My Dangerous Mafia

My Dangerous Mafia
Mad Revenge


__ADS_3

Happy Reading...


_____________________________


Malam sudah hampir larut. Olivya terbangun dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam. Selama itukah dia pingsan? Ia merasa tenggorokannya kering dan perlu untuk diberi air agar sedikit terasa segar. Olivya melihat sebuah teko berukuran cukup besar telah kosong. Mau tak mau, ia harus mengambilnya didapur.


Kepalanya rasanya begitu pusing, jika untuk berjalan menuju dapur, Olivya yakin jika dirinya bisa dan kuat. Jarak kamarnya dan dapur pun hanya beberapa meter. Ia melihat keadaan sunyi di mansion ini. Mungkin semua telah mengaksyikan tidurnya. Alam mimpi yang jauh lebih indah dari kenyataan yang pahit.


Saat hendak mengisi air, Olivya melihat Mad sedang menyeduh air panas kedalam cangkir. Bisa di tebak, Mad pasti membuat kopi untuk tetap bergadang malam ini. Tanpa memperdulikan apapun, Olivya menghentikan tangan Mad yang hendak mengaduk cangkir berisi kopi tersebut.


Pandangan mereka bertemu, ada gejurat rindu kian membara dimata Olivya. Kapan terakhir kali Olivya menatap dalam mata Mad?


"Lepaskan." titah Mad dengan wajah datar dan nada ketus.


Olivya spontan melepaskan. "Ma-ma-maaf Mad, em maksudku tuan. Anda dilarang untuk meminum kopi terlebih dahulu. Jika tuan meminumnya, itu akan memperlambat ingatan tuan untuk kembali."


"Apa urusanmu? Kau tidak ada hak mengaturku."


"Tap-tapi tuan--"


Mad mendekatkan kepalanya kearah telinga Olivya, "Jangan mengaturku. Ingat ini, Pukul satu lewat dua puluh siang, hari kamis malam jum'at." bisik Mad lalu melenggang pergi sambil membawa cangkir kopi.


Tubuh Olivya seketika membeku, ia segera menyadarkan lamunannya. Dan segera mengisi air lalu secepat mungkin kembali ke kamar.


Saat sudah sampai dikamar, Olivya mengambil gelas dan mengisi gelas itu dengan air yang sudah ia isi didalam teko. Olivya menegak air itu dengan cepat, detakkan jantungnya berpacu lebih cepat. Ia mulai berpikir apa yang Mad maksud dengan ucapannya.


"Pukul satu lewat dua puluh siang dan hari kamis malam Jumat?" gumam Olivya mengulang ucapan Mad.


Brakkk


Olivya terkejut saat kamarnya dibuka dengan keras oleh seseorang yang membuat hari-hari menjadi suram. Siapa lagi jika bukan Lovina. Wanita itu membuka pintu kamar Olivya dengan gebrakan, ditambah raut wajah yang merah karena marah dan hanya memakai lingerie mini dan transparan.


Olivya merasakan ada hal yang buruk padanya saat ini. Lampu otak menyala menandakan ada sesuatu buruk yang dilakukan Lovina padanya.


"Apa yang kau lakukan pada Mad didapur?" tanya Lovina dengan ketus.


"Ti-tidak ada. Aku hanya mengisi air minum saja." balas Olivya dengan keringat dingin.


"Bohong!!" bentak Lovina.


"Jelas sekali aku melihatmu begitu dekat dengan Mad. Kau pikir aku tak mengetahui semuanya hah?!! Dasar wanita *******."


Plakk


Lovina menampar keras pipi Olivya. Mata Olivya sudah berkaca-kaca, ia merasa perih di pipinya. Usai ditampar oleh seorang dosen, kini ia harus mendapatkan tamparan lagi. Inikah perjalanan hidup sesungguhnya yang dialami Olivya? Hidupnya begitu hancur, ia manusia yang seakan tidak diinginkan kehadirannya di dunia ini.


Semua kebahagiaan yang ia miliki, selalu hilang dan musnah dalam waktu sekejap. Rasanya Olivya ingin menyerah dari semua ini. Jika dulu ia punya keberanian, saat ini, apa yang ia harapkan dari sebuah ketegaran?


Belum cukup menampar pipi kanan Olivya, Lovina kembali menjambak rambut Olivya persis apa yang dosen killer saat itu lakukan. Nyeri di pipi dan nyeri di kulit kepalanya, sudah bersatu dengan nyeri di hati. Hidupnya selalu ditindas oleh ketidak adilan.


"Dengarkan aku baik-baik, *****. Jangan berani sejengkal pun kau mendekati Mad. Atau, aku akan melalukan hal yang lebih parah dari ini." Lovina melepaskan cekalan tangannya dirambut Olivya dengan kasar. Air mata yang sudah tidak kuat Olivya tahan, kini mengalir deras. Kepalanya sudah pusing, ditambah jambakan dari Lovina membuatnya semakin sakit.


Olivya menjatuhkan tubuhnya dan duduk diatas marmer yang dingin dengan tangis yang kian menderas. Kedua tangannya memegang pipinya yang nyeri usai di tampar.


"Mom, Dad, Kak. Oliv nggak kuat. Oliv lemah, Oliv bodoh, Oliv takut.. hiks... Oliv takut dunia semakin kejam pada Oliv. Oliv lelah, Tuhan... Jika takdirku tak berhak bahagia di dunia, ambil aku Tuhan, ambil Oliv. Oliv ingin bergabung bersama keluarga Oliv." lirih Olivya.


Olivya berucap dengan menyebut langsung namanya, dimana jika itu terjadi, itulah titik terlemah Olivya. Ia sudah tak mampu rasanya melewati ini semua.


***


Tiga minggu kemudian...


Mad berjalan menuju meja makan. Jam menunjukkan pukul sebelas pagi. Ia terbangun terlambat hari ini, karena semalam ia tidur sangat larut. Makanan telah dihisapnya diatas meja. Tanpa menunggu Perintah, Mad langsung mengambil sarapan pagi ini dengan sandwich.


"Good morning, babe." Lovina tiba-tiba datang dan merangkul Mad dari samping. Mad diam, ia tetap melaksanakan makan siangnya.


"Suapin aku." rengek Lovina.


"Punya tangan, makan sendiri. Jangan manja." ujar Mad.


"Aku pengin nya disuapin."


Brakk


Mad membanting alat makannya. Ia menarik tangan Lovina hingga ke ruang tamu. Lovina memberontak dan mengeluh kesakitan karena cekalan tangan Mad yang kuat.


"Semua!! Kumpul disini!!" teriak Mad memenuhi seisi mansion. Para maid laki dan wanita mulai berkumpul, begitu juga dengan beberapa pengawal Mad.


"Aku tidak amnesia. Ku tegas ini!! Aku tidak amnesia." bentak Mad dan membuat seluruh penghuni mansion merasa terkejut.


"Dan kau wanita murahan, tidak tahu malu mengaku-aku seorang kekasih Mad." teriak Mad tepat didepan wajah Lovina.

__ADS_1


"Ku pikir, kau akan berubah. Nyatanya tidak. Wanita licik seperti, akan tetap licik untuk selamanya." sambungnya.


Lovina merasa malu saat ini.


"Semua, para maid wanita jambak dan tampar wajah wanita ini seperti apa yang dia lakukan pada gadisku."


Lovina menatap Mad, "Pasti kau bertanya-tanya bagaimana aku tahu. Apapun soal gadisku, aku tahu." lanjut Mad seakan tahu apa yang ada di benak Lovina.


Mad geram saat tak ada satupun maid yang maju menampar atau menjambak Lovina.


"Ayo Lakukan!!" bentak Mad cukup keras.


Semua maju dan mulai menampar/menjambak rambut Lovina. Kebanyak dari mereka, lebih memilih menjambak. Tapi tak sedikit pula yang menampar. Jangan ditanya, maid Mad berpuluh-puluhan.


Lovina menangis sejadinya. Beginilah rasanya Olivya ditampar dan dijambak begitu kuat oleh tangannya.


"Tuan, nona Olivya berada diluar mansion." ucap Anton memberitahu keberadaan Olivya. Ia sengaja tak bilang jika ada Carson juga, atau Mad akan melampiaskan kemarahannya pada Lovina/bahkan Olivya.


"VYA!!" bentak Mad cukup keras.


Tak lama kemudian, Olivya masuk kedalam dengan raut wajah yang terkejut.


***


Olivya duduk dikursi taman belakang kampus. Jam istirahat, ia gunakan untuk terus merenung. Bahkan, beberapa hari belakangan ini, ia tak semangat untuk melakukan kegiatan di kampus.


Ia lebih memilik masuk kuliah daripada ia berada di mansion yang terus-menerus mendapatkan siksaan batin saat melihat kedekatan Lovina dengan Mad.


"Hei, disini kamu rupanya." Olivya terkejut saat seseorang mengejutkannya.


"Kau tampak murung, ada apa?" tanya Carson sambil mendudukkan dirinya disebelah kursi kosong Olivya.


"Aku hanya merasa badmood saja." balas Olivya dengan senyum yang mengisyaratkan kesedihan yang begitu mendalam.


"Penampilan dan raut wajahmu cukup menyedihkan. Jika kau berkenan cerita denganku, silahkan."


"Aku baik-baik saja, Carson. Mungkin efek pms ini, aku menjadi kurang bersemangat."


"Bagaimana aku traktir es krim di kafe sebelah kampus?"


"Ti--"


"Tidak-tidak, jangan menolakku. Ayo kembali ke kelas." Olivya mengangguk, bahkan ia tak menolak saat tangannya di gandeng oleh Carson.


Carson menempati janjinya, ia mentraktir Olivya es krim sepuasnya. Tak usah diragukan, Carson memang anak dari orang kaya. Bahkan, dia sendiri adalah seorang youtuber yang cukup populer. Maka dari itu, di kampus banyak yang iri dengan Olivya. Pasalnya, ia berteman baik dengan seorang youtuber gaming, wohoo.


"Baiklah, aku harus pulang. Terima kasih traktirannya, Son." ucap Olivya sambil membenarkan letak tas ranselnya.


Carson mengangkat pergelangan tangan kanannya. "Baru pukul satu, udah mau pulang?" tanya Carson.


"Sebenarnya aku tidak ingin pulang. Tapi entah mengapa, aku hanya ingin tidur siang." balas Olivya.


"Mau ku antar?" tawar Carson.


Kali ini, Olivya tidak menolak. Ia merasa tidak enak menolak terus-terusan tawaran Carson untuk diantarkan pulang. Mereka masuk kedalam mobil sport milik Carson.


"Kemana?" tanya Carson.


"Mansion Mad." jawab Olivya dengan nada pelan.


"Oke."


Dalam perjalanan, suasana hening menyelimuti mereka berdua. Untuk menghilangkan kecanggungan antar mereka, Carson memilih memutar lagu di radio mobil. Carson bernyanyi pelan mengikuti alur lirik, Olivya yang merasa kenal dan hafal betul lagu yang diputar Carson, ia turut bernyanyi. Suasana tidak menjadi canggung, Carson dan Olivya bernyanyi menyatukan suara mereka.


Mobil Carson berhenti di depan mansion megah milik seorang mafia. Siapapun, akan betah jika berada di dalam sana. Segala fasilitas, hampir lengkap.


Ingat, masih hampir. Jangan tanyakan, apakah ada mall didalamnya? Ada toko buku? Ada mini market?


Carson dan Olivya keluar dari dalam mobil.


"Terima kasih untuk hari ini, kau men-traktirku es krim dan mengantarku pulang." ujar Olivya dengan tulus.


"Jangan sungkan meminta tolong padaku. Aku justru lebih senang jika kau repotkan."


"Ba--"


"VYA!!!"


Olivya spontan menghentikan ucapannya. Ia mendengar suara bariton cukup keras yang menggema hingga terdengar diluar mansion.


"Carson, kau pulang secepatnya. Aku akan segera masuk." titah Olivya dengan raut wajah yang takut.

__ADS_1


"Ada apa? Wajahmu sedang ketakutan. Apakah kau mendapatkan siksaan didalam sana?"


"Tidak. Mungkin Mad tidak suka melihatku berdekatan dengan laki-laki manapun."


Tapi sekarang mungkin tidak peduli. sambung Olivya dalam batin.


"Baiklah aku pergi. Jika ada hal buruk yang menimpa padamu, hubungi aku."


Olivya hanya mengangguk, setelah itu ia berlari secepatnya untuk masuk kedalam. Saat sudah masuk kedalam mansion, Olivya terkejut dengan penampakan didepannya.


Mad? Lovina? Apa yang terjadi?


"Mad?" panggil Olivya dengan pelan.


"Hai, Vya." Olivya terkejut, Mad, pria itu menyapanya balik ditambah sebuah senyuman.


"Kau sudah kembali ingatanmu?" tanya Olivya yang mulai berjalan mendekat kearah Mad.


"Aku tidak amnesia." balas Mad dengan enteng sambil memutar-mutarkan pistolnya dengan satu tangan, dan tangan satunya memegang sebuah gelas yang berisi bir.


Olivya mengalihkan pandangannya kearah Lovina yang sedang terduduk di lantai dengan keadaan kacau.


"Kau ingat malam lalu yang ku bisikkan di dapur?" tanya Mad.


Olivya menoleh kearah Mad.


"Pukul satu lewat dua puluh siang, hari kamis malam jum'at." gumam Olivya yang dapat didengar oleh Mad dan pelayan yang lain.


"Ya, dan sekarang tepat pada waktunya. Pukul satu lebih dua puluh menit, hari kamis malam jum'at"


"Hiks.... hiks.." Olivya berjalan mendekat kearah Lovina. Gadis itu memeluk Lovina dari samping.


"Mad apa yang terjadi?" tanya Olivya.


"Aku memberinya hukuman. Berani sekali dia berbohong jika aku kekasihnya, berani sekali dia menyuruhmu, berani sekali dia..." Mad menggantungkan ucapannya. Ia menatap tajam kearah Lovina yang sedang kacau.


"Menamparmu dan menjambakmu." sambung Mad.


"Ma-ma-maaf kan aku Mad. A-aku menyesalinya." lirih Lovina. Tubuhnya sudah banyak luka lebam dan juga kondisi yang sangat acak-acakan.


"Anggap saja, ini balas dendam ku disaat kau menculik Olivya, Lovina. Kau datang dan aku beraksi."


"Mad, maafkan dia. Kasihan dia, tidak pantas kau memperlakukan wanita seperti itu." elak Olivya yang merasa sangat kasihan kepada Lovina.


"Cuih, wanita seperti itu di kasihani?" timpal Anton.


"Anton, bawa Chokie kemari." perintah Mad yang langsung diangguki oleh Anton.


Semua orang tahu siapa itu Chokie. Chokie adalah peliharaan jantan Mad yang paling terkenal ganas jika bertemu dengan orang yang baru.


Tak lama kemudian, Anton datang dengan menggiring Chokie disebelahnya. Mad tersenyum kecut, sedangkan Lovina sedang menggigil ketakutan. Ia sudah membayangkan yang tidak-tidak dengan peliharaan jantan itu.


Chokie langsung berlari kearah Mad dan sangat manja terhadapnya. Kepalanya ia elus-eluskan di kaki jenjang milik Madrick.


"Chokie, ayo serang wanita itu." Chokie menoleh ke belakang. Ia melihat dua wanita sekaligus dibelakangnya. Pandangannya jatuh ke Olivya, tatapan hewan ini seketika sendu. Chokie mengalihkan pandangannya kearah Mad dan meraung sedih.


Mad tertawa pelan, Chokie pikir, Mad menyuruh dirinya untuk menyerang Olivya mangkanya ia tak mau dan meraung sedih.


"Hei, bukan dia. Wanita kacau itu." Mad menunjuk kearah Lovina.


Lovina menggeleng lemah saat macan itu melihat kearahnya. Chokie berjalan mendekat kearah Lovina. Tidak untuk di makan, Chokie hanya mencakar tangan dan kaki Lovina dengan kuku panjangnya. Tentu saja cakaran yang tak biasa, kalian bisa bayangkan bagaimana kucing besar jika mencakar? Cukup dalam dan mengeluarkan banyak darah.


Olivya yang tak tega dengan raungan kesakitan Lovina, lantas memeluknya dan menghalanginya dari si Chokie. Seketika Chokie berhenti menyerang, macan jantan ini langsung manja terhadap Olivya.


"Mad sudah ya, kasihan Lovina. Berta, tolong obatin luka Lovina." perintah Olivya yang langsung diangguki oleh Berta.


"Meong.."


Olivya menoleh kearah sumber suara. Seekor kucing kecil yang ia temukan ditaman datang menghampiri nya. Olivya beralih perhatiannya, Chokie cemburu. Ia berlari kearah Mad dan merajuk padanya.


"Vya, jangan pilih kasih. Chokie juga marah." ujar Mad.


"Chokie sayang, sini." titah Olivya.


Chokie pun menghampiri Olivya. "Uh sayang."


"Mad." panggil Olivya.


"Kau punya hutang cerita." sambung Olivya dan dibalas anggukan oleh Mad.


"Lain kali aku akan cerita." balas Mad.

__ADS_1


TBC


part selanjutnya, cerita Mad sebenarnya. Jangan menunggu ya, menunggu itu sakit, huhu.


__ADS_2