My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Keinginan Arga


__ADS_3

"Sudahlah, papa mau tidur lagi!" kata Reno, menghabiskan kopinya dan berdiri.


"Bukannya baru bangun?" santai Arga bertanya, dibalas senyum oleh lelaki yang memang hanya tidur sebentar. "Sebentar lagi aku pergi, ada janji dengan om Rian. Aku sudah izin mama kemarin," tambah Arga.


"Tidak! kamu harus tetap di rumah!" berubah tegas nan serius wajah Reno. "Kalau sampai kamu berani keluar, jangan harap bisa masuk rumah ini lagi!"


"Aku tidak suka diancam. Lagi pula, aku bisa tinggal di rumahku nanti." Arga berpaling, mulai membuka laptop dan menggunakan earphone dengan lagu ia putar kencang.


Reno terlihat geram, kedua tangannya mengepal. Ia tak suka bantahan, dari siapapun itu. Menarik paksa earphone dari telinga putranya, Reno melemparkan ke atas lantai. "Jangan membangkang!" kilatan amarah terlihat jelas dari kedua matanya, Arga melihat ke lantai di mana earphone warna hitam miliknya terhempas.


"Aku tidak membangkang, tapi aku tahu apa yang aku lakukan." Arga beranjak dari duduk. "Tidak ada satupun orang yang bisa menghentikan ku."


Berjalan keluar dari rumah, meninggalkan laptopnya di atas sofa. Arga tak menyukai ketika dirinya harus diancam, oleh siapapun juga. Reno semakin terlihat marah, kepalan tangan sangat kuat di kedua sisi tubuh. Kepala pelayan yang mendengar keributan, menghampiri dan memegang pundak Tuannya.


"Bukankah, Tuan muda Arga mirip dengan Anda, Tuan? Kalian berdua tidak menyukai ancaman juga aturan, akan semakin menjadi ketika ada yang melarang. Bukan begitu, Tuan?" ucap kepala pelayan, Reno menoleh pada seseorang tengah menunjukkan senyum pada wajah ditumbuhi beberapa keriput.


"Batu dengan batu ketika saling menghantam, bisa menimbulkan kehancuran. Cobalah menjadi air," ucap kepala pelayan.


"Maksudmu, aku batu?!" tekan Reno, wanita memegang tongkat di depannya tersenyum. "Ah, menjengkelkan!"


"Aku akan melihat Anita di kamar, bilang padanya untuk menunggu kami sebelum pergi."


"Baik, Tuan."


Berpesan pada kepala pelayan lalu pergi, Reno tak ingin kalau sampai istrinya terbangun dan dirinya tak ada. Sudah pernah merasakan hal semacam itu dan menghilangkan kepercayaan diri, Reno tak ingin kalau Anita pun merasakan hal sama.


Terpikirkan tentang ucapan kepala pelayan, di mana Arga menyerupai dirinya. Ya, itu tak dipungkiri oleh Reno semenjak bertemu, batinnya pun sudah mengatakan hal serupa.


Mungkin dia salah telah mengancam, tapi sendirinya tak begitu memahami bagaimana cara menghadapi kerasnya Arga, yang begitu mirip dengannya. Ternyata, bukan hal mudah menjadi orang tua.

__ADS_1


Sedikit saja kesalahan, bisa membuat anak menjadi pemberontak. Sepertinya, Reno harus belajar tentang bagaimana cara menjadi orang tua yang baik untuk Arga.


Terlebih, jika diingat siapa Arga dan bagaimana perbedaan mencolok dirinya dengan anak-anak yang lain seusianya, bahkan tak bisa dibandingkan dengan orang dewasa.


Kepala pelayan melihat kepergian Reno, ingatan kembali pada masa lalu, di mana keras kepala Reno lah yang sanggup menjadikannya seperti sekarang ini. Pergi dari rumah karena merasa terabaikan oleh pekerjaan kedua orang tuanya, Reno nekat membangun bisnis dan hancur berulang kali.


Namun, itu tak membuatnya menyerah sama sekali. Hancur sekali, ia akan berusaha membangunnya kembali hingga puluhan kali. Tak pernah ada yang sanggup menghentikannya, termasuk ancaman orang tua tentang penghapusan nama dari daftar keluarga.


Sementara Reno menghampiri istrinya, di depan Arga duduk menatap rumput hijau tempatnya berpijak. "Aku bukan pembangkang, tapi papa yang belum bisa memahami ku." ucap Arga.


Tak sedikitpun berniat untuk jadi seorang pembangkang, Arga hanya ingin untuk dirinya bisa dipahami. Bukan anak bodoh yang bahkan tak bisa membedakan antara salah dan benar, mana yang harus dan tidak, Arga pun tak berharap untuk diatur berlebihan hingga ancaman keluar saat dirinya tak menuruti.


Seperti mamanya yang berusaha mengarahkan dengan kelembutan, menunjukkan banyak hal tentang resiko dan tanggung jawab, memiliki pengertian luar biasa padanya, Arga juga berharap hal sama dari papanya. Dia mendengarkan teguran, dia mencerna setiap perkataan, namun bukan bentakan.


...----------------...



...----------------...


Terpejam kedua mata bersama saliva ia telan pelan, ada penyesalan tersirat dalam pikiran. "Apa aku terlalu keras? aku hanya tidak ingin dia kenapa-kenapa. Bagaimana, kalau sampai orang tahu dia anakku?"


Reno berbicara dalam hati, sembari mengingat setiap apa pernah ia lakukan dan menyebabkan dirinya memiliki banyak sekali musuh. Tak ingin untuk Arga terluka, atau sekedar dimanfaatkan ketika tahu jika ia adalah putra kandung seorang pengusaha paling berpengaruh, Reno ingin supaya Arga tetap di rumah.


Walau pernikahan tersembunyi, namun ia tak bisa mengambil lebih banyak resiko tentang keselamatan dari anak juga istrinya. Memberikan pengawal pribadi untuk mereka, bukan sebuah hal mudah karena pastinya ditolak tanpa penjelasan.


Pusing kepalanya memikirkan istri dan anaknya—dua orang yang sangat susah dikendalikan, juga tak peduli akan kekuasaan serta kebesaran namanya. Terlebih, keduanya pernah berkata tak akan pernah tunduk pada harta atau kekuasaan yang bahkan tidak berguna untuk membangun sebuah hubungan keluarga.


"Ada apa? kenapa kamu melamun?" parau Anita, melihat ke arah suaminya.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun? apa masih sakit?" balas tanya Reno, mengarahkan lembut helaian rambut di wajah perempuan langsung memeluk.


"Hm," mengangguk Anita. Pukul lima tadi sudah terbangun, namun merasakan sakit pada perut bawah, pinggang juga kedua kakinya terasa kaku. Reno memintanya untuk tidur lagi, dengan tangan mengusap lembut pinggang sang istri usai membantunya mengenakan pakaian.


"Maaf, aku terlalu bersemangat." Reno menurunkan posisi, dan mengecup ujung kepala Anita.


Gelengan kepala diberikan, bersama senyum tipis oleh Anita. Tak perlu untuk minta maaf baginya, menganggap wajar ketika hasrat suaminya tak bisa dikendalikan hingga menginginkan dirinya berulang kali. "Di mana Arga?" tanya Anita.


"Ada di bawah, dia mencarimu tadi. Aku bilang masih tidur," sahut Reno. "Kami bertengkar."


"Ha?! kenapa?!" terkejut Anita mengangkat kepala dengan mata terbuka lebar.


"Arga ingin pergi dengan Rian, aku melarangnya. Sepertinya dia marah, karena aku juga salah mengancamnya tadi. Aku hanya tidak ingin dia terluka saat di luar," terang Reno dalam kejujuran.


"Arga tidak suka diancam, dia juga sudah meminta izin kemarin. Ada pekerjaan yang harus dia selesaikan dengan Rian, dan aku mengizinkannya. Kamu tidak perlu cemas, karena Rian bisa melindunginya dengan sangat baik. Dia pandai bela diri," jelas Anita.


"Jangan memuji laki-laki lain!" kesal Reno, kembali duduk tegap dan berhenti memainkan rambut panjang Anita. "Bisa-bisanya memuji laki-laki di depanku, apa dia sudah bosan hidup?! dia pikir aku ini batu?! aku cemburu! dasar tidak punya hati!" gerutu Reno dalam hati.


"Aku tidak memuji, tapi berkata sebenarnya. Aku hanya ingin kamu tenang," kata Anita meraih lengan suaminya dan ditepis cepat.


Reno melipat tangan depan dada, berpaling wajah ke arah lain, merajuk macam anak kecil. Tangan Anita menyelinap dalam kaos, membuka dan mencium perut six pack lelaki seketika mengatupkan bibir, sekedar menahan senyum. "Jangan menggodaku, aku bisa lupa kalau kamu sedang kesakitan sekarang."


Anita tersenyum lebar, memeluk di balik kaos suaminya dan menyandarkan wajah di atas perut. Sepertinya, ia tahu bagaimana cara menghilangkan amarahnya sekarang. "Suamiku tercinta," goda Anita sengaja, berhasil membuat Reno tertawa geli.


**Jangan Lupa Like, Komentar, Vote.


...⬇️⬇️⬇️⬇️...


Allah, akak.... kenapa lah tekan like saja tak mau? apa susah akak? aku lihat dari bab 1 tak ada sama pun, menangis lah aku ketik 1k kata/bab tak dianggap#kekasih pun minta akak anggap😂

__ADS_1


Akak, Like & Komentar kalian ini bantu Level Karya. Pantaslah banyak yang pergi gara-gara level karya turun, readernya pun tak mau bagi like. Janganlah pelit sangat, Abang aku kata "Tak baik lah macam tu"😁✌️


...⬆️⬆️⬆️⬆️**...


__ADS_2