
“Di mana Arga?” tanya Anita tak mendapati putranya.
“Sudah ada aku, kenapa mencari yang lain?” santai Reno menjawab, kedua pundaknya terangkat bersamaan.
Beranjak sedikit dari duduk, meraih tangan Anita dan langsung meletakkan tubuh perempuan itu di atas pangkuan. Reno tak melepaskan ketika Anita berusaha untuk bangkit, justru semakin erat ia melingkarkan kedua tangan pada perut, seraya kepala bersandar pada pundak.
“Kamu belum memberiku jawaban,” manjanya untuk pertama kali.
“Apa?” tanya Anita sedikit merasa gugup sekarang, karena posisi keduanya.
“Aku melamarmu. Bagaimana bisa kamu lupa?” jawab Reno mengangkat kepala dan menatap wajah bersemu Anita.
“Itu … bisakah kamu memberiku waktu? Paling tidak-,” terpotong ucapan Anita, bibir Reno mendarat di atasnya.
“Lima menit,” ucap lelaki dengan senyum tampan terukir.
“Kamu ingin memberiku waktu berpikir, atau ingin membe-,” lagi-lagi terpotong perkataan Anita, sebab bibir Reno mendarat sesuka hati.
“Sutuju!” ucapnya langsung.
“A-“ sekali lagi perkataan tak terselesaikan, namun kali ini Reno menurunkan tubuhnya dan membuat terkejut.
Lelaki itu berdiri, lalu membungkuk dan mengangkat tubuh Anita. Berjalan ke arah pintu, menendang untuk pintu itu tertutup. “Kunci,” katanya mengisyaratkan mata pada pintu.
Anita membuang napas panjang dan pelan, tangan memutar kunci menuruti apa diinginkan oleh lelaki suka bertingkah sesuka hati.
“Di mana kamar kita?” percaya diri Reno bertanya, menyusuri rumah dengan kedua mata.
“Kamu bermimpi sekarang?” malas Anita.
“Katakan!” melotot Reno.
“Di atas,” pasrah Anita, senyum ditunjukkan kembali oleh Reno dengan menambahkan sedikit ekspresi genit.
“Kamu suka di atas?” genitnya berbisik. “Aku juga menyukainya,” susul Reno.
__ADS_1
Anita mengernyitkan kedua alis, kepalanya mundur sedikit. Terasa aneh akan sikap dari lelaki biasa kasar dan suka berteriak, telinganya begitu asing bersama kedua mata yang memperhatikan sedari tadi.
Tak berkata apa-apa lagi, Reno membawa tubuh Anita untuk menapaki setiap anak tangga yang ada. Rumah tak sebesar rumahnya, tidak begitu susah untuk mencapai puncak anak tangga dan berjalan ke kamar.
Sebuah pintu warna putih di buka oleh Anita, usai isyarat mata diberikan oleh Reno. Memasuki kamar dan meletakkan tubuh Anita perlahan di atas ranjang, Reno melepaskan jasnya.
“A—apa yang akan kamu lakukan?” terbata Anita, tersirat ketakutan dari paras cantiknya.
“Aku tidak akan melakukannya, tenang saja. Aku hanya ingin tidur denganmu,” ucap Reno meyakinkan, tangan melepaskan dasi hitam dan membuka dua kancing kemeja berwarna senada.
Berbaring di damping Anita menatap wajahnya, Reno memaksa untuk perempuan bergaun sampai paha itu untuk turut menghadap dirinya. Saling beradu pandang kedua mata mereka, Reno menggunakan jari-jari untuk membelai wajah lembut Anita.
“Aku mencintaimu,” tulusnya berucap.
“Kenapa?” tanya Anita.
“Karena kamu ibu dari anakku, dan karena aku sudah gila. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu selama ini,” sahut Reno.
“Sebenarnya, kamu sedang mengutarakan cinta atau apa? Kenapa harus bilang gila saat mengatakan cinta?” protes Anita.
Di tarik mendekat tubuh Anita, hingga saling menempel tubuh bagian depan. Ujung hidung mereka pun menempel, tatapan mata saling tertuju satu sama lain.
Reno membasahi bibir, menggigit bibir bawah. Wajah Anita teramat menggoda, entah apakah ia akan sanggup untuk menahan hasrat yang terus saja meronta.
Anita mengangkat satu tangan kanan, dia pun mengangkat kepala, memberikan kecupan pada kening Reno. “Tidurlah, aku akan mengganti pakaian. Aku tidak nyaman dengan ini,” ucap Anita.
Reno terbelalak mendengar kalimat berganti pakaian. “ Di sini? Sekarang? Kamu akan mengganti pakaian di kamar ini?” cecar Reno bersemangat.
“Hentikan pemikiranmu itu,” sahut Anita menggeser tubuh dan turun dari ranjang.
“Aku sudah melihat semuanya, aku mengingatnya dengan baik. Kenapa harus pergi?” kata lelaki kini bertumpu pada siku memiringkan tubuh.
Anita hanya menggelengkan kepala, dia berjalan ke arah kamar mandi usai meraih pakaian tidur. Reno menghempaskan kembali kepala bersandar pada tangan kiri. “Kenapa harus malu? Kita sudah punya anak,” gumamnya pelan.
Kala Anita berganti, lelaki tetap membiarkan kemeja serta celana panjang membalut tubuh kekarnya itu, meraih ponsel. Ia menghubungi Arga, walau bisa saja untuk berjalan karena kamar bersebelahan.
__ADS_1
“Bagaimana? Kamu sudah berhasil?” tanya Reno.
“Sedikit lagi,” jawab bocah di ujung panggilan.
“Aku akan kesana setelah mamamu tidur, jangan kunci pintu kamarmu,” kata Reno.
“Seperti selingkuhan saja,” pungkas Arga mematikan panggilan.
Reno menatap layar ponsel seketika panggilan berakhir, dia menggerutu akan sikap putranya dan berdesis.
"Ya, itulah dirimu! Lanjutkan saja seperti itu!” umpatnya pada ponsel.
Benar-benar seperti dirinya, dan menyadarkan Reno akan seperti apa rasa kesal semua orang ketika ia bersikap seperti itu. Tak ubahnya cermin diri yang terus saja menunjukkan diri sendiri dalam diri Arga, lelaki kini melemparkan ponsel ke atas ranjang itu sungguh dibuat naik darah.
Di kamar, memang Arga sudah sibuk dengan keahlian meretas. Data perusahaan dari keluarga Vano, sekarang ia retas menggunakan laptop.
Semua telah dibicarakan bersama Reno, bahkan rencana serta data orang-orang yang terlibat di malam itu, sudah mereka kantongi bersama.
Sungguh terkejut ketika mengetahui hubungan apa yang terjalin antara sama bersama Rara dan Vano, sekarang Arga tahu mengapa mamanya tak pernah ingin percaya terhadap orang lain.
Bukan hanya tentang mereka, Arga yang sangat ingin melihat sang mama bahagia pun, mencari tahu tentang diri keluarga yang sangat dirindukan.
Keluarga yang selalu membuat mamanya berurai air mata.
Ingin menghentikan setiap penderitaan telah dialami oleh mamanya selama ini, Arga bertekad untuk mengembalikan kehidupan seperti sebelum ada dirinya.
Jika dipertanyakan, apakah ia merasa bersalah? Tentu. Arga merasa bersalah karena dirinya ada untuk menghancurkan banyak hal. Itu diutarakan pada Reno bersama air matanya sore ini, melalui panggilan suara.
Dengan lembutnya Reno berkata, jika semua bukan kesalahan Arga. Keadaan pun tidak bisa untuk disalahkan, karena pasti semua telah digariskan.
Untuk pertama kalinya Reno berbicara sebagai seorang papa, menenangkan hati tengah gundah atas banyak rasa bersalah.
Arga tahu jika papanya tak seburuk apa dikenal orang, dia sering melihat perhatian dalam diam yang dilakukan. Terutama pada mamanya, Arga mengetahui apa yang tak pernah diketahui oleh Anita.
Kala malam, Reno sering datang ke kamar Anita. Entah apa yang ia lakukan, tapi dini hari selalu pergi mengendap dari kamar di mana Anita masih terpejam.
__ADS_1
Merasa penasaran di awal, Arga meletakkan sebuah kamera kecil di sebuah vas yang ada di depan kamar mamanya. Di sana terdapat sebuah meja bulat kecil, dipergunakan oleh Arga untuk memantau. Sehingga ia tahu dengan pasti waktu-waktu Reno datang dan pergi.