My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Usaha Arga


__ADS_3

Arga tertawa, dan sekalinya ia tertawa, justru membuat papanya semakin kesal. Reno berusaha meraih punggung dengan tangan, itu benar-benar sangat panas. Anita melihat tangan terluka, dia berdiri dan meraih tangan Reno. "Ini sebenarnya kenapa?" tanya Anita melihat tangan sudah diganti perban oleh Lisa tadi.


"Aku sakit, tapi kalian justru menganiayaku." Reno memasang wajah cemberut, tak ubahnya seorang anak kecil manja.


Anita memindahkan tangan ke atas paha, membuka perban dengan luka terlihat membengkak. Justru Reno mengambil kesempatan untuk bersandar pada pundaknya. Maira menggelengkan kepala, napas besar mengikuti gerakan kepalanya. "Sudahlah, kita tidur saja. Mama lelah!" kata Maira memijat leher.


"Mama yakin? dia bisa berbuat macam-macam nanti," tanya Bobby.


"Anaknya juga pasti lahir setelah mereka menikah," santai Maira berdiri dari sofa. Reno berubah ceria seketika, seperti mendapat lampu hijau.


"Boleh?!" semangatnya bertanya.


"Ini!" tegas sang mama menunjukkan kepalan tangan, menyurutkan keceriaan di wajah lelaki dengan bibir mengomel.


Mengajak Arga untuk tidur bersama, terlihat sekali bocah itu sudah tak sanggup untuk terus terjaga. Reno dan Anita ditinggalkan di ruang tamu, pelayan membawakan kotak obat yang diminta oleh Maira sewaktu berjalan masuk.


Sikapnya tak berhenti manja, membuat Anita geli sendiri. Kepala pada pundak, dihentakkan oleh Anita namun tak berhasil mengusir. Tangan nakal mulai berani berkeliaran, memegang perut datar perempuan berpiyama pendek di sampingnya.


"Punya anak lagi?" goda Reno genit, luka ditekan oleh Anita sampai dia menjerit kesakitan.


"Tuli!" protes Anita memukul paha Reno.


"Kamu sendiri yang menyakitiku!" ucapnya keras tanpa mau kalah.

__ADS_1


Tersenyum menundukkan kepala, melanjutkan kembali untuk mengobati luka. Kedua bola mata Reno memperhatikan seksama, sungguh cantik paras perempuan dengan ikat rambut di belakang itu. Kecupan hangat diberikan pada sisi wajah, Anita menoleh ke arahnya dan tersenyum.


Sungguh tak seperti Reno yang kemarin, di mana teriakan dan amarah menjadi bagian dari hidupnya. Siapa yang mengira jika lelaki itu bisa untuk bersikap manja, bahkan membuat orang tertawa ketika ia diperlakukan seperti anak kecil dengan jeweran telinga dari sang mama.


...----------------...


Pertemuan singkat antara kedua orang tua Reno dan juga Anita, nyatanya mampu membuat perempuan itu merasakan hangatnya keluarga. Semalam, ia tak tidur bersama Reno dan memilih kamar tamu sebagai tempat mengarungi mimpi.


Reno sendiri tak memaksa, dia mengerti alasan dibalik penolakan untuk tidur bersama. Tak ingin menjadi lelaki egois dan membuat Anita pergi meninggalkannya, Reno mulai belajar untuk bagaimana cara memahami perempuan yang selama ini tak pernah ia pikirkan.


Pagi hari, Arga sudah pergi dari rumah sebelum mamanya terbangun. Berpamitan pada kakek neneknya, tanpa berkata apa tujuan dibalik kepergiannya, Arga hanya diberikan syarat untuk membawa pengawal turut serta.


Melalui perjalanan hanya dengan beberapa kendaraan melintas, Arga tiba di kediaman orang tua kandung mamanya. Bocah itu menarik dalam napas, ia turun dari kendaraan dan berjalan ke teras. Pelayan memanggilkan pemilik rumah, tak lama Divya keluar untuk melihat siapa yang datang.


"Kamu bukannya?" tunjuk Divya, samar-samar ia mengingat wajah berdiri di depannya. Wajah itu sudah mengisi beberapa majalah, sering dilihat oleh Divya bersama suaminya.


"Selamat pagi. Saya Arga," sopan bocah berkaos biru tua itu memperkenalkan diri.


"Silakan masuk," ucap Divya.


"Saya akan masuk kalau kalian sudah mengenal saya lebih dulu. Ada alasan untuk saya datang kemari," sahut Arga, saling tatap dua orang di depannya.


"Ini, apa kalian mengenalnya?" tambah Arga menyerahkan sebuah foto.

__ADS_1


Harish dan Divya menatap pada selembar foto diberikan, itu adalah foto dari anak mereka. Kembali kedua mata saling bertatapan, menyiratkan kerinduan bersama tanya terlihat jelas. "I—ini ... dari mana kamu mendapatkan ini? apa yang terjadi dengannya?" tanya Divya, nadanya menunjukkan sebuah kecemasan.


"Dia mama saya, perempuan yang sudah melahirkan saya!" tegas Arga tanpa ekspresi. Kedua orang di depannya tercengang, Divya menutup mulut dengan mata terbelalak.


"Ka—kamu ...," terbata Divya.


"Hari itu, mama saya membuat kesalahan karena percaya pada sahabat juga kekasihnya. Mama saya tidak bersalah, dia dijual diam-diam. Minumannya dicampurkan obat waktu itu, dan mama saya tidak tahu apa-apa. Saya tahu, kalian juga mengetahui hal itu setelah mama pergi, bukan? itu sebabnya, kalian mengirim om Rian sebagai malaikat untuk kami. Bukan begitu?" jelas Arga panjang lebar, semakin tercengang orang tua mamanya.


"Tapi mungkin, kalian juga tidak tahu kalau om Rian bisa menjadi malaikat untuk kami, karena dia hanya datang untuk melihat keadaan mama sebelumnya. Tapi saya berterimakasih karena kalian sudah mengirim om Rian," susul Arga.


Divya berurai air mata, dia tak pernah tahu jika bocah di depannya adalah cucu yang selama ini ingin ditemui. Awalnya, mereka hanya mengirim Rian untuk mencari Anita, tapi mereka tak pernah menyangka jika lelaki itu membantu sampai sekarang secara diam-diam.


Tak pernah menceritakan tentang siapa anak sudah dilahirkan oleh Anita, Rian memang hanya diminta untuk mencari dan melaporkan di mana Anita tinggal. Namun nyatanya, hati tak sanggup untuk langsung meninggalkan perempuan itu dalam kesulitan. Rian terus datang dan membantu Anita juga Arga, sampai mendapatkan kehidupan seperti sekarang.


Dua orang tua yang juga sangat merindukan putrinya, memiliki penyesalan dalam hati yang tak kunjung teratasi. Kelakuan Vano dan Rara, telah mereka ketahui dan menemui keduanya. Namun, justru kata-kata tak pantas di dapat hari itu.


Harusnya mereka menjemput Anita dan membawa kembali, tapi tidak dilakukan meski penyesalan datang menyiksa diri. Setidaknya, kesalahan hari itu mampu dijadikan pelajaran bersama. Belajar untuk mendengarkan, belajar untuk mencari tahu, belajar untuk lebih berhati-hati.


Divya dan Harish memeluk Arga bersamaan, air mata mengiringi keduanya. Arga diajak masuk ke dalam, meminta untuk dirinya bercerita banyak hal. Akan tetapi, bocah itu tak menyebutkan nama Reno sama sekali, hanya berkata jika papanya sudah berusaha mencari selama ini.


Bagi Arga, itu bukan kewajibannya berkata, sisanya diserahkan pada kedua orang tuanya. Ia hanya menjalankan tugas sebagai anak, mengurangi beban hati dengan rasa bersalah semakin besar atas diusirnya sang mama ketika mempertahankannya dalam kandungan.


Tersirat begitu saja keinginan datang, ketika ia melihat seperti apa kebahagiaan mamanya saat di peluk oleh Maira semalam. Andai saja itu orang tua kandung, pasti mamanya akan lebih bahagia lagi.

__ADS_1


Ia hanya ingin sang mama bahagia, tidak lebih dari itu. Apa pun, rela dilakukan oleh Arga untuk menghapus air mata, melenyapkan beban terasa menyiksa, dan mengukir senyum bersama hati bahagia.


Jangan lupa like, komentar, vote kalau mau. Terima kasih.


__ADS_2