My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Manja


__ADS_3

Arga mengarahkan harus ke mana mobil dilajukan, dituruti oleh Reno yang memang sengaja tak mengaktifkan GPS agar selalu ada pembicaraan bersama putranya. Tiba di tempat makan tak bisa dibilang mewah, Reno turun bersama Arga seraya mengamati sekeliling.


"Kamu yakin mau makan di sini?" ragu Reno.


"Mama ada di dalam," sahut Arga, seketika berbinar kedua mata lelaki tadi memutar mata menunjukkan ekspresi tak yakin.


"Benarkah?! Kalau begitu, tunggu apa lagi?!" bergegas Reno merangkul putranya. "Ah, kenapa dia datang jauh-jauh? Aku tidak memintanya. Apa dia sangat mencintaiku?"


"Mama datang karena aku yang meminta. Lagi pula, ini tidak jauh dari toko kue," sahut Arga segera didorong oleh papanya.


"Tidak bisakah membiarkanku bahagia sebentar?!" protesnya. "Biarkan aku membayangkan sendiri, kenapa kamu harus meluruskan?!"


Arga tersenyum, berjalan meninggalkan papanya. Reno masih mengomel sendiri, berlari mengejar anaknya dan merangkul kembali. Sudah melayang tinggi dengan angan membahagiakan, tapi didorong oleh putranya sendiri hingga terhempas ke dasar jurang.


Anita memang datang, tempat makan itu sangat dekat dengan toko kue dan ia hanya cukup berjalan kaki saja. Niat awal tak ke luar rumah, namun akhirnya ia merasa jenuh dan pergi ke toko kue seperti apa dikatakan melalui panggilan telepon dengan suaminya, usai lelaki itu pergi sekitar satu jam.


Duduk di sebuah alas busa waena coklat, lalu berdiri ketika melihat putranya. Makanan sudah terhidang di sana, Lisa menghubungi Anita agar tak memesan lagi. Menghubungi ketika ingin menanyakan makanan apa disukai oleh Arga, namun justru Anita mengatakan jika dirinya juga akan ke tempat sama.


"Sayang!" tegur Reno bertingkah seperti anak kecil, berjalan cepat meninggalkan putranya dan langsung bersimpuh memajukan wajah.


"Apa?"sahut Anita memundurkan kepala.


"Cium! Sudah seperti ini, artinya minta cium bukan minta dipukul! Apa kamu tidak mengerti hal itu? Berapa tahun kamu tidak mengenal laki-laki sebenarnya?" tutur Reno.


"Kalau aku mengenal laki-laki sebelum hari ini, mungkin dia sudah ada di rumah sakit karena kamu hajar. Jangan macam-macam, kita ditempat umum. Lagi pula ada Arga," sahut Anita.

__ADS_1


Bibir dimajukan kesal oleh Reno, menarik tengkuk Anita dan mencium bibir. Tak peduli akan tempat umum atau putranya, mereka harus memaklumi seseorang yang sedang dilanda asmara. Kalau protes, ya berarti mereka tidak pernah jatuh cinta. Semudah itu jalan pikir Reno untuk memutuskan kilat mencium sang istri.


"Kamu akan menjadi penjaga di sana?! Sini!" tegur Reno pada bocah sengaja memunggungi.


Anita mengernyitkan kedua alis, sikap Reno yang sesuka hati harus membuatnya beradaptasi lebih baik dari apa pernah dipikirkan. Lelaki dengan senyum terpasang juga kepala bersandar pada pundak itu, bahkan tak segan untuk memainkan ujung rambut dengan tingkah manja.


"Pa, hentikan itu. Apa papa tidak malu? Bagaimana kalau ada karyawan atau relasi bisnis papa melihat ini?" tegur Arga mengingatkan.


"Kamu pikir, mereka akan makan di tempat seperti ini? Mereka punya gaya hidup luar biasa, berbeda denganku yang sangat rendah hati. Padahal aku seorang pemimpin," bangga Reno.


Anita dan Arga menunjukkan ekspresi sama, membuka mulut lebar dengan tatapan tak percaya.


"Bukankah tadi sangat ragu untuk masuk?" santai bocah tengah melihat apa tersaji di atas meja.


"Diam!" singkat Reno.


Masakan sederhana yang memiliki kemewahan rasa, itu adalah masakan sering dinikmati oleh Anita bersama kedua orang tuanya dulu.


Dia datang untuk mengenang masa di mana kebersamaan terjalin, namun Arga justru menyukai suasana dan tempat disuguhkan bersama cita rasa masakan cocok di lidahnya.


"Cuci tangan dulu," ucap Anita pada suaminya.


"Tidak mau! Itu sudah disentuh banyak tangan, dan itu tidak bersih sama sekali. Kita tidak tahu berapa banyak kuman yang menempel di sana!" jawab Reno, memiliki tingkat kebersihan pada setiap hal paling kecil dalam hidupnya. "Suapi aku!"


"Arga saja makan sendiri, apa kamu tidak malu minta disuapi?" sahut Anita.

__ADS_1


"Karena aku bukan Arga! Aku suamimu, lelaki yang harus kamu manjakan setiap waktu, lelaki yang akan memberikan banyak keturunan setiap malam!" ucap Reno.


"Diam saja, kamu benar-benar tidak tahu malu. Lagi pula, aku yang memberikan keturunan, aku yang melahirkan nanti!" jawab Anita.


"Kamu tidak bisa berpikir? aku yang menyumbangkan semua! kalau aku tidak ada, bagaimana bisa ada anak? apa pakai botol kecap?" tutur Reno tak ingin kalah.


"Sudahlah, kamu mau makan apa?" pungkas Anita.


"Coba dulu semuanya, baru aku mau makan. Siapa tahu ini membuatku sakit perut," ucap Reno mengarahkan mata pada makanan. Anita menghela napas, menatap ke arah suaminya.


"Lalu, apa kamu akan membiarkanku sakit lebih dulu? Itukah suami?" tanya Anita.


"Paling tidak ada yang menggendongmu kalau sakit, kalau aku yang sakit memangnya kamu mau menggendongku?" santai Reno.


Pasrah dan mengambil garpu untuk mengambil sedikit makanan lalu di coba, Reno mengamati istrinya dan menunggu sampai ada reaksi lebih dulu sebelum makanan masuk ke dalam mulutnya. "Bagaimana? kamu keracunan?"


"Tidak! ini sangat enak!" ketus Anita.


"Jangan berteriak, aku tidak tuli!" tegas Reno.


Mengomel dan mengambilkan makan untuk suaminya, Anita benar-benar jengkel dengan lelaki yang harus diakui sebagai suami juga ayah dari putranya. Untung saja, Arga tak menuruni watak itu. Kalau tidak, Anita sudah gila dari awal.


Semua harus dicoba, bahkan sendok yang akan digunakan pun harus dibersihkan kembali bersama alat makan lain. Arga memperhatikan sikap papanya, mendengar setiap pembicaraan dan untungnya tak mendengar bagian keturunan karena sedang mencuci tangan.


Lagi pula, Anita menekan suara untuk tak sampai terdengar. Tapi suaminya, tidak seperti itu. Kadang bertanya, ke mana perginya lelaki angkuh yang duduk di balik meja kerja dan menawarkan perjanjian. Di mana lelaki angkuh yang sempat menghempaskan ya ke atas tempat tidur dalam kemarahan.

__ADS_1


Sepertinya, itu telah hilang dan berubah bagaikan langit dan bumi. Tak lagi pernah terlihat semenjak tadi malam selain sikap manja ditunjukkan dengan terus mengusap setiap bagian tubuh Anita. Bahkan, ia menyukai untuk memegang dada dan bermain di sana tanpa ingin diberhentikan.


Tentu saja, Anita merasa sangat risih dan panas merasakan tangan suaminya bertingkah sesuka hati, tapi untuk melarang dia tak memiliki banyak keberanian. Anita memahami, lelaki yang ditegur ketika bertingkah manja, ditolak saat menginginkan, dan dihempaskan tangan dari tempat yang membuatnya nyaman, akan menunjukkan sikap acuh dikemudian hari dan tak akan pernah menunjukkan sikap manja yang sama.


__ADS_2