
Semangat aku nulis itu berkat komen positif kalian:)
Hal sederhana, bikin aku bahagia. Terasa dihargain..
NOTE:
Mungkin cerita ini hanya sampai 45 Part Atau 50 Aku Nggak Tahu. Aku usahain perpanjang kata setiap part.
~Happy reading~
__________________________
Mad dan Olivya berada dikamar milik Mad. Para maid sibuk memindahkan semua barang milik Olivya dari kamar tamu kembali ke kamar istimewanya. Bagaimana dengan Lovina? Wanita itu tetap Mad kurung sampai benar-benar menyesali semua perbuatannya. Mad sengaja tak menyiksa secara fisik, namun secara psikis.
Olivya terduduk diatas ranjang empuk Mad dengan keadaan kaki bersila dan Mas yang membaringkan tubuhnya menyamping dengan tumpuan telapak tangan sebagai penyanggah kepalanya.
"Mad, aku takut jika kau benar-benar amnesia." gumam Olivya sambil mengelus bulu anak kucing yang sedang tertidur diam di pangkuannya.
"Anggap saja ini hukuman untukmu." balas Mad.
Olivya menatap Mad, "Salahku yang mana?"
"Kau lupa? Selama aku di luar negeri, kau berdekatan dengan Carson." ujar Mad dengan wajah tidak suka.
"Maafkan aku." lirih Olivya sambil menunduk.
Mad menarik tengkuk Olivya dan mencium bibirnya sekilas.
"Lupakan, hukuman ini sudah setimpal."
Olivya tersenyum hingga menunjukkan lesung pipinya. "Hubungan kita sudah tidak ada lagi pengganggu." ucap Olivya yang membuat Mad gemas.
"Belum, aku masih harus menghukum dua orang lagi."
Olivya mengerutkan keningnya. "Siapa?"
"Dosen mu dan keponakannya. Berani sekali dia menamparmu."
"Mad, sudahlah lupakan. Jika kau membalas dendam dan mereka juga akan membalas dendam, masalah ini tidak akan kelar. Mereka sudah menyesali perbuatannya dan aku sebagai seorang manusia biasa harus memaafkannya. Jika Tuhan mau memaafkan, kenapa kita manusia yang tak ada apa-apanya di mata Tuhan, tidak mau memaafkan? Semua masalah, kita hadapi dengan kepala dingin. Jangan langsung ambil tindakan menyakiti atau membunuh seseorang. Semua manusia pernah mengalami kesalahan, dan kita sebagai manusia lainnya harus meluruskan masalah itu. Bukan malah menghilangkan nyawa seseorang sebagai akhir masalah ini." ujar Olivya panjang lebar.
Mad tersenyum, hatinya tersentuh dengan ucapan lugu dari Olivya. Apa yang dikatakan gadisnya benar, selama ini ia telah berdosa dengan menghilangkan banyak nyawa. Ini juga ia lakukan untuk reputasi nya yang tak dipandang remeh oleh Mafia lainnya. Mad mau ditakuti oleh semua pemimpin agar tak ada yang berani untuk melakukan tindakan bodoh padanya.
"Terima kasih, sayang. Sekarang aku tahu, jika membalas dendam itu akan memperumit masalah. Apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan semua dosa-dosa ku?" tanya Mad.
"Maafkan orang yang telah melakukan kesalahan kecil. Beri dia peringatan sekali, dua kali. Jika masih belum tobat, bawa dia ke pihak yang berwajib."
Mad mengubah posisinya menjadi duduk berhadapan dengan Olivya.
"Uh sayang, pintar sekali. Rasanya ingin ku terkam sekarang." ucap Mad sambil mencubit pipi Olivya dengan gemas.
"Mad."
"Hm?"
"Kau punya hutang cerita padaku." ujar Olivya.
"Yang mana?" tanya Mad dengan tampang polos.
"Ish kan, mulai nyebelin."
"Oke-oke, aku akan cerita."
Flashback On -> MAD POV.
Didalam ruangan yang cukup sunyi, Aku membuka matanya. menyesuaikan mataku dengan cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah gorden.
"Mad kau sudah sadar?" tanya seorang gadis yang masih belum ku lihat wajahnya.
Olivya? Sejak Kapan dia berada disini? Aku melihat dia memencet sebuah tombol guna memanggil sang dokter. Tak lama kemudian, seorang dokter datang dengan perawat cantik di belakangnya.
"Dok, dia sudah sadar." ujar Olivya.
"Biar saya periksa." balas sang dokter.
"Puji Tuhan, tuan Mad mampu melewati masa komanya." ujar sang dokter.
"Dimana aku?" tanyaku basa-basi.
"Kau di rumah sakit." balas sang dokter.
"Apa yang terjadi padaku?" tanyaku lagi. Beginikan jika orang yang baru sadar dari masa komanya?.
"Kau mengalami kecelakaan pesawat, Mad." bukan sang dokter yang menjawab, melainkan Olivya.
"Siapa kau?" tanyaku. Jujur, aku hanya ingin main-main padanya. Tidak berniat serius melupakannya.
Aku menahan tawa saat aku melihat perubahan raut wajahnya. Sungguh, aku tak tahan ingin mencubit pipinya dan mengatakan jika aku hanya bercanda.
"Seperti yang saya katakan, tuan Mad kemungkinan besar akan mengalami amnesia sementara atau selamanya. Saran saya, jangan membuat tuan Mad untuk berpikir keras atau akan memperburuk keadaan." ujar sang dokter.
Ide jail pun datang di benakku. Aku bisa memanfaatkan kondisi dengan melupakan Olivya dan anggap saja sebagai sebuah hukuman karena dia berani dekat atau berteman dengan Carson.
Tak lama kemudian, Lovina datang. Kesempatan emas sekali bagiku hari ini. Aku juga akan membalaskan dendam kepada Lovina. Dan akan ku pancing dia agar mengaku seorang kekasihku.
Tidak ada satupun orang yang tahu dengan akal-akalanku ini. Termasuk pengawalku, tidak ada diantara satupun dari mereka. Ini murni aku lakukan dengan sendiri tanpa bantuan orang lain.
Saat aku usai keluar dari rumah sakit, ku ajak mereka semua-- Olivya, Berta, Lovina, dan dua pengawalku untuk liburan di pantai. Aku sengaja melakukan hal yang romantis terhadap Lovina, semata-mata untuk membuat gadisku cemburu. Mungkin atau aku akan semakin menyiksanya. Terlihat jelas, keadaanya yang kacau dan matanya yang selalu sembab.
Rasanya tak tega melihatnya begini terus. Tapi jika aku mengaku saat ini juga, akan membuat rencana yang sudah ku rilis tidak akan berjalan sempurna. Maafkan aku, Vya. Ini hanya sementara.
Saat kembali di mansion, aku sengaja menuruti kemauan Lovina untuk memakai kamar Olivya sebagai kamarnya. Jujur, aku merasa ingin memaki Lovina saat itu juga. Tapi demi sebuah rencana dan tak mau membuat semua curiga jika aku hanya berpura-pura amnesia.
Saat suatu malam, dimana aku membuat kopi. Dan aku mendapatkan sebuah kecil perhatian dari Olivya. Aku tahu, kata-kata ku membuat Vya sakit hati. Ku bisikkan sesuatu padanya.
__ADS_1
"Jangan mengaturku. Ingat ini, pukul satu lewat dua puluh menit, hari kamis malam jumat." setelah membisikkan hal itu, aku melenggang pergi. Tidak, aku tidak sepenuhnya pergi. Aku mengintipmya dari jauh. Senang rasanya melihat wajahnya yang sedang terkejut atau semacamnya. Setelah itu, Vya kembali ke kamar setelah mengambil air.
Niatku ingin kembali ke kamarku juga, tapi ku urungkan niatku saat melihat Lovina melintas dan sepertinya ia berjalan menuju kamar Olivya. Aku takut hal diluar batas wajar akan menimpa gadisku. Aku berjalan mengendap-endap mengikuti jalannya.
Brakkk
Lovina membuka pintu kamar Olivya dengan membanting. Aku samar-samar mendengar bentakan Lovina yang ditunjukkan pada gadisku. Rasanya, aku ingin menyobek mulutnya saja. Saat aku tak sengaja mendengar sebuah tamparan cukup keras, ku beranikan untuk mengintip.
Benar saja, pipi gadisku mengecap tangan si wanita lampir itu dan sekarang beraninya dia menjambak kuat rambut gadisku? Tanganku mengepal kuat, sekuat tenaga aku tak mengambil tindakan yang akan menghancurkan rencana ku.
Sebelum pada akhirnya, aku membalas semua apa yang dilakukan Lovina pada gadisku.
Flashback Off -> MAD POV OFF
***
Olivya dan Madrick berjalan sepanjang jalanan sepi dengan pemandangan yang cukup indah. Olivya meminta Mad untuk membawakannya berjalan-jalan ke taman. Permintaan kecil ini, tidak Mad sia-siakan atau bahkan menolak.
"Kau jahat, Mad." ujar Olivya.
"Aku tidak jahat. Ini semua ku lakukan demi membalas dendam." balas Mad.
"Mem--"
"Ssttt, bukan saatnya untuk ceramah. Sore ini, aku ingin menghabiskan waktu ku bersama mu." potong Mad dengan menaruh jari telunjuknya didepan bibir Olivya.
"Oh iya, bukankah Lovina sedang hamil? Apa itu juga akal-akalan dia juga?" tanya Olivya.
"Tidak, dia beneran hamil. Jangan khawatir, anak yang dia kandung adalah bukan anakku."
"Sejujurnya, aku sedikit kecewa denganmu." ucap Olivya.
"Begitu juga dengan ku, Vya. Kau melanggar janjimu."
"Maafkan aku."
"Sudahlah, jangan membahasnya."
***
Olivya hendak bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Tentu saja Mad yang akan mengantarnya. Gadis ini hanya memakai kemeja putih, celana jins hitam dan sepatu sneaker hitam.
Olivya tak perlu takut lagi, semua mahasiswa disini tidak ada lagi melakukan hal pembullyan terhadapnya atau Madrick akan menghancurkan Universitas yang tak bermoral ini. Mad tidak membalas dendam kepada di dosen yang telah menampar Olivya, tetapi Mad langsung mengancam Universitas nya jika gadisnya masih mendapatkan tindakan pembullyan, Mad akan merusak pamor universitas dan menutupnya.
Tentu saja sang pemilik Universitas ini takut jika ancaman itu terjadi, sehingga memberikan sanksi berat bagi pelaku pembullyan.
"Jangan pulang terlebih dahulu sebelum aku menyusulmu." tegas Mad saat mereka sudah sampai didepan Universitas.
"Iya."
"Jaga jarak dengan, Carson."
"Iya."
"Setelah kau tak fakta aslinya, baru kau boleh berteman dengan Carson. Tapi jangan melebihi batas wajar."
"Fakta soal apa?" tanya Olivya.
"Kau akan tahu sendirinya. Ayo sana masuk." usir Mad.
Olivya mengangguk dan segera turun dari mobil. Banyak pasang mata yang melihatnya, Olivya bukan tipe orang yang suka menjadi pusat perhatian. Sebisa mungkin, ia menutup rapat soal dirinya di depan publik. Tapi apa boleh buat? Dunia semakin canggih, banyak paparazi yang diam-diam mengambil foto dirinya untuk dijadikan berita terpopuler.
Seorang mafia kejam, diberitakan sedang dekat dengan seorang gadis yang memiliki umur jauh beda dengan Madrick. Telah diketahui, nama gadis ini adalah Olivya Macrime. Seorang gadis sebatang kara yang tak memiliki orang tua atau keluarga.
Berita itu selalu terngiang-ngiang di pikirannya.
"Hai, Olv." sapa Carson.
"Em, hai." balas Olivya dengan perasaan tak tenang. Bagaimana tak tenang? Ada pengawal Mad disekelilingnya.
"Kau terlihat gugup sekali."
"Aku akan ke kelas." Olivya berjalan masuk kedalam kelas. Carson masih senantiasa mengikuti langkahnya dan memanggil-manggil namanya.
"Hei, dengarkan aku. Ada yang ingin ku sampaikan padamu." Olivya menghentikan gerakannya mengeluarkan buku dari dalam tas.
"Ada apa?" tanya Olivya.
"Seorang pemilik kampus ingin bertemu denganmu. Kau sudah ditunggu di ruangannya."
Olivya termenung. Seorang pemilik kampus ingin bertemu dengannya? Dengannya? Apakah dia tak salah dengar?
"Hei, kenapa melamun? Ayo buruan." Carson membuyarkan lamunan Olivya dan menarik tangan Olivya menuju ruangan seorang pemilik kampus.
Saat sudah sampai didepan ruangannya, tanpa permisi Carson langsung mengajaknya masuk. Sepertinya, sang pemilik kampus tak keberatan soal itu.
"Hai, grandpa." Olivya membulatkan matanya. Carson memanggil pria paruh baya yang masih terlihat bugar dengan sebutan Grandpa. Artinya, Carson adalah cucu dari pemilik kampus ini.
"Oh, hai. Sudah sampai rupanya kalian. Ayo silahkan duduk nak." titah pria ini yang belum diketahui namanya oleh Olivya.
Olivya dan Carson duduk berhadapan dengan sang pemilik kampus.
"Grandpa, dia lah gadis yang menjadi korban tindak pembullyan oleh Yoseline dan ponakannya itu." ujar Carson.
"Nak, saya selaku pemilik kampus ini memohon maaf sebesar-besarnya atas--"
"Maaf saya memotong ucapan anda, sir. Anda tidak Perlu meminta maaf. Saya sudah memaafkan mereka."
"Kau memiliki hati yang emas nak. Oh iya, kalo boleh tahu, nama kamu siapa?" tanya pria tua.
"Olivya Macrime." Carson dan pria tua ini terkejut.
"Kalo boleh tahu lagi, nama ayah kamu siapa?"
__ADS_1
"Armon Macrime."
Pria tua ini terkejut untuk kedua kalinya.
"Kau? Kau...."
"Grandpa, dia?" potong Carson yang sama terkejutnya dengan si pria tua.
"Kau ingin tahu siapa namaku?"
"Yes, sir."
"Adnan Macrime."
Deg
Deg
Deg
Sekarang Olivya sama terkejutnya dengan mereka berdua. Bagaimana mungkin? Mereka memiliki nama marga yang sama. Ini suatu kebetulan atau mereka memang memiliki hubungan sedarah.
"Armon Macrime adalah nama putraku yang dulu sudah tak kuanggap anak. Selama ini saya terus mencari keberadaan Armon, tapi tak kunjung ketemu. Hingga suatu hari, saya mendapat berita jika putraku meninggal karena dibunuh. Hal itu membuat saya dan istri saya benar-benar menyesali perbuatan kami. Seandainya aku menyetujui ayahmu menikah dengan ibumu, mungkin ini takkan terjadi." lirih Adnan dengan air mata yang sudah menderas.
"Ja-ja-jadi...."
"Ya, kau cucu ku." potong Adnan.
"Gran-Grandpa."
"Ya, sayang. Aku kakekmu."
"Tidak, tidak mungkin." ucap Carson yang membuat Adnan dan Olivya bingung. Seketika, Carson keluar ruangan dengan pintu yang sedikit digebrak.
Seketika, Olivya ingat akan ucapan Mad. Sebuah fakta yang dimaksud Mad adalah ini. Olivya, gadis ini sudah bertemu dengan keluarga dari sang ayah. Walaupun sangat canggung, sebisa mungkin Olivya mencoba beradaptasi dengan keluarga sesungguhnya.
"Nak, ikutlah ke mansion. Nenek mu sedang sakit semenjak kehilangan putra satu-satunya. Mungkin dengan kehadirannya dirimu, bisa membuat nenekmu sedikit melupakan soal putranya. Wajahmu sangat mirip dengan Armon." pinta Adnan.
"Saya akan datang." putus Olivya.
***
Olivya terdiam didepan bangku gerbang. Sejak ia tahu fakta tadi, Olivya sama sekali tak menemukan keberadaan Carson. Entah apa yang terjadi pada anak laki-laki itu, Olivya tak mengetahui masalahnya.
Tinnnn
Olivya terkejut saat sebuah mobil melintas dan berhenti didepannya. Seakan tahu siapa pemilik mobil itu, Olivya berdiri dan langsung masuk kedalam mobil.
"Mad, bisakah kau meng--"
"Aku akan mengantarmu, tapi tidak sekarang. Besok." potong Mad dan langsung melajukan mobilnya.
"Kau akan membawaku kemana?" tanya Olivya yang menyadari jika ini bukan jalan menuju mansion.
"Kantor. Temani aku bekerja."
Olivya hanya menuruti kemauan Mad tanpa memprotes sedikitpun.
"Kau sudah makan?" tanya Mad.
Olivya menggeleng, "Belum."
"Mau makan dimana?"
"Aku ikut saja."
Mad memaklumi perubahan sikap Olivya yang sedang tak mood dalam segala hal. Mad memilihkan makanan Italy disalah satu restoran mewah.
Setelah sampai, Mad menggenggam erat tangan kanan Olivya. Banyak pasang mata yang menatap mereka. Perbandingan umur yang terbilang jauh, membuat mereka menjadi sorotan publik. Apalagi, Mad terkenal dengan julukan mafia kejam dan licik.
Mad memilih bangku VIP yang sepi dan tentunya nyaman. Tak tanggung-tanggung dalam memesan makanan, Mad memilihkan makanan untuk Olivya yang sangat enak di restoran ini.
"Mad." panggil Olivya saat seorang pelayan telah pergi setelah mencatat pesanan.
"Hm?" balas Mad dengan deheman.
"Bagaimana kau tahu tentang sebuah fakta yang tak ku ketahui?" tanya Olivya.
"Kau lupa siapa aku? Aku tahu apapun tentang dirimu. Bahkan seluk beluk keluarga mu."
"Dan kau pasti tahu siapa mafia yang telah membunuh kedua orang tuaku?"
Mad menopang dagu. "Apakah kau mengenal pria yang bernama, Bryan?"
Olivya mengangguk.
"Dia anak dari mafia itu."
Apalagi ini? Dalam sehari, ia mendapatkan dua fakta yang membuat Olivya terkejut.
"Ken---"
Ucapan Olivya menghentikan ucapannya saat seorang pelayan membawakan pesanannya dan juga Mad. Cukup banyak, namun setiap porsi sangat sedikit.
"Makanlah, jangan terlalu dipikirkan. Bryan dan ayahnya sudah mati." balas Mad.
"Kenapa bisa mati?"
"Takdir mereka."
"Tapi secara bersamaan?" tanya Olivya lagi.
"Itu hal yang wajar. Tidakkah kau pernah melihat sebuah bencana alam yang menewaskan banyak orang secara bersamaan? Bahkan ratusan. Sudahlah diam, ini adalah Penjelasan terpanjang yang tak berguna untukku."
__ADS_1
TBC
Love you all.