My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Berat Hati Anita


__ADS_3

Anita tidak langsung menjawab, dia menikmati penantian tak sabar dari lelaki yang menatapnya sembari mengernyitkan alis namun bersorot tajam. Ada kekhawatiran, penantian, juga peringatan dari binar matanya. Binar mata yang lebih pantas disebut sebagai bom waktu dengan hitungan mundur, siap meledakkan emosi dari seorang Tuan muda tak suka penolakan atau kegagalan.


"Sa—," kata Reno hendak menyebutkan angka satu.


"Ya! aku bersedia," cepat Anita menjawab sebelum ada badai menggulung semua orang dalam rumahnya.


Reno tersenyum lebar, sangat lebar bersama senyum yang lain mengiringi. Semua jelas merasa lega, usai menanti kata terucap dari bibir ibu satu anak itu. "Benar? serius?" tak percaya Reno, mengajukan pertanyaan dalam senyum tampan terpampang.


"Iya, serius. Aku mau kita menikah," jawab Anita juga menunjukkan senyum cantik.


"Hahaha!" terbahak Reno sembari menepuk tangan, mengejutkan semua orang. Dia berdiri membungkuk ke arah Anita, raut wajah ceria ditunjukkan tanpa malu-malu.


"Give me your hand!" kata Reno di depan perempuan tampak kebingungan.


Anita tidak mengerti, begitu pula yang lain. Tak sabar, tangan pun di raih oleh Reno dan menepuknya keras—melakukan high five paksa. "I love you, Honey!" ucapnya menunjuk sambil mengedipkan satu mata lalu duduk.


Membetulkan posisi duduk dengan senyum-senyum, Reno tak melepaskan perhatian dari perempuan terlihat malu-malu dalam senyumnya. Baik Arga dan kedua orang tua mereka tertawa, rasanya aneh mendengar kalimat cinta terlontar seperti pada kawan.


"I love you, Bro!" ledek Arga mengikuti gerakan papanya, semakin tawa terdengar nyaring.


Reno merangkul putranya, menarik kepala sampai paha seperti biasa. "Anak menjengkelkan!" geramnya namun tersenyum lebar dengan ekspresi terlihat gemas.


Pemandangan dari keduanya mengasyikkan untuk diperhatikan, keakraban dari anak dan ayah yang lebih mirip sahabat baik. Perdebatan, saling menyela, dan tingkah konyol yang ada, mungkin tak akan pernah ada orang yang mengira jika keduanya baru hitungan hari dipertemukan oleh Tuhan, setelah menjadi rival dan saling bersaing untuk menjadi terdepan.


Orang tua Anita sempat terkejut ketika tahu orang itu adalah Reno—pengusaha besar yang sangat berpengaruh. Mungkin itu cara Tuhan menyatukan dua insan yang bahkan tak saling mengenal, bersama teka-teki juga rahasia yang tak pernah diketahui oleh siapa pun di dunia ini.


"Sebelum pernikahan, bolehkan Anita tinggal di sini? kami sangat merindukannya," pinta Divya lembut.


"Mana boleh?! dia milikku sekarang!" jawab Reno kilat, di pukul oleh mamanya pada lengan. "Mama, sakit! selalu saja!" protesnya mengusap lengan.


"Hanya untuk beberapa hari saja. Nanti setelah menikah, mungkin akan sulit untuk Anita tinggal di sini. Saya harap Anda memahami," suara lembut Divya kembali terdengar.

__ADS_1


"Tidak! bagaimana kalau aku merindukannya?! lagi pula, siapa yang bilang beberapa hari?! kami akan menikah hari ini juga!" kata Reno menolak tegas.


Maira hendak memukul lagi, tapi berhasil untuk Reno berdiri dan menghindar. "Pukul angin, Ma?" goda Reno, siap mendapatkan serangan sandal tapi Bobby menghentikan istrinya. "Di rumah orang," kata Bobby mengingatkan.


"Reno, pernikahan juga butuh persiapan. Tidak bisa kamu mau, langsung jadi!" kata Maira.


"Aku sudah mempersiapkan semuanya, terutama fisikku. Apa lagi yang harus dipersiapkan?" jawab lelaki tetap berdiri itu.


"Fisik? untuk apa? papa ingin menikah, apa berkelahi?" polos Arga.


"Hehehe, kamu tidak akan pernah mengerti. Fisik sangat dibutuhkan seorang laki-laki saat menikah," jawab Reno nyengir kuda. "Itu menentukan banyak hal," imbuhnya.


"Reno!" peringat Maira tegas.


"Sudahlah, Ma. Terlalu lama sendiri, jadinya ya seperti ini. Otaknya hanya itu saja," malas Bobby.


"Tidak tahu malu," lirih Arga, menangkap apa maksud ucapan kakeknya dengan sangat baik.


Masih berdiri menghindari tangan sang mama yang siap memukul kapan saja, dering ponsel dalam saku celana menghentikan pembahasan di ruang tamu. Reno meraihnya, melihat panggilan masuk dari Lisa.


"Hm," jawabnya singkat.


"Kami sudah mengetahui siapa penyebar foto Nyonya Anita, Tuan. Saya sudah mengirimkan beberapa foto dan juga lokasi orang itu," kata Lisa di ujung panggilan. Wajah Reno tadi sumringah, berubah serius.


"Aku akan ke sana!" ucapnya langsung.


Panggilan di akhiri, ponsel ia masukkan dalam saku celana. Semua menatap ke arahnya, bertanya-tanya akan apa yang terjadi hingga memudarkan keceriaan dengan sangat cepat.


"Ada apa?" tanya Anita.


"Aku harus pergi, ada hal penting harus aku urus. Kita bicarakan ini nanti," jawab Reno cepat.

__ADS_1


"Kamu jaga mama," pesannya pada sang anak, menyentuh ujung kepalanya.


Reno berpamitan, tanpa menjelaskan apa-apa atau sekedar menunggu jawaban. Anita mengikutinya, hal apa yang sudah terjadi hingga membuat lelaki tadi tak menghilangkan senyum dari wajah itu, sekarang berubah serius dan penuh amarah dari sorot matanya.


"Tunggu," cegah Anita. Lelaki hendak masuk dalam mobil sudah dibukakan pintunya itupun menoleh.


Reno tetap berdiri di dekat mobil, pintu masih dibiarkan terbuka. Anita mendekat ke arahnya. "Apa yang terjadi? apa ada masalah serius?" penasaran Anita.


"Ya, tapi aku tidak bisa mengatakan sekarang. Tinggallah di sini malam ini, besok aku akan menjemputmu. Biarkan Arga bersamamu," jawab Reno.


"Sesuatu yang berbahaya? apa ini juga menyangkut nyawamu?" berubah sendu Anita.


Reno tersenyum tipis, meletakkan telapak tangan kanan pada sisi wajah Anita. "Aku akan baik-baik saja," tulusnya.


"Anita, jangan terlalu cemas. Tidak akan terjadi apa-apa, dan tidak ada perempuan lain. Aku akan menjemputmu besok, jangan berpikir macam-macam. Mengerti?" tambah Reno menyakinkan.


Anita mengangguk, dia memeluk Reno, menyandarkan kepala pada dada bidang berlapis kemeja serta jas hitam. "Aku mencintaimu," ucap Anita, dilepaskan pelukan segera.


"Apa? katakan lagi?" takut salah dengar lelaki dengan posisi sedikit membungkuk, memegang kedua pundak Anita.


"Aku mencintaimu, cepatlah kembali. Tidak masalah kalau kamu bersama perempuan, tapi bisakah jangan meninggal?" ucap Anita, merekahkan senyum Reno.


Reno memindahkan tangan kanan untuk mencapit dagu Anita dengan ibu jari dan telunjuk melengkung, dia mendaratkan sebuah kecupan hangat pada bibir. Tak cukup sekali, dua kali ia berikan dan berakhir menikmati sejenak. "Hanya kamu," ucap Reno tulis, menatap dalam kedua mata Anita.


"Aku pergi," pamitnya.


Anggukan kepala diberikan sebagai jawaban, entah mengapa hati Anita tak enak. Reno memasuki mobil, sopir menutup pintu perlahan usai tubuh Anita mundur.


Dari dalam, lelaki itu menatap keluar dan meninggalkan senyumnya yang menawan. Anita terlalu sulit untuk menyuguhkan senyum sama, hatinya tak ingin melakukan dan terasa sangat berat. Dia tetap berdiri dengan bola mata mengikuti kemana mobil perlahan meninggalkan dirinya.


Jangan lupa like, komentar, vote kalau mau.

__ADS_1


__ADS_2