
Malam hari ketika Anita sedang menyegarkan tubuh karena cukup lelah menanami suaminya berkeliling tanpa tahu waktu, Reno menghampiri kamar putranya. Bocah itu tengah berbaring meluruskan kedua kaki, langsung dihampiri ke atas ranjang.
"Apa kamu yang melakukannya?" tanya Reno seketika, tanpa basa-basi lebih dulu.
"Apa?" menoleh Arga, tidak mengerti apa dimaksudkan.
"Perusahaan keluarga Vano. Apa itu kamu yang melakukannya? Mereka pernah hampir bangkrut, karena ada yang meretas data perusahaan." Reno menjelaskan.
"Aku hanya memberikan peringatan satu malam," sahut Arga. Lelaki di sampingnya lalu mengubah posisi menyandarkan kepala pada tangan kiri bertumpu siku di atas tempat tidur.
"Kenapa hanya memberi peringatan?! hancurkan sekalian!" ucap Reno, dilirik putranya.
"Papa sedang mengajariku berbuat jahat?" malas Arga.
"Itu bukan berbuat jahat, tapi membalas kejahatan berkali-kali lipat! kalau bukan kamu, papa yang akan melakukannya. Karena itu yang menjadi tujuan sekarang, sebelum papa meledakkan kepalanya yang bodoh itu!" ucap Reno.
"Lakukan saja, itu urusan orang tua. Aku tidak ingin ikut campur," bocah itu beralih memunggungi, ditarik cepat sampai kembali terlentang.
"Bantu papa! ya? mau kan? kita sahabat, bukan?" ucap lelaki dengan senyum terpasang juga kedua mata berkedip layaknya lampu disko.
Arga bergidik, berniat memunggungi namun kembali di tarik. "Ah, anak papa yang baik. Kamu memang sangat bisa diandalkan!" peluk Reno erat, didorong oleh putranya.
"Aku tidak mengatakan apa-apa!" jengkel Arga.
"Sepakat!" kata Reno meraih tangan putranya dan menjabat paksa.
Arga mengernyitkan kedua alis, tapi papanya justru semakin melebarkan senyuman ke arahnya. Mendengar dari Lisa tentang perusahaan hampir bangkrut, sepertinya itu alasan Vano menjual Rara demi mengembalikan posisi perusahaan yang telah kehilangan lebih banyak dalam waktu satu malam.
Siapa yang pernah menyangka, jika sampai detik ini Rara masih harus menjamu setiap klien dari Vano karena enggan mengeluarkan uang untuk membayar wanita malam. Sebenarnya juga kasihan, begitu Reno mendapat banyak informasi akan masa lalu.
Rara hanya seseorang yang dianggap anak oleh keluarga Anita, ia berkhianat atas cinta yang pada akhirnya harus memanfaatkan dirinya tanpa sisa. Walau tubuh sudah dinikmati banyak pria, tapi hidup Rara masih dalam kesulitan yang harus berpikir untuk apa dimakan esok hari.
__ADS_1
Lisa sudah mencari tahu sampai ke tempat tinggal yang ternyata hanya di lokasi kumuh sekarang, bahkan perempuan itu memiliki banyak sekali hutang di mana-mana. Jika melihat seperti apa penampilan juga kekasihnya, jelas keadaan hidup dijalani tak bisa untuk dipercaya.
Arah rupanya sudah lebih dulu mengetahui hal itu bersama Rian, dia sempat merasa kasihan untuk membalas setiap perlakuan Rara pada sang mama. Akan tetapi, justru papanya yang membalas dnegan begitu kejam, di mana Arga tak bisa untuk menghentikan apa sudah terlanjur menyebar.
Reno dan putranya menyusun rencana, langkah apa akan diambil untuk permulaan namun sangat menghancurkan. Melibatkan putranya yang begitu pandai dalam tekhnologi, walau ia sendiri pasti akan ditelan sampai habis jika istrinya mengetahui.
"Ingat, jangan beritahu mama tentang ini! papa tidak mengajarkanmu untuk membalas dendam, hanya memberi pelajaran saja! jadi, jangan lakukan ini pada siapa pun!" tegas Reno.
"Bukankah itu sama saja? memberi pelajaran dan membalas dendam?" sahut Arga.
"Itu berbeda! coba saja kamu menuliskannya sekarang!" terlihat berurat Reno.
Belum sampai putranya menjawab, telinga tajamnya mendengar langkah kaki. Reno mengambil laptop di atas tempat tidur dan menyembunyikan di bawah ranjang, lalu berbaring memeluk putranya segera. Memaksa untuk Arga berpura-pura tidur, benar saja jika tak lama keduanya mendengar suara pintu terbuka.
"Bukankah tadi di suruh mandi?" gumam Anita, melihat suami dan anaknya tertidur.
Mendekat ke arah ranjang, melihat Reno memeluk putranya, Anita tersenyum lega ketika mendapati keduanya tidur satu ranjang dan Reno tampak memeluk erat. Ingin menyelimuti, namun tiba-tiba Arga mengubah posisi dengan mengangkat tangan menimpa tubuhnya dan terasa berat.
"Dasar anak menjengkelkan! lihat saja ini!" batin Reno, lalu menggunakan kaki untuk menjadikan Arga guling dan menariknya lebih dekat.
Reno tertawa dalam hati, dia sengaja menggunakan tenaga untuk mengeratkan pelukan pada putranya agar tak bisa lagi melemparkan tangan, seperti barang tidak berguna. Anita merasa aneh, dia melihat kedua mata Reno seperti tak benar-benar terpejam.
"Siapa yang menghubungiku malam-malam seperti ini?" ucap Anita. "Vano? untuk apa dia menghubungiku? sepertinya aku perlu berbicara dengannya. Jadi lebih baik aku angkat saja."
"Berani kamu mengangkat panggilan darinya, aku lempar kalian berdua ke neraka!" tegas Reno langsung duduk, namun dia terkejut ketika melihat istrinya melipat kedua tangan di depan dada tanpa ada ponsel di tangan.
"Ah, aku mengigau!" kembali ia berbaring, menghadap ke arah lain. Reno memaki diri sendiri dalam hati, sementara Anita mengatupkan bibir ingin sekali tertawa.
"Kalian berpura-pura tidur agar tidak mandi?!" tegas Anita. "Tidak ada yang bangun? baiklah, aku akan mengambilkan air es sekarang juga!"
Anita sengaja mengatakan hal itu, segera bangun putranya. "Papa yang mengajakku, Ma!" ucap Arga, ancaman itu selalu berhasil membuatnya cepat bangun.
__ADS_1
"Dasar bodoh, kenapa dia bangun?!" batin Reno berusaha untuk tak bergerak.
"Kamu tidak ingin bangun?!" tegur Anita, sudah beralih ke sisi lain ranjang. Ia menggoyangkan pundak suaminya, lelaki itu melihat sejenak dan langsung menarik tangan kuat hingga tubuh terhempas ke pelukan. Memindahkan Anita ke tengah, Reno menarik Arga sebisa mungkin lalu menahan tubuhnya dengan kaki panjang dimiliki.
"Ah, lepaskan!" protes Arga dan Anita bersamaan.
"Tidak boleh! kita tidur bersama malam ini!" ucap Reno, justru menarik tubuh putranya dengan kaki agar tangan sanggup menjangkau punggungnya.
Tangan di bawah tubuh Anita, berusaha membuat posisi sang istri menghadap dirinya. Berhasil membuat perempuan berbalut setelan piyama coklat tua itu menghadap dirinya, Reno menyeringai dan mencium bibir Anita. Terbelalak seketika, Anita mengingatkan jika ada Arga melalui isyarat mata.
Tangan sanggup melingkar pada tubuh istrinya, justru memudahkan Reno untuk menggoda pada dada perempuan langsung menggigit bibir bawah refleks. Alis kiri terangkat, senyum ditunjukkan sengaja atas keberhasilan menjangkau dada. Anita mengeratkan gigi, peringatan tegas diberikan agar suaminya tak macam-macam.
"Aku tahu! jadi hentikan itu dan pindah ke kamar lain!" kata Arga memejamkan kedua mata. "Aku masih kecil, jangan tunjukkan hal-hal semacam itu! papa dan mama ingin kalau aku mencobanya dengan wanita lain karena penasaran?"
"He!" serentak Reno dan Anita beralih duduk, mengejutkan Arga dan langsung membuka kedua mata lebar mengelus dada.
"Katakan sekali lagi! papa akan meminta koki membuat jus cabai untukmu sekarang juga!" ancam Reno tegas.
"Arga! dari mana kamu belajar semua kata-kata itu?!" tak kalah tegas Anita.
"Papa," singkat bocah bernada santai langsung dilempar bantal.
"Mana pernah papa mengajarimu seperti itu?!" protes Reno.
"Papa selalu melakukan apa saja di depanku pada mama, itu sudah mengajarkan dengan praktek nyata. Apa papa tidak menyadari hal itu?" sahut Arga, terdiam lelaki tampak kebingungan ingin menjawab. Anita menoleh tajam dan mengeratkan gigi ke arahnya.
"Aku hanya sedang jatuh cinta, memangnya itu salah? bukankah cinta itu buta? aku sedang buta sampai tidak tahu tempat," memelas Reno.
"Ouh, kamu sangat menggemaskan! kita pindah saja ke kamar," kata Anita mencubit gemas sisi wajah suaminya.
"Mama juga sama!" protes Arga, tertawa kedua orang tuanya bersamaan.
__ADS_1
Hanya menggoda putra mereka, sama seperti Arga yang mengatakan tanpa keseriusan dan hanya menggertak saja. Anita meminta untuk putranya berada di tengah, lalu membantunya terlelap. Tak mengapa untuk tidak mandi, hari juga sudah malam.
Lagi pula, begitu tiba Arga sudah mencuci muka dan membersihkan kaki tangan serta gigi. Menemani Arga mengarungi mimpi, tangan Reno dan Anita saling mengisi sela jari di atas kepala putranya tanpa ketahuan, seraya perempuan itu mengusap lembut kening sampai ke rambut putranya lembut.