My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Tak Sanggup Membayangkan


__ADS_3

Kembali ke rumah dengan membawa putranya dalam keadaan selamat, Reno melihat sang istri berdiri cemas di teras rumah dan segera berlari begitu melihat mobilnya tiba. Membuka pintu sebelum dibukakan oleh bodyguard, meraih tubuh putranya dan langsungb memeluk, mengecup seluruh wajah Arga dalam rasa tak percaya jika ia akan bisa melihat wajah putranya lagi.


“Kamu tidak terluka? Bagian mana yang kamu rasakan sakit?” tanya Anita melihat tiap bagian putranya dan memutar tubuhnya. Menelisik dari atas sampai bawah dan mengulanginya lagi.


“Aku baik-baik saja, Ma. Ada om Rian yang membantuku,” sahut Arga. “Jangan cemas seperti ini, tidak akan baik untuk kesehatan mama.”


“Bagaimana bisa mama tidak cemas?! Mama sudah hampir meninggal karena mendengarmu di culik!” tegas Anita.


“Sudah, jangan memarahinya,” kata Reno baru turun dari kendaraan.


“Mama menyayangimu, Arga. Mama tidak ingin terjadi apa-apa padamu, akan lebih baik kalau mama yang terluka, asal itu bukan kamu, Sayang.” Anita memeluk putranya.


Reno menghela napas, memajukan bibir karena merasa ucapannya tak di dengarkan oleh sang istri. Anita merangkul Arga dan masuk ke dalam, seakan memang ia tak melihat adanya lelaki tinggi yang berdiri di sampingnya juga Arga tadi.


“Apa kalian akan mengacuhkanku seperti ini?!” teriak Reno tak terima. “Aku tidak mengerti bagaimana cara mereka menghormati seorang Tuan muda sepertiku!”


Mendengus kesal tapi tak ada yang menoleh, Reno berjalan sendiri menyusul ke dalam rumah. Anita melepaskan kacamata juga tas putranya, meminta pelayan untuk mengambilkan minum juga makan. Duduk menghadap putranya, Anita masih belum bisa untuk lega setelah jantung hampir terlepas mendengar kabar tak pernah disangka sama sekali.


“Anita, aku terluka! Lihatlah tanganku ini!” ucap Reno menunjukkan tangan kanan sempat tergores sewaktu membantu Arga melepaskan tali.


“Kenapa kamu tidak mengabari mama kalau sudah pulang?! Kamu ingin membuat mama sangat cemas?!” tegur Anita pada putranya, melongo Reno seketika.


“Papa tidak mengizinkanku untuk menghubungi mama, katanya pulsa sangat mahal dan sebentar lagi juga akan ketemu.” Arga mengatakan apa diucapkan papanya dalam rasa kesal.


“He! Apa kamu akan mengatakan hal itu sekarang?!” protes Reno.


“Kamu melarangnya?! Apa kamu tidak tahu kalau aku hampir mati memikirkan Arga di rumah?!” melotot perempuan itu pada suaminya.


“Sudahlah terserah pada kalian saja,” pasrah Reno dan duduk malas.


Menggerutu lirih karena dirinya bahkan diacuhkan, Reno melepaskan jas serta dasi sembari melirik keduanya kesal. “Aku yang bekerja keras, kenapa tidak dianggap? Apa mereka tidak tahu aku menggunakan kecepatan berapa tadi? Mereka juga tidak peduli apa tanganku sakit atau tidak,” ucap Reno pelan.


Pelayan yang diminta mengambilkan makan serta minum untuk Arga, akhirnya datang dan langsung Anita meraih makanan lalu menyuapi putranya dengan tangan sendiri.


“Aku juga lapar,” memelas Reno.


"Aku akan menyiapkan setelah ini, atau kamu bisa mengambil di belakang. aku akan minta pelayan mengambilkannya,” sahut Anita.


“Apa aku anak tiri sekarang?!” teriaknya jengkel, lalu berdiri dan pergi. “Kau! Ambilkan aku makan dan letakkan di dapur! Aku akan makan di sana!” perintahnya tegas membuat pelayan ditunjuk ketakutan.


“Ba-baik, Tuan!” pelayan segera berlalu.

__ADS_1


Reno berjalan menyusuri rumah menuju dapur, sesekali menoleh untuk melihat apakah sepasang ibu dan anak itu akan mencegahnya atau tidak. Namun rupanya mereka tidak mencegah atau melihat kepergiannya sama sekali, kecuali Arga yang terlihat memahat senyum.


Reno menendang kursi ruang makan ketika melewati, agar memancing perhatian tapi juga tidak berguna. Dia benar-benar makan di dapur dan membuat takut semua pekerja yang ada di sana. Semua mendapat amarah, tak ada yang boleh pergi dan terus saja menyalahkan hanya karena makanan tidak di susun seperti keinginan.


“Kalian tahu berapa takaran air putih untukku?!” bentak Reno, menatap tajam semua pelayan.


“Ma-maafkan kami, Tuan. Kami akan menggantinya,” sahut salah satu pekerja rumah.


“Siapa yang menyusun makanan di piring ini?! Kau tidak tahu di mana letak garpu dan sendok?!” protesnya mendorong piring sudah di depan mata.


Terus saja Tuan muda itu memprotes, bahkan letak dari kompor tanam yang selama ini tak pernah bergeser pun ia protes karena tak nyaman untuk dilihat. Semua tata letak dapur menjadi salah, pelayan harus mengubah semuanya.


Tidak lama sampai Anita ke belakang karena Arga hanya makan sedikit, dia membawa piring dan melihat suaminya di sana. Meminta pelayan untuk ke luar, dia melihat beberapa gelas air minum juga makanan di atas meja dapur tak tersentuh.


Mendekati Reno dan memeluknya dari belakang, Anita mencium sisi wajah lelaki yang enggan untuk menoleh ke arahnya. “Terima kasih banyak,” ucap Anita.


Reno bergeming, dia mengacak-acak makanan di pinring tanpa punya selera untuk memasukkan ke dalam mulut. Anita tersenyum, mencium tengkuk suaminya lalu duduk pada kursi tadi diambilkan oleh pelayan.


“Kamu marah?” tanya Anita.


“Menurutmu?! Apa aku sedang tertawa bahagia sekarang?!” ketus Reno.


Anita kembali tersenyum, ia tak berniat mengacuhkan suaminya. Anita melihat semua apa terekam di kacamata Arga dan dihubungkan pada ponselnya oleh bocah yang memilih makan sendiri barusan. “Aku hanya terlalu bahagia melihat Arga, bukan ingin mengacuhkanmu. Jangan marah seperti ini,” ucap Anita lembut.


“Hehehe, aku hanya ingin menggodamu setelah emosi pada Vano. Aku tahu kamu menghajarnya,” cengengesan Anita.


“Tidak masuk akal! Jangan membuat alasan apa pun!” melotot Reno.


Anita diam, namun bibir mengukir senyum. Dia sudah tahu kalau Arga selamat, mengetahui semua dilakukan oleh suaminya dari Rian dan langsung ke luar rumah tanpa sabar menantikan. Walau tak benar-benar lega setelah melihat Arga, namun ia tak menampik jika bahagia bisa melihat keduanya kembali tanpa luka sedikit pun.


Itu memang hanya alasan untuk berkata menggoda, karena Anita memang tak bisa lepas dari Arga dan ingin bersamanya. Telinga tak benar-benar mendengar setiap perkataan dari Reno, seolah semua telah tertutup dan hanya fokus pada putranya saja.


“Aku tidak berniat mengacuhkanmu, tapi aku hanya seorang ibu yang terlalu bahagia juga tidak percaya saat melihat anaknya lepas dari bahaya. Aku tidak benar-benar mendengar setiap apa yang kamu katakan, maafkan aku. Jangan marah seperti ini,” jujur Anita.


“Aku sudah mendengar semua dari Rian tentang apa yang kamu lakukan. Aku sangat berterima kasih karena kamu sudah menjaga anak kita dengan sangat baik,” timpalnya.


Reno menoleh, dia pernah merasakan seperti itu. Dia pernah merasakan tuli terhadap suara sekitar, ketika ia mendengar kabar Arga diculik dari orangnya. Semua dikatakan oleh Lisa dalam perjalanan pun tak terdengar karena pikiran hanya fokus pada Arga dan bagaimana keadaannya.


Meraih istrinya dekat lalu memeluk, Reno memahami apa dirasakan oleh perempuan memang menunjukkan kecemasan saat dirinya tiba. Terlebih, Anita adalah seseorang yang telah melahirkan Arga ke dunia. Jika ia bisa merasakan hancur dan cemas bukan main saat tahu putranya dibawa oleh beberapa orang, apa lagi Anita.


“Apa kamu sudah hamil?” tanya Reno, dilepaskan pelukan oleh Anita cepat.

__ADS_1


“Aku membicarakan apa, dan kamu membahas tentang apa!” protes Anita.


“Hamil lah secepat mungkin, aku ingin menjadi ayah sebenarnya. Minta aku untuk membelikan apa pun dan siksa aku! Kamu tahu kalau aku bermimpi untuk hal itu!” kata Reno.


“Kita buat setelah ini, aku ingin secepatnya!” susulnya.


“Kamu pikir anak itu donat, yang kamu buat sekarang dan menunggu sebentar lagi lalu bisa mengembang dan jadi?!” kata Anita.


“Perutmu tidak mengembang, padahal aku sudah sering menambahkan adonan.” Reno berucap santai, dipukul pundaknya keras oleh sang istri karena jengkel.


“Jaga bicaramu, Arga akan mendengar hal itu nanti!” tegas Anita.


“Kenapa?! Itu kenyataannya. Aku memberikan adonan setiap pagi dan malam, tapi perutmu belum mengembang juga.” Reno tak ingin kalah.


“Bagaimana bisa mengembang, kalau adonannya terlalu banyak dan tempatnya sangat kecil. Yang ada tumpah semua,” gumam Anita, tertawa lelaki di sampingnya memukul lengan keras sampai membulat kedua mata terkejut.


“Hahaha, kamu sudah gila?! Bagaimana bisa kamu mengatakan hal itu dengan mudah?!” tawa Reno.


“Arga! Kemari lah dan dengarkan apa yang mama mu katakan!” teriaknya, dibungkam oleh perempuan sempat mengusap lengan terasa panas.


“Kenapa suka sekali membungkam seperti ini?!” protes Reno mengalihkan tangan. “Itu bau!”


“Tanganku tidak bau, kenapa kamu selalu mengatakan kalau tanganku bau?! Itu bau mulutmu sendiri!” kata Anita tak suka.


“Bagaimana mungkin mulutku bau?! Aku ke dokter gigi rutin! Tanganmu yang suka memasak itu yang bau! Coba kamu memaska untukku dan bukan untuk Arga saja, itu tidak akan bau!” tegas Reno.


“Hahaha, apa kamu sedang protes sekarang?” tawa Anita menyadari.


“Tentu saja! Aku suami mu, dan kamu membuatkan ku makanan bisa dihitung dengan gigi!” ucap Reno.


“Dengan jari!” kata Anita meluruskan. “Aku akan membuatkan makanan untuk suamiku tercinta malam ini.”


“Benarkah?!” berbinar Reno.


“Tentu! Tumis paku payung untuk suamiku yang berotot besar! Hahaha!” pergi Anita dari seketika.


“HE!” menggelegar suara Reno. “Kenapa dia jadi gila?!”


Meskipun teriakan dilakukan pada istri yang langsung berlari pergi, namun Reno senang karena itu adalah warna terindah dari Tuhan untuk hidupnya. Entah apa yang akan ia dapat ketika Anita tadi langsung pergi tak menghubungi dirinya, Reno tak sanggup untuk membayangkan dan terlalu takut untuk memulai. Karena di rumah itu, niat lain Vano pada Anita lebih dari sebelumnya.


Anak buah Reno membawa beberapa orang berada di sana, niat Vano adalah meminta agar semua orang itu membawa Anita setelah mengancam untuk menodai, sengaja tak menunjukkan lokasi karena tak ingin untuk Anita menunjukkan pada orang lain dengan berkhianat.

__ADS_1


Pernikahan nyatanya sudah dipersiapkan di tempat Arga di sekap, lalu akan membuang bocah sudah dihabisi lebih dulu. Semua orang itu juga dipersiapkan untuk menggilir Anita ketika penolakan diberikan untuk sebuah pernikahan. Vano tidak ingin ada Arga, ia hanya ingin ada dirinya juga Anita dalam pernikahan itu.


Semua didengar jelas oleh Reno dari Rara yang telah menghubungi Lisa. Mengetahui semuanya, perempuan yang tak rela untuk Vano bersatu dengan Anita itu membuka rencana ia dengar. Tentu itu juga menjadi alasan untuk Reno ingin menghabisi Vano tanpa sisa jika saja Arga tak mencegahnya tadi.


__ADS_2