My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Bermain Peran


__ADS_3

Kala Reno tengah tersiksa dengan sakit perut akibat masakannya sendiri, di tempat lain ada Vano yang justru dihajar oleh papanya sendiri. Bisnis yang berhasil dibuat bangkrut tanpa pernah diselamatkan lagi, membuatnya tak bisa lagi untuk berpikir jernih.


Wajah merah padam menemui putranya di rumah sakit, ada Rara yang menunggunya di sana. Tapi, perempuan itu bukan dengan niat ingin merawat, hanya ingin memastikan jika lelaki yang telah mengabaikan seluruh perasaannya itu berada dalam kesakitan luar biasa.


Wajah penuh sayatan dengan bibir robek seperti yang dikatakan oleh dokter padanya, cukup membuat Rara puas. Belum lagi, kaki yang patah dari Vano, menambah kepuasan batin tersendiri. Tertawa dalam hati, namun wajah terpasang kesedihan bersama air mata.


Berdiri ketika kedua orang tua Vano memasuki ruang rawat, memundurkan langkah ketika ia tahu wajah merah padam bersama sorot mata amarah ditunjukkan tanpa keraguan. Menyaksikan dan terbahak dalam hati, saat harus melihat lelaki di atas ranjang dengan wajah berbalut perban menyisakan kedua mata itu langsung mendapat tamparan sempurna.


“Apa yang kau lakukan sebenarnya?! Kenapa kau membuat bisnisku menjadi hancur seperti ini?!” geram pria berkemeja putih, mencekik Vano sekuat tenaga. “Kau harus mengganti semua kerugianku dan mengembalikan keadaan seperti semula! Kalau tidak, maka aku yang akan melenyapkanmu sekarang!”


“Dasar brengsek! Apa dia hanya memikirkan harta sekarang? Tidak bisakah dia melihat keadaanku?” batin Vano, suara tak bisa untuk ke luar dengan kondisinya sekarang.


“Dia tidak bisa berbicara, percuma om bertanya apa pun. Jangan menyalahkannya atas semua ini, ada orang lain yang bertanggung jawab. Itu adalah mantan kekasih Vano ... Anita!” tutur Rara menekankan nama Anita, menoleh pria bersungut-sungut itu kepadanya.


“Anita?!” melotot Johny ke arahnya.


Rara mengangguk dengan keyakinan, ia memberikan ponsel dan mencari nomor Anita. “Om bisa menghubungi nomor ini kalau mau, itu adalah nomor Anita. Dia yang menyebabkan Vano dalam kondisi seperti ini, dia juga yang menyebabkan kebangkrutan perusahaan kalian.” Rara beruacp dengan keyakinan.


Ponsel langsung ditarik oleh Kania, mengambil ponsel miliknya dan langsung menekan nomor Anita lalu memberikan pada sang suami. Sekali lagi kepuasan terlihat dari binar mata penuh kepalsuan dan air mata, dilirik oleh Vano seraya mengumpat dalam hati, memaki akan drama dimainkan oleh Rara saat ini.


“Kau Anita?!” tegas Johny saat panggilang terhubung, perempuan tengah menemani suaminya itu menoleh ke arah Reno dan mengaktifkan pengeras suara.


“Iya, ini siapa?” balas tanya Anita.


“’Kau! Kau yang sudah membuat usahaku bangkrut?! Kau yang sudah membuat Vano menjadi seperti sekarang?! Kembalikan semua seperti awal atau-,” terpotong ancaman ingin menghabisi nyawa itu, Reno langsung mengambil ponsel dari tangan sang istri.

__ADS_1


“Atau?!” tegas Reno, hanya berdua saja dengan istrinya di lantai bawah, sementara Arga berada di luar bersama Rian yang sengaja datang menemui dirinya atas permintaan Reno sendiri.


“Atau aku akan melenyapkannya! Siapa kau berani sekali berbicara denganku?! Berikan ponsel itu pada Anita sekarang! Jangan ikut campur urusanku!” maki Johny.


“Jaga ucapanmu tua bangka tidak berguna! Kau sedang berbicara dengan orang yang tidak pantas mendapat nada tinggi darimu! Berani kau mengancam istriku? Bersiaplah untuk kehancuran lebih dari apa yang kau dapatkan sekarang!” tutur Reno tegas.


“Brengsek! Siapa kau berani sekali memanggilku seperti itu?! Baiklah, kalau kau memang suaminya, maka berikan semua yang kau miliki untuk mengganti semua kerugianku! Tapi, aku yakin kau bahkan hanya gembel tidak berguna yang tidak memiliki uang! Maka, jual tubuhmu dan istri brengsekmu itu!” maki Johny keras, diperhatikan oleh Rara yang sempat terkejut dengan kalimat suami diucapkan, namun mata itu menyiratkan kebahagiaan luar biasa dalam hati.


Reno berdiri dari duduknya, tatapannya sungguh geram dengan rahang mengeras. “Reno Hardian! Kau mengenalku?! Tanyakan pada putramu, siapa suami dari perempuan yang sudah dia jual dulu!” tekan Reno pada kalimat, bagai tersambar petir orang diujung panggilan.


“Tu-Tuan muda?!” terbata Johny, menatap ke arah putra juga istrinya. “A-Anda, Tuan muda Reno?”


“Hm, kau mulai mengenali suaraku?!” sahut Reno. Tunggulah kejutan dariku sebentar lagi!” pungkas Reno mengakiri panggilan.


Johny terkejut bukan main, sekujur tubuhnya berubah gemetar ketika ia mengetahui siapa yang telah ia maki dengan sangat kasar. Suara itu, memang tak begitu asing di telinga. Namun, karena emosi memunjak yang ada pada dirinya, Johny tidak mendengarkan seksama hingga nama itu disebutkan dengan kebanggaan.


“Kau! Apa kau sedang menjebakku sekarang?!” tegas Johny ke arah Rara.


“Apa maksud, Om? Aku tidak mengetahui apa-apa, siapa Tuan muda yang om maksud tadi?” berlagak bodoh Rara, ingin sekali Vano mengahajarnya sekarang, namun ia tak bisa untk sekedar berteriak memaki dengan sangat kasar seperti yang hatinya lakukan sekarang.


“Dia adalah reno Hardian! Tidak mungkin kau tidak mengenalinya!” teriak Johny, terkejut wajah rara dengan tangan menutup mulut. Kedua matanya terbuka lebar, menunjukkan jika ia belum mengetahui apa-apa.


“Kau! Apa kau sudah menjual istri Tuan muda?! Katakan padaku!” beralih pria itu menarik pakaian yang melekat pada tubuh putranya. “Dasar anak tidak tahu diri!” tampar Johny lebih keras dari sebelumnya, kini ia melakukan berulang kali.


“Hentikan, Pa! Dia bisa meninggal kalau seperti itu!” cegah Kania menarik tangan suaminya.

__ADS_1


“Biarkan saja dia mati! Tanah pun tidak akan pernah ingin menerimanya!” teriak Johny. “Apa kau bahkan tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh putramu?! Bagaimana caramu emndidiknya selama ini?!” teriaknya kembali.


“Aku tidak mau tahu apa yang akan kalian lakukan, memohon atau menjilat kaki Tuan muda sekarang juga, aku tidak peduli! Aku ingin untuk semua bisnisku kembali seperti dulu!” tegasnya lalu mendorong sang istri ke arah ranjang menimpa kaki Vano dan seketika berjingkit lelaki merasa sangat kesakitan itu.


“PAPA!” teriak Kania, segera bertindak Rara menghampiri.


“Sudah, Tante. Biarkan om untuk tenang lebih dulu, aku akan membantu tante sebisanya. Lebih baik, tante temani Vano sekarang dan aku akan berusaha mencari tahu tentang Tuan muda.” Rara berucap dalam kelembutan ia buat.


Kania tak menjawab, tapi Rara sudah langsung pergi meninggalkan ruang rawat Vano tanpa melupakan tas tangan hitam yang ia bawa. Berjalan mengusap wajah, lelah untuknya berpura-pura dalam air mata. “Pasti aku akan membantu kalian, membantu untuk menghancurkan!” gumam Rara sembari terus melangkah.


Hatinya sudah cukup merasakan kesakitan, bahkan saat kedua orang itu tak mengenali dirinya sekarang. Padahal, apa dilakukan sudah melampaui batas wajar, jelas sekali kalau itu tidak pernah dianggap.


Mereka pernah bertemu, namun penghinaan juga pernah didapatkan oleh Rara dari mama Vano yang menganggapnya tak sederajat. Sakit hati yang ada dalam hatinya, kini dibalaskan dengan cara tersusun rapi di kepala.


Tanpa perlu untuk bergerak dan melakukan sesuatu, cukup dengan berkata ini dan itu lalu memasang drama meyakinkan, maka semua akan hancur dengan sendirinya. Seperti apa dilakukan pada Johny yang langsung meghubungi Anita dan justru memaki Reno, membuka jalan kehancuran untuk dirinya sendiri.


Perusahaan yang dipegang oleh Vano adalah perusahaan yang dihancurkan lebih awal, membuatnya gila dan mengerahkan seluruh pegawai untuk mengatasi. Akan tetapi, hitungan waktu yang berjalan justru menghancurkan yang lain, tanpa bisa untuknya berbuat apa-apa.


Bahkan, rumah mewah beserta aset yang dimiliki, terancam untuk lenyap juga karena hutang harus dibayarkan setelah beberapa pihak mengetahui akan kebangkrutannya.


Sementara orang tua Vano dalam kebingungan serta kecemasan, Rara justru pergi menghubungi seseorang. Apa lagi yang ia lakukan selain untuk bersenang-senang, membebaskan diri atas permasalahan yang tak pernah ingin untuk dicampuri sama sekali, dan mementingkan kesenangan diri sendiri.


Reno di rumah tengah bersungut-sungut akan kalimat jual diri terlontar untuknya juga sang istri, menghubungi Lisa untuk mengatasi semua dengan kehancuran sampai dia merasakan kepuasan, segera sekretaris pribadinya itu bergerak.


Anita mendengar semua amarah suaminya, dia juga melihat wajah geram itu, berdiri dan memegangi lengan suaminya, Anita tak berani untuk mengatakan apa-apa. Dia takut ketika lelaki itu sudah marah seperti sekarang, seolah dunia siap dihancurkan dengan amarahnya yang begitu besar.

__ADS_1


"Aku akan membuatmu menyesal pernah terlahir ke dunia ini!" geram Reno mengeratkan rahang dan menggenggam ponsel kuat.


__ADS_2