
"Dia tinggal bersama saya."
Olivya menoleh kearah sumber suara. Seorang pria yang tak dikenalinya, menjawab begitu saja dengan enteng. Ia kira, orang itu adalah Mad, tapi perkiraannya melesat. Orang itu bukan Mad, melainkan orang lain yang tak dikenalinya.
"Apa? Kau tinggal dengannya?" tanya dosen itu dengan suara cemprengnya.
"Kau percaya? Aku berkata bohong. Hahaha." tawa pria ini menggelegar. Olivya menatap khawatir, pasalnya jika digambarkan dalam bentuk anime komik, pasti gambaran dosen ini sedang marah dan asap yang keluar dari kepalanya. Lihatlah? Wajah dosen ini sangat merah padam, tak sulit rupanya membuat dosen satu ini marah.
"Bercanda, dia tetangga saya. Kita satu komplek." ujar pria ini dengan berbohong.
"Apa yang dikatakan dia itu benar?" tanya dosen killer ini pada Olivya. Olivya menunduk, ia bingung harus menjawab apa.
"Kenapa kau tanya padanya? Tanya padaku, aku tetangganya." sahut pria ini.
"Sudahlah, saya tak mau buang-buang waktu mengajar saya. Sekarang, kalian kembali ke tempat duduk. Dan untukmu, kamu duduk dibarisan paling depan. Saya ingin mengetes kemampuan kamu." ejek guru itu dengan merendahkan seorang Olivya.
"Bu, anda belum mengatakan padanya nama anda." ujar laki-laki tadi yang menyelamatkan Olivya dari desakan dosen killer ini.
"Yoseline." ujar dosen itu.
"Paham kamu? Hei, bocah ingusan." tanya Yoseline -- Dosen killer itu sambil menunjuk Olivya mengunakan sebuah tongkat yang panjang.
"Paham bu." jawab Olivya dengan ramah. Dirinya pun tak mengambil pusing ucapan-ucapan Yoseline yang sangat menusuk, lama-lama ia akan terbiasa dengan ini.
***
Mad berjalan masuk kedalam perusahaan Madrick Vllcio's Company dengan diikuti oleh kedua pengawalnya yang berada dibelakangnya. Madrick adalah pemimpin terusan dari mendiang Daddy nya. Mad berpegang teguh perusahaan ini, bahkan jika ada salah pegawainya yang bekerja tak becus menurutnya, Mad akan langsung memecatnya. Ia akan tetap menjaga kualitas perusahaan ini, seorang karyawan baru yang ingin bekerja disini, harus mengikuti tahap seleksi yang benar-benar ketat. Tidak sembarangan orang yang dapat bekerja disini.
Mad masuk kedalam lift yang hanya khusus untuknya, sedangkan kedua pengawalnya menggunakan lift umum karyawan lainnya. Mad memencet tombol paling atas sendiri yang merupakan ruang kerjanya. Tatapannya dingin, dengan aura seorang mafia yang sangat kental pada dirinya.
Setelah cukup lama, lift ini pun terbuka. Mad berjalan keluar dan tak lama, lift yang ditumpangi pengawalnya pun terbuka secara bebarengan, sehingga pengawal ini pun tetap mengikuti langkah Mad sesuai perintah tuannya.
Mad membuka pintu ruangannya dengan sidik jarinya, ia masuk dan langsung duduk di kursi kebesarannya dan pengawalnya duduk tepat didepannya.
"Sudah tahu siapa yang melakukan aksi tembak dadakan kemarin?" tanya Mad dengan aura yang menyeramkan. Pengawal inipun mengangguk mantap, ia sudah menemukan siapa dalang dibalik ini semua. Tak sulit bagi Mad dan pengawalnya untuk menemukan keberadaan musuhnya. Salah satu pengawal musuh yang kemarin sempat di lumpuhkan, dipaksa untuk membuka mulut agar memberitahu siapa dibalik dalang ini semua.
Banyak pengawal musuh yang menerima ajakan Mad untuk menjadi pengawalan dan ada juga yang menolak sehingga berakhir dengan tragis. Setidaknya, sifat dari Daddy yang pemaaf menurun sedikit padanya. Mad tidak langsung membunuh habis pengawal musuh, tetapi menawarkan untuk ikut di bawah pimpinannya.
"Siapa?" tanya Mad.
"Anak buah Bryan." jawab pengawal itu.
Mad tersenyum ala devil yang sangat menyeramkan. Aura gelapnya telah keluar, sangat menyeramkan.
"Kita akan membunuh mereka semua secepatnya. Musuh semakin banyak." ujar Mad dan langsung diangguki oleh pengawalnya. Mereka tau maksud Mad. Secepatnya, yaitu hari ini atau jam ini juga. Mad juga telah mengumpulkan pengawalnya. Bukan peperangan pada jaman sejarah, namun membunuh atas dasar gangguan dalam ketenangan diri Mad.
Singa yang selama ini ia tidurkan, telah di bangunkan oleh seseorang dan tanpa pandang bulu, singa ini akan siap menerkam siapapun yang mengganggu ketenangannya. Ya, siapapun.
"Gerakkan setidaknya lima pengawal untuk memantau kekasihku di Universitas." titah Mad.
Mad melihat jam tangan mahal nya yang melingkar sempurna pada pergelangan tangannya.
"Sudah menemukan lokasi persembunyian nya?" tanya Mad.
"Sudah tuan. Disebuah markas tua, disana lengkap dengan ayahnya dan juga teman ayahnya yang ikut serta."
Mad tersenyum lebar. Satu langkah menuju kemenangan. Satu pancingan, Tiga tangkapan sekaligus. Setelah ini, tidak akan lagi yang mengganggu gadisnya atau dirinya.
Eh, mungkin?
Kalian ke sana dahulu, aku akan menyusul. Ingat, gadisku tak boleh mendengar ini semua, atau ia akan mengalami ketakutan dan trauma lagi.
***
Bel istirahat sudah berbunyi. Olivya mengemasi barang-barangnya, memasukkan segala perlengkapan belajarnya kedalam tas ransel miliknya. Bukan tas ransel biasa, tentu saja tas ransel yang sangat mahal dan mewah. Tentu saja Mad yang membelikannya. Banyak para cewek yang menatap iri ransel mahal milik Olivya, bahkan Olivya sendiri tak menyadari jika ransel yang ia pakai saat ini adalah ransel incaran para wanita.
__ADS_1
"Hei, mau ke kantin bareng nggak?" tanya seorang pria yang tadi menyelamatkan Olivya dari desakan dosen killer.
"Bo-boleh." jawab Olivya dengan gugup.
"Mau aku gandeng?"
"Ku rasa nggak perlu." tolak Olivya dengan ramah.
Olivya dan pria ini berjalan beriringan. Perlu Olivya akui jika cowok ini sangat tampan dan maco. Ini memang rezeki Olivya atau hanya kebetulan. Pagi tadi ia diantar Mad yang tentu tak kalah ganteng, kedua ia diantar oleh dosen tampan yang mungkin dosen idaman kampus ini, ketiga ia diantar ke kantin oleh pria yang belum ia ketahui namanya.
Banyak pasang mata yang menatap rendah Olivya, terutama para kaum hawa. Mungkin, mereka semua iri dengan Olivya yang bisa berdekatan dengan cowok tampan, tapi tidak bagi Olivya. Ia sudah punya Mad, ia takkan berlain hati dari Mad. Dengan segala bentuk peduli Mad, membuat Olivya dengan cepat mencintai pria ini.
Olivya tetap berjalan menunduk hingga sampai akhirnya mereka sampai di kantin kampus. Kantin disini bersih dan rapi. Hampir seperti sebuah kafe yang berada di in door. Olivya sangat menyukainya. Walaupun disini ramai, tapi para mahasiswa tidak akan kesusahan mencari tempat duduk, karena disini sudah tersedia tempat duduk sesuai jumlah siswa. Tak terlihat saling berdekatan, sangat rapi dan begitu luas.
"Tolong sedikit menjauh." ujar Olivya dengan malu-malu. Pasalnya, pria disebelahnya ini selalu saja duduk berdekatan dengan nya. Bukan karena apa, Olivya hanya risih menjadi pusat perhatian disini.
"Kau malu ketika berdekatan dengan ku?" tanya pria itu.
"Tidak, aku hanya malu jika ditatap oleh banyak orang disini." balas Olivya.
Pria itu hanya mengangguk.
"Aku akan pesan makanan." Olivya hendak berdiri, namun tangannya dicekal oleh pria yg belum ia ketahui namanya.
"Duduk saja, aku akan memanggil pelayan."
"Ada seorang pelayan?" tanya Olivya dengan bingung.
Pria itu mengangguk, "Disini disediakan pelayan. Pelayan ini akan memesankan makanan kita di toko menu yang ada."
Olivya tertegun, University ini benar-benar surga bagi para mahasiswa maupun dosen.
Pria itu memanggil seorang pelayan laki-laki. Mereka memesan steak daging dan juga jus jeruk. Setelah selesai, pelayan tersebut melenggang pergi.
"Ah, ku kira kau sudah mengenalku." ujar Pria itu dengan wajah kecewa.
"Kenapa kau berpikiran begitu?"
"Ya, karena aku cukup populer disini."
"Ah tidak, aku populer karena aku adik dari dosen tampan yang ada disini." sambung pria itu.
"Siapa?" tanya Olivya masih dengan bingung.
"Sebelum itu, nama saya Carson Weber. Dan dosen tampan yang ku maksud adalah Maxwer Weber. Apakah kau mengenalnya?"
"Tidak, aku hanya bertemu tadi. Dia dosen yang baik." ujar Olivya sambil tersenyum.
"Tidak-tidak. Jangan memujinya didepan ku, atau aku akan cemburu." balas Carson dan selingi dengan kekehan.
"Kau juga tampan sepertinya." ucap Olivya dengan jujur dan polosnya.
"Terima kasih. Tapi seharusnya kau bilang, Dia tampan seperti ku."
"Sama saja. Apakah kau most wanted disini?"
"Kenapa kau tanya begitu? Tentu saja tidak. Aku tidak suka menjadi bahan kepopuleran disini. Cukup kakak ku saja, aku jangan. Kenapa?" tanya Carson.
"Tidak, aku hanya risih dilihatin oleh banyak cewek disini."
"Abaikan, bisa jadi mereka menatapmu karena kamu baru disini."
"Ah iya. Bisa jadi juga."
***
__ADS_1
Mad dan pengawalnya mengendap-ngendap untuk masuk ke sebuah markas tua yang menjadi tempat persembunyian para mafia laknat itu.
"Jangan menimbulkan suara, serang secara dadakan sehingga tidak ada kesiapan dari sang lawan." bisik Mad yang masih dapat diterima oleh pendengaran pengawalnya.
"Tuan, mereka sedang bermain judi. Mungkin mereka tidak tahu jika kita datang kemari untuk mengepung." ujar anak buah Mad yang baru saja datang untuk melihat apa yang orang-orang disini lakukan.
Mad tersenyum ala devil, "Bagus, ada berapa pengawal di dalam sana?"
"Hanya sedikit tuan, jika dibandingkan oleh kita jelas mereka akan kalah."
"Semua, kepung seluruh wilayah markas ini. Jaga-jaga jika ada yang kabur." titah Mad yang langsung diangguki oleh anak buahnya.
Anak buah Mad telah berpencar untuk mengawasi setiap sudut markas.
Brakkk
Mad menendang pintu tua yang sudah tak layak pakai hingga menimbulkan suara yang keras dan cukup membuat kaget seseorang yang berada di dalam sana. Benar apa kata anak buahnya, para pengecut itu sedang bermain judi. Permainan yang hanya orang bodoh yang memainkannya.
Judi adalah permainan dimana jumlah pemain nya lima orang atau lebih dan masing-masing pemain harus menyetorkan sejumlah uang sebagai taruhannya. Jika mereka kalah, maka uang mereka juga akan hangus. Dan hanya ada satu orang yang menang dan berhak memiliki uang itu semua. Ingat, permainan ini tak layak untuk dimainkan.
"Kau?!" geram seorang mafia tua yang akan menjadi sasarannya saat ini. Lengkap sudah dengan anak laki-lakinya yang pecundang. Disaat mereka baru merundingkan sesuatu untuk menyerang Mad, justru Mad yang telah siap menyerang mereka.
"Kenapa? Kau terkejut dengan kedatanganku? Atau.... Kau senang karena kematian mu sudah dekat?" ejek Mad dengan kekehan yang menyeramkan.
Mad memutar pistol nya, ia menatap sengit kearah Xander dan juga Bryan.
"Coba bayangkan, kalian sedang berhura-hura bermain judi sambil minum-minum, lalu aku datang dan mengacaukan hura-hura mu? Ahaha, apakah aku bodoh karena datang di waktu yang salah?"
Xander, Bryan, Ven, dan juga ada Warmon. Kalian ingatkan Warmon? Mafia asal Belanda yang ingin membeli sebuah pistol pada Mad namun setelah itu, kabar tentang pembelian pistol dari Warmon yang telah hilang. Tidak ada kepastian dari sang pembeli, dan ternyata Warmon bersekongkol dengan Xander. Lengkap sudah, ada dua mafia dan satu calon mafia kecil.
Mad tertawa saat melihat raut wajah ketakutan dari Bryan. Mad tahu, Bryan hanyalah berani bermain jika ada kelompoknya. Tapi, jika sendirian, Bryan akan menciut bagai benalu.
Dorrr
Tanpa aba-aba, Mad menembak salah satu anak buat Xander yang berdiri tepat disebelah tuannya. Xander dan yang lain pun terkejut, anak buahnya itu mati seketika karena Mad menembak tepat pada jantungnya.
"Aku tidak suka bertele-tele." gumam Mad dan langsung menembak seluruh anak buah Xander.
Xander, Warmon, dan juga Ven menembaki anak buah Mad yang mencoba mendekat kearahnya. Mereka kewalahan dengan kehebatan dan kelincahan anak buah Mad dalam menghindari sebuah peluru. Sangat lincah, sedangkan Mad sedang duduk manis sambil membuka sebuah botol bir yang masih tersegel. Mad meminum langsing birnya dari botol sambil menyaksikan sebuah hiburan baginya..
"Bagaimana? Anak buah ku tak selemah yang kau pikirkan." ejek Mad saat menyadari tatapan benci dari Xander.
"Oh iya, Ven lihatlah mantan anak buah mu, mereka sekarang menjadi hebat, bukan? Jangan mencoba untuk menghasutnya Bryan, mereka takkan kemakan lagi omongan busuk mantan tuannya." ujar Mad yang seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Bryan dan Ven.
"Sudah cukup bersenang-senang mu, Mad. Mungkin kau yang akan tewas saat ini." ujar Warmon sambil menodongkan pistol kearah wajah Mad.
"Baiklah, akan ku akhiri pesta ini. Dan, mungkin juga aku akan membalikkan ucapan mu." balas Mad sambil beridiri dari duduknya dan melempar botol bir yang masih tersisa sedikit kearah kepala botak milik Warmon.
Warmon kehilangan keseimbangan, kepalanya telah mengeluarkan banyak darah dan pengelihatannya pun rabun. Mad langsung menembak mati kearah Warmon.
"Cuih, lemah." ejek Mad.
Mad menoleh kearah Bryan. Ia tersenyum kecut melihat wajah Bryan yang penuh dengan keringat dingin. Haha, sangat lucu bagi Mad.
Tanpa aba-aba, Mad langsung menembak Bryan tepat pada jantungnya. Ia sedang tak ingin main-main sekarang, waktunya tak banyak. Sebentar lagi, Olivya akan pulang kuliah dan Mad yang akan menjemputnya.
"MAD!!" teriak Xander dengan amarah. Wajahnya memerah padam dan tangannya mengepal kuat. Bapak mana yang terima atas kematian anaknya yang dibunuh? Selain bapak yang tak memperdulikan anaknya sedikitpun.
"Baiklah, giliranmu."
Dorrr
"Akkhhh.."
TBC
__ADS_1