My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Akal-akalan Arga


__ADS_3

Kala Arga sedang meyakinkan bahwa lelaki yang menjadi ayahnya bukanlah orang yang sangat buruk, seorang pengawal yang ikut bersamanya memasuki rumah.


Mengatakan jika ada panggilan, Arga dengan sopan meminta izin keluar untuk berbicara dengan orang di ujung panggilan.


“Di mana kamu sekarang?! Mamamu sudah berkicau pagi-pagi!” teriak Reno seketika putranya menjawab.


Arga menjauhkan ponsel milik pengawal, telinga berbunyi nging akibat teriakan bersuara besar. “Bisakah jangan berteriak di telingaku? Aku bisa tuli,” kata Arga. Ponsel ia pindahkan ke telinga sebelah kiri.


“Lalu? Lalu kau harus berteriak di jarimu?! Pulang sekarang!” jawab Reno.


“Tidak, aku tidak akan pulang sebelum dijemput. Kalau ingin aku pulang, jemput aku kemari bersama mama. Aku tidak ingin pulang sendiri,” sahut Arga.


“Ah, dasar anak tidak berguna! Kamu yang pergi sendiri, jadi pulang sendiri! Kamu pikir, kami tidak ada pekerjaan?!” cecar lelaki di ujung panggilan.


“Ya sudah,” panggilan di akhiri oleh Arga.


Kembali masuk setelah ponsel diberikan pada bodyguard, Arga sengaja melakukan hal itu agar mamanya bisa untuk datang dan bertemu kedua orang tuanya.


Sedangkan Reno, justru memaki ponsel sudah dimatikan dengan keras. “Dasar menjengkelkan! Apa dia sedang jadi pemberontak sekarang?!” maki Reno, hendak membanting ponsel sebagai luapan rasa kesal tapi mengurungkan. “Ini mahal, keluaran terbaru.”


Mengusap layar ponsel dan memasukkan dalam saku celana, Reno berbalik badan dan ditemuinya Anita sudah berdiri di depan pintu utama. Sekali lagi ia dibuat terkejut, rasa takut pada hantu sepertinya membuat Reno cepat terkejut hanya karena ada orang berdiri tanpa suara.


“Bisakah kamu bersuara?!” protesnya mengelus dada, hawa panas berdesir dalam diri ketika ia terkejut dan ketakutan.


“Di mana Arga? Bagaimana keadaannya? Sama siapa dia?” beruntun Anita memberikan pertanyaan.


“Tidak tahu, dia tidak ingin pulang sebelum kita menjemputnya. Dia bersama bodyguard, jadi tenang saja. Dia juga bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa,” ucap Reno.


“Berikan nomor bodyguard yang bersamanya, aku akan menyusulnya sendiri!” pinta Anita.

__ADS_1


“Alasan, bilang saja ingin mencari selingkuhan. Tidak ada!” berlalu pergi lelaki tanpa mengenakan kaos itu.


Anita berbalik mengejar, ia harus mendapatkan nomor bodyguard untuk bisa menjemput putranya. Terlanjur berlari, tiba-tiba Reno berhenti mendadak. Anita menabrak keras punggung berhias tato tersebut, memundurkan kaki dan mengusap kening.


“Kamu sudah tidak sabar? Kita ke kamar sekarang?” kata Reno menoleh, tanpa merasa ada yang salah.


“Berhentilah memikirkan hal itu!” jawab Anita. “Berikan nomor bodyguardnya padaku!”


“Dengan satu syarat,” genit lelaki dengan bibir bawah ia gigit tipis.


Anita menyipitkan kedua mata, perasaan berubah tak enak ketika wajah sudah terpasang layaknya pemburu kenikmatan. “A-apa?”


“Bantu aku mandi dan bersiap, setelah itu kita jemput Arga. Bagaimana? Deal?” semakin genit wajah Reno terpasang.


“Terima kasih banyak, Tuan. Saya akan mencari tahu sendiri,” jawab Anita.


Reno tak berhenti sampai situ, ia berjalan cepat mengikuti langkah Anita. Langsung mengangkat tubuh dari perempuan pemilik tinggi badan berbeda dengannya, membawa ke arah anak tangga dan menapakinya satu persatu.


Orang tua Reno yang melihat, mengukir senyum dan saling beradu pandang. Mereka senang ketika melihat putranya begitu terlihat bahagia, tak seperti dahulu sering mereka lihat dengan wajah tegas, sehingga Maira harus bertingkah sesuka hati demi mencairkan suasana.


“Ah, mama jadi penasaran seperti apa tingkahnya kalau di atas ranjang. Perlukah kita mengintip sekali-kali?” ucap Maira menyenggol lengan suaminya bersama kedua alis dimainkan.


“Bakat terpendam?” santai Bobby, memilih pergi dari pada harus terhasut oleh sang istri.


“Bukankah itu menyenangkan?!” teriak Maira. “Ah, aku benar-benar ingin tahu.”


“Tapi menjijikkan juga!” tambah Maira memukul kepalanya perlahan.


Melihat Reno yang sulit untuk dekat dengan perempuan, dianggap sangat bodoh ketika berurusan dengan perempuan. Maira menjadi penasaran tentang bagaimana keduanya saat bersama, walau pada akhirnya bergidik sendiri dan merasa begitu bodoh.

__ADS_1


Reno membawa Anita ke dalam kamarnya, mengunci dari dalam dan menyimpan kuncinya. Tak ke ranjang untuk kali ini, dia langsung membawa Anita ke kamar mandi dan meletakkan tubuh pada bath up sudah terisi air.


Tersingkap pakaian Anita saat tubuhnya terhempas, ia hanya mengenakan celana hotpant dan kaos saja usai mandi pagi ini. Perut rata dengan kulit mulus terlihat di dalam air, Reno masuk ke dalam tanpa menggunakan kalimat peringatan atau hitungan satu hingga tiga.


“Jangan macam-macam, atau aku teriak sekarang?! Mama akan datang kemari dan memukulmu!” ancam Anita.


“Teriak saja, kalau ada yang mendengar.” Reno menjawab santai, disetujui oleh Anita dalam pikirannya. Benar, tak akan ada yang mendengar meskipun ia berteriak sampai tenggorokan pecah sekalipun.


“Aku sudah berjanji tidak akan melakukannya,” sambung Reno.


Anita berniat menjawab, tapi bibirnya lebih cepat disergap oleh lelaki berada di atas tubuhnya. Menikmati bibir Anita dengan kelembutan, tangan dikendalikan sangat kuat oleh Reno untuk tak berkeliaran seperti memiliki mata saja.


Dia menyukai hal itu, walau pada akhirnya juga tersiksa sendiri karena hasratnya siap memecahkan kepala. Semua yang ada dalam diri Anita, terlalu menarik untuk dirinya bisa tetap diam dan memperhatikan.


“Buka,” pintanya lirih memegang kaos bagian bawah Anita. Gelengan kepala diberikan sebagai jawaban. “Ini sudah basah,” ucap Reno lagi. “Jujur, aku menginginkannya. Aku sudah berusaha keras,”


“Aku juga menginginkan hal itu, karena aku normal. Tapi, jangan sekarang. Aku ingin melakukannya setelah menikah. Kita bisa mandi bersama setelah menikah nanti,” sahut Anita.


Reno tak memberi jawaban, dia kembali menikmati bibir Anita. Ya, jujur saja keduanya memang saling menginginkan tapi ada dinding pembatas yang tak bisa untuk dirobohkan sekarang.


Wajar sebagai dua orang berusia dewasa yang juga memiliki hasrat masing-masing dalam diri, terlebih saat Reno melakukan serangan-serangan mendadak tanpa peringatan di awal.


Anita sendiri bukan lagi gadis 19 tahun seperti yang dulu, kini ia sudah 29 tahun dan memiliki hasrat layaknya perempuan seusianya. Terkadang bayang-bayang kehangatan juga menghantui kala sendiri, namun itu merupakan kewajaran baginya yang memang kesepian.


Begitu pula lelaki berusia 37 tahun yang tak hentinya menunjukkan hasrat tertahan, dan merasa bebas untuk menunjukkan terhadap perempuan dicintainya, perempuan yang akan dijadikan Ratu satu-satunya dalam kerajaan hati ia bangun dan dibiarkan kosong selama ini.


Reno tak pernah menyentuh wanita mana pun setelah malam itu, bahkan untuk sekedar datang ke bar berteman dengan wanita-wanita cantik nan seksi yang siap membelai dirinya.


Membiarkan bayang Anita hadir menyusup dalam rasa tak dipahami, sampai harus berkonsultasi pada dokter akan kondisi sempat ia takutkan akan berubah gila.

__ADS_1


__ADS_2