
Berbaring pada sofa panjang tak bisa dikatakan mewah, meletakkan kaki kanan di ujung sandaran sofa dan menyalakan ponsel, Reno berulang kali melirik putranya yang belum kunjung bangkit dari tempat duduk. "Apa dia akan duduk di sana sampai tua?! Ini sudah tiga jam dari kami datang, tapi dia masih saja di sana! Apa matanya tidak sakit sama sekali?!" gerutu lelaki tampak bosan tersebut.
"Ini juga sama saja! Apa dia sedang tidur?! Kenapa tidak membalas pesanku?!" makinya melihat pesan dikirimkan pada Anita dari semenjak berbaring. "Atau ...," beranjak Reno langsung melakukan panggilan.
Ah, pikirannya tak bisa untuk tenang. Mungkinkah jika Anita kabur? Atau perempuan itu sedang merencanakan sesuatu?Tidak. Reno tidak bisa tenang untuk saat ini, terlebih setelah mengenal bagaimana putranya. "Apa kamu tidak tahu kalau aku mengirim pesan?! Lihatlah, ada berapa pesan yang aku kirim! Kamu pikir, aku sangat menganggur sampai harus menunggu balasanmu?! Aku juga sibuk!" cecar Reno ketika panggilan sudah tersambung.
"Ini baru mau aku balas," sahut Anita.
"Baiklah, aku tunggu!" pungkas Reno mengakhiri panggilan.
Anita terheran menatap ponsel, merasa aneh dengan kelakuan suaminya sendiri. "Bukankah sudah menghubungi, lalu kenapa memintaku membalas pesan? bukannya langsung bicara saja," gumamnya lirih.
Reno mendumel seorang diri, memaki ponsel dengan menggerakkan layar pada menu chat. Dia menantikan balasan dengan kesal, panggilan sudah berakhir tapi belum juga ada panggilan masuk. "Apa dia pingsan?!" omelnya.
"Kenapa papa terus marah-marah?" tanya Arga, tak disadari jika ia sudah duduk di sampingnya dan mengejutkan. Reno terperanjat, mengusap dada dengan kedua mata membulat.
"A—apa yang kamu lakukan di sini?!" terkejut dan berdiri.
"Bukankah papa sudah menghubungi mama? lalu kenapa tidak langsung bicara dan memintanya untuk membalas pesan? bukankah itu tidak masuk akal?" cecar bocah baru saja menyelesaikan pekerjaan.
"Benar juga, kenapa aku tidak langsung mengatakan saja?" gumam Reno lirih.
Arga menggelengkan kepala, duduk bersandar punggung dan memperhatikan. Lelaki tengah berdiri di depannya, tiba-tiba memasang wajah sumringah, ponsel batu saja berbunyi menandakan adanya pesan masuk. Secepat kilat ia membuka, duduk dan merekahkan senyum.
__ADS_1
"Menjawab sudah makan saja, harus menunggu berjam-jam!" ucapnya menatap layar ponsel.
"Apa rasanya seperti mendapat undian?" sindir Arga.
"Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya mendapat pesan dari orang yang dicintai, diam saja. Nanti kamu akan merasakannya juga," sahut Reno.
"Tentunya, aku tidak akan bersikap seperti itu." Arga berbicara sangat lirih.
Kedua mata tertuju pada Reno, lelaki itu bahkan tak terlihat membalas pesan dikirimkan padanya dan terus saja menatap dengan senyum terpasang lebar. Sungguh pelik untuk dapat memahami seperti apa lelaki berirama menyengat namun segar di sampingnya, apa itu cinta dan bagaimana cara kerjanya, hingga membuat orang terlihat tak masuk akal sama sekali.
"Pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Reno, memasukkan ponsel dalam saku jaket. Arga mengangguk, semua telah selesai dikerjakan olehnya.
"Papa lapar, kita makan sekarang!" keluhnya memegang perut.
"Ah, aku tidak mau! Aku tidak terbiasa makan dengan orang banyak seperti ini, tidak higienis! Kita pergi ke tempat lain saja," tutur Reno.
Arga menuruti, dia berdiri dan berpamitan pada yang lain, termasuk seseorang telah mengajarinya banyak hal selama ini. Reno mengarahkan dua jari ke mata, lalu memindahkan ke Rian, menandakan jika dia akan selalu mengamati. Senyum beserta anggukan kepala ditunjukkan, Rian pun mengerti akan isyarat dari Tuan muda yang begitu mirip dengan putranya.
Ada kebahagiaan lain menghiasi hati Rian, ketika harus melihat Arga bersama Reno dan terlihat akrab. Mungkin ada pula sedikit kecemburuan, karena biasanya Arga akan selalu menjadikannya tempat sandaran. Tapi, itulah kehidupan. Akan selalu mengalami beberapa perubahan, yang mungkin baik atau kurang baik.
Apa terjadi dalam hidup Anita dan Arga, telah menjadi bagian dari doa dipanjatkan pada Sang Penguasa. Rian ingin untuk mereka bisa merasakan apa itu bahagia, terutama Anita yang telah merasakan seperti apa kejamnya kehidupan di luar bersama orang-orang yang hanya memandang dari segi harta.
Keluar merangkul putranya, menuju ke mobil terparkir di depan, Reno tak langsung masuk dan mengamati setiap inci mobil kesayangan. Membungkuk untuk memeriksa, tangan mengusap lembut untuk mencari adanya goresan. "Kalau sampai tergores, maka aku akan menghancurkan tempat ini!"
__ADS_1
Arga menggelengkan kepala, biarkan saja apa dilakukan oleh papanya. Dia masuk ke dalam mobil, tak lama Reno menyusul ke dalam dan langsung menghubungi Lisa untuk memesankan tempat di sebuah restoran. "Aku tidak suka makan di tempat seperti itu, bisakah kita makan di tempat lain?" ucap Arga, panggilan masih terhubung dan sanggup didengarkan oleh sekretaris cantik papanya.
"Saya tahu tempat biasa Tuan muda Arga dan Nyonya Anita makan, Tuan. Ingin saya pesankan di sana saja?" sela wanita cantik diujung panggilan.
"Hm, lakukan!" pungkas Reno.
"Temani papa untuk belanja juga nanti, sepertinya papa harus membeli beberapa pakaian baru sepertimu. Ini tidak bagus, tapi nyaman juga." Reno mulai menyalakan mesin mobil.
"Kenapa? jadilah seperti biasa, pakaian ini terlihat aneh untuk papa. Lagi pula, apa papa ingin menarik perhatian gadis muda?" sahut Arga.
"Hahaha, kita bisa berkencan bersama nanti!" tawa Reno, melajukan kendaraan.
"Ah, harusnya aku merekam setiap pembicaraan hari ini. Mama harus tahu semuanya," lirih Arga menoleh ke arah jendela.
"Kamu bicara sesuatu?!" tegas Reno seperti mendengar namun samar.
"Tidak," singkat bocah tersebut.
Reno mengerucutkan bibir, telinganya belum rusak untuk bisa mendengar. Hanya saja, suara itu terlalu pelan sehingga tak begitu sampai ke telinga dengan jelas. Dia harus mulai nyaman dengan pakaian sekarang, dia harus menjadi seperti putranya untuk memahami lebih banyak tentangnya.
Menjadi sahabat, itu yang ditekankan oleh Anita dan ingin dilakukan oleh Reno. Ya, mungkin dengan menjadi sahabat, akan lebih mudah untuk mereka dekat, dan berbagi lebih banyak rahasia yang hanya akan dibicarakan oleh laki-laki saja.
Sepertinya, Reno tak sabar menantikan kedekatan itu, di mana ia bisa untuk bercengkerama dan menjadi tempat Arga bercerita. Mungkin akan sangat menyenangkan jika bisa menjadi pasangan ayah dan anak seperti itu, bukan ayah yang terus ditakuti karena galaknya.
__ADS_1
Apa dikatakan oleh Anita, terus dipikirkan oleh Reno seraya memperhatikan putranya bekerja. Berbeda dengan anak lain, ya! itu sangat benar. Jika anak lain akan sangat bahagia ketika mendapat hadiah, itu berbeda dengan Arga yang dikatakan jelas oleh Anita tak menyukai sebuah hadiah atau kejutan. Dia menyukai banyak hal sederhana, bahkan jika itu tanpa uang dikeluarkan.