My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Ancaman Arga


__ADS_3

Bonus up buat mba Ika Alivia Arsyad. Terima kasih banyak support nya mba.


Reno keluar meninggalkan Anita yang masih berurai air mata. Pintu ia banting kuat, namun pada akhirnya justru terkejut hingga jantung hampir lepas. "Oh, ya Tuhan!" terkejut Reno, mengusap dada seraya membungkuk.


"Apa yang kau lakukan di sini?! berdiri seperti hantu saja!" kata Reno, melihat Arga berdiri melipat tangan di dinding samping pintu kamar mamanya.


Mendengar keributan, Arga keluar dari kamar karena takut jika sang mama kenapa-kenapa. Memutuskan berdiri tanpa ingin untuk masuk sebelum ada teriakan minta tolong, Arga menyandarkan tubuh belakang dengan tangan melipat depan dada.


"Lelaki yang berani bersikap kasar, hanya pengecut tidak berguna. Wajar saja, usia Anda sudah tua tapi belum menikah. Siapa yang mau dengan laki-laki kasar seperti, Anda?" santai Arga, lalu pergi.


Reno tak pernah untuk berhenti membuka lebar mata akan keterkejutan, juga rasa tak percaya setiap kali Arga mengeluarkan suara. "Wah ...." Reno menatap tak percaya. Kening tak gatal, ia garuk seraya menoleh ke samping kiri.


"He, tunggu! apa maksudmu?!" teriak Reno, namun Arga tak menoleh apa lagi berhenti. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya. "Apa aku harus selalu mengejar mereka saat ingin bicara?!" jengkel Reno.


"Lain kali, aku akan ikat kalian! ibu dan anak tidak ada bedanya!" tambahnya semakin jengkel, tapi juga menyusul ke kamar Arga.


Di dalam kamar, Arga berbaring meluruskan punggung. Reno masuk dan duduk di atas ranjang sama dengan bocah berkaos putih. Mengamati kamar yang sudah dibuat Arga lebih nyaman, Reno melengkungkan bibir ke bawah sembari kepala mengangguk berulang.


"Kau menyukai warna hitam?" tanya Reno membuka kata, tak dipedulikan oleh Arga yang justru memejamkan kedua mata.


"Aku bicara denganmu!" kesal Reno, mendorong lengan bocah langsung menepis tangannya malas. "Dia benar-benar membuatku naik darah!"


"Keluarlah, saya ingin tidur. Jangan mengganggu," ucap Arga, tetap dengan pembawaan tenang khasnya.

__ADS_1


"Sepertinya, kau memang lahir di tumpukan cabai! mulutmu sangat pedas!" kata Reno, berbaring lalu memunggungi dan melipat tangan kesal.


Arga melirik lelaki di sampingnya, membetulkan posisi kepala lebih nyaman. "Bukankah itu yang Anda turunkan pada saya?" santainya sembari memunggungi. Reno membuka lebar kedua matanya dan menoleh. "Kenapa saya harus punya ayah seperti, Anda? saya menyesali hal itu,"


"Kau ...," tanya Reno menggantung.


"Saya tahu hal itu. Anda juga tahu dari hasil DNA, bukan?" ucap Arga, semakin menyentak Reno.


"Kau, apa kau memata-mataiku?!" tanya Reno.


"Tidak. Tapi saya mengetahui lebih banyak dari apa yang Anda pikirkan. Pengawal yang Anda perintah untuk membuntuti mama, dia sudah melaporkan semuanya hari ini. Tapi, saya sudah meretas ponselnya lebih dulu." Arga menjawab tanpa sebuah ekspresi dari nadanya, Reno terperanjat duduk.


Arga membalik posisinya, menatap ke arah lelaki tengah menunjukkan wajah terkejut bersama sorot mata yang juga sama. "Jangan main-main dengan saya, karena saya bisa menghancurkan Anda dengan satu jari saja!" tutur Arga bernada ancaman serius.


Banyak hal yang ia ketahui, namun satu pun tak diungkap. Melalui hasil DNA dan bagaimana cara dia tahu, mengenai pengawal dan CCTV terpasang bersama alat perekam di kamarnya juga sang mama, Arga mengetahui semuanya.


Reno tercengang, dia terbiasa mengancam orang, namun justru sekarang dirinya yang diancam. Entah bagaimana cara berbicara dengan Arga, bagaimana cara untuk memahami tentangnya, sungguh bukan hal mudah seperti memahami anak seusianya.


"Mama diusir dari rumah ketika mengandung saya. Dia hidup dalam hinaan dan kesusahan, bahkan dia sering kelaparan dan setiap hari menangis. Bukan karena keadaannya, tapi karena dia merindukan orang tuanya. Bertahun-tahun mama hanya bisa berdiri menatap rumahnya, dan itu yang dilakukan hari ini sampai pulang terlambat. Dia bukan orang seperti yang Anda pikirkan," terang Arga.


Semakin terkunci bibir Reno, dia tak mengetahui akan hal itu, selain tentang Anita yang pindah ke luar negri. Dia pernah mendatangi kantor papa Anita, coba memancing dengan tawaran pekerjaan dari anak pengusaha tersebut. Namun, jawaban tentang Anita sekolah di luar negri ia dapatkan.


Reno mencari informasi sangat banyak dari berbagai negara, satu pun tidak ada data Anita. Dalam negara sama, ia pun berkeliling layaknya orang gila setiap hari, demi mencari sosok perempuan ingin dibuatnya hancur karena rasa sakit hati.

__ADS_1


Kedua matanya tersirat penyesalan, dilihat jelas oleh Arga dengan senyum tipis terukir. "Mama akan menikah bulan depan," cetus Arga dan seketika menyadarkan Reno.


"Kau gila?! anak macam apa yang membiarkan orang tuanya berpisah?!" ketus Reno menimpuk wajah Arga dengan bantal.


"Bukankah, Anda juga menjalin hubungan dengan Lisa? impas, bukan? jangan dekati mama saya lagi," kata Arga.


"Diamlah! tidur sana!" tekan Reno, berbaring lagi dan memunggungi. "Enak saja! sebelum dia berani menikah, sudah aku ledakkan kepala calon suaminya!" kesalnya.


"Kemana?!" kencang Reno, melihat putranya pergi.


Hanya kedua pundak terangkat dipergunakan sebagai jawaban tanpa menoleh. Bantal tadi digunakan untuk memukul Arga, kini diraih lalu ia lempar kuat ke arah pintu. Sungguh menjengkelkan baginya, otak dan hati berapi tiap kali menghadapi Arga.


Bocah itu menemui ibunya, mengetuk pintu dan dibukakan segera. Senyum ditunjukkan oleh perempuan sudah mengganti pakaian dan mencuci wajah. Arga masuk ke dalam, duduk pada sebuah sofa putih dalam kamar. "Mama sudah makan?" tanya Arga tanpa menyinggung mata terlihat merah.


"Sudah, Sayang. Kamu bagaimana kerjanya?" balas tanya Anita, tak memberi pertanyaan sama karena putranya tadi menghubungi via panggilan video ketika makan, demi menenangkan sang mama.


"Aku tidak suka ke kantor, di sana hanya melihat orang pacaran saja. Seharian melihat perempuan itu duduk di atas pangkuannya. Aku sangat ingin menendang keduanya pergi," cerita Arga.


Senyum paksa ditunjukkan Anita, meraih tubuh putranya untuk meletakkan kepala di atas pangkuan. "Apa mereka sangat dekat? lalu apa lagi yang mereka lakukan?" tanya Anita.


"Berciuman, berpelukan, semua. Aku sangat muak dengan hal itu," sahut Arga. "Mama tahu? dia bahkan meletakkan kepala di atas dadanya. Sepertinya, malam ini mereka akan menghabiskan malam bersama. Apa tidak sebaiknya kita pergi saja malam ini? kita kabur?"


Anita lagi-lagi menunjukkan senyum paksa, dan sangat dipaksa untuk lebar. Kedua matanya tak ikut mengukir senyum layaknya bibir, itu jelas ditunjukkan olehnya. Tak menjawab apa dipertanyakan oleh putranya, Anita mengusap rambut Arga lembut. Tatapannya lurus ke depan, seolah membayangkan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2