My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Siapa Dalangnya?


__ADS_3

Adegan tembak menembak masih saya berlanjut. Mad dan anak buahnya berhasil melumpuhkan beberapa lawan. Sekarang, hanya tersisa beberapa lawan yang sedang mereka hadapi.


Mad mengumpat saat ia mulai kehabisan peluru. Ia membuat pistolnya dengan cara membanting. Ia menyuruh anak buahnya untuk mengambilkannya pistol lagi dengan isi peluru yang banyak.


"Gaston, dimana Gaston?" tanya Mad dengan membentak kepada anak buahnya.


"Gaston ada di bagian atas tuan."


"Tuan!!" Mad menoleh kearah Gaston yang baru saja datang.


"Tuan, musuh akan meledakkan pom bensin ini. Kita harus segera keluar dari sini tuan." ujar Gaston


"Vya? Hei cepat ambil gadisku." titah Mad dan langsung diangguki.


Tak lama kemudian, pengawalnya datang dengan menggendong Olivya yang masih tak sadarkan diri. Mad mengambil alih tubuh Olivya. Ia menggendong Olivya seperti karung beras.


Satu persatu lawan mulai berlari kearahnya saat tahu bahwa Mad telah menemukan Olivya. Mad menembaki semua lawan yang mendekatinya.


Mad mulai berjalan mendekati sebuah Lamborghini yang bukan miliknya. Lamborgini nya telah dihancurkan oleh musuh.


"Hey bawa Vya ke mansion cepat!! Aku akan mencari tahu dalang dibalik semua ini." perintah Mad pada salah satu pengawalnya saat selesai meletakan tubuh Olivya kedalam jok belakang mobil.


***


Aku mengerjapkan mataku saat sinar matahari mengenai mataku. Aku mengedarkan pandanganku. Melihat keseliling yang terasa sangat sepi dan sunyi. Kesadaranku sepenuhnya sudah kembali, aku menyadari dimana aku sekarang. Disebuah kamar yang tak asing bagiku. Kamar ku yang ada di mansion Mad.


Ngomong-ngomong soal Mad, dimana dia sekarang? Biasanya dia selalu ada di sebelahku disaat aku tumbang, seperti saat ini contohnya.


Lelah terus berbaring, aku mencoba untuk mendudukkan diriku, satu hal yang baru aku sadari, tanganku telah dipasang selang infus.


Ceklek


Aku menoleh kearah pintu yang dibuka dari luar. Seorang gadis masuk dengan wajah khawatirnya. Verlyn. Ya, Verlyn masuk ke kamarku dan langsung duduk disisi ranjangku yang kosong. Jika kalian tahu, ranjang ini sangat besar dan lebar. Lima orang bisa tidur disini tanpa merasa sempit.


"Oliv, bagaimana keadaanmu? Kau tahu? Saat aku mendapatkan berita kau masuk rumah sakit dan terus diculik lalu disekap. Ya Tuhan!! Aku khawatir. Kamu baik kan?"


Pertanyaan dari Verlyn membuatku menggelengkan kepala.


"Hei, tenanglah. Aku sekarang sudah baik-baik saja. Mad telah menyelamatkanku. Ya mungkin aku butuh sedikit istirahat." balasku dan langsung dibalas kelegaan oleh Verlyn.


"Eh, btw Violin kemana? Kok kamu sendirian aja?" tanyaku. Pasalnya, biasanya Verlyn kemana-mana selalu bersama Violin.


"Aku sih juga enggak tahu dia kemana. Tapi dia bilang tadi ingin kumpul dengan teman-teman kampusnya. Kamu tahu sendiri kan jika Violin selalu saja tidak bisa diam dirumah."


"Oh, lalu, bagaimana dengan liburanmu ke Indonesia?"


"Belum, kami belum berangkat ke Indonesia. Tiga hari lagi kita akan berangkat. Dan kau tahu? Violin sangat bersemangat untuk hal itu."


Aku hanya menganggukkan kepala. Lama aku dan Verlyn bercengkrama.


***


M


ad berlari menuju keluar pom bensin. Musuh telah menyalakan bomnya dan dalam waktu dua menit dan sekarang tersisa waktu tiga puluh detik.


Mad dan pengawalnya telah berhasil keluar dari pom bensin dan saat itu juga suara ledakan terdengar begitu keras. Mad dan yang lain menutup kedua telinganya guna menghindari suara keras ledakan itu. Setelah selesai suara ledakan, terjadilah kebakaran besar. Mad melihat keselilingnya, tak sedikit pula pengawalnya yang mati karena baku hantam ini.


Mad melihat sebuah mobil panjang hitam yang melintas tepat didepannya. Ia menyipitkan matanya saat melihat sebuah jenjang kaki yang putih mulus keluar terlebih dahulu dari dalam mobil. Siapapun bisa menebak bahwa ia perempuan. Si dalang dibalik semua ini.


Gaston dan yang lain bersiap siaga dibelakang Mad. Adapula yang disebelah Mad.

__ADS_1


"Tuan, dia wanita. Apakah kau akan memberinya pelajaran juga?" tanya pengawal Mad yang berada disebelahnya.


"I don't care. Siapapun yang menjadi dalang dibalik semua ini pasti akan ku kasih pelajaran. Apalagi ia berani menculik Vya ku."


Lama tak menunjukkan wajahnya, gadis yang menjadi dalang dibalik semua kekacauan inipun keluar. Bukan hanya pengawalnya yang kaget, Gaston pun sangat kaget dengan siapa sosok gadis itu. Wajahnya tidak asing. Sangat tidak asing. Mad telah menduganya, dalang dibalik semua ini adalah dia. Ia menyunggingkan senyumannya.


"Bagaimana dengan permainannya, apakah kau suka?" tanya gadis itu.


"Violin?" tanya Gaston dengan suara keluh.


Ya, Violin. Putri dari Gaston dan kembaran Verlyn. Dialah dalang dibalik semua ini.


Soal dugaan Mad yang benar, ia tahu. Dari awal ia melihat Violin, ia sudah mencurigai gerak-gerik gadis itu. Kecuali Verlyn. Mad sangat cocok dengan Verlyn. Jadi ia tak meragukan Verlyn untuk jadi teman Olivya. Tapi soal Violin? Ia sangat meragukan dia.


"Bagaimana bisa?" tanya Gaston. "Apa yang kau lakukan nak?"


"Dad, aku melakukan ini karena aku suka sama Mad. Aku cinta padanya." ujar Violin.


"Kau tahu kan Mad mencintai Ol-"


"Ya aku tahu Dad. Maka itu aku ingin merebut Mad dari gadis ingusan itu. Maka dari itu aku melakukan ini. Aku cemburu melihat Mad yang begitu perhatian pada Olivya. Aku muak menahan rasa ini. Mad aku mencintaimu."


"Little *****. Sampai kapan pun aku takkan mencintai gadis siapapun termasuk kau. Hanya Olivya yang berhak bertahta di segala hidupku. Termasuk juga hatiku." ucap Mad dengan tegas.


Violin tersenyum remeh, "Hah, apa sih yang kamu banggain dari gadis ingusan itu? Dia tak secantik diriku, tak seindah body ku dan tak semenarik diriku.


Gaston melangkah maju kearah Violin. Ia melayangkan tamparan yang cukup keras kearah putrinya.


"Violin!! Dady kecewa sama kamu. Tanpa sadar kamu juga hampir saja membunuh Dady. Dady benar-benar kecewa sama kamu. Sangat kecewa Violin."


"Ya! Dady berhak kecewa sama aku. Aku juga menginginkan kematian Dady. Dady selalu saja mengacuhkan aku. Aku iri dengan si Verlyn. Dia selalu saja mendapatkan perhatian lebih dari Dady. Bukan hanya perhatian, tapi juga uang. Semenjak kehadiran Verlyn, aku merasa sangat senang saat itu. Tapi seiring berjalannya waktu, aku membencinya. Karena dia, Dady selalu mengacuhkan aku."


Dua kali, Gaston menampar kembali pipi putrinya.


Mad hanya diam menonton drama didepannya.


"Kau berhasil membuat Dady gagal mendidikmu."


***


"Olivya, bagaimana jika aku akan memasakkan mu?" tanya Verlyn.


Saat ini, Olivya dan Verlyn ada di dapur. Olivya yang dibantu oleh kursi roda dan juga tiang infus yang berdiri tegak pada sisi kanan letak tangan Olivya.


"Boleh, aku akan membantumu."


"Oh tidak tidak. Kau hanya perlu duduk diam disini dan aku yang memasak untukmu." balas Verlyn.


"Kamu bisa masak?"


"Kau meragukan aku? Aku akan masak makanan Indonesia yang paling enak menurut di Indonesia."


"Boleh, aku juga ingin mencoba makanan Indonesia. Masakan aku yang enak"


"Siap."


Olivya dan Verlyn bersenda gurau di dapur. Verlyn juga dengan sengaja melempar kulit bawang putih untuk mengerjai Olivya.


"Oliv, apakah kau sudah sangat lapar?" tanya Verlyn.


"Iya, kenapa?"

__ADS_1


"Makanannya mungkin akan lama untuk matang. Bisa kau menunggunya? Atau aku buatkan roti selai dahulu?"


"Tidak perlu. Aku akan menunggu masakkanmu saja."


"Baiklah jika itu mau mu."


Setelah menunggu cukup lama, makanan yang dimasak Verlyn pun telah matang. Verlyn dibantu oleh maid disana menata makanan dimeja. Bukan hanya satu makanan, Verlyn juga memasak tiga macam makanan yang berbeda.


Olivya dan Verlyn duduk dikursi meja makan. Mereka mengambil piring dan juga sendok. Lalu diisilah piring mereka dengan nasi putih.


"Aku harus mencoba yang mana dulu?" tanya Olivya.


Verlyn mengambil sebuah mangkok besar yang berisi bulatan daging.


"Kamu mencoba makanan ini terlebih dahulu. Ini dimakan tak perlu pakai nasi." Verlyn mengambil mangkok berukuran kecil dan menuangkan tiga bulatan daging lalu disertai kuahnya.


"Apa nama makanannya?" tanya Olivya.


"Kalau di Indonesia namanya, Bakso."


"Bak-so? Nama yang unik."


"Ayo coba lah."


Olivya mengambil bulatan daging itu dan memasukkannya kedalam mulut.


"Wow, ini sangat enak. Dagingnya sangat terasa, aku menyukainya."


"Really?"


"Yeah, i like this food."


Setelah selesai dengan makanan pertama, Verlyn memberikan Olivya makanan kedua yang ia masak.


"Lalu. Apa ini namanya?" tanya Olivya


"Opor ayam or opor chicken."


"O-pour?"


"No pour, but Por."


"Por?"


"Ya, bagus. Ucapan yang bagus. Ayo rasakan."


Olivya mulai menuangkan kaldu Opor kedalam nasinya. Ia mencampurnya dan mulai memakannya.


"Ini enak juga."


"Dan yang terakhir namanya kangkung."


"Em, maaf Verlyn. Tapi aku tak menyukai sayuran. Mungkin aku akan memakan masakkanmu yang dua ini tapi tidak yang satu itu. Aku sangat tidak suka sayuran."


"Baiklah, aku mengerti. Kamu akan memakan yang dua itu dan aku akan memakan yang ini. Aku suka sama sayuran."


"Baiklah."


TBC


Love You All :3

__ADS_1


__ADS_2