
"Mencintai?" tanya Anita menyipitkan kedua mata pada suaminya.
"Jelas bukan dirimu, karena aku belum mengenalmu waktu itu. Sama seperti kamu yang mencintai si brengsek itu, aku juga pernah mencintai orang lain. Bukankah setiap orang punya masa lalu?" sahut Reno.
"Oh," singkat Anita.
"Dia tetap orang yang sama, berbicara tanpa memahami perasaan orang lain!" gumam Ellie sangat lirih, tak ada yang mendengar suara dari bibir bahkan tak terlihat terbuka.
"Ini," ucap Arga menunjukkan ponsel pada mamanya. Reno melihat apa ditunjukkan, seketika merampas ponsel dari putranya.
"Kamu ingin membuat dunia hancur malam ini?!" tegas Reno. "Punya anak mengetahui banyak hal, tapi kenapa membuatku ingin bunuh diri setiap hari?!" gerutunya.
"Itu, mantan terindah?" tanya Anita.
"Kalau terindah tidak akan menjadi mantan! dia terburuk, sangat buruk dari semua yang paling buruk! hanya kamu yang terbaik di hidupku!" ngotot Reno menjelaskan.
"Hm, kamu memang sangat manis!" cubit Anita pada sisi wajah suaminya. "Seperti racun, tapi sangat manis dan bisa membunuh pelan-pelan." Anita menambahkan, seketika wajah terbengong Ellie dan suaminya berubah ekspresi tawa bersama Arga.
"Itu pujian?!" tanya Reno, langsung memudarkan senyuman.
"Hehehe, bukan. Aku tidak akan memujimu, karena kamu sudah pandai memuji diri sendiri." Anita cengengesan, semakin lebar tawa Ellie.
"Kau tidak ingin mengganti istri?" tanya Reno pada Daniel, melirik kesal pada kawan lamanya.
"Hahaha, sulit mencari sepertinya." Daniel merangkul sang istri dan mencium pelipisnya. Reno menaikkan satu bibir kanan kesal, tatapan masih diberikan pada kedua orang menertawakan dirinya.
__ADS_1
Melanjutkan pembicaraan di ruang tamu, tentang apa harus dilakukan oleh Ellie nanti. Meski mereka sangat dekat, tapi itu bukan hal yang bisa membuat Reno bisa melakukan apa saja tanpa biaya. Ia membayar Ellie sangat mahal, demi melindungi putranya.
Seorang kawan yang mengetahui lebih banyak tentang Reno, menjadi orang yang harus bersiap menjadi garda terdepan ketika Reno harus didekati oleh perempuan dan tak disukai. Tak jarang Ellie harus menenangkan siapa saja yang menangis dan ada pula berniat mengakhiri nyawa.
Tapi, Ellie tak segan menampar keras perempuan tidak tahu diri yang mendekati sahabat baiknya dari masa di bangku pendidikan bersama. Sikap kasarnya siapa yang akan meragukan, siap membuat gemetar dan mundur serentak jika sudah melihat Ellie bersama dengan Reno. Gosip tentang mereka pun, cukup ramai dan dituntaskan bersama sampai tak ada yang bisa berbicara.
Tentang seseorang yang pernah dicintai dan diperjuangkan, seseorang yang fotonya ditunjukkan oleh Arga karena pernah mencari tahu semua berhubungan dengan Reno di masa lalu, itu pun diketahui oleh Ellie yang sempat menasehati Reno untuk tak lagi peduli. Cinta tak terbatas, cinta begitu hebat, menjadikannya buta dan ingin terus melangkah, walau jalan sudah terlalu sulit untuknya melanjutkan.
Detik berganti menit dan jam, Ellie akhirnya pulang bersama Daniel dan menolak untuk menginap. Tak lama berada di rumah Reno, mereka ingin beristirahat setelah perjalanan jauh dari beberapa jam lalu. Baru saja menyelesaikan liburan bersama, menikmati bulan madu kesekian kalinya, dan sekarang harus kembali pada kehidupan penuh kesibukan.
Reno bersama istri dan anaknya berdiri di teras, menanti sampai mobil membawa mereka berlalu lebih dulu. Merangkul Anita dan melambaikan tangan, lelaki itu mencuri kesempatan untuk mengecup sisi wajah istrinya. "Aku mau punya anak!" ucapnya tiba-tiba.
"Kita tidak sedang membahas apa-apa, kenapa kamu bicara langsung ke arah sana?" terheran Anita.
"Mama memang harus memberiku adik, supaya papa direpotkan olehnya. Agar papa tahu bagaimana cara mengganti popok dan menenangkan bayi sedang menangis," ucap Arga tersenyum lalu berbalik badan dan pergi.
"Kamu kerepotan saat membuatnya? bukankah kamu menikmatinya?" lirik Anita.
"Hehehe, aku kerepotan merayumu." Reno berubah wajah cepat, memasang wajah menggemaskan.
"Mana pernah kamu merayuku? setiap kali ingin juga langsung membuka pakaianku," ucap Anita melenggang pergi.
"Wah, dia mengatakan itu dengan sangat baik!" membulat kedua mata Reno mengiringi kepergian sang istri. "Tapi, apa itu pancingan untukku? kalau benar, maka ...," timpalnya menggantung. "Dia sangat berhasil!" semangat Reno dan berlari mengejar istrinya.
Langsung menggendong istrinya begitu sanggup menyusul, membawa Anita ke kamar tamu yang ada di lantai dasar. Membungkam mulut Anita saat ingin menggendong, agar putranya tak mendengar. Ini belum waktunya untuk beristirahat, tapi ucapan Anita sudah berhasil membuatnya menginginkan kehangatan.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?!" protes Anita begitu tiba di kamar.
"Mencetak gol lebih awal!" jawab Reno seraya mengunci pintu kamar sangat pelan.
Tubuh sempat diturunkan, disergap langsung olehnya dan melakukan apa seharusnya dilakukan untuk bisa mendapatkan keturunan. Skiiiip, adinda baru 18 tahun🤭
Kala kedua orang tuanya di kamar, Arga membuka buku pelajaran. Benar saja apa ditakutkan oleh Reno, bocah itu terbayang akan kejadian penculikan juga kekerasan di depan matanya sendiri. Jantung berdetak sangat cepat, napasnya tak teratur dan menggenggam erat buku sampai kusut.
Teriakan dari Vano juga darah menyembur mengenai wajah dari tangan lelaki itu, sangat nyata hadir dalam ingatan. Ada ketakutan tersendiri dalam dirinya, terlebih saat tahu bagaimana saat papanya menghajar tanpa perasaan. Belum lagi perlakuan Vano padanya, memukul berulang kepala dengan sangat keras.
Pukulan itu yang mendasari Reno membenturkan kepala Vano berulang kali, begitu pula pukulan pada wajah dari seseorang dilihatnya menampar wajah Arga dengan sangat keras dari video terhubung. Sikap itulah yang menumbuhkan ketakutan tanpa bisa dikendalikan oleh Arga sekarang.
Meskipun terlihat tenang saat penculikan itu terjadi, namun Arga memiliki ketakutan akan sikap Vano juga gerombolannya. Berhasil mengatasi rasa takut demi membebaskan diri, namun tak berhasil mengatasi rasa takut ketika dia seorang diri dan teringat setiap kejadian mengancam nyawa. Bahkan kalimat tak harus didengar anak seusianya, tengiang sangat jelas di telinga.
****
Pagi hari, Arga terbangun dari tidur dan melihat kedua orang tuanya di atas ranjang sama. Mereka masuk kamar dua jam setelah Arga masuk dan memejamkan kedua mata. "Kenapa mereka di sini?" ucapnya lirih, melihat ke samping kanan juga kiri.
"Kamu mau ke mana?" tegur Reno merasakan pergerakan dari ranjang dan langsung membuka mata.
"Aku akan mandi dan ke sekolah," jawab bocah memang berusaha turun dari ranjang.
"Tidak. Hari ini kita akan pergi berlibur," ucap Reno. "Papa sudah mempersiapkan semuanya, pagi ini kita berangkat."
"Baiklah," singkat Arga. "Aku akan mencuci muka sebentar."
__ADS_1
Reno sengaja mengatur perjalanan dengan istri juga anaknya, demi membuat keduanya melupakan apa sudah terjadi. Walaupun tak menjamin untuk hal itu berhasil, tapi Reno akan berusaha sebaik mungkin agar tak ada ingatan membekas tentang kejadian yang membuatnya menyesal dan bodoh.