My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Keterlibatan Rara


__ADS_3

Saat Reno berkumpul dengan keluarga kecilnya, di tempat lain ada Lisa yang menemui Rara begitu ia pergi dari tempat Arga di sekap. Perempuan itu mendapat tugas langsung dari Reno untuk menemui Rara dan mencari tahu banyak hal. Berada di lingkungan tempat sahabat dari Anita itu tinggal, Lisa duduk berhadapan dengan bodyguard menunggu di depan.


"Katakan semua, atau Anda akan langsung berurusan dengan Tuan muda. Tentu hal itu tidak akan Anda harapkan sama sekali," ucap Lisa.


"Ponsel ini, terhubung langsung dengan Tuan muda sekarang. Jadi, apa pun yang Anda katakan, langsung terdengar olehnya!" timpal Lisa meletakkan ponsel terhubung panggilan dengan Reno.


Tidak ingin menunggu untuk sebuah laporan akan hasil kerja, Reno dan Lisa saling menghubungkan panggilan untuk semua pengakuan diminta pada Rara tanpa kebohongan. Tentu semua tak akan pernah menjadi baik, jika sekecil apa pun kebohongan dikatakan oleh Rara sekarang ini.


Apa yang terjadi pada Vano dan bagaimana cara Tuan muda itu mengatasi setiap orang berani menyentuh kehidupannya, ditunjukkan oleh Lisa sebagai peringatan. Akan tetapi, ada ekspresi yang begitu pelik untuk dipahami oleh sekretaris Reno, karena tak ada keterkejutan atau bahkan kesedihan yang ditunjukkan oleh Rara ketika melihat keadaan dari kekasihnya.


Hal itu membuat Lisa bertanya-tanya akan mengapa, namun bukan saat baginya mempertanyakan hal itu, karena ada hal penting harus di gali lebih dulu oleh Lisa, mengenai Anita dan juga video pernah diambil olehnya dulu. Video yang dikatakan oleh Rara sendiri tadi, dan belum sempat untuk dicari tahu karena tujuan utama untuk menyelamatkan Arga.


"Anda akan mengukur waktu berapa lama lagi?! Bodyguard di depan akan siap merobek mulut Anda jika tak langsung berbicara sekarang!" ancam Lisa, tak sabar ia menanti.


"Video itu ada di tempat yang seharusnya di datangi oleh Anita hari ini. Karena video itu yang akan digunakan oleh Vano untuk menjerat Anita dalam pernikahan. Cari dalam kamar di lantai dasar, di sana juga ada beberapa foto dalam sebuah almari. Kamu juga akan menemukan banyak bukti lain," tutur Rara.


"Anak buah Tuan muda masih di sana, kalau ini hanya kebohongan, maka terima konsekuensinya!" tegas Lisa, menghubungi anak buah Reno yang masih ada di tempat dimaksud Rara.


Mendengarkan bagaimana cara perempuan itu bekerja, ada ketakutan dalam hati Rara yang tak bisa disembunyikan. Bahkan wajahnya telah menunjukkan seberapa takut dirinya, meski coba ditekan. Sekarang, ia yakin jika benar orang waktu itu adalah Reno, dan betapa sial hidupnya harus terjebak dalam permainan sendiri.


"Kenapa kalian tidak membunuh Vano?" tanyanya tiba-tiba.


"Itu bukan urusan, Anda!" tegas Lisa.


Dia tak pergi dari rumah itu, semua harus dipastikan lebih dulu. Tak akan pernah melepaskan Rara untuk bisa bebas, Lisa sengaja tetap berada di sana sampai perintah selanjutnya diberikan. Rara memang berharap untuk kematian Vano setelah apa dilakukan di elevator hari itu.


Alasannya tak bersedih dan justru terlihat bahagia, karena ada rasa sakit terlalu dalam dirasakan atas apa dilakukan Vano terhadapnya. Seolah kejadian hari itu membuka lebar kedua mata, jika ia hanyalah alat untuk Vano mendapat apa diinginkan, terbukti dari lelaki itu yang berniat menikahi Anita dan bukan dirinya.


Nasi sudah menjadi bubur, waktu sudah berlaku tak dapat ia kembalikan. Sesalnya pun tak akan pernah berguna dilakukan bersama air mata, kini Rara harus harus berusaha sebaik mungkin untuk tetap hidup, meski tidak pernah tahu apa yang akan dilakukan oleh Reno terhadapnya.

__ADS_1


Tuan muda yang sudah mematikan panggilan dan ke luar dari dapur untuk menyusul istrinya itu, sudah memiliki rencana untuk mengatasi Rara. Dia bukanlah orang yang akan melepaskan, ketika rasa puas belum ia dapatkan. Pembalasan akan jauh lebih mengerikan dari apa pernah dilakukan, terutama untuk orang-orang pernah membuatnya mencari layaknya orang gila dulu.


Memasuki kamar dan memeluk istrinya dari belakang, Reno telah mencari ke kamar Arga dan mendapati putranya tidur lelap. "Kamu benar-benar belum hamil?" tanya kembali Reno memegang perut istrinya.


"Apa aku akan menyembunyikannya kalau sudah?" balas tanya Anita.


"Bisa saja, kamu pernah melakukan hal itu," sahut Reno. Berbalik perempuan tengah berdiri di depan meja rias untuk mengikat rambutnya.


"Rara menghubungiku," ucap Anita. "Tidak bisakah kita membantunya?"


"Aku akan membantunya, kamu tenang saja. Dia tidak akan pernah menderita hidup di dunia ini," jawab Reno santai.


"Maksudnya? kamu akan membiayai hidupnya?" tanya Anita.


"Aku akan membiayai pemakamannya! Bahkan itu dengan sangat mewah!" tegas Reno. "Paling tidak, itu bisa membuatnya mati dalam kemewahan, meski dia lebih pantas mati di tengah lumpur menjijikkan!"


Anita membuka lebar kedua mata, ucapan Reno terdengar serius tanpa ada keraguan dalam binar matanya. "Kamu akan membunuhnya?! apa suamiku seorang pembunuh?!"


"Tapi semua bukan Rara yang melakukan!" ucap Anita.


"Kamu yakin?! sepertinya, kamu tidak pernah mengenalnya dengan baik!" tegas lelaki kini berbalik badan. "Dia ikut dalam penculikan Arga, dia terlibat dalam semua rencana Vano! bahkan, dia memiliki rekaman video saat kamu mengganti pakaian!"


Anita terkejut bukan main, dia menarik tangan suaminya. "Apa?! A—apa sebenarnya yang kamu katakan?!"


"Sayang, kalian pernah bersahabat dulu dan melakukan banyak hal bersama. Di sana juga, dia sudah mulai mengkhianatimu. Dia merekam saat kamu berganti pakaian, dan rekaman itu masih ada. Rekaman yang akan digunakan oleh Vano untuk menikahimu hari ini." Reno menjelaskan.


"Alasan Vano menculik Arga adalah untuk menjadikanmu istrinya, dan setelah itu melenyapkan Arga. Karena dia tidak berharap untuk Arga ada dalam kehidupan kalian," timpal Reno.


"Dan sahabatmu yang bodoh itu, sudah menggunakan rekaman saat kamu berganti pakaian untuk menjualmu dulu. Beruntungnya, orang suruhan ku tidak pernah melihat seperti apa tubuhmu dan langsung mengirimkan video itu padaku. Aku masih memilikinya sampai sekarang kalau kamu mau untuk melihat."

__ADS_1


Anita bagai tersambar petir dengan penjelasan suaminya, menutup mulut dengan tangan bersama kedua mata membeliak. Anita menggelengkan kepala, seolah ia tak percaya dengan apa dijelaskan. Bagaimana mungkin sahabat yang dikenalnya sangat baik, justru bisa melakukan hal itu.


Anita memang pernah berganti pakaian, dan itu disaksikan oleh Rara. Ya, tak berbeda dari sahabat baik yang melakukan banyak hal bersama tanpa memiliki privasi sama sekali, tapi rupanya itu dimanfaatkan oleh Rara dan menggunakan dengan sangat baik demi keuntungan pribadi.


Dia terlibat dalam penculikan Arga, meski akhirnya membocorkan ketika tahu apa niat di balik tindakan Vano yang membuatnya merasa sangat dicurangi. Reno terus menyelidiki semuanya hingga akar, dari awal persahabatan Anita dan Rara pun, sekarang ia cari tahu untuk mencari bukti atas kecurigaan terus berkembang hari ini.


Melihat Anita tampak terguncang, Reno memeluknya. "Jangan pernah mempercayai siapa pun, karena kita tidak tahu bagaimana hati orang lain."


"Tapi, bagaimana bisa dia melakukan hal itu? apa semua telah direncanakan dari awal?" pilu Anita.


"Sepertinya. Aku mencurigai ada niat lain dari semuanya, dan dia mendekatimu bukan untuk menjadi sahabat, tapi ada niat lain padamu juga keluargamu. Aku sedang mencari tahu bersama Rian, tapi tolong jangan mengatakan apa pun pada Arga." Reno berucap.


Anita mengangguk, walau semua seakan menolak atas apa di dengar. Reno sendiri tidak ingin mengatakan apa pun dan menjaga untuk Arga tak terlibat. Bocah itu terlihat tenang dan tersenyum, namun siapa tahu apa dipikirkan setelah penculikan itu.


Dia tetaplah anak kecil, entah seperti apa pun kecerdasan dimiliki. Melihat kekerasan, penembakan, bahkan mengetahui lebih banyak tentang kelicikan. Sepertinya, Reno harus ekstra menjaga putranya dan mengarahkan. Takut jika akan ada pola pikir salah terbentuk, Reno tidak ingin untuk putranya menjadi monster mengerikan saat dewasa nanti.


"Sayang, bisakah kita terus menemani Arga setiap hari?" tanya lelaki telah melepaskan pelukan.


"Hm, aku akan menemaninya setiap hari. Aku akan memintanya untuk bersekolah dari rumah saja setelah ini," jawab Anita


"Tidak. Kita tidak perlu melakukan hal itu. Biarkan semua dilakukan oleh Arga dan berkumpul dengan anak-anak seusianya. Kita hanya perlu menjaganya, bukan mengurung seperti itu. Arga membutuhkan teman, dia butuh untuk bergaul dan menjadi seperti anak-anak seusianya. Jangan pernah melarang untuk sekolah, dan jangan pernah menentangnya akan apa pun. Kita hanya perlu mengarahkan saja," tutur Reno.


"Tapi aku tidak ingi hal semacam ini terulang lagi," cemas sang istri.


"Aku memiliki cara untuk membuat Arga tetap terlindungi, kamu percaya padaku?" sahut Reno. "Aku akan mengirim seseorang ke sekolah Arga mulai besok. Dia akan datang malam ini."


"Siapa?" mengernyit kedua alis Anita.


"Kamu akan mengetahuinya nanti malam," senyum Reno.

__ADS_1


Mengusap lembut sisi wajah istrinya dan tersenyum lalu mengecup kening hangat, Reno telah menyusun rencana dalam perjalanan pulang tadi. Ia memiliki satu orang terbaik dalam segala bidang, sengaja memanggilnya untuk datang dan menjaga Arga untuk tak membiarkan hal sama terulang kembali.


__ADS_2