
Beberapa waktu sampai ketiganya bersiap, sopir mengantarkan ke bandara. Tak ada koper atau besar lainnya, Reno melarang anak dan istrinya membawa apa pun dari rumah. Semua bisa dibeli, dan telah dipersiapkan oleh orang Reno yang sudah berada di tempat lebih dulu.
"Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Anita tak mengerti apa pun yang terjadi semenjak dirinya terbangun.
"Honeymoon!" singkat Reno, mengerjap sang istri ke arahnya.
"Eh?" tak paham Anita, ada Arga di antara mereka dan tak mungkin bisa disebut sebagai honeymoon.
"Aku akan mengajak kalian jalan-jalan, aku lelah dengan pekerjaanku selama ini. Apa ada yang aneh dengan itu?" ucap Reno, menggeleng kepala sang istri.
"Ini terlalu mendadak, aku belum mengatakan apa-apa ke pagawaiku," gumam lirih Anita.
"Berhentilah memikirkan pekerjaan! suamimu bukan orang miskin sampai kamu harus bekerja! semua hartaku tidak akan habis sampai turunan ke seribu!" tegas Reno.
"Siapa yang akan memberimu keturunan sampai sebanyak itu?" gumam kembali Anita lirih, mengerat gigi atas bawah Reno menatap sang istri geram.
Nada santai Anita memang kerap membuatnya kesal, begitu pula dengan putranya. Menganggap jika itu adalah keturunan yang melekat kuat dan tak akan pernah bisa berubah, dia terus berusaha untuk beradaptasi.
Anita tak mengerti akan acara liburan mendadak yang dibuat untuknya juga Arga. Dia dibangunkan dan langsung diminta bersiap, tanpa mandi bersama karena Reno harus memastikan semua rencananya berjalan mulus tanpa halangan sedikitpun.
"Kenapa kamu diam saja?" tegur Reno pada putranya, bocah yang kini duduk di samping sopir dan menatap lurus ke depan.
"Pa, aku merasa tidak nyaman. Hatiku merasa tidak enak," tutur Arga menoleh sendu.
Reno dan Anita memajukan kepala di antara jok, menatap bersama putranya dan Sling terkejut ketika wajah terlihat begitu dekat. "Minggirlah lebih dulu!" protes Reno benar-benar terkejut.
"Aku ingin melihat putraku!" tegas Anita.
__ADS_1
"Dia juga putraku! jadi duduk diam dan biarkan kami berbicara!" isyarat mata diberikan tajam.
Anita menghela napas panjang, pasrah dan kembali duduk menyandarkan punggung dengan telinga terpasang lebar. Reno melihat wajah putranya, menyentuh seluruh wajah. "Kamu tidak sakit," ucap Reno.
"Aku tidak sakit, tapi aku merasa takut. Bagaimana kalau dia tiba-tiba datang nanti? aku tidak ingin ke luar dari rumah," tutur Arga, dipahami oleh Reno dan menarik putranya dalam pelukan.
"Tenanglah, papa di sini untukmu. Jangan memikirkan apa pun," tulus Reno. "Hentikan mobilnya!"
"Baik, Tuan!" sopir menjawab dan berusaha menepi.
Reno turun dari mobil, membuka pintu untuk putranya dan membawanya pindah duduk bersama. Ketakutan itu sudah jelas terlihat dari raut wajah Arga, memang tak ingin ke luar dari rumah semenjak dirinya mandi tadi. Ada kegelisahan tak bisa dimengerti sendiri, ia tak ingin untuk Vano kembali datang dan membawanya pergi seperti kemarin.
Di belakang, Reno meletakkan kepala putranya pada dada, mengusap lembut lengannya dan berusaha menenangkan. "Jangan takut, jangan pernah takut akan apa pun di dunia ini. Selama papa masih hidup, papa tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuhmu atau mama. Percayalah," ucap Reno sangat lembut juga tulus.
"Aku hanya tidak ingin dia kembali lagi, aku benar-benar tidak menginginkan kejadian seperti kemarin. Aku tidak mau pergi, Pa. Kita pulang saja," kata Arga seraya menggelengkan kepala berulang.
"Sssst, tenanglah. Baik, kita pulang saja, kita bisa ke luar kapan-kapan saat kamu mau. Jangan menangis lagi," ucap Reno mengeratkan pelukan dan mengusap lembut putranya.
Anita tak bisa berkata apa-apa selain turut memeluk putranya dari belakang bersama air mata menetes pada wajah cantiknya. Reno mengetahui air mata itu, mengusapnya lembut dan menggelengkan kepala lirih, memberitahukan untuk Anita tak perlu menunjukkan kesedihan yang pasti akan membuat Arga semakin tak karuan.
Meminta sopir untuk kembali ke rumah, akan lebih baik untuknya tak memaksakan kehendak pada putranya dan akan semakin membuat keadaan buruk. Meraih tubuh sang istri untuk turut ia peluk bersama, Reno tak mau melakukan apa pun jika itu tidak membuat Arga nyaman.
Acara liburan kali ini, adalah untuk membuatnya terbebas dari kenangan buruk sudah terjadi, namun nyatanya itu tak bisa berjalan ketika rasa takut justru semakin hebat dirasakan. Semenjak dari rumah, memang Arga hanya diam saja, tak ada kata untuk menyela seperti biasanya hingga ditegur oleh Reno.
Apa ditakutkan, nyatanya benar terjadi. Trauma itu pasti ada dalam diri Arga tanpa sengaja ditinggalkan oleh kejadian ingin sekali untuk Reno kembali pada titik itu, menghabisi Vano tanpa membiarkan putranya melihat. Jika boleh, ia bahkan ingin memutar waktu lebih jauh, untuk menghilangkan Vano dan Rara dari dunia, sebelum mereka berani menyentuh keluarganya.
Arga masih nyaman memeluk papanya, dia tak berani memejamkan kedua mata, karena bayang selalu menyusup tanpa undangan. Berada dalam dekapan lelaki yang menyayangi dirinya, itu membuat Arga sedikit merasa tenang dan terlindungi.
__ADS_1
"Hubungi nomor ini, katakan kalau kita tidak jadi pergi. Mereka sudah tahu apa harus dilakukan," pinta Reno menyodorkan ponsel sudah ada nomor pada panggilan ke luar.
Anita langsung menghubungi dan mengatakan apa diminta oleh suaminya, lelaki yang bahkan bisa untuk menjadi ayah serta suami terbaik dengan melindungi dan memberikan rasa aman pada Arga juga dirinya.
"Kamu ingi beli sesuatu sebelum kita pulang? ada yang kamu inginkan? makanan atau apa pun itu?" tanya Reno pada putranya.
"Tidak," menggeleng kepala Arga.
"Baiklah, bagaimana kalau kita minta mama untuk membuatkan kue setelah ini. Setuju?!" sahut Reno memberikan usul, demi membuat putranya lebih baik.
"Papa saja," ucap Arga pelan.
"Ha?! maksudmu, ingin papa yang membuatkan?" terkejut Reno, dijawab anggukan kepala. "Asal kamu tidak langsung masuk rumah sakit," gumam Reno pelan.
Mobil terus melaju untuk mengantarkan ketiganya kembali pulang, untung saja belum terlalu jauh mereka pergi meninggalkan rumah, sehingga tak perlu memakan banyak waktu untuk bisa segera sampai di rumah.
***
Turun lebih dulu setelah sampai, Reno membungkukkan tubuh dan meminta putranya naik ke atas punggung.
"Aku sudah besar," ucap Arga menolak.
"Sudah lakukan saja! papa ingin merasakan seperti apa nasib semua ayah di dunia ini yang harus disiksa dengan menjadi kuda!" sahut Reno.
"Naik saja, jangan sampai papa merengek punya anak lagi sekarang." Anita tersenyum meminta pada putranya.
Arga anak yang penurut, terlebih itu adalah ibunya yang meminta. Menggeser duduk untuk bisa naik di atas punggung papanya, Arga rela untuk menjadi anak kecil walau selama ini kerap menolak diperlakukan seperti anak kecil. Bahkan untuk dicium atau dicubit sisi wajahnya saja.
__ADS_1