Lexi nekat menculik Olivya hanya demi mendapatkan Mad. Dan sekarang Lexi dengan tampang tak bersalahnya datang didepan Mad.
"Aku tak peduli, sekarang tinggalkan ruangan ini." desis Mad dengan tajam.
"Nggak, nggak mau. Aku masih ingin berlama-lama denganmu Mad." tolak Lexi.
"Tinggalkan, atau aku menggunakan cara kasar."
"Baik-baik, aku akan pergi. Izinkan aku untuk pamit pada jalang kecil ini dulu."
"Tutup mulutmu!! Jangan menyebut gadisku seperti itu. Mengacalah, kau lebih rendah dari seorang jalang." bentak Mad.
"Jangan membentakku Mad, aku sangat takut."
Lexi berjalan kearah ranjang Olivya tidur. Lexi menunduk dan membisikan sesuatu didepan telinga Olivya.
"Setelah kau sadar, kau akan terus menderita jalang kecil. Karena kau berani merebut Mad dariku. Cepatlah sadar, permainan sesungguhnya akan dimulai." bisik Lexi, setelah itu ia mengangkat kepalanya.
"Cepat sembuh, Olivya. Aku menunggu keasadaranmu." ujar Lexi yang dapat didengar oleh Mad.
"Cepat keluar dan bawa bungamu, aku tak butuh itu."
Lexi melangkah keluar ruangan Olivya dirawat dengan membawa bunga yang ia bawa tadi.
"Kau akan merasakan penderitaan tiada akhir sebelum Mad menjadi milikku Olivya." desis Lexi saat sudah berada diluar ruangan dengan senyuman ala Devilnya.
TBC
Teman-teman, aku up setiap Sabtu malam Minggu ya, biar kalian ada teman malmingnya gitu hehe. Semoga betah dengan ceritakuh ya..
__ADS_1
Love you all :3
Teman-teman maaf ya kalo banyak typo. Ini aku selesai nulis langsung up, tanpa diteliti dulu. Tandai ya yang typo, thank you ;)