My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Bersama Menjaganya


__ADS_3

Kedua matanya jeli mengamati layar laptop, kemampuan Arga dalam bidang komputer sanggup menyusup semua data walau tersembunyi dengan baik. Ia sangat tenang menjalankan rencana, ada Reno bersama kekuasaannya yang melindungi.


Orang-orang kepercayaan Reno yang ahli dalam bidang sama pun, turut bekerja malam ini. Semua demi membalaskan dendam sepuluh tahun lalu, pada orang-orang tak memiliki hati atau rasa terima kasih.


Apa telah dilakukan, harus mendapat balasan lebih kejam. Terlebih, Reno sudah merasa tertipu akan malam yang ia nikmati bersama wanita telah dibeli dengan harga sangat mahal. Dia hanya tahu jika Anita seorang perempuan tengah membutuhkan uang, dan Vano adalah orang yang menjual jasa perantara.


Nyatanya, semua tidaklah benar. Melalui Arga ia tahu segalanya, dan Arga mengetahui dari pencariannya bersama Rian. Tak ada yang luput dari kejelian Arga, semua diurutkan dari Vano hingga menemukan sosok Rara.


Kecerdasan dan kuasa yang bekerja sama, dipastikan sanggup melumpuhkan banyak orang melalui ujung jari. Arga sangat menikmati hal itu, jalannya terasa lebih mudah ketika Reno membantu bersama pengaruhnya.


Sementara Arga bekerja sama, Reno pun tak henti memantau anak buahnya dari ponsel pribadi. Lisa tentu saja masih membantu untuk menjadi mata kedua bagi Reno. Hingga Anita kembali dari berganti pakaian, Reno masih tetap saling berhubungan dengan orang-orangnya.


Dia mematikan ponsel ketika Anita menaiki ranjang, bersikap tak ada apa-apa. "Kamu mandi?" tanya Reno, merasa kepergian Anita sangat lama.


"Tidak, aku hanya membersihkan wajah. Kenapa memang?" sahut Anita, meraih bantal untuk ia tempati


"Baumu harum, kamu menggunakan parfum lebih dulu sebelum tidur denganku?" tanya Reno, mencium aroma harum ketika Anita tiba.


Anita meraih selimut, tidur memunggungi. Wajah tak hentinya bersemu malam ini, ia sembunyikan dengan rapi tanpa ingin untuk digoda terus-terusan. Reno tersenyum, dia mendekatkan posisi.


"Istriku," ucapnya menarik perut Anita dekat, lalu memindahkan tangan berada di antara dada benda kenyal Anita.


"Jangan menurunkannya! atau aku akan memainkan itu!" ancam Reno, tangan hendak diturunkan dari posisi ternyaman.


"Kamu mendengarnya? aku memanggilmu istriku, tapi kenapa aku sangat jijik?" ucap lelaki memang sungguh geli akan panggilan diberikan.


Anita tersenyum lebar, dia pun merasakan hal sama. "Kamu?" tanya Anita menyadari betul panggilan baru selain kau.

__ADS_1


"Itu hanya untuk orang yang aku cintai," jawab Reno menyusupkan wajah pada tengkuk Anita.


Napas terasa hangat di balik tengkuk, debaran jantung pun sanggup dirasakan oleh Anita. Bahkan sesuatu yang mulai menunjukkan kenakalan, sanggup ia rasakan di balik tubuh. Anita tidak berani bergerak, atau itu akan lebih gila menunjukkan kehebatannya bergejolak.


"Bisakah kamu mundur? aku tidak bisa bernapas," lirih Anita.


"Kalau aku mundur, yang bawah akan maju sendiri. Jadi diam dan tidurlah, sebelum aku hilang kendali dan diperintah olehnya!" sahut lelaki sangat kuat menahan diri.


"Tidur, Anita! atau semua akan berbeda," ucapnya menasehati diri.


Kedua mata belum terasa mengantuk, dipejamkan paksa oleh Anita. Sebelum apa yang tak harus terjadi, justru terjadi tanpa ada yang sanggup mengendalikan diri.


Begitu kuat Reno menahan keinginan semakin menambah suhu dalam tubuh, darah pun memanas seketika, siap memusingkan kepalanya malam ini.


Melihat ketakutan Anita ketika dirinya memaksa, Reno tak ingin mengulangi hal itu. Apa yang diinginkan, harus diinginkan oleh Anita juga. Dia rela untuk menantikan, tanpa ingin lagi membuat perempuan telah mengusik kehidupannya itu, merasa takut atau bahkan benci.


"Aku akan membuat sebuah pesta untuk Arga besok," ucap Reno.


"Perusahaan yang dia pegang, sudah memiliki kemajuan luar biasa. Ini belum sebulan, tapi Arga sudah hampir bisa mengembalikan keadaan seperti awal. Aku akan memberikannya perusahaan itu," terang Reno. "Semua orang harus mengenalnya,"


"Tapi Arga masih kecil," kata Anita.


"Ya, tapi dia putraku. Dia akan menguasai dunia melebihi aku. Dan itu dimulai besok," yakin lelaki telah memerintahkan pemindahan nama perusahaan pada pengacara pribadi.


"Aku harap, besok kamu akan tampil sangat cantik untuk menemaniku. Aku juga akan mengumumkan pernikahan kita," tambah Reno.


Kini Anita menoleh. "Aku tidak ingin, jangan menunjukkan wajahku sebelum aku bertemu orang tuaku. Aku akan menyetujui pernikahan ini, kalau orang tuaku sudah memaafkan ku." Anita terlihat pilu.

__ADS_1


"Aku mengerti, percayalah padaku juga putra kita. Jangan banyak berpikir, apa lagi menangis. Semua akan baik-baik saja," kata Reno meyakinkan.


Anita mengangguk, entah kenapa ia mempercayai setiap kata itu. Dia memang tak ingin untuk terlihat, seakan itu adalah penghinaan untuk kedua orang tuanya. Anita baru akan melangsungkan pernikahan, jika maaf sudah diberikan.


Kebahagiaan yang dirasakan, tak ingin untuknya merasakan sendiri. Harus ada orang tua bersama restunya, yang akan membuat hidupnya jauh lebih mudah. Tanpa restu orang tua, kehidupan bukanlah seperti kehidupan, melainkan neraka dengan batu besar menghalangi setiap langkah.


...----------------...


Beberapa jam berlalu, Anita sudah terlelap dan mengarungi mimpi indah dalam dekapan hangat Reno. Dekapan yang sanggup membuatnya merasakan kenyamanan tak pernah ia rasakan.


Benar jika seorang perempuan sanggup berdiri di atas kaki sendiri, benar juga jika seorang perempuan bisa melawan banyak hal dalam kehidupan, namun benar pula jika perempuan itu membutuhkan sandaran.


Sekuat-kuatnya perempuan, terkadang ia ingin menangis dalam dekapan lelaki yang sanggup membuatnya nyaman dan terlindungi. itu pun dirasakan oleh Anita ketika diri merasa lelah bersama hati dan pikiran.


Pergi ke kamar arah, bocah itu masih terjaga di depan laptop. Reno duduk di sampingnya, menepuk lirih pundak Arga lalu menatap layar sama. "Bagaimana?" tanya Reno, walau sudah mendapat laporan dari anak buahnya.


Arga mengacungkan ibu jari. "Kita lihat besok kehancuran mereka," jawab Arga.


Bangga terlihat jelas dari wajah lelaki mengulurkan tangan untuk high five, diterima oleh Arga. "Tidurlah, ini sudah malam. Sisanya biar aku yang melanjutkan!" ucap Reno.


"Thank's for everything," senyum Arga, dibalas senyum serta tepukan pada pundak.


"Jangan menyakiti mama, bisakah? aku tidak ingin melihatnya bersedih," pinta Arga berkaca-kaca.


"Tenanglah, aku mencintainya. Aku akan berusaha sebaik mungkin," jawab Reno penuh kelembutan. "Terima kasih, kamu sudah menjaganya selama ini. Sekarang, kita yang akan melakukannya."


"Hm," singkat Arga, memeluk lelaki di sampingnya.

__ADS_1


Pelukan untuk pertama kali antara ayah dan anak, mengurai air mata bahagia keduanya. Reno tak bisa lagi mewakilkan semua perasaannya lewat kata, tentang seberapa bahagia dan bangga dirinya sekarang.


Ya, dia dan Arga akan sama-sama menjaga Anita dari semua orang yang ingin berbuat jahat padanya. Menjadikan kebahagiaan Anita sebagai tujuan bersama, Reno pun meletakkan kebahagiaan Arga di tempat sama untuk ia prioritaskan.


__ADS_2