
"Kamu bilang mencintaiku, tapi kamu juga berkencan dengan Lisa. Kamu bahkan berciuman di depan Arga, apa kamu tidak tahu malu?" sahut Anita.
"Siapa yang mengatakan semua itu?" tanya Reno.
"Arga," singkat Anita.
"Hahaha, Arga ...," terbahak Reno, melepaskan tubuh perempuan sangat heran dengan tawanya. "Anita, apa kamu tahu seberapa licik putra kita? dia sudah menyusun semua rencana dengan sangat baik."
"Ha?" menyipit kedua mata Anita.
"Sudahlah, kita pulang ke rumahmu. Dia sudah menunggu di sana bersama orang yang ingin kamu interogasi," ucap Reno.
"Jalan!" tegasnya, melihat wajah berselimut tanya.
Anita menyalakan mesin mobil, pergi meninggalkan restoran. Reno masih bersahabat baik dengan senyum juga tawa, berulang kali menggelengkan kepala dengan menyerukan nama putranya.
Dalam tanya menyelimuti, Anita tetap berusaha mengemudi. Apa yang sudah membuat lelaki itu terbahak, yang tak pernah ia dengar selama tinggal bersama. Sesekali mata melirik, seakan di sampingnya bukanlah Reno yang ia tahu.
Lelaki itu tampak berbeda, dari sorot mata juga nada bicara. Namun, hati Anita juga bahagia atas pernyataan cinta di dengar. Walau tak sepenuhnya mempercayai, karena cukup baginya dikhianati satu kali.
Reno sendiri bertekad untuk menikahi Anita, tanpa membiarkan kata perpisahan ada di antara mereka. Cinta memang ada, disadari olehnya beberapa bulan setelah malam itu berlalu.
Tidak ingin mencari layaknya orang gila, terombang-ambing tanpa kepastian, ia ingin segera memberikan nama untuk sebuah hubungan bersama Anita juga Arga.
Niat awal untuk membalas dendam atas rasa sakit hati karena dicampakkan, hilang seketika ia mendengar penjelasan dari Arga sore ini. Bersama putranya, ia memiliki sebuah rencana lain demi pembalasan dendam pada orang lebih tepat.
Ya, Reno memang sangat terluka akan perlakuan Anita hari itu. Tak pernah ada yang berani mencampakkan dirinya, tapi Anita justru meninggalkan tanpa busana. Karena hal itu pula, sempat rasa minder menghantui. Reno tak pernah dekat dengan perempuan lain, seperti dulu sering dilakukan.
...----------------...
__ADS_1
Tiba di rumah usai melintasi perjalanan tanpa kemacetan, Anita langsung memasuki rumah. Ada satu mobil di depan, ia ketahui siapa pemiliknya. Benar saja, Lisa bersama dengan Arga di ruang tamu. Semakin besar tanya Anita mengusik.
Reno duduk di samping putranya, langsung mengacak rambut dan dirapikan oleh sang anak. "Jangan lakukan itu," protes Arga tapi dengan nada tak seperti biasa.
"Kenapa? kenapa tidak boleh? aku bisa melakukannya," tak terima Reno, merangkul putranya dan menarik kepala Arga ke atas pangkuan, semakin terheran Anita hingga tak mempercayai kedua matanya.
"Hentikan! apa semua ini?!" tegas Anita. "Jelaskan pada mama!"
"Jangan berteriak, suaramu lebih mirip petasan!" protes Reno, seraya membebaskan kepala sang anak sempat ia tekan di atas paha.
Lisa tersenyum, sementara Arga merapikan rambut lagi. "Duduklah, Nyonya. Kami akan jelaskan semuanya," ucap Lisa sopan.
Anita menggelengkan kepala, dia tak ingin duduk dan hanya menuntut penjelasan. Semua yang terjadi begitu sulit untuk diterima akal sehat, terlebih kedekatan Reno juga Arga.
Mulai dengan cerita tentang hubungan Lisa dan Reno, yang ternyata tak lebih dari hubungan pekerjaan. Setiap malam ia datang, memberikan laporan karena bosnya tak suka menunggu untuk besok.
Lisa kembali pulang di malam hari, ketika pagi ia sudah datang lagi. Itu merupakan bagian tugasnya, menyiapkan setelan kemeja untuk Reno dan membacakan agenda harian. Anita tak pernah tahu hal itu, dimanfaatkan oleh Arga untuk membuatnya cemburu.
Untuk pernikahan di bulan depan, bukan pernikahan Anita, tapi pegawainya. Anita membantu bersama Arga untuk semua biaya, karena pegawai laki-laki yang bekerja pada Anita, tak lagi memiliki keluarga. Lisa pun turut ambil peran ditunjukkan pagi ini.
Amarah yang terjadi di kediaman Reno, sampai pada telinga Arga melalui sekretaris cantik yang ternyata sudah berkeluarga. Tidak mau semua jadi sasaran, setelah melihat video dua bodyguard yang dijadikan pelampiasan, Arga menghubungi Reno dan menceritakan.
Semua ia buka, bersama rekaman pembicaraan bersama Lisa. Dia bertanggung jawab dan menjamin untuk Lisa tidak pernah dipecat, sehingga membuat bukti untuk setiap kerjasama ia minta dari Lisa.
Untuk bertemu di restoran pun, Lisa dan Arga mengaturnya. Agar kedua orang yang tak pernah sanggup mengutarakan apa begitu jelas dalam kedua mata, bisa mengutarakan ketika hanya berdua. Termasuk lamaran Reno yang ia minta saran dari putranya sore ini.
Anita terduduk lemas, ia tak pernah mengetahui apa yang dilakukan oleh putranya sendiri. Bagaimana bisa Arga justru memiliki rencana tersusun semacam itu, bahkan sanggup mengendalikan keadaan lebih cepat sebelum badai datang.
"Lalu ... pagi ini?" tanya Anita.
__ADS_1
"Tuhan yang bekerja pagi ini, Ma. Aku memang ingin membawa mama keluar, karena aku tidak ingin papa bersikap kasar. Lagi pula, aku yang sudah membuatnya sangat kasar. Kalau mama tetap berada di sana, hubungan kalian akan semakin buruk karena sering bertengkar. Aku tidak ingin mama membenci papa, karena aku tahu kalau mama mencintainya. Benarkan?" jelas Arga, tiba-tiba lelaki di sampingnya tersipu menanti jawaban.
"Papa? semudah itu? apa kamu bahkan lupa seperti—," cecar Anita terpotong.
"Dia mencari mama selama ini, aku tahu hal itu. Dia sendiri tidak berhenti menangis setiap malam melihat foto mama, karena dia merindukan, walaupun pasti tidak disadari olehnya." Arga melirik lelaki tampak ingin protes. "Harusnya, mama membuang pakaian dan ponselnya hari itu. Biar dia tidak bisa kembali,"
"Dasar licik! bagaimana bisa anak kecil berpikiran seperti itu?!" ujung jari Reno menekan kening samping kiri putranya.
"Benar juga. Kenapa mama tidak berpikir hal itu?" gumam Anita mengangguk berulang.
"Kalian berdua!" geram Reno menatap bergantian.
Lisa mengukir senyum cantik, dia menyukai kebersamaan hari ini. "Maaf, tapi sepertinya saya harus pulang. Ini sudah masalah keluarga," senyum Lisa.
"Tentu, terima kasih banyak. Temui aku besok di kantor," sahut Reno.
"Baik, Tuan. Saya permisi," mengangguk Lisa.
Ucapan terima kasih pun diberikan oleh Arga, sebelum wanita itu pergi. Anita mengantarnya sampai depan rumah, meninggalkan kedua orang di sofa yang entah membahas apa.
"Di terima?" berbisik Arga, melengkung bibir Reno seraya menggeleng. "Ah, sudah pasti. Papa sudah sangat tua,"
Reno mengeratkan gigi, bibirnya terangkat hingga gigi putihnya terlihat. "Dasar anak nakal! lihat saja, aku akan memberikanmu adik yang sangat banyak, biar kamu tahu bagaimana kesalnya aku setiap kali menghadapimu!" kata Reno.
"Bukannya, papa sendiri yang akan semakin kesal? bagaimana kalau nanti semua adikku, sepertiku?" goda Arga menahan senyum.
"Benar juga," setuju lelaki seketika berpikir. Arga tersenyum lebar, berhasil sekali lagi membuat papanya kebingungan.
"Sudahlah, aku tidak ingin mengganggu. Kabari aku besok pagi," ucap Arga berdiri.
__ADS_1
"Hehehe, kamu benar-benar anakku! pergilah, tutup telingamu rapat-rapat malam ini. Jangan lupa berpegangan, takut ada gempa!" sahut Reno melebarkan senyum.
Arga menggelengkan kepala lirih, memperhatikan senyum penuh maksud diselipkan. "Dasar mesum," ucapnya sangat pelan, tak terdengar oleh lelaki masih tersenyum dan mengayunkan tangan, berisyarat agar putranya segera pergi.