My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Gagal


__ADS_3

Olivya merasa tidurnya ada yang mengganggu. Ia membuka matanya perlahan dan tatapannya langsung menuju pada sebuah wajah yang begitu dekat dengannya. Seketika, Olivya langsung membuka lebar matanya.


"Aaaaaaaaa" Olivya menampar wajah yang berada didepannya secara spontan.


"Awwww." ringis Mad sambil memegang wajahnya yang terasa panas karena tamparan yang cukup keras dari Olivya. Mad juga seorang manusia yang memiliki rasa sakit, tapi sebuah tamparan dari Olivya bukanlah hal yang perlu diragukan, tamparan yang menurutnya tak begitu menyakitkan.


Mad memundurkan tubuhnya, ia melihat Olivya yang mulai bangkit dari tidurnya. Olivya menatap telapak tangannya yang usai menampar wajah Mad.


"Apakah sakit?" tanya Olivya dengan mimik wajah yang merasa bersalah.


"Tidak, sudah lupakan. Ayo makan, pizza mu sudah datang." Mad melangkah kembali duduk di kursi kerjanya.


Mata Olivya tetap tertuju pada Mad, lalu tertuju pada tiga tumpuk pizza yang berukuran besar.


"Kau tak makan?" tanya Olivya sambil mengambil satu kotak pizza.


"Duluan saja, aku masih sibuk." jawab Mad dengan singkat tanpa menatap Olivya sedikitpun.


"Boleh aku tau, kau sibuk apa?"


"Hanya kerjaan kantor, tidak lebih."


Olivya bangkit dari duduknya, ia berjalan kearah meja Mad dan duduk tepat di depan Mad yang berkutik dengan laptop.


"Kita akan tetap makan bersama. Kau bekerja, aku akan menyuapimu." Olivya membuka kotak pizza dan mengambil satu potongan pizza. Ia mengarahkan tangannya untuk menyuapi Mad. Mad berhenti sejenak, ia menatap pizza yang diulurkan oleh Olivya padanya. Mad menggigit ujung potongan pizza, ia menatap Olivya yang tersenyum dan senyumannya pun terbit walau tipis.


Olivya memakan pizza tepat pada gigitan Mad. Ia mengunyah dengan sangat lahap. Memang, perutnya minta diisi sejak tadi.


"Mad, boleh aku menjenguk Merry sebentar?" tanya Olivya sambil mengunyah pizza.


"Tidak."


"Hanya se--"


"Tidakkah kau tuli?"


"Tap--"


"Diam dan biarkan aku bekerja. Tetap disini." potong Mad sambil menatap Olivya dengan tajam. Olivya menunduk takut, ia masih belum terbiasa di tatap seperti itu.


"Jangan menatapku seperti itu Mad. Aku bukan musuh mu." gumam Olivya dengan pelan.


Mad memejamkan matanya. Ia menarik nafasnya lalu menghembuskan nya dengan kasar.


"Maafkan aku." ucap Mad dengan pelan. Pasalnya, ia tak pernah sedikitpun mengucapkan permintaan maaf kepada siapapun, apalagi seorang wanita. Sama sekali tidak pernah. Terhadap kedua orang tuannya saja, Mad sangat berat untuk mengucapkan permintaan maaf.


Dorrrr


Olivya terkejut bukan main, ada suara tembakan yang sangat keras hingga memekakkan telinga. Mad berdiri, ia langsung berjalan mendekat kearah Olivya yang menunduk takut sambil memegang kedua telinganya. Ia memeluk Olivya dengat erat. Mad sudah menduga hal ini akan terjadi. Oleh karena itu Mad melarang keras Olivya untuk keluar dari ruangannya.


"Mad su-su-suara ap-apa itu?" tanya Olivya dengan terbata-bata.

__ADS_1


"Ssshhh, tenanglah. Bukan apa-apa, kau akan aman disini. Percayalah." bisik Mad dengan lembut seraya mengelus surai panjang milik Olivya.


***


"Apakah ini mansion nya?" tanya seorang pria dengan tuxedo hitamnya dan juga kaca mata hitam.


Pengawalnya mengangguk, "Sesuai info yang saya dapat, alamatnya memang disini tuan. Ini benar mansion nya.


"Ayo, kita masuk." ujar pria bertuxedo hitam itu.


"Tuan, kita tak boleh masuk jika tidak ada janji."


"Baiklah, kita akan memaksa masuk." ujarnya.


"Siapkan senjata kalian. Setelah kita mendapatkan gadis itu, kita bisa pergi." sambungnya.


Para anak buahnya mengangguk patuh. Setiap senjata api diisi dengan jumlah peluru yang tak bisa dibilang sedikit. Dari pistol yang kecil dan juga yang besar.


"Tembak pagarnya."


Salah anak buahnya menembak pagar  yang menjulang tinggi. Bidikan yang sempurna tapi tak membuat pagar itu terbuka.


"Tuan Ven, pagarnya anti peluru." ujar salah anak buahnya yang usai menembak pagar.


"Sialan." umpat Ven saat mendengar suara sekumpulan derap kaki yang berjalan menuju pagar. Ven tahu, itu pasti anak buah Mad. Ya, Ven dan anak buahnya yang lain siap untuk melakukan perang. Mengingat jumlah anak buahnya yang tak sebanding dengan anak buah Mad, membuat Ven menggeram kesal. Strateginya ingin menyerang secara dadakan, namun karena pager sialan itu, rencana sudah tak lagi berguna. Ven menyuruh anak buahnya untuk siap siaga. Disaat anak buah Mad membuka pagar, disaat itulah Ven dan anak buahnya siap untuk menembak. Strategi baru, tapi ia belum yakin akan berhasilnya strategi ini. Mengalahkan seorang mafia seperti Madrick, memang susah. Mafia yang sulit sekali untuk ditebak.


Pagar terbuka, sekumpulan anak buah Mad keluar dengan senjata nya masing-masing. Anak buah Ven pun langsung menembak satu persatu. Entah berlatih atau dilatih, banyak anak buah Mad yang dengan gesit menghindari peluru yang siap menembus daging mereka namun gagal. Banyak juga anak buah Mad yang terluka akibat tembakan. Yang meninggal pun tak banyak, hanya mengalami luka pada betisnya yang tertembak. Lain dengan anak buah Ven. Banyak sekali yang tewas ditempat, sepertinya anak buahnya tak cukup untuk melawan kekuatan anak buah Mad yang banyak itu. Ia menyesal tak membawa begitu banyak pengawal. Dengan cepat, Ven masuk kedalam mobil hitam dan melajukan mobilnya meninggalkan mansion Mad. Salah satu pengawal Mad ada yang melihat Ven kabur, dengan ingatan penuh, anak buah Mad tetap mengingat plat nomor mobilnya.


Untum diapakan? Di otopsi? Haha, tidak. Mereka akan mengobati luka anak buah Ven hingga sembuh dan setelah itu memberikan sebuah pilihan. Kembali pada tuannya atau pindah pada tuan baru yaitu Mad.


Ven menancap gas mobil dengan kecepatan yang super tinggi. Ia melewati jalanan yang memang sedang sepi dan hampir tak ada kendaraan yang melewati jalanan itu. Bukan karena angker, karena jalanan ini bukan jalanan umum. Jalanan berbayar. Sebuah mobil bisa melewati jalanan ini jika mau membayar sejumlah harga yang ditetapkan. Bukan jalan tol, jalanan biasa namun luas.


Ven mengurangi kecepatan laju mobilnya saat merasakan sebuah getaran disaku celananya. Ven mengerem mendadak, ia mengambil ponsel dalam sakunya. Menghembuskan nafas dengan gusar, Ven langsung mengangkat telpon itu.


"Halo." ujar Ven.


"Bagaimana?" tanya seorang pria dari sebrang sana.


"Gagal tuan. Rencana kita tak sesuai, pagarnya ternyata anti peluru. Hampir seluruh temboknya pun tak dapat di tembak." ujar Ven dengan jujur.


"Sudah ku tebak. Pasti kalian gagal. Kembali ke mansion, kita akan menyusun ulang strategi. Jangan lupa anak buah mu sekalian bawa."


"Baik tuan."


Ven melempar ponselnya pada kursi penumpang sebelah sopir. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku tak boleh kalah. Dendam ku sangat besar padamu." desis Ven dengan wajah marah.


***


Mad membopong tubuh Olivya yang tertidur untuk dibawa menuju kamarnya. Ya, kamar Mad. Olivya akan aman berada dikamarnya. Mad membuka pintu kamarnya dengan otomatis, ia meletakkan tubuh Olivya diatas tempat tidur dengan perlahan. Sebelum meninggal kamar, Mad mengecup sekilas bibir Olivya lalu berjalan keluar kamar untuk menyusul anak buahnya.

__ADS_1


Saat sampai diujung tangga, ia melihat beberapa para maid sedang mengobati luka para pengawalnya dan juga pengawal yang sama sekali tidak Mad kenali. Tak mengenali, bukan berarti Mad tak mengetahui. Pengawal lawan. Itulah julukan yang pas untuk pengawal asing yang sedang diobati di mansion nya.


"Tuan?" sapa salah satu anak buahnya.


"Bagaimana kekacauan nya Carlos?" tanya Mad tanpa menatap kearah pengawalnya yang bernama Carlos.


"Tidak banyak tuan. Hanya beberapa sampah yang berantakan." jawab Carlos.


"Kau tahu ulah siapa ini?" tanya Mad dengan melirik kearah Carlos.


"Saya tidak kenal dengan orangnya tuan, tapi saya tahu wajahnya. Ia kabur dengan meninggalkan anak buahnya yang hampir sekarat."


"Kenapa kalian membiarkan orang itu lolos?" tanya Mad.


"Kami terlalu fokus pada anak buahnya tuan, hingga kami lupa pada leader nya. Tapi saya sempat mencatat plat nomer mobil pria itu tuan. Saya tidak mencatat pada buku ataupun kertas, saya mencatatnya pada ingatan saya."


"Berapa nomer platnya?"


"V 3 17. Itulah plat nomer mobilnya tuan."


"Lacak keberadaannya. Pastikan malam ini saya sudah mendapatkan kabar."


Carlos mengangguk, Mad berbalik badan dan pergi meninggalkan Carlos dan anak buahnya lainnya.


***


Ven berjalan masuk kedalam mansion. Diruang tamu, ia langsung di suguhi wajah sangar dari tuannya. Bryan, ya pria itu berdiri dengan setelan kaos polosnya. Ia menatap Ven dengan kecewa. Bagaimana bisa Ven kalah dengan secepat itu? Bahkan tidak ada dua jam aksi tembak menembak, dan Ven sudah kalah begitu saja. Ini baru permulaan, bagaimana jika nanti langsung perang inti nya?


Ven berjalan dan berhenti dihadapan Bryan. Ia menunduk, ini memang kesalahannya.


"Entahlah, aku harus marah atau apa padamu Ven. Meskipun begitu, kau tetap pengawal setiaku. Tapi kau tahu kan jika aku mencintai gadis itu? Ya aku tahu yang ku rasakan itu bukan cinta, tapi obsesi. Obsesi untuk memiliki gadis polos gadis itu." ujar Bryan.


"Maafkan saya tuan. Seharusnya saya tahu jika mansion Mad dijaga seketat itu."


"Sudahlah lupakan. Kita akan menyusun rencana ulang. Ingat, kali ini jangan sampai gagal lagi."


"Baik tuan. Saya yakin, kita bisa merebut gadis itu."


TBC


Hai-hai. Jangan lupa follow ig aku ya..


annisaimadul10


Love u all:3


Madrick Vallencio



Olivya Macrime

__ADS_1



__ADS_2