
Olivya POV
Malam yang sunyi, aku hanya termenung dipinggirkan railing balkon kamarku. Entah mengapa aku masih saja kepikiran tentang keputusanku tadi pagi. Aku akan menjadi kekasih seorang mafia? Ah sepertinya kata akan tidak berlaku lagi untukku, karena aku memang sudah menjadi kekasihnya seorang mafia.
Sedari tadi pun aku juga mendapatkan perlakukan manis dari Mad. Ya, seorang Madrick yang terkenal kejam bisa berlaku manis dan itu hanya padaku. Rasanya aku hampir saja jatuh dalam pesonanya.
Aku jatuh cinta? tidak, sebisa mungkin akan ku tepis perasaanku ini.
tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan segala lamunanku. Aku beranjak dan membuka pintunya. Memang pintu kamar ini sudah tidak lagi dikunci menggunakan password digit. Hanya dapat dibuka menggunakan sidik jariku dan Mad.
Aku membuka pintunya, aku melihat maid yang paling muda disini dan paling baru bekerja disini. Merry, aku mengenalnya. Bahkan aku juga sering berbagi cerita padanya.
Soal Verlyn dan Violin, mereka berpamitan untuk tidur di Apartemen Violin. Mereka akan bersiap pulang ke Indonesia untuk menjenguk ibunya yang berada disana. Jujur, aku ingin ikut mereka.
Oke, kembali ke topik. Merry datang dengan senyuman manisnya. Ia membawa nampan yang berisi kue dan jus jeruk. Kue kesukaan ku. cheesecake. Aku menyukainya karena lembut dan empuk rotinya.
"Nona Olivya, aku bawakan kue dan jus jeruk untukmu. Semoga kau suka, ini aku membuatnya sendiri." ujar Merry.
"Selain cantik, kau juga pintar masak. Apakah aku boleh mencicipinya?" tanyaku.
"Terima kasih. Tentu saja, habiskan." aku mengambil alih nampan itu dan setelah itu Merry berpamitan untuk pergi.
Aku berjalan kearah meja yang tersedia di kamarku dan meletakkan nampan berisi kue dan jus jeruk itu diatas meja. Aku berjalan untuk menutup pintu lalu kembali kearah meja untuk menikmati kue yang terlihat menggiurkan itu.
Aku mengambil pisau dan garpu, aku mulai mengiris kecil tepi kue itu dan memasukkannya kedalam mulut. Enak? Ini sungguh enak.
ku telan habis kuenya dan sedetik kemudian aku merasakan leherku seperti tercekik. Aku mengambil jus jeruk dan meminumnya. Rasa sakit ditenggorakan ku tak berhenti dan disaat itu juga aku merasakan pusing yang amat berat.
Detik kemudian semuanya menjadi gelap dan.... kosong.
Madrick POV
Setelah selesai menyelesaikan semua pekerjaanku yang ada di kantor, aku segera bergegas pulang. Aku melirik arloji ku yang menunjukkan pukul sembilan malam. Aku memasuki mobil Lamborghini ku yang berwarna hitam. Walaupun aku punya banyak sopir, aku jarang sekali menyuruh sopir untuk antar jemput. oh ayolah, aku masih punya kaki untuk memencet pedal gas, rem dan kopling.
__ADS_1
Sebelum aku kembali ke mansion, aku akan mampir ke toko pizza untuk membelikan gadisku makan malam. Aku tahu Vya pasti belum makan malam. Karena memang aku sengaja menyuruh koki untuk tidak membuatkan makan malam karena aku akan menikmati makan malam berdua dengan Vya.
Aku menginjak pedal gas dan Lamborghini ku melaju meninggalkan pelataran kantorku. Sepanjang jalan aku hanya fokus pada jalanan. Jujur, entah mengapa aku merasakan janggal dihati. Segeralah ku tepis pikiran negatif ku.
Aku membelokkan Lamborghini ku disalah satu toko pizza. Aku keluar dari mobil dan memasuki toko pizza yang mewah itu. Aku disambut hangat oleh pegawai disana dan Respon ku hanya cuek dan dingin.
"Ada yang dipesan tuan?" tanya pegawai gadis dengan make up yang berlebihan. Terlihat ia sedang menggodaku dengan dua bukit nya yang menonjol.
Dasar murahan! batinku. Se-seksi apapun gadis diluaran sana, aku akan tetap memilih Olivya seorang.
"Seperti biasa." balasku. Aku berkata sedemikian karena, hampir semua pegawai disini tau betul apa pesenanku.
"Baik. Bayar cash atau kartu tuan?"
"Cash." Aku mengeluarkan dompetku dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan diberikan kepada kasir cewek itu.
"Ini kembaliannya tuan." Aku melihat uang koin yang menjadi sisa uang harga pizza.
"Simpan saja, saya tak butuh uang koin." umatku dengan dingin.
Tak lama kemudian ada seorang pria yang membawakan setumpuk kotak pizza pesanan ku. Aku mengambil alih kotak itu dan segera melenggang pergi.
Sesampainya di mansion, aku langsung turun dari mobil saat bodyguard ku membukakan pintu mobil untukku. Aku memasuki mansion megah ku dengan membawa kotak pizza yang ku beli tadi.
"Dimana Vya?" tanyaku pada salah satu maid disini.
"Ada dikamarnya tuan. Sedari tadi ia tak turun kebawah." entah mengapa perasaanku sedang kacau saat ini.
Aku melangkah cepat menuju kamar dimana gadisku berada. Saat sudah didepan itu, aku langsung membukanya.
Aku tak menemukan sosok yang kucari, semenit kemudian, netra mataku menangkap seorang gadis yang tengah ambruk diatas sofa. Aku berlari menuju kearah Olivya, Pizza yang kubawa tadi kubiarkan jatuh.
Aku melihat wajah pucat gadisku dengan sudut bibir yang mengeluarkan busa.
Oh Tidak!. Siapa yang berani melakukan hal ini pada Vya, aku akan membunuhnya.
Aku mengangkat tubuh mungil Vya dan segera membawanya ke rumah sakit.
Author POV
Mad membawa tubuh Olivya menuju kebawah. Wajahnya memerah menahan amarah yang memuncak.
__ADS_1
Sesampainya dilantai bawah, Mad meneriaki semua para maid untuk kumpul tak terkecuali Merry.
"Adaapa dengan nona Olivya, tuan?" tanya Merry memberanikan diri.
Mad menatap tajam sekilas Merry lalu mengalihkan perhatiannya kearah maid yang lain.
"APAKAH KALIAN SEMUA BUTA HAH?!!" teriak Mad dengan lantang.
"KENAPA TAK ADA SATUPUN DARI KALIAN YANG TAHU KONDISI VYA HAH?!"
"KENAPA TAK ADA YANG MENGECEKNYA?"
Mad melangkah meninggalkan yang lain. Keselamatan gadisnya lah yang paling utama. Ia membawa tubuh gadisnya kedalam Lamborghini hitamnya. Ia akan mengendarai mobilnya sendiri tanpa menyuruh sopir.
"Tuan?" panggil Gaston saat Mad hendak memasuki mobilnya.
"Gaston, cari tahu siapa dalang dibalik ini semua. Periksa kue yang ada dikamar Olivya, aku rasa gadisku seperti ini karena makan kue sialan itu." perintah Mad.
Gaston mengangguk, "Baik tuan."
Mad masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
\*\*\*
Sesampainya dirumah sakit, Mad langsung menggendong tubuh Olivya dan memasuki ruang yang bertuliskan UGD. Para suster pun menyiapkan ranjang derek untuk Olivya. Mad meletakkan tubuh Olivya diatas ranjang derek dan segera menuju ruangan yang hanya para perawat dan dokter yang boleh memasukinya.
"Tuan tunggu disini." ucap suster rumah sakit.
"Apa maksudmu?! Aku harus menemani gadisku." bentak Mad.
"Tapi tuan, jika anda masuk, dokter akan tidak bisa fokus. Dan didalam harus steril."
Mad menghembuskan nafasnya dengan pasrah. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Selamatkan gadisku atau aku menutup rumah sakit ini." nyali suster itupun menciut.
"Baik tuan." jawab suster seadanya.
Setelah suster itu masuk kedalam dan menutup pintu ruang rawat, Mad duduk di bangku yang tersedia.
"Jika terjadi apa-apa dengan gadisku, aku bersumpah akan membunuhmu dan juga tuanmu." gumam Mad dengan wajah yang merah padam dan tangan yang mengepal kuat.
__ADS_1