My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Harapan Atau Kebalikan


__ADS_3

"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Anita memberanikan diri, tersadar Reno jika ada istrinya di samping. Menoleh ke arah Anita, wajah takutnya tak bisa disembunyikan. Reno memegang perut seketika, berubah lemas dan duduk di atas sofa.


"Ah, perutku. Ini sangat menyakitkan," keluhnya meringis kesakitan. Jelas itu hanya pengalihan, Reno tak ingin menceritakan apa yang terjadi. Anita menghampiri, namun tak lama seorang pelayan datang menghampiri dirinya, menyerahkan sebuah amplop coklat.


"Maaf, Nyonya. Ada yang mengirimkan ini tadi pagi. Tapi, penjaga di depan lupa untuk menyampaikan. Maafkan kami," ucap pelayan, baru kembali membuang sampah dan berpapasan dengan penjaga yang membawakan amplop diminta untuk segera memberikan pada Nyonya mereka.


"Tidak apa-apa, terima kasih banyak." Anita meraih amplop dan menyuguhkan senyum dalam nada lembut digunakan. Pelayan permisi undur diri, diperbolehkan tanpa ada masalah diberikan oleh lelaki hanya memperhatikan saja.


"Apa itu?" tanya Reno, melihat sang istri membuka amplop.


"Tidak tahu," singkat Anita, duduk di samping suaminya dengan tangan tetap membuka.


Reno menegapkan tubuh, melihat apa yang coba dikeluarkan oleh istrinya dengan wajah penasaran. Beberapa foto juga kertas ada di dalamnya, sebuah alat tes kehamilan pun ada di dalam. Reno menarik semua yang diambil oleh sang istri, membuka setiap lembar foto juga beberapa kertas terdapat salinan pesan juga panggilan telepon. Tes kehamilan di mana menyatakan positif, juga ia raih.


"Apa maksud semua ini?!" geram Reno membuang semuanya ke lantai. "Dia benar-benar tidak waras!"


"Dia menghubungiku dan mengirimkan hal sama. Dia bilang kalau sedang mengandung anakmu. Kalian pernah menghabiskan malam di hotel? katakan saja, tidak masalah. Aku akan berusaha untuk menerima semuanya," ucap Anita berusaha memasang wajah tegar.


"Kamu gila?! menyentuhnya saja aku tidak pernah, bagaimana bisa dia hamil anakku?!" tegas Reno. "Jangankan untuk menyentuhnya dan punya anak, mendengar namanya saja, aku sudah ingin muntah!"


"Lalu, apa semua itu?" tanya Anita menatap biji mata suaminya.


"Kamu masih belum menghapal semua watak buruknya?! itu semua hanya akal-akalan dan tidak ada kebenaran! kamu meragukanku sekarang?! baiklah! aku akan langsung mengubungi Lisa dan semua orang yang ada malam itu. Aku memang pernah memanggilnya, tapi bukan untuk menggunakan tubuh menjijikkannya! Arga mengetahui semua yang aku lakukan, tapi tidak mungkin untukku bertanya padanya dalam keadaan seperti ini!" panjang lebar Reno berkata.

__ADS_1


"Tidak perlu!" cegah Anita ketika lelaki itu berusaha menghubungi Lisa.


"Perlu. Semua ini diperlukan karena aku tidak ingin dicurigai! aku tidak suka dituduh melakukan apa pun yang aku tidak pernah lakukan! apa lagi, jika ini akan berpengaruh pada pernikahan kita!" tegas Reno, langsung dipeluk oleh istrinya.


"Aku percaya. Aku tidak meragukannya," tutur Anita. "Aku hanya seorang istri yang terguncang dengan kabar itu, tapi bukan berarti aku tidak percaya padamu. Aku sudah berusaha kuat dari semenjak dia menghubungiku, meskipun hatiku juga tidak bisa untuk sekuat yang aku inginkan. Aku tidak ingin dikhianati lagi."


"Aku hanya bertanya, kalaupun memang benar juga tidak masalah. Aku akan bersedia menerima semuanya dan pergi," timpal Anita.


"Jangan katakan hal itu! aku tidak suka mendengarnya!" tegas Reno.


"Aku mencintaimu, Anita. Tidak ada sedikit pun niat untuk mengkhianatimu sedikit saja, aku ingin memiliki rumah tangga yang baik-baik saja denganmu, aku ingin merawat Arga dan anak-anak kita nanti. Tolong percaya padaku," tutur Reno.


"Maaf," sesal perempuan dengan pelukan semakin ia eratkan.


Hanya sebagai istri yang perlu untuk bertanya akan ucapan ia dengar, hanya seorang perempuan dengan rasa trauma akan pengkhianatan, Anita tak bahkan mempertanyakan ada apa dengan dirinya jika semua memang benar. Kenapa ia selalu dikhianati.


Rara memang mengirimkan itu lebih duku sebelum akhirnya pesan dan panggilan ia lakukan, karena tak sabar menanti akan respon dari Anita. Apa dikirimkan memang disertakan dalam amplop coklat itu, dan entah dari mana perempuan yang kini berkumpul dengan teman-temannya itu tahu akan alamat dari Reno dan memiliki keberanian melakukan.


Jelas kalau Reno sangat ingin marah, tapi dia menahan dengan rahang mengeras. Memeluk istrinya dan berusaha membuatnya tenang, percaya jika benar dirinya tak pernah berniat untuk mencari yang lain. Kalau pun ia, maka ia akan melakukan dengan mudah tanpa pernah mencari. Siapa yang tak ingin untuk ada di samping Reno, walau itu hanya untuk dinikmati saja.


"Apa pun yang terjadi, jangan pernah mempercayai siapa pun, jangan pernah memendam apa pun, katakan saja langsung padaku. Semua ada penjelasannya, ada buktinya, aku tidak akan mengelak jika memang melakukan kesalahan. Aku terlalu ingin memilikimu sampai akhir, aku belum terlalu bodoh untuk membuatku kehilangan dan menyesal." Reno melepaskan pelukan, memegang sisi wajah Anita dan berbicara dengan keseriusan.


Perempuan itu mengangguk, sekali lagi maaf terlontar dari bibirnya. "Aku mencintaimu," tulis Anita.

__ADS_1


"Dan aku ingin memiliki anak darimu," sahut Reno. "Aku tidak ingin ada masalah seperti ini, aku tidak ingin kehilanganmu. Aku mau kita memiliki anak, agar tidak ada kesempatan untukmu mengatakan pergi dari hidupku." Reno masih dengan keseriusan juga kelembutan sama.


Anita mengangguk dan tersenyum, dipeluk oleh suaminya. Jika Rara mengira itu akan berhasil, sepertinya ia harus berusaha lebih keras. Tak ada yang dilakukan oleh Reno tanpa memiliki bukti juga penjelasan, sehingga sedikit saja kebohongan tak akan pernah memiliki celah. Jika harus menjelaskan juga menyerahkan bukti, maka ia siap melakukan kapan saja.


Itu adalah cara Reno dalam menjalani bisnis selama ini, dipergunakan untuk membina rumah tangga bersama Anita. Baginya, kesalahpahaman adalah kegilaan yang sanggup menghancurkan banyak hal, tak ingin untuknya melakukan hal itu dalam bisnis atau hubungan kasih bersama sang istri.


"Kau akan menerima balasan jauh dari apa yang pernah kau dapatkan! berani mengusik istriku, berarti kau sudah menggali lubang kuburmu sendiri!" geram Reno berbicara dalam hati.


Di tempat lain, Rara justru tengah asyik tertawa dengan duduk di atas pangkuan seorang lelaki, membelai pahanya dengan sangat menikmati. Wajah mesum lelaki itu terpasang tanpa keraguan, dengan tak ada malu nya sama sekali, justru menyusupkan tangan dan memainkan dada Rara di depan teman yang lain.


"Di mana kekasihmu sekarang? apa dia tidak akan marah saat kau berkencan seperti ini?" tanya satu orang lelaki yang duduk di depan keduanya.


"Jangan bertanya tentangnya, dia hanya manusia lumpuh tidak berguna! lebih baik, aku menghabiskan hidupku dengan bersenang-senang dari pada harus mengurus orang cacat dan miskin sepertinya!" jawab Rara menekankan kalimat cacat juga miskin.


"Kau benar-benar mengagumkan," kata salah satu dari ketiga lelaki yang ada bersamanya.


Bukan. Itu bukan teman sesungguhnya. Mereka mengajak untuk Rara berkumpul, hanya untuk bisa menikmati tubuhnya gratis. Sedang ingin melakukan permainan ranjang, tapi enggan untuk mengeluarkan uang, memanggil Rara dan memanjakan dengan minuman. Terhitung murah jika harus dibandingkan dengan membayar waktu bersama wanita.


Cukup dengan pujian dan kalimat manja saja bagi mereka, lalu bisa merasakan kepuasan dan menyalurkan fantasi dewasa ada di kepala masing-masing. Rara memang tengah hamil, tapi anak siapa itu, ia pun tak mengetahuinya dengan pasti. Sudah menggunakan alat pencegah kehamilan, namun tetap saja ia dikejutkan dengan kehamilan yang pada akhirnya mencari lelaki untuk bertanggung jawab.


Nama Reno terlintas dalam benaknya, berpikir jika lelaki itu mau menerima Anita, lalu kenapa tidak ingin menerima dirinya. Untuk fisik, Rara memang terlalu membanggakan diri, menganggap sangat cantik hanya karena ukuran dada besar di banding Anita.


Tapi sayangnya, itu dipergunakan untuk menarik kata para kaum pencari kenikmatan. Berpikir jika ia hanya menunggu hasil dari apa dilakukan, membayangkan tentang kemewahan, tanpa pernah tahu jika semua terjadi hanya akan menjadi kebalikan.

__ADS_1


Sampai detik ini, Rara tidak mempercayai jika Anita telah menikah dengan Rebo. Tak ada bukti menjelaskan tentang itu, mengatakan tentang suami pun hanya ledekan saja. Sangat meyakini jika perempuan itu hanyalah simpanan yang akan segera tersingkirkan, Anita tak mengurangi setiap keyakinan dalam dirinya.


__ADS_2