My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Menemani Arga Tidur


__ADS_3

Sejenak menikmati kebersamaan, merayakan hubungan baru saja terjalin dalam ikatan suci, dengan Tuhan sebagai saksi. Semua berkumpul untuk menikmati waktu dan santap malam, terdengar suara tawa juga canda tawa dari kedua keluarga.


Reno pun berhasil membuat semua pelayan di rumahnya terbelalak, karena Tuan muda yang tak pernah menyuguhkan senyum, kini justru tertawa lebar dalam raut wajah ceria. Bahagia terpancar jelas dari lelaki yang tak pernah ingin jauh dari sang istri, bahkan ia tak membiarkan untuk Anita memasukkan makanan ke dalam mulutnya sendiri.


Dalam suasana bahagia terlukis jelas bersama keakraban, waktu seolah lebih cepat berlalu. Sepertinya, baru tadi Reno memasuki rumah bersama putranya dan melangsungkan pernikahan, tapi sekarang sudah menunjukkan pukul 22.15 dan kebersamaan pun harus diakhiri tanpa kerelaan.


"Sudah malam, kami permisi dulu. Arga, kamu mau tidur di rumah nenek?" santun Divya.


"Tidak, Nek. Mungkin lain kali saja. Aku masih ada yang harus dikerjakan," jawab Arga.


"Tidak! sudah malam, waktunya kamu tidur. Besok kita tidak bekerja, semua dilakukan oleh Lisa. Papa tidak ingin kamu terus terjaga setiap hari," kata Reno menyela. "Tidak ada laptop, atau ponsel!"


Anita tersenyum bersama orang tua yang ada di ruang tengah, Arga memasang wajah pasrah. Sepertinya, Reno akan berubah menjadi sangat posesif mulai hari ini. Bukan hanya pada sang istri, tapi juga terhadap putra semata wayangnya. Dia tengah menunjukkan seperti apa seorang papa sebenarnya, dengan ketegasan yang jelas berbeda seperti dirinya menghadapi anak buah.


Divya dan Harish berpamitan sekali lagi, diantar sampai teras rumah oleh semua orang. Berat rasanya melepaskan Anita, anak yang baru saja bertemu setelah sekian lama. Namun, mau tidak mau tetap mereka harus melepaskan kembali, sekarang Anita telah menjadi milik suaminya.


Meminta Reno untuk menjaga cucu serta putrinya, Harish berurai air mata. Besar harapnya untuk Reno bisa membahagiakan, menegur dengan cara baik-baik ketika ada sebuah kesalahan diperbuat oleh putrinya. Ia pun berharap, tak akan pernah ada lagi air mata kesedihan yang terurai, dari kedua mata indah Anita.


Perempuan itu seketika memeluk papanya, berurai air mata sama. Reno mengusap lembut rambut sang istri, mengatakan tentang janji yang akan terus dipegang sebagai seorang laki-laki. Karena lelaki, yang dipegang adalah perkataan dengan tanggung jawab, bukan sekedar janji manis belaka.


Arga melihat air mata sang mama, namun kini sungguh berbeda dari apa sering ia lihat kala malam sunyi. Air mata kebahagiaan, yang pernah ditunjukkan atas prestasinya dulu, kini pun terlihat jauh lebih bahagia. Benar jika keluarga adalah segalanya, Arga melihat dengan kedua matanya sendiri. Tak akan pernah ada yang sanggup menggantikan arti keluarga.

__ADS_1


...----------------...


Harish dan Divya sudah pergi, Bobby dan Maira pun berpamitan istirahat. Orang-orang yang membantu pernikahan pun, telah lebih dulu pulang. Sekarang Arga bersama kedua orang tuanya dalam satu kamar sama. Reno ingin menemani putranya tidur, impian terbesar seorang ayah yang baru bisa ia wujudkan.


"Keluarlah, aku bukan anak kecil lagi. Laptop dan ponselku sudah papa bawa," malas Arga.


"Kami akan keluar saat kamu sudah tidur! kamu pikir, papa tidak mengerti kelicikan di otakmu?!" sahut Reno.


"Ya, baiklah. Aku tidur," pasrah Arga memejamkan kedua mata.


Mengapit putra mereka bersama, menghadap bocah yang berbaring dengan mata terpejam rapat. Anita tak mengusap kepala Arga, digantikan oleh Reno dengan lembut membantu putranya terlelap. Sungguh pemandangan yang bahkan dalam mimpi saja tak pernah Anita dapatkan.


Pakaian belum di ganti, keduanya langsung masuk ke kamar Arga tadi. Gaun Anita pun sanggup menunjukkan keindahan kulitnya, sesekali Reno mencuri pandang ke arahnya. Kedua mata Anita turut terpejam, memeluk putranya yang begitu cepat tertidur. Arga memang sangat cepat untuk mengarungi mimpi, ketika rambut dibelai lembut.


"Cinta kamu," bisik Anita lirih.


Reno tersenyum, mengangkat lebih tinggi dan memberikan kecupan hangat pada bibir. Anita mematikan lampu kamar, dibiarkan dua lampu di atas meja samping ranjang menyala. Ia membuka pintu dan keluar bersama suaminya, menuju kamar tak jauh dari kamar Arga.


"Ah, jadi seperti ini sebenarnya?" kata Reno, ketika sang istri membuka kancing kemeja atas dan menyusupkan tangan.


"Lebih dari ini," sahut Anita, menaikkan posisinya dalam gendongan dan langsung menikmati bibir suaminya.

__ADS_1


Langkah Reno terhenti meski belum sampai kamar, tak ingin untuknya menjatuhkan sang istri. Tangan kiri ia letakkan pada pinggang yang terus di dekatkan, tangan kanan memegang sisi wajah. Sedangkan Anita, harus bergelayut pada tengkuk dan berjinjit, supaya Reno tak terlalu membungkuk.


Beberapa langkah lagi mereka tiba di kamar, tak melepaskan bibir dan berjalan menuju pintu. Reno menekan handle, membimbing istrinya untuk masuk ke dalam. Di balik pintu, Reno tetap menikmati bibir sang istri dengan tangan kiri mengunci pintu dari dalam.


Kehangatan usai pernikahan, mereka nikmati bersama hasrat yang tersalur semakin menggila. Malam sudah pernah dilalui tanpa pernikahan sepuluh tahun lalu, sekarang dilakukan kembali dengan kesadaran bersama dan menambah kenikmatan tersendiri.


Hubungan itu, memang jauh lebih nikmat dan menyenangkan ketika dilakukan usai ikatan suci pernikahan. Tanpa ada ketakutan untuk sebuah kehamilan, atau pun dosa. Sungguh berbeda dengan hubungan yang dilakukan sebelum pernikahan, di mana tanggung jawab belum ada kepastian. Di mana pernikahan, hanya sebatas janji palsu tanpa pembuktian.


Jangan pernah sekalipun mencoba hubungan yang lebih pantas dilakukan oleh suami istri, sebelum ada cincin melingkar di jari atas jalinan suci di depan Tuhan juga para saksi. Berakhiran i, pasti tak sesuai ekspetasi. Hahaha! takutnya ada anak dibawah umur, atau jomblo mengenaskan yang akan semakin mengenaskan. Colek adik saya, Nadya. Harap di skip bagian kissing, takutnya dinding Anda kissing dan jadinya lipsing (buka mulut saja kesakitan). Hahaha!


Bukan Anita yang terkejut untuk malam ini, melainkan Reno. Dia tak menyangka jika perempuan baru dijadikan kekasih sahnya, justru bisa bertingkah agresif yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kehebatan yang diumbar sedari tadi, dipatahkan seketika oleh perempuan yang sendirinya tak tahu, dari mana keberanian itu berasal.


"Sudah lama memendamnya?" goda Reno dengan napas terengah.


Wajah Anita memerah, dia menarik selimut dan mendekap depan dada lalu memunggungi suaminya. Reno tersenyum sangat lebar, tenaga sudah terkuras ia kumpulkan dan memeluk dari belakang. "Ah, wajah cantik istriku berubah jadi rambut sekarang."


"Malu, jangan melihatku sekarang." Anita berucap lirih.


"Kenapa malu? aku menyukainya, dan aku juga pasti akan selalu menginginkannya. My sexy wife!" sahut Reno langsung mengecup punggung sang istri lembut.


"I love you, Anita. Really love you," imbuhnya dan kembali mengecup punggung istri yang langsung ia dekap kembali dengan erat, walau peluh masih membasahi tubuh keduanya.

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, dan vote "kalau mau".


__ADS_2