My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Memasak Untuk Arga


__ADS_3

Beberapa waktu sampai Arga mengeluhkan tentang perut kosong, Reno berdiri meninggalkan putranya dan memenuhi janji untuk membuatkan makanan. Anita diminta untuk bersama Arga, tak meninggalkan seorang diri. Akan tetapi, bocah itu justru meminta agar sang mama menemani di dapur, tak ingin untuknya benar-benar masuk rumah sakit.


Game dimainkan oleh Arga, demi mengalihkan perhatian dan berusaha untuk melupakan setiap apa yang seharusnya tidak pernah ada dalam ingatan dan menakuti dirinya. Membenci setiap ketakutan yang hadir, tapi ia juga tak bisa sepenuhnya mengendalikan. Semua menyusup tanpa pernah diharapkan, bersama bayang akan penyiksaan pernah ia dapatkan.


Anita meraih apron diberikan oleh pelayan, menutupi pakaiannya. Reno tengah berdiri mendengarkan penjelasan koki, teralih pandangan pada sang istri. "Kenapa? Bukankah aku memintamu untuk bersama Arga? Kenapa kamu kemari?" cecarnya.


"Arga tidak ingin keracunan, makanya memintaku datang." Anita menjawab, melihat apa dipersiapkan.


"Anak menjengkelkan!" gerutu Reno. "Pergilah, biar istriku yang membantu!"


"Baik, Tuan." Koki menunduk dan undur diri.


Anita meraih apa sudah ia persiapkan dan belum tuntas tadi, meletakkan di atas meja dapur dan diperhatikan oleh lelaki berdiri menyamping. "Ada apa dengan wajahmu?" tanya Reno, mendapati wajah tak seceria biasa.


"Kenapa? Ada sesuatu?" tanya Anita memegang wajah.


Reno mendekat, mengarahkan tangan ke wajah. Tapi bukan untuk menyingkirkan kotoran yang memang tidak ada, ia membungkuk dan mencium bibir istrinya. "Jangan membebani diri dengan apa pun, semua akan baik-baik saja. Untuk Arga, kita bisa mendampinginya setiap waktu. Dia hanya membutuhkan itu, bukan kecemasan atau air mata."


Anita bergeming, dia langsung memeluk suaminya. Kegundahan dirasakan sedari tadi, ingin untuk dipertanyakan. Namun, ada keraguan serta ketakutan yang ada, ia takut jika semua benar adanya dan menimbulkan kekecewaan serta luka hati sekali lagi.


Membelai lembut rambut belakang sang istri, lelaki lebih tinggi itu mengecup ujung kepala dan membiarkan untuk istrinya memeluk semakin erat. Tidak bertanya akan ada apa, pikiran Reno hanya tentang sang istri yang terlalu mencemaskan kondisi Arga. Tidak berniat untuk membawa ke psikiater, dukungannya bersama Anita jauh lebih dibutuhkan bersama pendekatan.

__ADS_1


Entahlah, Reno takut kalau sampai Arga salah paham dengan mengira jika ia dianggap kurang sehat. Banyak sekali pikiran dikembangkan selama perjalanan dengan memeluk putranya, anak yang sangat ingin diberikan waktu lebih dan menjadi dekat untuk saling berbagi banyak hal tanpa pernah ada yang disembunyikan.


Anita mengendurkan tangan, melepaskan pelukan. Dia menatap wajah tampan dulu sempat dibenci dengan sangat parah, berjinjit lalu mencium sisi wajah. "Aku mencintaimu, apa pun yang kamu lakukan, lakukan saja. Tapi jangan pernah membuatku tahu atau melihat apa pun itu," tutur Anita.


"Maksudnya?" tak paham Reno, menyipitkan kedua mata dengan alis mengkerut.


"Aku tidak ingin mendengar tentangku dengan siapa pun, jangan bercerita dan lakukan saja seperti apa kamu inginkan. Selama aku tidak tahu, maka semua akan baik-baik saja." Anita tersenyum, beralih memulai untuk memasak.


"Jelaskan! Aku tidak suka perkataan dengan teka-teki!" tegas Reno menarik lengan.


"Tidak ada, apa yang harus aku jelaskan?" santai Anita masih dengan senyum ditunjukkan.


"Jangan memulai sebuah masalah untuk kesalahpahaman tidak berguna!" tegas lelaki memang tidak menyukai teka-teki tanpa penjelasan lebar. Baginya, setiap ucapan pasti memiliki alasan, ada penjelasan yang harus diberikan dan bukan sekedar ucapan saja.


"Kamu pikir aku preman? Aku tidak akan berkelahi dengan mudah, kecuali memang ada yang membuatku harus melakukannya. Lagi pula, aku bukan anak SMA yang suka berkelahi hanya untuk hal-hal tidak terlalu penting." Reno berucap, tersenyum kembali sang istri dengan tangan mengayun ke arahnya.


"Apa?!" tegas Reno.


"Membungkuk, aku ingin menciummu!" tegas Anita.


"Tinggi mu apa tidak bisa ditarik lagi?" gumam Reno, melepaskan tangan istrinya dan menegapkan tubuh.

__ADS_1


Memegang pinggang dengan kedua tangan, mengangkat tubuh istrinya duduk pada meja dapur, lalu mendekatkan wajah. "Aku tidak suka membungkuk, orang lain yang harus membungkuk di depanku!" ucap Reno.


Anita membentuk wajah sangat jelek, semuanya terangkat karena ucapan terdengar sungguh mengesalkan. Tapi benar juga, siapa yang tak tunduk pada suaminya? bahkan. di jarak masih jauh saja, akan langsung membungkuk jika melihatnya. Anita meletakkan kedua tangan lurus pada pundak, mendekatkan wajah tapi urung mencium.


"Mama dan papa ingin memasak atau apa?" tegur Arga diketahui oleh mamanya dan langsung mengurungkan niat. Reno menoleh ke sumber suara, dia menghela napas panjang.


"Bisakah untuk datang lima menit lagi? Sudah hampir sampai!" ucap Reno, dipukul sang istri yang langsung turun.


Arah masuk ke dalam dapur, ia tak ingin hanya duduk diam. Bermain game terlalu malas untuk dilanjutkan, bocah itu memutuskan untuk melihat sejauh mana kedua orang tuanya memasak, namun justru melihat keduanya ingin bercumbu mesra.


Berdiri di dekat papanya dan melihat sang mama memulai untuk acara di dapur, tangannya sangat lihai dengan menggunakan pisau. Kue ingin dibuatkan, sementara disingkirkan lebih dulu, mendahulukan untuk sayur yang diminta oleh putranya menjadi santapan siang hari. Belum terlalu siang dan belum pula memasuki jam makan memang, tapi Arga sudah mengeluh kelaparan.


"Kemarikan, biar aku saja." Reno meraih sayuran dalam wadah, lalu mencucinya.


Anita tersenyum ke arah putranya, lalu beralih untuk menumis bumbu. Sekali lagi Reno mencegah, apa sudah dipersiapkan ingin untuk dirinya melanjutkan. Anita pasrah, dia hanya mengarahkan untuk suaminya harus melakukan apa berurutan.


Batuk seketika uap tercium olehnya, menjauhkan tubuh dan tangan lurus memegang penggorengan di atas api menyala. Tak ingin kulitnya terkena panas dari masakan, lelaki yang tak tahu jika sayur tak akan menimbulkan percikan minyak itu, justru melemparkan sayuran beserta wadahnya ke atas penggorengan.


Terbahak Anita dan Arga seketika, memegangi perut dengan tangan sang mama merangkul pundak. Reno menunjukkan gigi mengerat ke arah keduanya, memerintahkan pelayan untuk mengambil wadah di atas penggorengan. Itu wadah kaca bening, dan untung saja tidak pecah atau dia akan mulai menghitung kerugian.


Siapa yang tak mengenal akan hal itu, setiap apa yang pecah di depan mata akan selalu dihitung olehnya dan menganggap jika itu kerugian kecil yang bisa menjadi besar.

__ADS_1


Melanjutkan pergerakan tangan dengan spatula ia pegang, memberikan bumbu sudah disediakan tanpa takaran dan hanya menggunakan feeling yang terus ditambahkan olehnya. Arga menelan saliva dalam tatapan ragu, entah seperti apa rasa masakan yang terus ditambahkan bumbu serta saus itu.


__ADS_2