My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Garden Strawberry


__ADS_3

Olivya membaringkan tubuhnya diatas kasur yang empuk. Gaun-nya telah ia ganti dengan piyama tidur yang nyaman. Hari yang benar-benar melelahkan. Tak membutuhkan waktu lama, mata Olivya pun terpejam dengan posisi dimana kakinya yang menggantung dibawa kasur.


Mad yang baru masuk kamar dan langsung melihat posisi tidur Olivya, ia merasa khawatir. Takut jika posisi seperti itu membuat tidur Olivya tak nyaman dan mengganggu kesehatan ibu hamil. Segera mungkin Mad merubah posisi tidur Olivya senyaman mungkin.


"Dia sangat kelelahan." gumamnya.


Mad tersenyum, "Kini kau menjadi milikku seutuhnya. Tak akan ada yang bisa memisahkan kita, selain takdir Tuhan yaitu kematian." sambungnya.


****


Milan, Italy 10.00 AM


Pagi yang cerah dengan cahaya mentari yang begitu menghangatkan tubuh. Sang rembulan telah digantikan oleh sang mentari untuk menyinari bumi.


Diatas kasur yang empuk, terdapat dua pasangan pengantin baru yang masih meringkuk diatas kasur dengan nyenyak-nya. Mereka adalah Madrick Vallencio dan Olivya Vallencio. Ya, Mad telah mengubah nama belakang Olivya menjadi nama marga miliknya.


Olivya mengerjapkan matanya. Bukan karena sang mentari yang menyilaukan matanya, tapi karena hembusan nafas yang menyapu permukaan wajahnya. Matanya terbuka sempurna. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah wajah tenang milik Mad yang sedang tertidur.


Tanpa sadar, sebuah lengkungan terbentuk dari sudut bibirnya yang menciptakan sebuah senyuman. Diangkat tangan kanannya untuk menyentuh wajah Mad lalu turun pada leher tegas milik Mad. Sungguh indah ciptaan Tuhan ini.


"Mengagumi ku, hm?" Olivya terkejut saat suara serak terdengar berat masuk ke indera pendengarannya.


Tak memberi kesempatan Olivya menjawab, Mad langsung menyambar bibir Olivya dengan sangat ganas. Ditindihnya tubuh mungil Olivya dengan badannya yang kekar. Tak puas dengan bibir saja, Mad beralih mencium leher jenjang milik Olivya. Hingga, suara yang dinantikan oleh Mad keluar dari mulut Olivya.


"Aku tidak tahan." ujar Mad dengan suara yang berat.


"Laku--"


"Eghem, saatnya makan pagi."


"Oh shit!" umpat Mad. Matanya menatap kearah Carson yang berdiri diambang pintu dengan membawa sebuah apel utuh yang masih belum digigit.


Olivya yang terkejut melihat kehadiran Carson secara tiba-tiba, spontan ia mendorong tubuh Mad untuk menjauh darinya. Dengan secepat kilat, Olivya bangkit dan menuju kamar mandi. Mad menatap kepergian Olivya menuju kamar mandi, setelah itu menatap tajam kearah Carson.


Dengan tampang tak berdosa-nya, Carson menatap sekitar kamar Mad yang luas nan mewah ini.


"Kamarku tak semewah ini." gumam Carson sambil mengigit apelnya.


"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Mad sambil mengambil air minum diatas nakas dan meminumnya. Pasalnya, kamar Mad menggunakan password voice dan sidik jari yang dapat digunakan oleh Mad dan Olivya saja.


"Ternyata kau bisa bodoh juga. Kau tak mengaktifkan password nya. Aku juga berpikir, tidak mungkin bisa masuk ke kamarmu, tapi Tuhan berpihak padaku." balas Carson sambil menggigit apelnya lagi.


Mad menghembuskan nafas dengan berat. Benar apa yang dikatakan Carson, semalam ia mematikan password nya untuk memudahkan para perias Olivya masuk ke kamarnya dan tidak merepotkan gadisnya juga.


"Sekarang kau boleh keluar." ujar Mad dengan tatapan dingin.


"Bilang pada sepupu cantik ku. Armon menunggunya dibawah."


"Apakah mulut mu susah mengatakan uncle ?"


"Bukan kah itu hal yang biasa? Kurasa tidak masalah."


"Bocah."


"Kau mengejekku?"


"Kau boleh keluar."


Carson menatap Mad dengan kesal. Ia pergi meninggalkan kamar Mad dengan perasaan yang begitu kesal. Bagaimana tidak? Dirinya dikatakan bocah.


Apakah Carson tidak menyadari? Bahwa dirinya adalah yang paling membuat Mad kesal.


Mad meraup mukanya dengan sangat kasar. Entah terbuat dari apa otak Carson itu.


****


Mad dan Olivya melangkah turun tangga secara bersamaan. Perut Olivya sudah mulai terlihat besar dan badan mungilnya pun terlihat berisi.


"Selamat pagi, semua." sapa Olivya. Ia merasa senang pagi ini.


Semua keluarga Macrime datang dan menginap di mansion Mad. Itulah sebabnya Carson berada dikamar Mad pagi-pagi.


Mad dan Olivya duduk bersebrangan. Satu deret untuk para laki-laki, dan deret lainnya untuk para perempuan. Suasana meja makan sangat ramai, membuat mood Olivya sangat bagus. Tapi tidak untuk Mad. Mood nya benar-benar hancur hanya karena bocah ingusan masuk kedalam kamarnya dan menggagalkan semuanya.


"Wajahmu terlihat kesal, kenapa?" tanya Armon pada menantu satu-satunya, yaitu Mad.


"Aktivitas paginya gagal." sahut Carson dengan tampang tak berdosa sambil mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang tersedia pagi ini.


"Aktivitas apa?" tanya Nancy dengan bingung. Sedangkan, Olivya sudah menunduk malu.


"Rahasia pengantin baru." bisik Argo–Daddy Carson pada Nancy, namun masih bisa terdengar oleh yang lain. Sontak mereka semua tertawa.


"Kenapa bisa?" tanya Nancy disela-sela tawanya.


"Tanyakan putra sialan mu itu, kenapa bisa masuk kedalam kamarku." jawab Mad sambil mengambil makan paginya.


Nancy menggelengkan kepalanya sambil menatap Carson penuh peringatan. Melalui tatapan dari sang ibu, Carson hanya tertawa cekikikan. Semua orang mulai sibuk mengambil makanan dan juga memakan makanan. Olivya makan dengan sangat tenang, begitu pun dengan yang lain. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.


"Vya, apakah kau sudah membuat jadwal pemeriksaan kandungan dengan dokter?" tanya Zakira pada Olivya yang berada di sebelahnya.


Wanita itu menggeleng lemah. "Belum, Grandma." gumam Olivya.

__ADS_1


"Mad, apakah kau tak mengantarkan cucu ku ini periksa kandungan?" tanya Zakira dengan tatapan mengintimidasi.


"Besok aku akan mengantarkannya. Grandma tidak perlu khawatir, tanpa disuruh pun, aku akan menjaga dia dengan sangat baik," balas Mad. "Dan juga calon anakku." sambungnya lagi.


"Bagus itu. Jaga putriku dan calon cucu ku. Kehadiran malaikat kecil, akan kita sambut dengan sangat meriah." imbuh Armon.


"Kalian membicarakan hal tidak penting didepan ku." sungut Carson dengan tatapan kesal.


"Hey, apa maksudmu? Jika memang tidak penting untukmu, kenapa harus kau tanggap?" sahut Mad.


"Aku tak menanggap-"


"Kau menanggapinya. "


"Tap-"


"Carson, berlaku sopan." tegur Argo–Daddy Carson.


****


Verlyn berdiri didepan cermin sambil memoles wajahnya dengan bedak. Senyumnya terus saja mengembang sejak tadi, entah mengapa hati-nya begitu senang dan damai.


"Carson, kau membuatku jatuh cinta."  gumam Verlyn.


"Eghem, ada yang sedang jatuh cinta?"


Verlyn menoleh kearah pintu kamar yang terbuka. Disana, saudari kembarnya sedang berdiri diambang pintu sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Ia tersenyum malu, sambil menyisir rambut panjangnya.


Violin melangkah mendekat kearah Verlyn. Ia memeluk saudari kembarnya dari belakang sambil tersenyum.


"Kau bahagia, aku akan jauh lebih bahagia darimu. Bahagia mu adalah bahagiaku." gumam Violin.


"Terima kasih."


Perlahan Violin melepaskan pelukannya. "Kalau boleh tahu, siapa cowok itu?" tanya Violin.


"Sepupu, Oliv."


Violin tampak berpikir, sebelum akhirnya ia menjerit bahagia. Bukan karena apa, hanya saja dirinya tak percaya jika saudari kembarnya ini jatuh cinta kepada sepupu Olivya sendiri. Siapa itu? Tentu saja Carson.


"Apakah kau serius?"


Verlyn tersenyum, "Ya. Nanti malam aku akan jalan berdua dengannya."


"Aaaa, aku turut senang juga. Semoga saja, aku segera menyusul mu. Menemukan pujaan hatiku."


"Itu pasti. Kau akan menemukan sosok yang pas untukmu."


Kedua gadis kembar ini menoleh. Kedua orang tuannya masuk kedalam kamarnya. Mereka adalah Siska dan Gaston. Kebahagiaan kedua gadis kembar ini bertambah, dikala kedua orang tuanya akur dan rujuk kembali. Keluarga yang dulu hancur, kini kembali utuh berkat rahmat Tuhan.


"Verlyn sedang jatuh cinta dengan sepupu Olivya." ucap Violin sedangkan Verlyn sedang tersenyum malu.


"Benarkah itu?" tanya Gaston.


"Iya, Dad."


"Mama senang jika kalian bahagia. Kebahagiaan Mama hanya sebatas melihat kalian tersenyum gembira." ujar Siska sambil berdiri diantara kedua putrinya.


Verlyn berdiri sambil memeluk Siska. Begitu juga yang dilakukan oleh Violin. Siska memeluk kedua putrinya dan tak lama disusul Gaston memeluk keluarga kecilnya yang kembali utuh.


*****


Olivya berjalan masuk kedalam kamar sambil memainkan ponselnya. Ia melihat-lihat foto-foto kebun strawberry yang terdapat buahnya besar-besar. Entah mengapa, ia ingin sekali memetik buah strawberry belakangan ini dan memakannya langsung ditempatnya.


"Mad, kau sibuk?" tanya Olivya saat melihat suaminya sedang mematut diri didepan cermin dengan pakaian kaos hitam polos dan celana jins.


"Tidak. Kau ingin sesuatu?" tanya Mad sambil menyisir rambutnya tanpa menoleh sedikit pun kearah Olivya.


Wanita ini pun berjalan mendekat dan merangkul tubuh Mad dari belakang. Pergerakan tangan Mad yang sedang menyisir pun berhenti. Ia meletakkan sisirnya dan membalikkan tubuhnya menghadap kearah istri kecilnya.


"Kau mau sesuatu?" tanya Mad dengan lembut.


"Uhm. Aku ingin memetik buah strawberry sekarang." gumam Olivya persis seperti anak kecil.


"Hanya itu? Aku bisa juga membelikan mu kebunnya."


"Ish, aku hanya ingin memetik buah strawberry, bukan memilikinya."


"Aku akan membelikanmu agar kau bisa memetiknya kapan pun. Ayo kita cari kebun strawberry." ajak Mad.


Olivya menggeleng.


Mad mengerutkan dahinya. "Kenapa? Tadi kamu yang minta kan?"


"Aku mau memetik kebun strawberry langsung ke Jerman." ujar Olivya.


"Apa? Disini banyak kebun strawberry, kenapa harus di Jerman?" tanya Mad dengan bingung.


Olivya menggeleng lemah, "Aku tidak mau tau. Pokoknya kita harus ke Jerman sekarang, titik!" bantah Olivya.


Mad menghembuskan nafasnya dengan gusar. "Baiklah, kita berangkat ke Jerman sekarang. Aku akan menyuruh para maid untuk menyiapkan pakaian kita."

__ADS_1


Olivya melebarkan senyumannya. "Hore!!!! Kita berangkat sekarang 'kan Mad?"


"Iya."


"Sekarang kan?"


"Iya, sayang."


"Yeyyy!!"


A few moments lettrer


Olivya dan Mad baru saja keluar dari mobil saat sudah sampai diparkiran jejeran pesawat. Termasuk pesawat pribadi milik Mad. Olivya merapatkan tubuhnya terus ke badan Mad. Entah mengapa, masa kehamilan ini Olivya ingin terus bermanja-manja pada Mad. Dan Mad pun tak keberatan soal itu. Justru, ia sangat menyukai jika istrinya selalu manja dengannya.


Mad menyuruh Olivya untuk berbaring diatas tempat tidur yang terdapat di pesawat mewah ini.


"Perjalanan cukup jauh. Kau tidur saja." ujar Mad.


Olivya hanya mengangguk patuh. Ia mulai membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Semasa kehamilannya ini, Olivya mudah sangat lelah. Mad yang tau soal itu, ia tak membiarkan istri kecilnya kelelahan. Segala fasilitas apapun ia keluarkan untuk istrinya agar tak kelelahan.


Mad duduk di single sofa yang terdapat disebelah mini bar. Ia mengambil minuman alkhol nya dan menuangkannya pada gelas berukuran kecil.


"Tuan, dari informasi yang saya dapat, belum ada pemilik kebun di Jerman yang mau menjual kebunnya kepada kami." ujar salah satu pengawal yang bertugas mengawal Mad dan Olivya selama di Jerman. Dan juga mencari tahu kebun terbaik untuk dibelinya.


"Tawarkan harga yang fantastis. " gumam Mad.


"Tuan, kami sudah menawarkan harga yang tinggi dari harga kebun pada umumnya. Tapi si pemilik masih tetap tidak kau menjualnya."


"Tinggi 'kan lagi harganya sampai dia tergiur. Aku tidak mau tahu, pokoknya harus ada kabar bahwa kebun strawberry berhasil ku beli atas nama Olivya Vallencio."


"Baik tuan."


Setelah itu, pengawal itu pun melangkah pergi meninggalkan Mad sendiri. Dengan perasaan tenang, Mad menegak kembali minumannya. Seakan, ia tak takut jika harus kehilangan uangnya dengan jumlah yang fantastis, demi kebahagiaan istri tercinta-nya.


A few hours later


Mad membopong tubuh Olivya untuk turun dari pesawat. Ia tak mengizinkan para pengawal menggendong tubuh istrinya walau sejengkal pun. Biarpun dia dalam keadaan pincang, ia akan tetap yang menggendong tubuh Olivya.


Mad melangkah menuruni tangga pesawat. Sebuah mobil hitam legam telah menunggu didepan arah turun dari pesawat. Sang pengawal membukakan pintu mobil bagian belakang dan Mad langsung masuk. Ia memangku istrinya yang terlelap diatas pahanya sambil menikmati wajah lugu istrinya.


Mobil pun berlalu meninggalkan area lapangan penerbangan. Tak lama Olivya mengerjapkan matanya. Ia sadar jika posisinya dalam pangkuan Mad dan tidak ada niatan sedikit pun untuk beranjak dari posisinya.


"Sudah sampai?" tanya Olivya dengan pelan.


Mad merapikan rambut Olivya yang menutupi wajah cantik istrinya. Ia mencium sekilas bibir ranum Olivya.


"Sudah. Kita akan menuju hotel."


Olivya menggeleng kuat. "Gak, aku mau langsung ke kebun strawberry, titik."


"Tapi kita istirahat bentar sayang. Kamu pasti lelah."


Lagi-lagi Olivya menggeleng, "Aku nggak lelah. Aku udah tidur lama tadi di pesawat."


"Tapi kita taruh barang-barang dulu sayang."


"Nggak mau. Pokoknya langsung ke kebun."


Olivya memasang puppy eyes nya untuk menarik perhatian Mad agar luluh padanya.


Mad menghela nafas dengan pasrah. Ia paling tidak bisa jika harus menolak kemauan dari istrinya. Apapun, sebisanya ia lakukan dan turuti. Apalagi masa-masa ngidam inilah yang ia nantikan walau itu akan merepotkan dirinya.


"Baiklah kita akan langsung ke sana." putus Mad.


Olivya bersorak gembira.


Sesampainya di kebun strawberry, Olivya langsung turun dari mobil dan menuju sebuah toko kecil yang menyediakan tempat untuk wadah strawberry yang dipetik.


"Suami saya yang akan bayar. Cepat berikan wadah itu, yang ukuran besar." ujar Olivya pada seorang laki-laki tua yang menjadi penjaga toko.


Pria tua itu pun memberikan apa yang diminta Olivya dengan wajah bingung. Ia melihat kebelakang dan terdapat seorang pria tampan yang berjalan dengan balutan jaket hitam dan kacamata hitam.


Setelah dapat apa yang ia mau, Olivya segera berjalan menuju kebun strawberry dan mulai memetik strawberry yang sudah merah. Entah kenapa ia merasa sangat senang hanya karena memetik buah merah ini. Tak hanya memetik, ia pun mulai memakan buah strawberry yang manis ini.


Mad berjalan menyusul istrinya. Ia tersenyum saat melihat Olivya sangat bahagia dengan buah merah ini. Ia pun turut ikut memetik dan mencari ukuran yang lebih besar dari biasanya.


"Mad cari yang besar dan berikan padaku." ujar Olivya sambil duduk diatas batu besar dengan menikmati buah strawberry yang manis ini.


"Aku dapat." balad Mad sambil memberikan buah strawberry yang berukuran lumayan besar.


Olivya melompat dari duduknya dan berlari kearah Mad.


"Berikan padaku." pinta Olivya dengan sedikit berlari.


"Jangan lari, nanti jat--"


"Akhh."


"VYA!!"


"AKHH, MAD. BERDARAH."

__ADS_1


Tbc


__ADS_2