My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Teman Untuk Olivya


__ADS_3

Malam yang sangat kelabu dirasakan oleh Olivya yang sedang duduk di sofa balkon kamarnya. Tinggal di rumah seseorang yang tak ia kenali. Menempati mansion seseorang yang dilengkapi dengan fasilitas yang mewah.


Ceklek


Seseorang membuka pintu kamar Olivya. Tanpa menoleh, Olivya tahu siapa yang masuk kedalam kamarnya. Dari bau maskulin yang sangat memabukkan, sudah tak salah tebak lagi jika itu Madrick.


Mad mendaratkan pantatnya duduk disebelah Olivya yang sedang termanggu.


"Kau sedang apa?" tanya Mad dengan lembut. Olivya menoleh sekilas kearah Mad, lalu kembali menatap kedepan.


"Menatap mirisnya hidupku, sengsaranya jiwaku, dan miskinnya ragaku." jawab Olivya.


"Kau bosan?" tanya Mad sambil menyelipkan anak rambut Olivya kebelakang telinga.


"Sangat bosan. Kau mengganti password pintunya dan aku seperti tahanan yang selalu terkurung dalam sangkar." guman Olivya.


"Itu sengaja kubuat karena aku mengkhawatirkan dirimu. Kau tahu? Diluar sana banyak yang mengincarmu."


Olivya menoleh dan menatap manik mata Mad.


"Untuk apa mereka mengincarku? Kau juga siapa? Selama ini aku hanya tau namamu." tanya Olivya.


"Aku hanya ingin men--"


"Menjagaku? Kamu tidak hak untuk itu. Biarkan aku kembali ke apartemenku, selama aku tinggal bersamamu, ada saja masalah yang menimpaku. Tolong, biarkan aku kembali ke apartemenku, aku merasa aman diapartemenku sendiri." ucap Olivya dengan suara bergetar.


Mad berdiri dengan wajah merah padam yang siap meledakkan amarahnya.


"Jangan mimpi kamu bisa lepas dariku. Kau itu milikku, takkan kubiarkan kau lepas dariku!!" bentak Mad.


"Aku bukan milikmu, aku hanya hewan yang kau jaga, beri tumpangan, dan makan. Aku muak, aku tak bisa bergerak bebas." teriak Olivya dengan airmata yang sudah jatuh.


"Kau hanya milikku. Siapapun tak punya hak untuk merebutmu dariku."


"HENTIKAN!!" bentak Olivya.


"Aku hanya milik Tuhan dan orang tuaku. Kau tak punya hak untuk mengatur hidupku." ucap Olivya dengan suara yang melemah.


"Jangan harap kau bisa lepas dariku." Mad melangkah keluar kamar Olivya.


Brakk


Olivya sedikit terkejut saat Mad membanting pintu kamarnya.


Tangis Olivya pecah. Ia menjatuhkan tubuhnya pada sofa yang ada dibalkon. Tubuhnya bergetar, isaknya kian menjadi.


Tuhan, belum cukupkah penderitaanku? Belum berakhirkah masa sulitku? Peluk aku Tuhan, aku lelah. batin Olivya.


***


Mad menduduki salah satu kursi yang ada dibar mini kamarnya. Mad membuka botol wine dengan sangat kasar. Amarah masih memuncak dikepalanya. Untung saja ia bisa menjaga kendali, jika tidak, ia akan bertindak lebih pada gadisnya.


"Kau milikku Olivya. Kau milikku." guman Mad lalu menegak wine dari botolnya.


"Takkan kubiarkan siapapun merebutmu dariku." sambungnya.


Mad merogo saku celananya untuk mengambil ponselnya.


Ia menelpon seseorang.


"Gaston, Carikan aku jalang dari klub berkelas. Aku butuh pelampiasan." ucap Mad pada Gaston yang ditelponnya.


Mad mematikan sambungannya, tanpa memberi balasan dari Gaston.


"Arrgghhh," gerang Mad dengan frustasi.


Ting tong


Suara bel kamar berbunyi.


"Masuk!" perintah Mad.


Ceklek


Gaston masuk dengan jalang disebelahnya.


"Permisi tuan, sesuai permintaan tuan. Saya bawakan jalang," ujar Gaston.


"Ish, berapa kali kubilang, aku bukan jalang. Kau membawa paksa aku." balas gadis yang berada disebelah Gaston.


"Diamlah," perintah Gaston.


Mad memandangi gadis yang berada disebelah Gaston. Riasan wajahnya luntur, karena sesusai menangis. Mirip seperti Olivya, tubuh mungilnya juga sangat mirip.


"Tinggalkan dia disini," perintah Mad pada Gaston. Gaston membungkuk hormat, lalu melangkah mundur dan menutup.pintu kamar Mad dari luar.


"Siapa namamu?" tanya Mad dengan dingin.


"Na-namaku, namaku Verlyn tuan." jawab Verlyn dengan tubuh bergetar.


"Berbaringlah," perintah Mad.


Verlyn mengangkat wajahnya dengan raut wajah ketakutan.


"Kumohon tuan, jangan apa-apa kan aku. Aku bukan jalang, bodyguard mu menarikku paksa dari klub." pinta Verlyn dengan airmata yang sudah deras.


"Apa yang kau lakukan di klub dengan gaun mini? Bukankah itu disebut dengan jalang?"


"Tidak tuan, aku hanya menghilangkan stress dengan pergi ke klub. Dan malam ini, malam pertama bagiku--"


"Untuk melayaniku?" potong Mad dengan senyum ala devil.


"Tidak tuan, kumohon jangan apa-apakan aku." guman gadis itu.


"Jangan merengek didepanku." perintah Mad dengan tegas.


Mad menarik nafasnya sangat dalam.


"Baiklah, aku takkan menyentuhmu." ujar Mad dan itu berhasil membuat Verlyn tersenyum merekah.


"Namun ada syaratnya." guman Mad.


Perlahan senyuman Verlyn luntur.


"Tinggal lah disini, kau harus jadi teman gadisku agar tak kesepian." guman Mad.


"Jadi teman? Kau punya kekasih tapi menyewa jalang?" tanya Verlyn dengan polos.


"Bukankah di Negara ini sudah terbiasa dengan hal seperti itu?" balas Mad.


"Aku tak tahu," balas Verlyn.


Mad menggerutkan dahinya.

__ADS_1


"Tak tahu? Darimana asalmu?" tanya Mad.


"Ayahku dari Amerika dan Ibuku dari Indonesia. Ayahku dan Ibuku cerai saat aku berusia tiga tahun, dan aku diasuh oleh ibuku di Indonesia." guman Verlyn dengan suara bergetar.


"Kenapa bisa cerai?" tanya Mad.


"Ibuku memergoki ayahku yang tengah bersetubuh dengan jalang murahan." jawab Verlyn dengan airmata yang kembali menetes.


"Baiklah, sekarang keluar dari kamarku jika tak ingin ku sentuh. Bilang pada Gaston untuk mengantarmu kekamar gadisku." perintah Mad.


Dengan rasa lega, Verlyn berjalan keluar kamar Mad. Sebelum mendorong tubuhnya keluar, Verlyn berbalik menatap Mad yang tengah menyesap wine nya.


"Adaapa? Kau berubah pikiran?" guman Mad tanpa melihat kearah Verlyn.


"Bu-bukan. Apakah kau seorang mafia yang bernama Madrick Vallencio? Anak buahmu bernama Gaston mirip namanya dengan tangan kanan seorang mafia, Madrick." tanya Verlyn dengan gugup. Takut Mad akan marah, karena pertanyaannya memang lancang.


"Jadi kau belum tahu tentangku?" tanya Mad balik.


Verlyn menggelengkan kepalanya.


"Ya aku Madrick Vallencio. Sekarang cepat pergi!! Ingat, jangan katakan pada gadisku jika aku seorang mafia. Jika tidak, aku akan segan membunuhmu ibumu dihadapanmu." desis Mad.


Verlyn melangkah dengan cepat, keluar dari kamar mafia kejam itu. Diujung tangga, ia berpapasan dengan salah satu pembantu yang masih terbilang cukup muda.


"Emmm, excusme. I want ask, where is Mr. Mad girlfriend room?" tanya Verlyn dengan gugup. Pasalnya, ia belum terlalu fasih berbahasa Inggris. Ibunya mengajarinya hingga ia cukup bisa.


"Apakah sudah ada izin dari Mr, Mad?" tanya maid itu.


"Yes," balas Verlyn.


"Anda tidak berbohong?" tanya Maid untuk memastikan.


"Ya ampun nona. Jika kau tak percaya, silahkan tanyakan sendiri pada tuanku itu. Aku disuruh untuk menjadi teman gadis tuanmu itu." seru Verlyn dengan kesal.


"Alright, follow me." balas maid itu.


Maid itu menuntun Verlyn menuju kamar Olivya. Saat sudah berada didepan kamar Olivya, Verlyn terperangah menatap pintu kamar Olivya yang terkesan elegan dan dilengkapi dengan sandi yang berarti, sembarang orang tidak boleh masuk.


Maid itu mengeluarkan sebuah kartu.


"Untuk apa kartu itu?" tanya Verlyn dengan bingung.


"Untuk membuka kamar," jawab Maid itu.


"Kan ada tombol paswordnya. Apa kau tak tahu paswordnya?" tanya Verlyn.


"Nona, dikartu ini terdapat sidik jari tuan Mad, dan untuk password angka ini, saya tak tahu. Hanya tuan Mad yang tahu." tutur Maid itu.


Verlyn hanya mengangguk. Dalam hati, ia menguntungkan pacar seorang Mad yang lengkap dengan fasilitas apapun.


Maid itu menempelkan kartunya dan membuka kamar Olivya. Verlyn lagi-lagi dibuat terkejut melihat kemewahan kamar Olivya. Sangat mewah dan elegan.


Verlyn menatap seorang gadis yang tengah menatap luar jendela dengan tatapan kosong. Maid tersebut mempersilahkan Verlyn untuk masuk.


"Nona Olivya," panggil Maid. Olivya menghapus airmatanya dan menoleh.


Olivya tersenyum.


"Masuklah," guman Olivya.


Verlyn masuk dan berdiri dihadapan Olivya. Maid itu pamit untuk pergi.


"Kau siapa?" tanya Olivya pada Verlyn. Verlyn menatap wajah Olivya.


"Hey, you it's okay?" Verlyn mengerjapkan matanya dan tersenyum kearah Olivya.


Verlyn mengulurkan tangannya.


"Hay, my name is Verlyn Jordan Ningsih." Ucap Verlyn dengan antusias.


"Hay, I Olivya Macrime." balas Olivya sambil menerima uluran tangan Verlyn.


"Nama belakang mu seperti orang Asia." guman Olivya.


"Ya, aku orang blesteran Indo-australia. Ibuku Indonesia dan Ayahku Australia. Aku lama tinggal di Indonesia, jadi maaf jika bahasa inggrisku kurang dapat dimengerti." balas Verlyn.


Olivya terkekeh.


"Tak apa, aku bisa memahamimu. Kalau boleh tahu, apa yang kau lakukan disini? Apakah kau gadis baru si Pria Arogan itu?" tanya Olivya.


"Heh? Kau menuduh kekasihmu sendiri?" balas Verlyn.


"Jangan percaya, aku bukan kekasihnya. Aku hanya orang asing yang dia kurung seperti hewan."


"Mungkin kau lagi marahan padanya sehingga kau tak mau mengakuinya. Aku kesini hanya untuk menjadi temanmu. Mad yang menyuruhku." ucap Verlyn


"Apa? Teman? Pria arogan itu menyuruhmu untuk menjadi temanku? Dia pasti hanya kasihan padaku, tidak lebih." balas Olivya.


"Sudahlah, mungkin mood mu lagi jelek. Ayo bercerita." ucap Verlyn dengan antusias.


Olivya mengerutkan alisnya bingung.


"Cerita? Cerita apa?" tanya Olivya dengan bingung.


"Cerita kisah cintamu dengan Mad." balas Verlyn dengan antusias.


"Sudah ku bilang. Aku bukan kekasihnya Mad, Verlyn. Aku hanya kurungannya saja. Entah apa yang dia inginkan dariku." seru Olivya.


"Jadi... Kau bukan kekasihnya?"


Olivya memutar bola matanya malas.


"Ya, aku bukan kekasihnya. Sekarang, ceritakan bagaimana kau bisa disuruh si pria arogan itu untuk menjadi temanku. Pasti dia memaksamu atau mengancammu, right?"


Verlyn mulai menceritakan kejadian yang ia alami mulai dari penculikan di kelab.


Verlyn menyesap minuman alkoholnya. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya mencoba minuman haram itu. Dan ini juga baru pertama kalinya ia menginjakkan ke tempat sesat ini.


Dentuman musik serta lampu yang berkedip-kedip memang sangat memusingkan kepala.  Namun, Verlyn saat ini butuh hiburan. Hari ini benar-benar kacau.


"Mau bermain denganku nona?" ucap seorang pria tua dengan kumis yang hampir memutih.


Pria tua tersebut mencoba menyentuh kukuh mulus Verlyn, namun Verlyn langsung menepis tangan pria tua tersebut dengan kasar.


"Jangan macam-macam." desis Verlyn dengan tajam.


"Jangan terlalu takut gadis manis. Main sebentar yuk," ajaknya lagi.


"Jauhkan tanganmu. Aku tak sudi dengan bermain yang kau maksud." balas Verlyn


"Jangan sok suci kamu. Pasti sudha banyak pria yang tidur denganmu. Kau pikir aku tak punya banyak uang untuk membayar jalang sepertimu?" bentak pria tua itu.


"Jaga mulutmu pria tua. Aku bukan jalang dan aku belum pernah bermain dengan siapa pun. Jadi tinggalkan aku sendiri." balas Verlyn tak kalah keras.

__ADS_1


"Saya tak pernah ditolak. Jadi kamu gak boleh menolak saya." pria tua itu menarik tangan Verlyn dengan paksa.


"Lepasin, Tolong!!" Verlyn mulai memberontak.


Buggg


Satu hantaman keras mengenai rahangnya, hingga mengeluarkan darah dihidungnya.


Verlyn melihat pria yang menyelematkannya.


Pria paruh baya yang menyelamatkan Verlyn adalah Gaston. Gaston menarik tangan Verlyn dan langsung membawanya keluar dari kelab.


Gaston mendorong Verlyn untuk masuk kedalam mobil hitam yang mewah.


"Lepaskan, aku... Lepaskan!! Kau akan membawaku kemana?" teriak Verlyn saat Gaston masuk kedalam mobil.


"Lepaskan aku... Kumohon tuan, lepaskan aku. Aku tak punya masalah apapun dengan kalian." ucap Verlyn dengan lirih.


"Tolong," rengek Verlyn.


Gaston menatap tak tega dengan gadis satu ini. Tatapan teduh, dipertunjukkan oleh gadis ini.


"Tenanglah nak, semoga tuan kami melepaskanmu. Tuan kami menyuruh kami untuk mencari jalang berke-"


"AKU BUKAN JALANG!!" teriak Verlyn.


"Aku bukan jalang, hiks.. hiks," lirih Verlyn.


Ia menyerah, mobil sudah dilajukan, ia hanya bisa berharap dan berdoa, agar ia bisa selamat dari bencana ini.


"Begitulah ceritanya, hingga aku menginjakkan kaki disini." ucap Verlyn dengan tatapan kosong. Airmatanya kembali menetes saat mengingat kejadian tadi.


"Andai aku tak datang ke kelab malam itu, mungkin itu semua takkan terjadi." guman Verlyn. Detik berikutnya, Verlyn menghapus airmatanya seraya tersenyum kearah Olivya.


"Tapi aku juga beruntung, karena Mad tak menyentuhku. Dan aku juga bersyukur dipertemankan oleh dirimu. Aku melihat kebaikan dimatamu. Tapi, aku juga melihat kesedihan yang amat mendalam dimatamu. Jika kau butuh teman untuk berbagi cerita. Aku siap jadi pendengar yang baik untukmu." ucap Verlyn dengan tulus.


"Kau cenayang?" tanya Olivya.


"Sedikit. Aku dapat melihat gelagat seseorang dan aku dapat melihat sikap dan sifat seseorang dari matanya dan gerak tubuhnya." jawab Verlyn.


"Kelebihan ini, dari ibuku. Ibuku lebih hebat dariku. Dia bisa membaca apa isi pikiran orang lain." sambung Verlyn.


"Wah, hebat sekali." seru Olivya.


"Lalu ayahmu? Apakah kau ayah mu mengetahui kelebihanmu ini?" tanya Olivya.


Wajah Verlyn kembali masam.


"What's wrong?" tanya Olivya dengan lembut.


"Ayahku telah pergi meninggalkan aku dan ibuku. Bahkan, aku lupa dengan wajah ayahku sendiri." lirih Verlyn.


"Kenapa bisa begitu? Tak mungkinkan kau lupa dengan wajah ayahmu sendiri, selain kau mengalami amnesia--"


"Yes, aku mengalami amnesia. Dulu aku mencoba bunuh diri dengan melompat dari lantai tiga kamarku."


"Kenapa kau melakukan itu, Verlyn?"


"Dulu aku sangat syok. Aku syok saat mengetahui ayahku telah bersetubuh dengan seorang jalang. Hingga aku lompat dan entah mengapa Tuhan menyelamatkanku. Aku muak dengan hidupku. Ayah dan Ibuku selalu bertengkar. Ayah selalu pulang dengan keadaan mabuk dan selalu membawa seorang jalang pulang ke rumah. Aku ingin berakhir pada saat itu. Aku tak kuat, aku ingin pergi sejauh-jauhnya. Tapi Tuhan menyelamatkanku nyawaku."


"Verlyn, seharusnya kau bersyukur karena Tuhan masih memberikanmu hidup. Kau tahu mengapa?" tanya Olivya.


Verlyn menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Karena kau masih punya tugas untuk menjaga ibumu. Dengar, jika kau pergi, siapa yang akan menjaga ibumu dari kekejaman ayahmu? Apakah kau tega membiarkan ayah mu memukuli ibumu atau menyakiti Ibumu?" tutur Olivya sambil mengelus pundak Verlyn.


"Kau benar. Sampai kapanpun, aku takkan membiarkan siapapun menyakiti ibuku. Walau itu ayah kandungku sendiri." human Verlyn.


Verlyn tersenyum lembut kearah Olivya.


"Terima kasih Olivya. Kau telah menyemangati lagi. Baiklah, aku harus pulang." sambung Verlyn.


"Selarut ini?" tanya Olivya.


"Iya, Vya. Ayo bukakan password pintunya." pinta Verlyn.


"Emm. Verlyn, sebenarnya aku tak tahu password nya. Kalaupun aku tahu, pasti aku sudah kabur dari sini." balas Olivya.


"Kenapa kau ingin kabur?" tanya Verlyn dengan bingung. Pasalnya, disini Olivya akan dilengkapi dengan segala fasilitas yang mewah.


"Aku ingin bebas. Aku ingin kembali ke apartemenku." balas Verlyn dengan lirih.


"Begini, bagaimana jika aku akan membantumu untuk keluar dari sini? Aku akan--"


"Sebelum kau melakukan itu. Kupastikan jasadmu sudah berada didepan ibumu." suara bariton memotong ucapan Verlyn.


Seketika nyali Verlyn menjadi Menciut saat mengetahui siapa sosok itu.


"Mad?" guman Olivya.


"Verlyn Jordan Ningsih. Anak dari Siska Ningsih dan aku juga tau siapa nama ayahmu." guman Mad saat sudah berdiri disebelah Olivya.


"Jangan pernah coba-coba menjauhkanku dari kekasihku." desis Mad dengan tajam.


"Apa yang kau katakan? Aku bukan.kekasihmu." balas Olivya dengan penekanan diakhir kata.


"I love you too, baby." balas Mad.


"Ma-maaf, tuan. Ak-aku hanya main-main dengan ucapanku. Kumohon jangan lakukan itu." ucap Verlyn dengan penyesalan.


"Kau boleh pergi. Bilang pada maid disini untuk mengantarkanmu dikamar tamu. Kau akan tinggal disini." ucap Mad dengan dingin.


Verlyn berjalan menunduk dan keluar kamar Olivya dengan pintu yang sudah terbuka lebar.


"Kau mengurung gadis lain lagi? Mau berapa lagi gadis yang kau kurung?" ujar Olivya.


"Kau cemburu, sayang?" goda Mad.


Olivya mendelik menatap Mad.


"Aku takkan pernah cemburu. Ingat, kau bukan siapa-siapa ku."


"Baiklah, kurasa aku harus tidur. Dan kau segeralah beranjak keluar dari kamarku." usir Olivya.


"Kau sudah mengakui jika ini kamarmu? Perubahan yang menakjubkan sayang. Dan kau sebentar lagi akan menganggap ini rumahmu dan aku kekasihmu." ujar Mad.


"Jangan mengada-ada aku hanya tak sengaja mengucapkannya. Ayo keluar," balas Olivya.


"Baiklah, Vya sayang. Aku akan keluar. Good night." Mad beranjak keluar kamar Olivya dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.


***


To Be Continue.

__ADS_1


__ADS_2