
Kringggg
Suara bel istirahat menggema ke seluruh penjuru kampus. Banyak mahasiswa yang berhamburan keluar kelas untuk mengisi perut mereka dengan ber-jajan di kantin. Olivya tak mood hari ini. Ia bahkan menolak ajakan Carson untuk ke kantin. Selain itu, Olivya juga mencoba menjauhi Carson, ia ingat akan janji Mad dan ancaman Caryn. Walaupun Caryn belum mengatakannya, tapi Olivya tau dari segi ancaman itu. Lagian juga, Mad juga telah mengutus pengawalnya untuk mematai-matai dirinya.
Alhasil ditolak oleh Olivya, Carson melangkah menuju kantin dengan kawannya yang sudah menunggu dirinya di depan kelas. Olivya mengeluarkan ponselnya, terdapat pesan lins masuk dari Mad. Tanpa menunggu lama, Olivya membuka isi pesan itu.
Madrick
Jangan lupa makan.
Kalau malas, suruh saja pengawal yang sudah ku utus buat beli makanan.
Mungkin aku akan lama untuk kembali. Setelah ke Prancis, ada meeting penting di America. Kemungkinan besar, usai dari Prancis, aku langsung ke America.
Olivya
Berapa pengawal yang kau utus? Jangan membuatku risih Mad.
Berapa lama? Kenapa tidak pulang dulu? Aku akan kesepian :(
Madrick
Tidak banyak, hanya tiga orang. Jangan membantah, atau akan ku tambah pengawal. Meskipun begitu, kau juga harus tetap jaga diri.
Jika ini bukan urusan kantor yang penting, aku takkan meninggalkanmu. Jika kau mau ikut, akan ku siapkan pesawat pribadi untuk menjemputmu. (read)
Olivya
Tidak! Jangan ditambah. Itu sudah lebih dari cukup.
Ingin rasanya aku liburan juga ke luar negeri, sebelumnya aku tak pernah. Tapi, tidak perlu, tugas kampus semakin menumpuk. (Read)
Madrick
Ya sudah, jaga dirimu baik-baik. Ingat! Jangan dekat-dekat dengan cowok siapapun. Pesawat ku akan berangkat, aku tutup pembicaraan ini. (Read)
**Olivya**
Iya... Hati\-hati. \(read\)
Olivya memasukkan ponselnya kedalam saku, ia berniat menuju ke loker untuk mengambil buku dan setelah itu menuju ke perpustakaan. Sepanjang perjalanan, Olivya hanya menundukkan pandangannya. Banyak para mahasiswa yang tengah bisik-bisikkan buruk tentangnya. Ingin rasanya Olivya berteriak dan menyalahkan semua atas tuduhan mereka. Tapi apa boleh buat? Ia terlalu lemah untuk melakukan hal itu.
Olivya membuka lokernya, semalam ia ingat jika lokernya lupa untuk ia kunci. Semoga, buku-bukunya tidak hilang yang berada didalam sana. Olivya terkejut saat melihat isi lokernya yang penuh dengan tempelan kertas kecil dengan kata-kata yang tak layak.
Little *****
*******
Penjual badan
Pemuas nafsu
Dan banyak kata-kata lainnya yang melukai hatinya. Entah apa yang Mad lakukan jika ia tahu gadisnya sedang dihina, di caci, bahkan di fitnah yang tidak-tidak. Mungkinkah satu kampus dibunuh?
Olivya mengambil satu-satu kertas itu dan meremasnya. Setelah itu, ia mengambil buku yang memang sebagai tujuan utamanya, tak lupa dengan kertas yang sudah di remas, ia bawa juga. Olivya menutup lokernya dan tak lupa menguncinya. Setelah itu ia berjalan menunduk dan cepat saat suara seruan hinaan itu terlontar dari mulut-mulut para mahasiswa dan mahasiswi.
Setelah sampai di perpustakaan, disini Olivya duduk dikursi pojok yang sengaja ia menjauhi kerumuan. Ia membuang kertas itu ke tempat sampah, matanya memanas dan pandangannya pun mulai buram saat air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Hei." Olivya lantas menghapus air matanya yang belum lolos dari pelupuk matanya.
"Iya?" balas Olivya dengan menutupi kerapuhannya dari Carson yang datang secara tiba-tiba.
"Kau menangis?" tanya Carson.
"Tidak, hanya kelilipan. Ada apa?"
"Tidak ada. Aku tadi melihatmu berjalan cepat menuju perpustakaan, rupanya kau tak sabar ingin membaca buku." ujar Carson.
"Btw, kenapa duduk terlalu pojok?" tanya Carson.
"Aku hanya menjauhi kerumuan agar bisa lebih konsentrasi. Em, bolehkan kau membiarkan ku sendiri?" tanya Olivya dengan ragu.
"Kau mengusirku?"
__ADS_1
"Ti-ti-tidak, aku hanya butuh sendiri untuk konsentrasi." balas Olivya dengan gugup.
"Tenanglah, aku tidak akan mengganggumu."
Seketika, pandangan Olivya menangkap sesuatu. Ia melihat seorang penjaga perpustakaan dengan setelah jas dan juga kacamata hitam sedang menatap kearahnya.
Olivya tahu, sangat tahu. Itu pasti salah satu dari tiga pengawal Mad. Tidak salah lagi, pria bertubuh kekar itu terus menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan dari balik kacamata hitamnya.
"Kumohon, pergilah. Aku hanya risih ketika semua orang menatap ku." ujar Olivya pada Carson sambil melirik sekilas kearah pengawal Mad itu.
"Hiraukan saja."
"Carson, please." ujar Olivya yang mulai sedikit tegas.
"Oke-oke, baiklah. Ini nomor ponselku, telpon aku jika butuh sesuatu." Carson menyodorkan sebuah kertas note kecil yang bertuliskan sebuah deretan angka. Olivya mengangguk dan menyelipkan kertas itu kedalam buku tebalnya. Tentu saja dengan tidak sepengatahuan pengawal Mad itu.
Setelah Carson beranjak dari tempatnya, Olivya memijat pelipisnya. Ia melihat kearah tempat dimana pengawal Mad tadi berada, tapi sudah tak ada orangnya. Olivya mengedarkan pandangannya untuk menemukan sosok pria kekar itu. Namun tak menemukannya juga.
Olivya menghembuskan nafas dengan berat.
"Tuhan, tolong aku." gumam Olivya
***
Clzamore Hotel, France. 04.00 pm
"Bagaimana?" tanya Mad pada seseorang yang berada diseberang telpon.
"Tadi saya sempat melihat nona Olivya dengan Carson berada di perpustakaan. Tapi nona Olivya telah mengusir Carson untuk menjauh darinya."
"Awal yang bagus. Awasi terus gadisku."
"Tapi tuan, saya mendapat laporan dari pengawal lainnya yang menyamar menjadi mahasiswa, Nona Olivya sedang di bully dengan perkataan yang kurang pantas."
"Perkataan apa?" tanya Mad yang mulai tegas saat mendapat berita buruk tentang gadisnya.
"Didalam loker nona Olivya, ditemukan banyak sejumlah kertas berukuran kecil dengan tulisan bahwa nona Olivya adalah seorang ******* kecil seorang mafia. Tidak hanya itu, tak segan-segan seluruh mahasiswa yang mengatai dengan secara terang-terangan."
Mad mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras. Ia tahu betul mental dari gadisnya, Vya nya akan merasa terbebani dengan ejekan sampah itu. Mad memerintahkan pengawalnya untuk menjaga Olivya saat di kampus dengan ketat. Ia juga menyuruh pengawalnya untuk bertindak saat mahasiswi melalukan kekerasan fisik terhadap gadisnya.
Tok. Tok tok
Mad membuka pintu kamar hotelnya saat seseorang mengetuk pintu dari luar.
"Tuan, meeting akan dimulai di ruang pertemuan lantai dua puluh." ujar Gaston menyampaikan informasi kepada Mad.
Mad melirik arloji mewahnya, ia mengangguk dan memerintah Gaston untuk membawa semua berkas-berkas yang dibutuhkan saat meeting. Mad mengambil ponselnya diatas ranjang, ia mengirim pesan seseorang sebelum pada akhirnya ia beranjak dari kamarnya menuju lantai dua puluh yang ada di hotel ini. Dan diiringi Gaston yang berada dibelakangnya.
Saat memasuki lift, Gaston bertemu dengan dua orang manusia. Seorang wanita dengan membawa seorang anak laki-laki yang berkisar umur lima tahun. Mad tahu siapa wanita itu, bahkan ia tak lupa dengan siapa wanita itu.
"Mad?" gumam wanita itu saat menatap Mad.
"Ya, kau pindah kesini, Yati?" tanya Mad.
Ya, masih ingat kan Yati? Istri seorang mafia yang bernama Edeve Biancaro yang dibunuh oleh Madrick.
"Tidak, aku hanya liburan." balas Yati.
"Mom, kita akan bertemu Dady kan?" tanya putra kecil Yati yang bernama Edran.
Mad mengerutkan dahinya, ia bingung dengan pertanyaan Edran. Ya walaupun bukan untuknya.
"Kau sudah menikah?" tanya Mad.
"Ya, aku sudah menikah dengan duda anak satu. Anaknya perempuan dan lebih tua dua tahun dari Edran."
"Siapa namanya?"
"Haston Roberston."
"Suami mu itu akan ada meeting penting dengan ku hari ini."
Ya, klien yang akan bekerja sama dengan Mad yaitu Haston Roberston. Bukan seorang mafia, hanya seorang CEO disuatu perusahaan. Haston tau jika yang akan bekerja sama dengannya adalah seorang mafia yang terkenal akan kekejamannya. Tapi, Haston adalah tipikal orang yang tak suka mencari gara-gara dengan siapapun. Biarpun itu orang biasa.
__ADS_1
Saat sudah sampai di lantai dua puluh, Madrick, Gaston, Yati beserta anaknya keluar dari dalam lift. Mad berjalan lebih dahulu dan diikuti oleh Gaston di belakangnya. Sedangkan Yati dan juga Edran, berjalan beriringan dengan Gaston.
Mad membuka pintu ruangan meeting. Kedatangan Mad langsung disambut hangat oleh Haston dan juga karyawan lainnya. Hanya hanya mengangguk dan tak ada senyuman sebagai penghias wajah datarnya.
"Selamat sore tuan Madrick." Haston mengulurkan tangannya kearah Madrick.
Tanpa keraguan, Mad membalas jabatan tangan Haston.
"Terimakasih." balas Mad dengan singkat.
Mad duduk disalah satu kursi dan disusul Gaston yang duduk disebelahnya. Mad menyuruh Gaston untuk membuka berkasnya.
"Daddy." panggil seorang anak kecil perempuan dan laki-laki, yang tak lain anak laki-laki itu adalah Edran.
"Kalian? Kenapa masuk?" tanya Haston dengan pelan dan lembut.
Mad yang melihat interaksi Haston dan kedua anaknya, merasa sedikit iri. Diusia nya yang sudah matang ini, seharusnya ia juga memiliki sebuah momongan sebagai pelengkap suatu keluarga.
"Daddy, katanya kita akan beli mainan." ujar gadis kecil itu.
"Iya, nanti Daddy belikan. Tapi sekarang Faren dan Edran keluar dulu ya. Daddy ada pekerjaan penting." balas Haston.
"Nggak lama kan Dad?" tanya Edran.
"Enggak kok, sekarang keluar ya." Kedua anak kecil itu mengangguk dan berjalan keluar ruangan dengan bergandengan tangan
"Maaf, menyita waktu." ujar Haston kepada klien lainnya dan semua di mempermasalahkan itu.
Meeting sore ini bukan hanya Mad dan Haston. Tapi banyak CEO perusahaan dari beberapa negara yang didampingi oleh sekertaris mereka masing-masing. Mad sengaja tidak mengajak sekertaris nya. Ia lebih percaya kepada Gaston untuk rapat besar kali ini.
Haston mulai menjelaskan tentang pembangunan sebuah hotel yang berada di Hawai. Dan juga sebuah taman bermain yang akan mengelilingi hotel tersebut. Fasilitas yang mewah dan tentunya juga membutuhkan uang yang fantastik untuk membangun sebuah proyek ini.
"Apakah ada tambahan?" tanya Haston yang selesai menjelaskan semuanya secara terperinci.
"Tuan, tempatnya cukup sempit untuk membangun sebuah wahana. Kita juga perlu membeli puluhan hektar tanah lagi. Jika sesuai prediksi saya, tempat parkiran akan dibagi menjadi dua. Dimana tempat khusus kalangan orang yang mampu membayar uang parkir dengan harga yang tentunya beda dari tempat parkir umum." timpal Gaston.
Yang lain pun mengangguk setuju, apa yang dikatakan oleh Gaston ada benarnya. Mereka pun menyepakati untuk membeli lahan puluhan hektar lagi.
Meeting sore ini selesai, bukan berarti Mad bisa kembali Italy. Ia dan yang lainnya harus terbang ke Hawai untuk melihat lahan yang telah mereka beli dan mencari lahan berpuluhan hektar lagi.
Setelah dari Hawai, Mad juga ada janji pertemuan di Amerika. Bisa saja Mad menyuruh pegawai kantornya yang menggantikannya, tetapi ini proyek besar dan tentunya mengeluarkan uang yang fantastik juga.
Mad kembali ke kamar hotelnya. Ia akan pergi ke restoran untuk makan malam nanti.
***
Olivya duduk termenung di balkon kamarnya. Awan sudah gelap, dan Olivya menikmati angin malam dari atas balkon. Tidak ada Mad di mansion, menjadikan mansion megah ini sepi. Biasanya, Mad akan memberlakukan dirinya dengan posesif. Contohnya untuk makan malam tepat waktu dan melarangnya dengan tegas untuk tidak mendekati pria manapun.
Tanpa sadar, Olivya tersenyum. Ia jadi merindukan pria itu. Tanpa sadar, ponselnya berdering menandakan panggilan masuk. Senyumannya semakin lebar saat orang yang ia rindukan saat ini sedang menelponnya.
"Iya Halo?" sapa Olivya pertama.
"Lagi apa?" tanya Mad dari sebrang sana.
"Tidak ada, hanya menikmati angin malam."
"Sudah makan?"
"Sudah."
"Oh, baiklah aku tutup."
"Kenapa cepat sekali?"
"Aku akan berkemas untuk terbang ke Hawai besok. Kau jaga diri baik-baik, ingat jangan lupa berdekatan dengan lelaki siapapun."
"Hawai? Katanya ke Amerika? Tidak jadi?"
"Jadi, setelah dari Hawai, mungkin aku langsung ke Amerika. Ya sudah aku tutup telponnya, good night."
"Good night too."
Olivya berjalan masuk kedalam kamar. Tak lupa menutup dan mengunci pintu balkon. Olivya mengambil sebuah laptop. Jika kalian bingung darimana asal laptop itu, Mad telah menyiapkan segala keperluan Olivya selama berkuliah. Tak lupa dengan sebuah laptop, Olivya pasti akan membutuhkannya.
__ADS_1
Olivya mulai merevisi tugas kuliahnya. Saat ia membuka buku tebal, ia terkejut saat ada sebuah kertas kecil yang jatuh dari selipan buku itu. Sebuah deretan angka, Olivya mencoba mengingat-ingat kertas siapa ini. Seketika ia ingat dengan Carson. Ya, ini adalah nomor telepon Carson. Olivya tak langsung menyimpan nomor kontaknya di ponsel, ia takut jika Mad akan marah padanya. Olivya akan tetap menyimpannya didalam selipan buku tebal. Berharap Mad tidak menemukannya.
TBC