My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Kenangan Terindah


__ADS_3

Sementara Reno membelah jalanan demi menemukan putranya, di tempat lain Arga justru tak menyiratkan ketakutan sama sekali. Bocah tengah teringat tangan di sebuah kursi itu mengamati semua orang yang ada dalam sebuah rumah tak bisa disebut sederhana.


“Anda pikir, mama saya akan tertarik untuk datang dan menemui di sini?” tanya Arga santai, menatap ke arah Vano.


“Kau sangat berarti untuk mama mu, dan dia akan datang kemari karena dia juga masih mencintaiku!” sahut Vano percaya diri, Arga tersenyum menundukkan kepala. “Kau menertawakan ku?!” bentak Vano, merasa jika senyum itu adalah penghinaan.


“Anda pasti bisa membedakan apa itu tertawa dan tersenyum bukan?” santai Arga. “Itu pun, kalau otak Anda masih bekerja dengan sangat baik.”


Vano berdiri menjambak rambut bagian atas Arga hingga bocah itu menatap ke langit-langit ruangan. “Tidak disangka kalau mulutmu sangat berbisa!” geram Vano.


“Mulutku akan berbisa, kalau orang yang berbicara denganku tidak bisa memahami apa maksudku. Lagi pula, saya beritahu pada Anda, kalau saya bukan orang yang penting untuk mama sekarang. Cobalah penculik Tuan muda Reno, maka mama akan langsung berlari tidak peduli seberapa jauh itu.” Arga masih dengan nada santainya, didorong kasar kepalanya sampai tertunduk menyakitkan tengkuk.


“Kenapa? Apa Anda sudah salah perhitungan? Salah sasaran? Cari tahu lebih dulu sebelum bertindak, maka Anda akan mendapatkan hasil seperti diharapkan. Atau … Anda tidak berani menghadapi Tuan muda?” lirik Arga meremehkan.


“Diam! Jangan banyak bicara di depanku atau kau akan aku habisi sekarang juga!” bentak Vano.


“Silakan, tidak akan ada yang datang kemari dan mencegah Anda, terutama mama. Berani bertaruh?” yakin bocah berkacamata tersebut. “Anda sudah menjadikan diri Anda sendiri seperti kotoran, dan tidak akan ada orang yang memiliki niat untuk mengambil kotoran lalu menyimpannya lagi.”


“ANAK KURANG AJAR!” teriak kencang Vano mengangkat tangan.


Belum sampai tangan itu mendarat pada seorang bocah laki-laki yang bahkan tak menutup mata atau terlihat takut, sebuah proyektil menembus pada pergelangan tangan Vano dan membuatnya berteriak kesakitan dalam tubuh memutar.


“Si-siapa yang melakukan itu?” terbata Vano.


“Tentunya orang yang terlatih menembak dari jarak jauh,” santai Arga.


“TUTUP MULUTMU!” semakin kencang teriakan Vano.


Dia berbaik, mengangkat tangan kiri untuk melampiaskan emosi, tapi pintu ruangan tertutup itu terbuka dan suara terdengar kencang kala pintu membentur dinding. Vano menoleh, tak sampai ia bersiap diri, sebuah tendangan mendarat sempurna pada dada menghempaskannya jauh.


“Too late,” ucap Arga pada lelaki yang membuka tali ikatannya.


“Kamu pikir, papa menggunakan pesawat kemari?!” jawab Reno, membuka ikatan dan membiarkan Vano tersadar akan keadaan dalam posisi jatuh di atas lantai kesakitan. “Keluarlah, ada Lisa di sana!” timpalnya begitu ikatan terlepas.


“Tidak, aku ingin merekam adegan action lebih dulu. Semoga selamat,” ucap Arga.


“Kamu benar-benar menjengkelkan!” melotot Reno.

__ADS_1


Sudah mengetahui siapa yang datang dan menendangnya, Vano justru berusaha untuk melarikan diri dengan memegang lengan berlumur darah. Tidak semudah itu, Reno yaang bahkan sempat bertengkar seperti biasa dengan putranya, langsung menjambak kepala Vano dan melemparkan ke dinding.


Kening menghantam keras dinding, kepala terpental layaknya bola. Reno tidak memberikan kesempatan untuk vano mengeluhkan sakit atau sekedar menghilangkan pusing dirasa sekarang.


Lelaki tinggi berbalut setelan jas hitam itu menarik kembali rambut Vano dan melempar sekali lagi ke dinding, terus berulang sampai tubuh sempoyongan dan menghajarnya sangat keras pada wajah.


Kepalan tangan berotot melayang sempurna pada wajah, kaos berlapis jaket ditahan oleh lelaki membungkuk dengan kedua kaki melebar pada dua sisi pinggang. Kepala sudah berputar, wajah dihantam berulang hingga darah segar ke luar dari hidung.


Tak puas dengan tangan yang menggunakan tenaga utuh, Reno menjambak rambut Vano dan menghantamkan berulang kepala pada lantai sampai lelaki itu tak sadarkan diri dengan darah menghiasi. Reno masih belum juga puas, kaki beralas sepatu mahalnya kini menginjak-injak kening juga dada Vano.


Menghajar tanpa ampun seseorang sudah menyentuh putranya, kedua mata Reno menyiratkan amarah luar biasa. “Kau harus mati hari ini!” teriak reno terus menginjak-injak wajah Vano hingga darah menutupi semua pahatan wajah lelaki telah berani berusaha mengambil istrinya.


Arga berlari menghampiri papanya, menahan agar lelaki itu tak lagi menghajar seperti orang kesetanan. “Hentikan, Pa!” teriak Arga. “Paling tidak, biarkan dia hidup untuk menyaksikan kehancuran keluarganya!” imbuh bocah tersebut.


“Arrrgh!” geram Reno. “Dia sudah berani membawamu kemari dan memancing untuk mama mu datang! Aku tidak akan membiarkannya hidup!”


“Kalau papa membuatnya mati sekarang, papa tidak akan pernah puas seumur hidup!” ucap Arga.


Reno menatap putranya, meraih tubuh bocah selalu membuatnya kesal itu dalam pelukan. Ya, tak akan pernah puas saat harus melihat Vano mati saat ini juga. Akan lebih menyenangkan ketika melihatnya tak bisa melakukan apa-apa dalam kehancuran juga kemiskinan.


Melepaskan pelukan dari putranya, meminta bocah itu menutup mata, Reno meraih sebuah pisau lipat di atas lantai, pisau yang terjatuh dari saku jaket Vano.


Berjongkok lalu meninggalkan kenangan terindah pada wajah, sayatan semi sayatan diberikan oleh reno dengan membelah mulut dari bawah hidung sampai dagu, seperti orang tengah membelah buah menjadi dua bagian.


Mulut itu adalah mulut yang telah mengatakan bahwa Arga adalah anak kandungnya, mulut itu yang telah mengatakan jika Anita masih mencintainya, mulut sama yang telah berani mengatakan jika Anita wanita murahan telah tidur dengan banyak orang, mulut sama yang telah menentukan harga untuk tubuh tak boleh untuk tersentuh oleh siapa-siapa.


Reno berdiri, mengangkat satu kaki kanan Vano dan mematahkan seperti tulang ayam. “Bodoh!” makinya lalu melemparkan pisau di atas dada Vano tanpa menancapkan.


Membawa putranya ke luar, di depan semua orang suruhan Vano sudah terkapar di atas lantai. Anak buah Reno menghajar mereka, membiarkan Tuannya berjalan tanpa halangan dan menendang pintu.


Tembakan melesat dari jarak jauh, itu adalah Rian-lelaki yang sekarang sudah berada di tempat sama untuk melihat keadaan Arga dan memeluknya.


“Good job!” ucap Rian pada bocah laki-laki telah begitu cerdik dan membuatnya bisa datang lebih cepat dari pada Reno juga anak buahnya.


“Aku benci mengatakan ini!” gumam Reno lirih. “Kau luar biasa!” susul lelaki tampak terpaksa memuji, mengundang senyum Arga juga Rian.


Kacamata yang digunakan oleh Arga bukanlah kacamata biasa. Ada kamera sangat kecil di sana, terhubung dengan jam tangan Arga yang langsung menghubungkan dengan ponsel Rian.

__ADS_1


Jam tangan dapat melakukan panggilan tanpa menunjukkan kecanggihannya, dipergunakan oleh Arga untuk menghubungi Rian sewaktu ia diseret ke luar dari mobil.


Selama perjalanan, bocah telah membekali setiap barangnya dengan kecanggihan bersama Rian itu, terus menatap ke setiap jalan dan membuat Rian sangat mudah mengenali lokasi.


GPS telah terhubung ketika Rian sadar teriakan kencang Arga yang mengatakan pada orang suruhan Vano untuk tidak menculiknya.


Rian yang mengangkat panggilan, langsung mendengar teriakan dan berlari menuju kendaraan. Ya, teriakan kencang yang terdengar oleh bodyguard dan menyadarkannya, adalah teriakan yang ditujukan pada Rian untuk memberitahu tentang keadaan dirinya.


Semula, lelaki yang masih bekerja untuk papa Anita itu tidak mengetahui jika Anita dan Reno telah mendengar tentang penculikan Arga, sampai ibu dari bocah cerdik itu menghubungi.


Setelah panggilan dengan Anita terhubung, Rian yang telah menanyakan nomor Lisa langsung menghubungi dan menyambungkan kamera dari kacamata Arga setelah ia memberikan akses lebih dulu pada sekretaris yang diminta berada di dalam mobil untuk menghancurkan perusahaan keluarga Vano dan memantau.


Ucapan yang terlontar dan memancing Vano untuk menampar adalah sebagian dari rencana Arga dan Rian untuk membuat lelaki itu marah lalu berusaha melakukan kekerasan.


Arloji yang tak hanya bisa menghubungi tapi juga bisa mendengarkan sangat baik melalui earphone kecil diletakkan pada gagang kacamata, membuat Rian bisa mengatakan banyak hal dari rencana langsung muncul di kepala.


Sewaktu perjalanan, Arga melepaskan kacamata sejenak dan mengambil alat sangat kecil di balik gagang kacamata berwarna hitam, lalu membersihkan kacamata untuk berpura-pura. Menggunakan lagi sembari memasang alat pada telinga.


Kacamata itu sempat ingin diambil oleh orang suruhan Vano, namun bocah itu berkata tak bisa melihat jelas jika tak menggunakan kacamata tebal yang ia gunakan setiap hari ke sekolah.


Vano yang ada di mobil membiarkan kacamata itu terus digunakan, karena menganggap hanya sekedar kacamata, tanpa mengetahui fungsi sebenarnya.


Bocah yang kini duduk untuk diantarkan pulang itu, tak henti membuat Reno takjub juga tak habis pikir sama sekali. Bagaimana bisa ia memiliki cara yang bahkan orang lain jarang memikirkan hal itu demi melindungi diri sendiri.


Hanya tahu perihal arloji dengan GPS, namun ternyata memiliki banyak sekali fungsi dan sekarang diperhatikan oleh Reno.


“Bukankah ini terlihat seperti jam tangan biasa?!” terlihat tak terima Reno dengan kecanggihan dimiliki putranya, mengangkat tangan Arga dan mengamati arloji berwarna hitam lebih mirip milik anak-anak. “Lihatlah! Lebih bagus milikku dan ini juga sangat mahal!” tunjuk Reno pada arloji mewahnya.


“Mahal tapi tidak memiiki fungsi yang baik, untuk apa?” santai Arga, lalu meneguk air mineral diberikan oleh lelaki melirik tajam ke arahnya.


“Aku benar-benar meyakini kalau kamu memang putraku dari awal bertemu! Sangat yakin dan tidak berkurang sedikitpun!” kesal Reno menghempaskan tangan putranya. “Aku juga sangat yakin kalau mama mu melahirkan di atas tumpukan cabai dulu!” timpal Reno, mengundang senyum putranya.


“Apa lagi?!” tanya lelaki duduk bersebelahan dengannya itu ketika tangan Arga terulur padanya.


“Aku harus menghubungi mama, dia pasti sangat cemas. Aku tidak ingin kalau sampai mama sakit nanti,” ucap Arga.


“Bukan mama mu! Tapi aku yang akan sakit dan berbaring karena hipertensi!” napas Reno terengah karena jengkel, merogoh saku dan mengambil ponsel miliknya.

__ADS_1


__ADS_2