My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Tanpa Ampun


__ADS_3

Up satu ya, kalau up banyak di like bagian bab akhir aja.😁


Dering ponsel pada saku celana sebelah kanan, menghancurkan kebersamaan yang terjalin antara Reno dan Arga. Dilihatnya siapa yang menghubungi, Reno tetap berada di atas ranjang untuk menjawab. "Katakan!" perintahnya.


Seseorang menjelaskan niat menghubungi pada waktu tak seharusnya, ia pun meminta maaf. Tapi sebuah keadaan tak bisa menunggu hingga esok hari, memaksanya untuk menghubungi sekarang juga. Wajah tadi penuh bangga, kini berubah amarah. Reno mengakhiri panggilan dan memasukkan lagi dalam saku celana.


"Papa pergi dulu," ucapnya pada Arga.


"Kemana? Ini sudah malam," sahut bocah sedari tadi memperhatikan.


"Ada urusan penting, kamu cepat tidur." Reno meletakkan tangan di atas kepala putranya, senyum ia berikan.


Pergi tanpa penjelasan, Reno terlihat buru-buru. Ia tak mengambil jas di kamar Anita, langsung menuruni anak tangga dan pergi. Berjalan seraya melipat lengan kemeja sampai siku, lelaki tengah berkobar amarah dalam hati itu sudah disambut oleh beberapa anak buahnya di depan.


"Kalian berdua, berjagalah di sini!" perintah Reno pada dua pengawal.


"Baik, Tuan!" serentak keduanya menjawab.


Pintu mobil dibukakan, Reno segera masuk ke dalam. Sopir bersiap untuk mengantarkan Tuannya, langsung menancap gas menuju tempat di mana sudah ada seseorang menanti. Lisa juga ada dalam mobil itu, ia menyerahkan sebuah i-pad pada bosnya.


"Kurang ajar!" geram Reno, melihat foto-foto tersebar di internet.


Tulisan dalam foto itu semakin membuatnya naik pitam, ia melihat lagi beberapa foto dengan tulisan tidak jauh berbeda. Rahangnya mengerat, bersama tangan mengepal. I-pad sudah diletakkan pada jok samping tempatnya duduk, memerintahkan sopir menambah kecepatan.


"Sepertinya itu foto lama, Tuan. Orang-orang kita sedang melacaknya," kata perempuan berada di jok sama dengan Reno.

__ADS_1


"Jangan sampai Arga tahu tentang ini!" peringat Reno tegas.


"Baik, Tuan." Lisa mengangguk.


Apa yang tersebar di internet, pasti mempengaruhi Arga lebih banyak. Mentalnya pasti terpengaruh, entah kepribadian seperti apa yang akan membangunnya kelak.


Reno meraih ponselnya, menghubungi anak buah yang ada di rumah Anita untuk mengawasi putranya. Tak ada laptop yang terpaksa harus disita, atas ucapan dari Reno yang masih tersambung panggilan.


Meminta pada putranya untuk pindah ke kamar sang mama, Reno berkilah tentang Anita yang meminta sebelum ia tidur. Arga tak mempercayai apa diucapkan, tapi ia menuruti untuk pindah. Paling tidak, ia percaya jika ada maksud dari permintaannya.


...----------------...


Mobil yang membawa Reno berjalan dalam kecepatan tinggi, membawanya kilat ke sebuah tempat di mana ada seorang laki-laki terikat kedua tangan di atas. Bodyguard juga ada di sana, mengiringi langkah dari lelaki sudah bersungut-sungut.


"Lepas!" perintahnya, mengulurkan tangan kanan ke samping. Bodyguard yang ada, memberikan sebuah rantai pada Reno dan dililit pada tangan.


Tanpa aba-aba, hantaman keras diberikan oleh Reno sampai lelaki berwajah penuh darah itu tersungkur di tanah. Mendekati, lalu menarik kerah kaos yang dikenakan. Reno menahan kerah itu dengan tangan kiri, tangan kanan memukul berulang wajah sampai tak lagi berupa wajah.


Darah segar mengalir memenuhi wajah, tapi Reno belum juga terpuaskan. Ia kembali memukul lelaki sudah tak berdaya di bawahnya, kedua kaki lebar berada di kedua sisi pinggang. "Katakan, siapa yang menyuruhmu!" tegas Reno, tak akan menghabisi sebelum lelaki kurus di bawahnya membuka mulut.


"Saya tidak akan mengatakan apa pun!" masih terdengar sinis walau tanpa tenaga, meludah darah pada sepatu mengkilat Reno.


Tatapan mata berapi-api siap menghabisi, beralih ke sepatu hitam dikenakan. Sepatu mahal yang bahkan debu saja tak dibiarkan hinggap, kini justru ludah bercampur darah ada di atasnya yang jelas terlihat menjijikkan untuk seorang Tuan muda kerap menjaga kebersihan.


Reno mengangkat satu ujung bibir kanan, memukul kembali dengan sangat keras. Kepala belakang terbentur pada tanah, ditarik rambutnya oleh Reno dan menghantamkan berulang, sampai darah keluar dari kepala belakang, tapi Reno masih belum terpuaskan.

__ADS_1


Kedua mata sudah tak sanggup terbuka, namun lelaki telah dibayar sangat mahal oleh seseorang itu, masih enggan berterus terang. Sepatu bercampur darah dilepaskan, Reno memasukkan ke dalam mulut dan mendorongnya begitu kuat, sampai ujung menembus tenggorokan.


Sakit, itu terasa menyakitkan. Kedua tangan dan kaki meronta tak beraturan. Hendak meraih tubuh Tuan muda berekspresi datar, tangannya ditarik oleh pengawal dan menginjaknya di atas tanah, bersama kedua kaki tertahan oleh pengawal lain.


Rantai di tangan yang tak dipedulikan luka berbalut perban itu, dilepaskan olehnya. Reno mengayunkan keempat jari pada pengawal, dua pisau diberikan padanya. Seperti orang tengah memasukkan sedotan pada gelas air mineral, seperti itu pula Reno menancapkan kedua pisau bersamaan pada kedua mata.


Teriakan tertahan sangat kuat, tubuhnya menggeliat kesakitan. Tangan ingin memegang kedua mata, namun tidak sanggup dilakukan, karena dua pengawal masih saja menginjak telapak tangan hingga tak sanggup terangkat.


"Ikat dia! biarkan dia mati sendiri!" perintah Reno.


"Baik, Tuan!" bersamaan pria bertubuh besar menjawab.


Rantai besar berada dalam gudang usang, diraih oleh bodyguard. Tak lagi menggunakan tali seperti apa di awal, kini mengganti dengan rantai yang pasti sangat menyakitkan, ketika melingkar kuat pada pergelangan tangan.


Cairan kimia diberikan padanya, Reno menyiramkan pada wajah dan seketika suara kesakitan tertahan itu jauh lebih keras dan terdengar menyiksa. Tentu saja, cairan itu akan menambah rasa sakit dari setiap luka yang ada.


Namun Reno justru menikmati setiap kesakitan dirasakan olehnya. Pisau dibiarkan menancap pada mata, Reno mengambil satu pisau lagi dan menyayat setiap kulit pada tangan yang dipergunakan untuk menyebarkan foto.


Setiap luka, disiram cairan, terus begitu sampai lelaki terikat itu berharap jika nyawanya berakhir sekarang juga. Tak pernah tahu siapa yang dilawan, ia hanya menerima sejumlah uang untuk menyebarkan foto Anita.


Ya, foto Anita telah diedit menggunakan tubuh orang lain, menuliskan di internet jika dirinya sedang haus akan belaian. Ada harga tercantum di foto tersebut, menunjukkan jelas kalau Anita sedang menjual dirinya dengan begitu murahan.


Sekarang, foto yang tersebar telah berhasil diatasi, sebelum lebih banyak orang melihat. Walau itu bukan tubuh asli Anita, tetap saja wajah dipergunakan adalah wajahnya. Reno tak ingin untuk Anita dan Arga tahu, begitu pula kedua orang dari perempuan dicintainya.


Tangan sudah dipergunakan untuk mengedit dan menyebarluaskan, tak boleh lagi berfungsi. Meski jelas pada akhirnya ia akan tewas, namun kepuasan hati harus didapat oleh Reno dengan penyiksaan luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2