
Anita masih tidak sanggup untuk percaya, dia mengembangkan banyak tanya dalam pikiran. Apa alasan lain dari seseorang telah dianggap saudara, mungkinkah jika dia memiliki rencana pada orang tua yang sudah menganggapnya anak sendiri. Kalau pun ia, apa rencananya dan apa tujuan di balik semua, apa keuntungan di dapat oleh Rara.
Tanya itu terus saja berkembang, tanpa pernah ia sanggup menjawab. Seseorang yang telah melakukan banyak hal dengannya, ternyata melakukan berbagi cara menjijikan. Siapa akan memahami tentang semua itu, bahkan tak sampai otak Anita untuk terus memikirkannya. Mengingat-ingat semua, sepertinya tidak ada hal menyakitkan Rara telah diperbuat, apa lagi keluarganya.
Hingga malam hari, semua itu masih saja sanggup mengusik. Ekspresinya menunjukkan jelas tanpa bisa menutupi, meski telah begitu baik berusaha di depan putranya. Sampai selesai mengenyangkan perut bersama, orang dinantikan juga telah tiba. Seorang pelayan menyampaikan, ketiganya pergi ke ruang tamu di mana orang dimaksudkan menanti.
"Reno!" serunya begitu melihat lelaki berkaos putih mendekat, berdiri lalu berlari memeluk.
Anita membulatkan mata sempurna, tangan refleks menutup kedua mata putranya. Pakaian dikenakan sangat pendek, pahanya terlihat jelas dengan pakaian berlapis jaket yang masih bisa menunjukkan belahan dada berlompatan saat berlari dengan semangat.
"Kau ingin milikku di pahat oleh istriku malam ini?! lepaskan!" bisik Reno sangat lirih.
"Ah, aku lupa kalau kau sudah menikah." Perempuan berparas cantik itu melepaskan pelukan.
Reno menoleh ke arah istrinya, tersenyum lebar dan terlihat begitu paksa. "Dia yang akan menjaga Arga," ucap Reno mengalihkan tatapan menyeramkan sang istri.
"Hai, Ellie!" tangan mengulur ke arah Anita, berjabat tangan dengan perempuan memperhatikan lekat wajahnya.
"Anita," ucapnya memperkenalkan diri.
"Ah, kamu pasti Arga? benarkan?" tanya Ellie pada bocah di samping Anita dan memeluknya. "You can to call me Ema!"
"Jangan mengarang bebas!" pukul Reno keras pada punggung Ellie. "Lepaskan putraku, dia bisa sesak napas!" timpalnya menarik lengan perempuan berambut pendek sampai belakang telinga.
"Ah," menunduk Ellie pada dadanya lalu tersenyum lebar. Berbalik badan, duduk melipat kaki dan langsung diberikan bantal oleh Reno menutupi kakinya.
Anita duduk, namun matanya tak bisa beralih dari perempuan terlihat begitu ceria. Di samping suaminya dan menarik putranya untuk ikut serta duduk. "Jangan melihat yang belum pantas kamu lihat!" bisik Anita pada putranya.
__ADS_1
Beralih melirik suaminya, Anita mencubit sangat kecil pinggang Reno dan langsung berjongkok kesakitan memegang pinggang terasa panas. "Sakit!" protesnya lirih, tertawa Ellie memperhatikan.
"Jangan cemburu dengannya, dia sudah menikah!" ucap Reno, justru mendapat pukulan karena dianggap telah membuat malu.
"Hahaha, tenang saja. Aku tidak berniat untuk selingkuh dengannya, karena suamiku sangat baik!" kata Ellie.
"He ... he ...," terpotong tawa kecil Anita.
"Dia seorang guru, tapi dia juga preman. Dia bisa melindungi Arga, aku akan memasukkannya di sekolah Arga sebagai guru di sana. Aku sudah mengatakan pada pihak sekolah hari ini, dan mereka menerima hal itu!" terang Reno. "Coba saja melawan, aku akan membakar sekolah itu tanpa sisa!" timpalnya.
"Papa yakin?" tanya Arga. "Dia terlalu cantik untuk menjadi guru. Dan ...," kata Arga menggantung, di sentil keningnya cepat oleh sang papa.
"Apa yang kamu lihat sebenarnya?!" protes Reno. "Dia tidak akan memakai pakaian seperti ini."
"Di mana suamimu sekarang?" tanya Anita tiba-tiba, melenceng dari pembicaraan.
Seseorang yang dipilih oleh Reno, kawan baik semasa kuliah dan memiliki kemampuan bela diri yang sangat baik. Tak perlu hanya melihat seberapa seksi dan cantik parasnya, Ellie bukan orang menyenangkan seperti sekarang jika ada yang mengganggunya.
Sudah menikah dengan seseorang yang pernah dikenalkan oleh Reno—rekan bisnisnya di luar negri dan akhirnya cocok lalu memutuskan untuk menikah. Belum memiliki anak sampai sekarang, sengaja menunda karena sang suami tak selalu berada dekat dengannya.
Anita dan Arga masih mengamati, sampai seorang lelaki memasuki rumah menyapa mereka. "Bukankah, Anda?" ucap Anita, wajah itu tak asing baginya.
"Saya pernah bekerjasama dengan putra Anda sebelumnya," senyum lelaki bertubuh gagah mengejutkan Reno.
"Kalian mengenal?!" menoleh Reno pada keduanya bergantian.
"Ah, aku tidak pernah menceritakan ini padamu. Suamiku langsung mengenali mereka saat aku tunjukkan fotonya, dia sangat mengagumi putramu." Ellie berucap.
__ADS_1
"Tentu, siapa yang tidak mengaguminya? dia sangat pandai, dan bisa mengatasi masalah perusahaan dengan sangat mudah. Padahal, karyawan ku sudah angkat tangan semua." Lelaki bernama Daniel itu menceritakan.
"Anda sangat berlebihan," kata Arga.
"Itu bukan berlebihan! kau memang sangat luar biasa sama sepertiku!" kata Reno menatap putranya. "Bukankah kami seperti saudara kembar?" tambahnya ke arah Ellie dan Daniel.
"Tidak sama sekali," jawab Ellie. "Dia jauh lebih tampan dan pintar darimu."
"Kau harusnya memakai kacamata kuda sebelum datang kemari! lihatlah wajah kami sangat mirip, dan kepintarannya itu semua dariku!" ucap Reno ngotot.
"Aku pikir, itu dari ibunya. Nyonya Anita juga sangat luar biasa, dia membantu perusahaan dengan sangat baik. Sungguh ibu dan anak yang sempurna," ucap Daniel. Sekali lagi Reno terkejut dan menatap istrinya.
"Di—dia?" terbata lelaki berdiri di samping sang istri.
"Mama memang jauh lebih hebat dariku, papa saja yang tidak tahu. Semua aku pelajari dari om Rian, tapi juga dibantu mama akhirnya. Semua bahasa yang aku bisa juga dari mama, dia juga memiliki pengetahuan yang luas. Apa papa benar-benar tidak tahu?" ungkap Arga.
Reno mengernyitkan kedua alis, dia ragu dengan apa dikatakan oleh kedua orang dalam ruangan sama dengannya. "Benarkah?" ragu Reno bertanya pada sang istri.
"Apa kau benar-benar suaminya? kenapa tidak mengenali istri sendiri?" cecar Ellie. "Tinggalkan saja dia, playboy yang sangat kejam. Dia bahkan menghancurkan banyak hati perempuan dalam waktu satu hari. Aku sampai lelah membuat mereka tenang dulu!"
"Sudah aku bilang jangan mengarang bebas!" jengkel Reno.
"Itu bukan karangan, bahkan kau sangat terkenal dengan hal itu di tengah pebisnis. Siapa yang tidak mengenal penakluk wanita sepertimu? berapa banyak orang sudah menangis dan ingin bunuh diri? tapi kau mencintai ...," segera terhenti ucapan Ellie, ketika mata tajam membulat sempurna ke arahnya.
"Hahaha, apa yang aku katakan sekarang ini?!" tawa Ellie dan duduk kembali, diiringi sang suami yang tersenyum akan tingkahnya memukul mulut sendiri.
Dia selalu berkata dengan lancar, kadang tanpa memiliki lampu merah dalam setiap perkataan. Terlebih, jika itu sudah bersama Reno, semua mengalir saja dan membuatnya berbicara dengan sangat lancar tanpa berpikir atau menyadari ada siapa saja. Beruntungnya, Daniel begitu memahami sang istri dan tak pernah mempermasalahkan.
__ADS_1