
Kepala diinjak bagian belakang, ditahan kuat oleh Johny tanpa ingin menjilat ludah sudah ada di depan mata. Reno terlihat tenang, namun ia juga sangat geram. Semakin kuat Johny melawan, semakin kuat pula kaki itu menekan, hingga sisi wajah kiri menempel pada lidah di atas lantai.
"Lepaskan aku, Brengsek!" tekan Johny pada sebutan semakin menyulut emosi.
Reno membungkuk, tangan kanan menjambak rambut bagian belakang dan memutar kepala pria di bawahnya untuk menghadap langsung pada lantai. Reno menekan kuat, menggesernya seperti kain pel untuk membersihkan lantai. Tangan papa Vano ingin meraih tangan Tuan muda tengah menekan kepalanya, namun justru tangan diraih oleh Reno dan dipelintir sampai terdengar retakan tulang pada pergelangan.
Teriakan kencang menghiasi ruangan, namun Reno seakan tuli dengan semua teriakan kesakitan itu dan semakin kuat memelintir tangan. "Kau sudah memulai semua ini denganku, jangan salahkan aku jika menghabisimu!" geram Reno.
Tak ada yang sanggup menghentikan amarah menyelimuti, hingga seorang pria masuk dan berlari ke arahnya, memegang lengan Reno, tapi dihempaskan kasar. "Hentikan! kamu bisa membuatnya celaka!" teriak seorang pria yang tak lain adalah Bobby.
Reno mengenal suara teriakan itu, menoleh dan mendapati papanya. "Bawa dia ke tempat biasa!" ucapnya pada Lisa, segera mengambil penjaga kantor untuk melemparkan tubuhnya pada bodyguard Reno di depan.
Tangan masih kesakitan, justru dicengkeram kuat kedua lengan hingga tubuh terangkat. Pria dengan segala sumpah serapah ke luar dari mulutnya itu, dibawa pergi paksa bersama penjaga juga Lisa mengikuti. Bobby batu tiba di negara tempat putranya tinggal, sengaja langsung ke kantor untuk mempertanyakan kabar tentang cucunya, sementara Maira pergi ke rumah untuk melihat langsung bocah tengah dikhawatirkan.
Kabar tentang penculikan Arga, tiba juga di telinga mereka berdua. Anak buah Bobby lah yang mengabarkan, tanpa pikir panjang langsung datang demi bisa melihat keadaan Arga secara langsung. Tanpa disangka, jika kedatangannya justru melihat hal tak pernah dilihat sebelumnya. Reno memang dikenalnya tegas, namun untuk sikap semacam ini belum pernah dilihat, dan hanya didengar tanpa pernah ingin untuk percaya.
"Apa yang kamu lakukan sebenarnya?! kami akan menghancurkan dirimu sendiri kalau ada yang melihat! kamu tentu tahu seperti apa kekuatan dari mulut ke mulut, bukan?!" tegur Bobby keras, menatap lelaki tengah berdiri dengan amarah masih tersimpan dalam ekspresi wajahnya.
"Aku tidak peduli dengan itu semua, karena dia sudah berani menghinaku juga istriku! justru aku akan merasa hancur ketika harus diam mendengar istriku dihina!" tegas Reno, tak dipahami oleh papanya.
__ADS_1
"Maksudmu?!" tanya Bobby.
"Dia bahkan menyuruhku dan Anita untuk menjual diri! dia mengatakan banyak hal buruk tentangnya! bahkan mengatakan kalau putraku, bukan putraku!" tutur Reno. "Papa sudah melihat hasil DNA yang aku berikan, papa juga sudah mengetahui tentang hubunganku dengan Anita, papa mengetahui bagaimana aku bisa memiliki anak darinya!" timpal Reno.
"Apa dia juga terlibat dalam penculikan Arga?" tanya Bobby, mengembangkan pikiran sendiri.
"Putranya yang melakukan semua itu!" jawab Reno lalu menghempaskan tubuh di sofa.
Bobby terdiam, duduk di sofa panjang bersama putranya. Wajar saja jika Reno harus marah seperti itu, bahkan sangat wajar ketika harus melenyapkan banyak nyawa karena telah berani mengusik kehidupannya. Reno termasuk orang yang akan membenarkan segala cara demi membalas siapa pun orang telah berani mengusik hidupnya, memberikan pelajaran berharga untuk tak melakukan kesalahan sama.
Dia memang sudah mengetahui hasil DNA Arga, mengetahui tentang awal mula hubungan Reno dengan Anita. Semua diceritakan secara menyeluruh, tanpa ada yang ia karang atau mengurangi bahkan menambahkan demi membela diri, atas adanya anak dalam hubungan sebelum adanya pernikahan. Tentang apa yang mendasari dirinya berani membeli perempuan pun, Bobby dan Maira mengetahui dengan sangat pasti.
"Umumkan pada dunia siapa Anita dan Arga, buat acara resepsi pernikahan dan biarkan mereka membuka mata juga berpikir ribuan kali untuk berani menyentuh! itu juga cara terbaik untuk membuat hubungan pernikahan kalian bertahan, bukan tidak mungkin Anita akan memiliki kecurigaan lain di depan, ketika kamu dekat dengan perempuan lain. Kamu mengerti maksud papa, bukan?" panjang lebar Bobby berucap, terangkat pandangan Reno ke arahnya.
"Papa dan mama akan mempersiapkan segalanya, dan kita akan menghukum bersama Johny juga keluarganya. Papa memiliki rencana lain yang akan kamu sukai nanti," timpal Bobby.
"Apa?" memercingkan kepala Reno bertanya.
"Nanti akan papa jelaskan, kita abaikan dulu mereka sekarang. Terpenting adalah pernikahanmu dan Anita tidak memiliki peluang orang lain yang mengusik," ucap Bobby, lalu meraih ponsel dalam saku celananya. Menghubungi seseorang diiringi rasa penasaran dari lelaki tak mendengar penjelasan apa pun, telinga Reno masih terpasang jelas.
__ADS_1
"Hubungi Lisa dan tanyakan semua yang terjadi, kalian tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Aku ingin mendapatkan kabar sore ini, dan itu bukan kegagalan!" perintah Bobby pada seseorang di ujung panggilan.
Tak menjelaskan apa-apa, pria memiliki cara berbeda dengan putranya itu memang harus turun tangan membantu, dari pada emosi Reno akan menghancurkan kerja keras selama ini dilakukan demi membangun perusahaan juga menjadi seperti sekarang. Ya, walau tak akan pernah ada yang berani melakukan terang-terangan, tapi justru mereka yang melakukan banyak dalam diam,jauh lebih menyeramkan. Tak terlihat, tapi hasil nyata ditunjukan.
Seberapa pun keras Reno mengatakan jika dirinya telah menikah dan memiliki anak, tak akan pernah ada yang percaya ketika pernikahan itu tak pernah dilihat oleh kedua mata. Itu menjadi alasan bagi Bobby untuk menyarankan sebuah pengungkapan tentang hubungan sudah terjalin, mengumumkan tentang siapa Arga, supaya tidak ada lagi orang-orang yang mengambil kesempatan dan menyebabkan emosi berlebih pada diri Reno sendiri.
Tentang perempuan yang mengelilingi putranya, suatu saat pasti akan menjadi bumerang tersendiri. Bukan tidak mungkin jika salah satu dari mereka hadir dan menimbulkan kesalahpahaman, menghancurkan hubungan antara Reno dan Anita. Menyadari seberapa besar putranya mencintai, Bobby tak ingin jika sampai terjadi hal buruk dalam pernikahan putranya. Ya, meski sebenarnya Rara telah berusaha melakukan itu dan tidak diketahui oleh Bobby.
"Apa yang papa lakukan?" tanya Reno membuyarkan pemikiran pria tengah menatap lurus ke atas meja.
"Makanan ini sudah habis, kenapa kamu tidak menyingkirkannya? papa baru datang dan sangat lapar, tidakkah kamu punya pikiran untuk mengajakku makan sekarang?" ucap Bobby, sengaja mengalihkan perhatian dan memang perut tiba-tiba lapar.
"Menjengkelkan sekali!" umpat Reno mengalihkan wajah ke arah lain. "Kita pergi saja, aku tidak ingin makan di sini!" tambahnya lalu berdiri.
"Kamu yang membayar kan?" hanya memastikan pria kini turut berdiri.
"Bukankah papa harusnya memberiku makan? kenapa jadi terbalik sekarang?" balas tanya Reno. "Aku harus mengeluarkan uang untuk resepsi, belum lagi membiayai anak istri, aku harus berhemat. Jadi, papa saja yang membayar nanti. Deal?!" tutur Reno melirik pria merangkul pundaknya.
"Ah, sepertinya aku mulai menyesal sekarang memiliki anak sepertinya." Bobby berbicara lirih, tapi masih sanggup didengar oleh lelaki mengukir senyum lebar. Saling melemparkan senyum yang diubah menjadi tawa, keduanya ke luar dari ruangan dan berjalan dengan Bobby merangkul layaknya sahabat. Entah apa rencana pria itu, sepertinya tak akan mudah untuk dibuka sebelum terlihat bagaimana hasilnya. Itu cara Bobby bekerja, tak gembar-gembor dan hanya menunjukkan hasil saja.
__ADS_1