
Tiba di rumah dan mengetahui jika kedua orang tuanya belum sampai, Reno meminta untuk putranya segera menggabti pakaian dan membersihkan kaki juga tangan. Ya, akan lebih baik jika Arga melanjutkan untuk tidur, karena dia sendiri langsung menarik tangan sang istri ke kamar pribadi.
"Kenapa? kamu mau apa?" tanya Anita melihat suaminya menoleh ke kanan juga kiri sebelum akhirnya menutup pintu.
"Apa lagi? kita harus membuat anak, paling tidak kita bisa membuat jarinya lebih dulu!" sahut Reno berdiri di balik pintu.
"Ini masih siang, kenapa mau buat sekarang?" malas Anita melihat, berjalan ke arah meja dan meletakkan tasnya.
"Memang ada jadwal sendiri untuk membuat anak? buat ya buat saja!" susul Reno ke arah sang istri pergi. "Kalau sudah berdiri ya masukkan, kenapa harus menunggu waktu?" gumamnya seraya berjalan.
Anita melepaskan arloji, memunggungi lelaki masih menggerutu karena ucapan tentang waktu. Baginya, tak masalah melakukan kapan saja ketika miliknya sudah tak bisa untuk lunak seperti sekarang. Itu memang sudah seperti tiang listrik sekarang, padahal istrinya tidak melakukan sesuatu yang menggoda dirinya.
Kalau harus dicari penyebabnya, semua karena pikiran kotor Reno sendiri. Dada istrinya terkena sabuk pengaman, dia menelan saliva dan menahan gairah. Selama mengemudi, tak terhitung berapa kali lelaki itu menggenggam kuat tangan. Bukan karena kesemutan, tapi karena ia harus menahan sekuat tenaga ketika ingin memegang dada terus menyiksanya dengan hawa panas meingkat siap membakar dari dalam.
Memeluk dari belakang dan menciumi tengkuk sang istri, mampu dirasakan oleh Anita jika memang suaminya sudah tak bisa dihentikan. Dia berbalik badan, menatap wajah sudah mencerminkan hasrat terlalu besar. Tidak sampai bibirnya mempertanyakan, tentang suami yang sudah sangat berhasrat. Anita lebih dulu disergap dan dibimbing ke arah ranjang oleh Reno yang seketika terjun bebas di atas ranjang bersama.
Semakin memanas apa dilakukan mereka di atas ranjang, Reno membebaskan sendiri miliknya karena terlalu sesak di dalam celana kerja dikenakan sekarang. Oksigen hanya sejenak di ambil sampai keduanya melanjutkan lagi, namun ada yang harus memaksa kedua insan saling memadu kasih itu berhenti, ketika mata justru terarah pada wanita yang berjalan masuk memainkan ponsel di tangan.
__ADS_1
"Reno, apa kamu tahu nomor tante Mila? mama ing ...," tak sampai kalimat dari wanita menatap ponsel itu dilanjutkan, mata seketika melebar sempurna ketika melihat dua orang di atas ranjang dengan celana dari putranya sudah sampai lutut.
"Hahaha, kalian sedang mencetak gol?" tawa Maira, tetap berdiri menyaksikan.
"MAMA!" menggelegar suara Reno, masih setia di atas tubuh sang istri dan tak bisa bangkit karena kondisinya.
"Ah, maaf! lanjutkan saja, buatkan mama cucu lima lagi!" baru tersadar Maira, memundurkan langkah dan menutup pintu. Merah padam wajah Anita sekarang, kedua mata ia rapatkan menahan rasa malu begitu pintu tertutup.
"Kenapa kamu tidak mengunci pintu?!" ucap Reno pada istrinya.
"Bukankah kamu yang terakhir masuk?! harusnya kamu yang menguncinya!" sahut Anita.
Anita mengernyitkan kedua alis, menghentakkan kaki di lantai lalu berbalik dengan sangat kesal. Masih saja suakinya ingin menuntaskan, padahal rasa malu pada wajahnya tak bisa disembunyikan oleh Anita. Berjalan ke kamar mandi untuk menggyur wajah terasa panas dengan air dingin, Anita benar-benar sangat malu dan berjalan seraya memaki diri dalam hati.
Sementara Maira masih ada di depan pintu kamar, memegang handel dan merasa sangat bodoh. "Dasar bodoh, kenapa aku bisa lupa kalau Reno sudah menikah? gara-gara mempersiapkan resepsi, aku berpikir kalau putraku baru akan menikah!" gumam Maira memukul kepalanya berulang.
"Tapi ... apa sebaiknya aku pergi? atau ... aku mengintip saja? atau hanya mendengarkan dari luar? kenapa aku jadi penasaran dengan putraku sendiri?!" bingung wanita hendak mempertanyakan nomor dari adik suaminya tadi.
__ADS_1
"Ah, sudahlah! ini membuatku penasaran, tapi juga tidak pantas kulakukan sebagai orang kaya!" ucapnya membanggakan diri lalu pergi.
Tak sampai beberapa langkah, ia kembali lagi dan menempelkan telinga pada pintu. Ah, rasa penasaran yang sulit untuk dikendalikan. Ia sangat ingin tahu bagaimana putranya bisa memiliki anak sebelum pernikahan, dan ini dianggapnya sebagai kesempatan. Bagaimana dia bisa percaya jika lelaki sering beringkah kejam dan membayasi untuk dekat dengan wanita, justru bisa memiliki anak lebih dulu. Tentu ia sangat penasaran, apakah Reno bisa merayu atau memaksa.
"Ah, langit di sini sangat cerah!" ucap Maira cepat, pintu kamar terbuka dan putranya berdiri fengan dajgat gagah.
"Berhentilah melakukan hal ini! apa mama akan terus menjadikanku bahan percobaan?! berhenti bergaul dengan orang-orang tidak berguna itu! mereka hanya merusak mental mama saja!" tegas Reno jengkel.
"Kenapa? kami hanya melakukan kesenangan saja, itu tidak merugikan siapa pun." Maira menjawab santai, tapi matanya terarah ke dalam kamar. "Apa kamu sudah selesai?! belajar dari papa sana, dia bisa bermain sampai lama! dasar lemah!" tambahnya menyipitkan kedua mata.
"Panya yang lemah?! dia meninggalkanku karena mama tiba-tiba masuk!" meninggi suara Reno.
"Hahaha, pusing deh pasti? iya kan? kamu pusing sekarang?" goda sang mama. "Lanjutkan! semangat!" pukul Maira pada lengan putranya, lalu mengepalkan tangan di depan wajah memberikan semangat. "Goda istrimu dan ucapkan kalimat manja di telinganya, jangan lupa untuk tangan meraba, itu adalah bagian paling sempurna! mama akan berikan resep untukmu lebih kuat nanti!" tuturnya lalu pergi.
"Berhenti bergaul dengan mereka!" teriak Reno pada wanita meninggalkan dirinya.
Maira hanya mengayunkan tangan, dia selalu di protes akan pergaulan bersama teman-temannya. Apa lagi, ketika pembahasan justru terarah pada anak-anak mereka, seolah itu adalah lekucon. Bagaimana bisa mereka melakukan hal semacam itu? membahas tentang malam pertama tanpa rasa malu, padahal itu adalah tentang anak mereka sendiri.
__ADS_1
Menggoda pengantin baru? sungguh tak masuk akal bagi Reno yang pernah mendengarkan sendiri pembahasan mamanya di telepon. Entah apa saja yang dibicarakan sampai tertawa dan memasang wajah membayangkan, bergidik sendiri ketika harus ingat ekspresi dari mamanya dulu.
Maira sendiri sungguh lupa jika putranya sudah memiliki pendamping hidup, ia tak melihat jalan dan sibuk mencari nomor pada ponselnya. Ingin memesankan gaun pada adik iparnya, tapi Maira lupa berapa nomor dari sang adik, karena ponsel juga baru ia ganti dan tak semua nomor dipindagkan. Mungkin terlalu sering menghubungi, sehingga bisa lupa. Bertanya pada suaminya? tentu ia akan berpikir satu juta kali, atau itu akan menjadi permasalahan.