
Satu minggu dari pertemuan Vano dengan Anita, lelaki itu terus mengawasi diam-diam. Obsesi untuk mendapatkan kembali seseorang pernah ada dalam hidupnya semakin menggebu, ketika wajah Anita hadir dalam angan setiap hari.
Kecantikan semakin bertambah jika dibandingkan dulu, bentuk tubuh Anita juga menjadi bagian dari angan dewasa kerap menyusup kala malam ia ingin memejamkan kedua mata. Semua terlalu mengusik, namun Vano tak bisa menyentuh Anita karena siapa yang ada di dekat perempuan itu.
Hingga sebuh ide muncul begitu saja, tanpa menunggu untuk aada kesempatan kedua, ia langsung melancarkan setiap apa tersusun dalam rencana. Siang ini, Vano mendatangi tempat Arga menempuh pendidikan.
Bocah itu tak dibiarkan seorang diri, ada penjaga yang menunggu di lingkungan sekolah. Terpaksa Vano memutar otak untuk bisa membawa Arga pergi. Menanti di luar pagar hingga jam sekolah usai, dilihatnya sebuah mobil ke luar dari lingkungan sekolah dan segera diikuti.
Di sebuah lampu merah, ada sebuah mobil menghantam keras dari belakang, mengejutkan Arga bersama sopir dan bodyguard. Beruntungnya, mobil ditumpangi oleh Agga tak sampai menghalangi kendaraan dari arah lain yang melintas, sehingga tak terjadi tabrakan.
Bodyguard turun dari kendaraan, berjalan dengan gagah untuk menghampiri sopir telah menabrak mobil Tuannya. Namun, belum sampai langkah itu sampai, teriakan Arga membuatnya berbalik cepat.
Bocah itu dibawa oleh dua orang lain yang memaksa untuk membuka pintu, membawanya pergi dengan mobi lain tengah dikendaraoi oleh Vano, dan tak lama orang suruhan lain yang menabrak pun langsung menancap gas pergi.
Sopir di dalam mobil tak bisa menyelamatkan, semua terjadi sangat cepat dan tangan tak bisa merengkuh ke belakang, karena sabuk pengaman masih melingkar pada tubuh terbatas gerak oleh kemudi.
Membuka pintu untuk menyelamatkan anak dari Tuannya yang harus dijaga, tapi pintu didorong oleh salah satu dari dua orang yang membawa anak kesayangan majikannya. Kecepatan kaki dari pengawal tak bisa mengejar mobil yang melaju semakin kencang.
Dari belakang suara klakson terdengar, sopir berhenti dan bodyguard lekas naik ke dalam. Memacu kecepatan tinggi untuk menyusul mobil putih yang sudah tak lagi sanggup ditatap oleh kedua mata masing-masing.
“Bagaimana bisa kau membiarkan Tuan muda Arga dibawa?!” teriak pria bertubuh besar.
“Aku sudah berusaha mencegahnya, tapi tanganku tidak sampai!” sahut sopir berseragam abu tua.
Menggeram kesal, lalu mengambil ponsel dalam saku dan menghubungi teman satu orofesi untuk segera turun tangan membantu. Nomor kendaraan dihapal, langsung diberitahukan sesuai dengan arah jalan juga posisi dirinya berada.
Bergegas pergi beberapa orang dengan kendaraan berbeda menuju ke lokasi disebutkan. Mereka harus membagi arah pada titik yang memungkinkan untuk dilewati. Anita berada di rumah, mendengar suara mobil dan ke luar dari dapur untuk mencari tahu.
“Ada apa? Terjadi sesuatu?” tanya Anita pada pelayan.
“Saya kurang tahu, Nyonya. Tapi sepertinya begitu,” jawab pelayan.
Anita berubah cemas, ia bergegas ke arah telepon rumah karena ponsel tak berada bersamanya. Menekan nomor ponsel sang suami yang telah di hapal baik, Anita yang sedang membuatkan kudapan untuk anaknya, merasa tak nyaman pada perasaannya seketika.
“Apa semua baik-baik saja?! Kamu di mana?!” cemas Anita bertanya ketika panggilan tersambung.
__ADS_1
“Aku sedang ada pertemuan penting, nanti aku hubungi lagi.” Reno menjawab terburu-buru, langsung mematikan sambungan telepon.
Kegelisahan itu masih menyerang sangat kuat, Anita terdiam sejenak dengan nemegang telepon rumah, lalu menghubungi sopir yang bersama putranya.
Tidak ada jawaban dari pria terus melajukan kendaraan cepat, Anita menghubungi nomor pengawal. Reno memang memberikan nomor-nomor orang yang terus menemani Arga di sekolah, agar mudah untuk istrinya memantau.
“Di mana kalian? Bukankah ini sudah waktunya putraku pulang?” tanya Anita.
“Tuan muda Arga belum ke luar, Nyonya. Ada kelas tambahan untuk hari ini,” kilah pengawal.
“Tidak ada kelas tambahan untuk hari ini, apa kamu sedang berbohong?” tak percaya Anita.
“Tidak, Nyonya. Memang ada kelas tambahan mendadak dan gurunya sendiri yang memberitahukan,” tetap pengawal itu pada alasannya.
Anita tidak percaya, ia langsung menutup sambungan telepon dan menghubungi pihak sekolah untuk mempertanyakan. Jawaban diberikan sama, namun tetap saja Anita merasa ada yang aneh. “Ada apa sebenarnya, Tuhan? Mengapa aku tiba-tiba sangat gelisah?” ucap Anita lirih.
Reno sudah mendapat kabar lebih dulu dari bodyguardnya, memerintahkan untuk memperluas pencarian dan mengatakan pada pengawal Arga untuk berkilah saat istrinya menghubungi. Sekolah pun telah diatur dengan sangat baik, agar mengatakan seperti apa diperintahkan oleh tuannya.
Kala menerima telepon dari sang istri, lelaki yang tak ingin untuk kekhawatiran dirasakan oleh perempuan dicintainya itu, tengah berlari kencang ke luar kantor bersama Lisa.
Bukan hanya satu atau dua yang dikerahkan untuk mencari, namun semua anak buahnya diperintahkan tegas untuk menemukan anaknya hari ini juga atau mereka akan menerima imbas dari kemarahan seorang ayah hari ini.
Anita memangku laptop dan terus menggunakan ponsel, ia menghubungi anak buah lelaki yang memilih untuk mengemudi sendiri dengan kecepatan tinggi itu, agar menuju titik di mana ia mengarahkan.
“Kau sudah tahu siapa orangnya?!” tegas Reno tetap berusaha fokus ke jalanan.
“Vano, Tuan. CCTV sekolah merekam keberadaan Vano di depan sekolah dengan nomor mobil sama. Dia sudah menunggu cukup lama di sana,” sahut Lisa telah meminta informasi pada pihak keamanan sekolah.
“Apa?!” menoleh lelaki dengan kedua mata terbuka. “Hancurkan sekarang juga!” perintah Reno.
“Baik, Tuan!” sigap Lisa.
Memainkan jari di atas keyboard, Anita melakukan perintah dari bosnya untuk menghancurkan perusahaan keluarga Vano detik itu juga. Semua telah dikumpulkan oleh Arga dan Reno, beserta orang-orangnya. Cukup dengan satu ujung jari Lisa sekarang ini, maka semua kebesaran itu akan dihancurkan tanpa sisa.
Tidak ada yang bisa menandingi teknologi ketika dimanfaatkan dengan sangat baik, itu adalah jalan untuk Reno mempersiapkan kehancuran Vano bersama kedua orang tuanya tanpa ingin menyisakan sedikit pun.
__ADS_1
Dia tidak akan pernah mengampuni, ketika semua telah berkaitan dengan keluarga kecilnya. Penculikan terhadap Arga, sudah cukup membuat pengampunan itu hilang. Ditambah dengan kekhawatiran sang istri ketika ia tahu nanti.
Terus saja mata tertuju ke depan, menyusuri jalanan dan sudah mengetahui ke mana tujuan. Ponsel Reno kembali bergetar, layar sanggp dijangkau oleh matanya dan itu adalah Anita. “Aku tidak bisa berbohong padanya, kau angkat saja dan katakan aku sedang pertemuan penting!” kata Reno, terlalu mengganjal dalam hati jika harus membohongi sekali lagi.
Anita mengangkat panggilan dari istri Tuannya, seketika ia menoleh ke arah lelaki di balik kemudi bersetelan jas lengkap. Anita mengaktifkan pengeras suara, agar Reno mendengar apa dikatakan dan membuatnya terkejut.
“Vano menculik Arga, apa kamu mendengarkan?! Dia akan dibunuh oleh Vano kalau aku tidak datang menemuinya sekarang juga!” ulang Anita dalam air mata, mobil langsung berhenti dengan biji mata hampir ke luar dari Reno.
“Jangan pergi! Jangan menemuinya! Aku sudah dalam perjalanan menjemput Arga dan orang-orangku juga sudah mencarinya!” tegas Reno berteriak.
“Kalau aku tidak datang, putraku akan meninggalkanku selamanya. Aku tahu bagaimana kegilaan Vano, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada Arga. Aku tidak ingin kehilangannya,” tangis Anita semakin pecah.
“Sayang, dengarkan aku. Tenang saja, kalau dia menghubungi, katakan kalau kamu sudah dalam perjalanan. Tetaplah di rumah, dan aku janji akan membawa putra kita kembali tanpa luka sedikit pun. Percayalah padaku,” ucap Reno meyakinkan. “Lisa sudah berhasil melacak keberadaan Arga, dia bukan anak bodoh yang tidak tahu apa harus dilakukan. Kamu mengerti?”
“Berjanjilah untuk membawanya kembali, atau aku tidak akan pernah bisa untuk hidup lagi.” Anita merendahkan suara.
“Aku berjanji padamu, tetaplah di rumah dan katakan seperti apa yang kamu bisa jika Vano menghubungimu. Jangan gegabah, karena itu justru akan membuatmu dalam bahaya juga. Bisa kan?” lembut Reno.
“Mm, jaga dirimu dan jangan sampai terluka. Aku mencintaimu,” pungkas Anita.
“Lacak GPS yang ada di jam tangan Arga! Kita akan menemukannya melalui itu!” perintah Reno, baru teringat tentang alat tak pernah lepas dari jam tangan sudah dimodifikasi oleh putranya sendiri.
“Baik, Tuan!” Lisa segera mengerjakan.
Panggilan dari Anita sanggup membuatnya sedikit terkendali karena harus menenangkan sang istri, sehingga langsung teringat akan pelacak di arloji putranya yang sengaja dipasang karena kecemasan berlebih dari Reno sendiri.
Ingin menempatkan beberapa bodyguar untuk menjaganya di sekolah, namun Arga menolak dan tak ingin terlihat berbeda dari yang lain. Tapi, tetap saja ia harus menerima agar bisa bersekolah.
Namun itu tak membuat Reno tenang, sampai putranya memasang sendiri sebuah alat keci yang akan mampu membuatnya ditemukan jika terjadi sesuatu.
Ancaman diberikan Vano pada Anita, hanya menambah kemarahan dari Reno saja. Entah bagaimana caranya lelaki itu menghubungi, ingin sekali untuk melemparkannya ke dasar laut setelah mencincang sampai tak berbentuk.
“Kau sudah salah orang dalam berurusan, jadi nikmati hidupmu setelah ini di neraka!” geram Reno mengeratkan rahang.
Vano memang menghubungi Arga, tapi sepertinya alamat diberikan tak sama seperti apa di dapat oleh Lisa melalui GPS pada arloji Arga. Itu alamat yang sangat jauh, tapi Reno tetap melanjut ke alamat di mana titip GPS itu berhenti dan memerintahkan anak buahnya melihat ke alamat harus dituju oleh Anita.
__ADS_1
Sudah diperingatkan tegas untuk tak mengatakan pada siapa-siapa oleh Vano, atau Arga tidak akan dijamin keselamatannya. Namun, Anita tetap menghubungi suaminya dalam kepanikan. Hanya Reno yang ada dalam pikiran seseorang kini menghubungi Rian untuk mengatakan apa terjadi.