
"Sayang, bisakah kamu tidak terus melawannya? itu tidak baik, dia orang yang lebih tua darimu, kalau bisa hormati dia." Anita berbicara sembari mengemudi.
"Aku tidak pernah menghormati orang lain hanya karena usia, apa lagi kedudukan. Dia tidak pantas dihormati," jawab Arga menujukan pandangan ke depan.
"Mama mengerti hal itu, tapi dia ...," perkataan Anita menggantung. "Sudahlah, turuti mama kali ini saja."
"Kenapa? apa dia papaku? atau karena mama mencintainya, sampai aku harus menghormati? siapa dia?" cecar Arga memancing kejujuran.
"Mama hanya ingin kamu belajar menghormati orang yang lebih tua. Walaupun sikap mereka tidak baik," sendu Anita.
"Sampai kapan mama akan menyembunyikannya?" batin Arga, beralih menatap ke samping memperhatikan kendaraan berlalu-lalang.
Arga memang tak pernah menghormati orang hanya karena usia atau kekuasaan. Tidak peduli siapa mereka, ketika pantas dihormati, maka akan dihormati. Meskipun itu anak berusia dibawahnya, Arga akan menghormati jika memang pantas.
Termasuk anak dengan karakter keras, Arga pun tak pernah ingin tunduk dan menuruti apa pun tanpa ada alasan. Seperti apa sikap orang padanya, begitulah sikap yang akan diberikan, tanpa peduli status ekonomi dan semacamnya.
Kali ini, Arga hanya ingin memancing sebuah kejujuran atas fakta telah diketahui. Namun, lagi-lagi itu tidak berhasil. Entah sampai kapan mamanya menyembunyikan tentang Reno, lelaki yang jelas-jelas ia ketahui sebagai papa kandung Arga, meski tanpa tes DNA.
Tak pernah berhubungan dengan siapa pun, sebelum atau sesudah malam itu. Hanya Reno yang telah melakukan hal tak sepantasnya, yang hingga kini belum ia ketahui apa alasan dibalik perbuatannya malam itu.
Sementara Anita dan Arga membelah jalanan untuk sampai ke rumah, ada Reno yang uring-uringan di dalam rumah. Mengayunkan jari pada dua bodyguardnya, Reno menghajar keduanya tanpa ampun. Kepalan tangan mendarat berulang tanpa perlawanan, tendangan pun diberikan begitu kencang, amarah dia salurkan tanpa ingin memendam.
Semua hanya bisa menyaksikan, itu bukanlah hal baru. Kapan pun Tuan mereka dalam emosi memuncak, selalu akan ada korban. Bukan hanya barang yang kini hancur, sofa terbalik karena tak sanggup menahan tubuh besar bodyguard yang di tendang, tapi hatinya sendiri juga hancur.
Reno berjongkok mengambil pecahan vas kristal di atas lantai, memperhatikan dan berdiri kembali. "Panggil dokter, dan beri keluarga mereka uang!" perintah Reno tanpa menoleh.
Dia keluar dari rumah, meninggalkan tetesan darah mengiringi langkah. Reno menggenggam kuat pecahan vas, melukai tangan kanannya. Kepala pelayan dan sekretarisnya tak berani mendekat, membiarkan Reno pergi menggunakan mobil pribadinya sendiri.
"Ikuti Tuan diam-diam," ucap kepala pelayan pada bodyguard yang diminta untuk membantu dua pria kesakitan di atas lantai.
__ADS_1
"Hubungi dokter," timpalnya pada Lisa.
Terdengar suara mobil dengan pedal gas diinjak dalam, mengkhawatirkan kepala pelayan sudah mengabdi pada keluarga Syahputra dari puluhan tahun lalu. Tak perlu bertanya, dia mengetahui adanya perasaan lain dari emosi diluapkan.
Reno akan menyakiti dirinya sangat parah, ketika ia tak sanggup membalas orang disayanginya. Seperti apa dulu pernah terjadi, saat diri tidak mampu untuk membalas rasa sakit hati terhadap sahabat baiknya, karena luka dan kecewa diberikan meninggalkan luka teramat dalam.
Hari sama di mana ia meniduri Anita, adalah hari di mana ia dikhianati sahabat baiknya. Reno memiliki Fabian yang sangat dipercaya, tumbuh bersama dari usia tiga tahun. Akan tetapi, Fabian justru menikam Reno dari belakang, merebut seseorang pernah berarti dalam hidupnya, dan membuatnya hamil.
...----------------...
Malam hari ....
Di sebuah restoran, duduk seorang perempuan dengan gaun navy yang indah, dengan belahan V di depan. Melihat ke setiap arah, menanti seseorang. Kedua mata terhenti pada lelaki berjas hitam yang melangkah ke arahnya.
"Ada apa dengan tanganmu?" tanya Anita begitu lelaki dengan perban putih di tangan itu berdiri di depan meja berbentuk lingkaran.
Ya, itu memang Reno dengan luka tangan sudah dibalut oleh kepala pelayan. Dia datang ke restoran atas permintaan Arga melalui sambungan telepon sore ini. Berkata jika ingin mendiskusikan tentang perusahaan, namun ternyata justru mempertemukan keduanya.
"Arga mengundangmu kemari?" tanya Anita penasaran, anggukan kepala diberikan.
"Dia tidak akan datang," kata Reno cepat, melihat ponsel dinyalakan oleh Anita. Perempuan itu menatapnya, bertanya dalam hati akan apa niat dari putranya.
"Aku pergi dulu, Arga di rumah sendirian." Anita memasukkan ponsel dalam tas tangan hitam, berdiri dan melangkah lebih cepat.
Reno menundukkan kepala, membuang napasnya panjang. Entah sampai kapan Anita akan terus berlarian, mengharuskan dirinya mengejar hanya untuk bisa berbincang.
"Aku mencintaimu, Anita!" kencang suara Reno, menarik perhatian semua orang dalam restoran.
Dia masih duduk sewaktu berkata, sukses besar menahan langkah Anita. Lelaki itu berdiri lalu berbalik, diiringi beberapa pasang mata yang jelas tahu siapa dirinya. Wajah Reno bolak-balik ada di saluran televisi atau majalah, bahkan artikel online.
__ADS_1
"Menikahlah denganku," tambah Reno.
Anita melihat sekitar, wajahnya merah padam. Jawaban tidak diberikan olehnya, kembali berbalik dan langsung keluar. Lelaki dalam ketulusan itu, menyusul Anita keluar dan menarik pergelangan tangannya di depan restoran. "Aku mencintaimu," ucapnya sangat tulus.
"Berhentilah main-main, aku sangat lelah." Anita melepaskan tangan. "Jangan usik hidupku dan Arga lagi,"
"Sampai kapan kamu akan menghindar? sampai kapan, kamu akan berlari? Arga putraku, dan aku memiliki hak atas dirinya. Aku memiliki bukti untuk itu, dan Arga juga sudah mengetahuinya." Reno menyiratkan ketulusan sama dari kedua matanya, mencengangkan Anita.
"Menikahlah denganku, Anita. Biarkan aku menebus semua kesalahanku," pinta lelaki sudah tak mungkin berhenti dan menahan diri.
"Lalu, bagaimana dengan Lisa? apa kamu ingin menikahi kami berdua?" jawab tanya Anita.
"Apa?" tak mengerti Reno.
"Sudahlah, jangan mempermainkanku!" pungkas Anita dan memasuki mobil sudah tersedia untuknya.
Reno memutar langkah, kali ini dia tak akan diam. Memasuki mobil di mana Anita bersiap di balik kemudi, duduk nyaman tanpa peduli pengusiran dilakukan. Jelas ia tak mengerti tentang ucapan Anita, bagaimana bisa ia menikahi Lisa juga dirinya?
"Turun! atau aku teriak sekarang!" ancam Anita tegas, nadanya meninggi.
"Teriak saja, tidak ada yang berani mendekat." Reno berucap santai, memposisikan punggung nyaman.
"Pergi!" dorong Anita pada lengan lelaki seketika menahan punggungnya untuk bisa dekat.
"Berapa kali pun kamu mengusirku, dan berlari, aku akan terus mendekat. Karena aku sudah tidak bisa kehilanganmu lagi," sangat tulus Reno, wajahnya begitu dekat.
"Sepuluh tahun aku sudah hidup dalam kegilaan, dan sekarang aku ingin bersamamu juga anak kita." susulnya.
Terima kasih mba komentarnya, suka banget kritik sarannya. Novel ini dipandu editor dari 1-20 bab dengan kita kirim kerangka. Jadi harus disetujui dulu, baru up. Sebenarnya ini baru disetujui kemarin 3 bab, tapi aku maksa up "ketahuan dimarahin pasti".
__ADS_1
Jadi, aku belum bisa ngisi sama action komedi kayak novel lain yang gak usah lewat panduan editor kak. Karena harus berpusat pada pengembangan karakter tokoh anak jenius dulu. Doakan saja cepat lolos sampai bab 20 kak, biar bebas masukin ceritanya.