My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Ketulusan


__ADS_3

Tidak langsung membawa putranya masuk ke dalam rumah, lebih dulu Reno mengajaknya berkeliling taman dengan berlari. Anita tersenyum dari kejauhan, melihat seberapa keras usaha lelaki itu membuat Arga tertawa. Dan itu berhasil, putranya bisa tertawa di atas punggung lebar lelaki yang memperlakukan dirinya seperti anak kecil berusia di bawah lima tahun.


Masuk ke dalam rumah meninggalkan keduanya, Anita menuju ke dapur untuk mempersiapkan apa diperlukan oleh sang suami. Tentu saja jika Reno akan memenuhi apa diinginkan oleh Arga, termasuk memasak untuk pertama kali dalam hidupnya. Menyiapkan bahan-bahan, ponselnya berdering dari dalam tas yang ia letakkan pada meja dapur sama.


Itu adalah Rara, terlihat jelas nama tertera di layar ponsel miliknya. Ragu untuk Anita mengangkat, membiarkan sampai panggilan berakhir dan kembali menyala dengan panggilan dari orang sama. Sepertinya, ia harus menghadapi apa pun itu, tak membiarkan diri diam dan menjadikan putranya sebagai sasaran.


"Apa?! Berani sekali kamu menghubungiku setelah apa yang kalian lakukan pada anakku!" tegas Anita langsung.


"Aku sedang mengandung anak suamimu!" tutur Rara di ujung panggilan, terbelalak.kedua mata Anita sempurna. "Tanyakan pada Lisa, dua yang menghubungiku untuk tidur bersama di hotel!"


"Kebohongan apa lagi ini, Rara? Cukup dengan semua sandiwaramu mulai hari ini! Jalani hidup kita masing-masing dan jangan pernah mengusikku!" tegas Anita.


"Kamu berpikir ini sandiwara?! Buka pesan yang aku kirimkan padamu sekarang juga!" ucap Rara.


Tentu itu dilakukan oleh Anita, membuka sebuah aplikasi pesan dan melihat ada beberapa gambar dikirimkan. Itu adalah hasil tangkap layar sebuah pesan, dengan nomor sang cukup familiar tertera di atasnya.


"Kamu sudah membacanya?! Sekarang kamu tahu jika ini bukan sandiwara?!" ucap Rara.


"Hentikan semua ini! Jangan pernah mengusik hidupku atau putraku, atau aku akan membuatmu sangat menyesal!" pungkas Anita mengakhiri panggilan sepihak.


Detak jantungnya lebih cepat dari sebelumnya, kedua kaki Anita lemah dan pelayan segera menopang tubuhnya. "Anda tidak apa-apa, Nyonya?" terkejut pelayan ketika tubuh dari majikannya hampir jatuh. Satu pelayan lain bergegas mengambilkan air minum.


"Tidak, aku baik-baik saja." Anita berkilah, tatapan kosong terarah ke depan sampai segelas air putih membuatnya tersadar.

__ADS_1


Kata terima kasih tidak lupa untuk diucapkan, meneguk sedikit air putih dan coba mengatur napas agar lebih tenang. Tidak, Reno tidak akan pernah mengkhianati dirinya seperti Vano dulu, itu coba diyakinkan oleh Anita dari dalam hati.


Rasa sakit akibat dikhianati kembali mencuat begitu saja, tentang kejadian beberapa tahun lalu, di mana ia memergoki Rara berada satu kamar dengan Vano. "Tidak. Semua ini tidak benar, semua tidak akan pernah terulang lagi! Dia bukan lelaki seperti Vano, dia tidak akan melakukan hal menjijikkan semacam itu!" batin Anita berucap meyakinkan diri.


Napasnya masih belum bisa untuk normal, ketakutan beserta kilatan bayang masa lalu terus saja menyusup tanpa pernah diinginkan. Rara memang mengirimkan pesan yang pernah ia lakukan bersama Lisa, di mana ia membuat janji dan langsung dihubungi oleh sekretaris dari Reno itu. Daftar panggilan belum terhapus pun, dikirimkan oleh Rara untuk menambah bukti.


Kalau perempuan cantik itu berteman dengan ketakutan juga air mata, di luar Reno masih bersama putranya dan kini duduk bersama di sebuah ayunan berwarna putih. Menarik berulang kaos melekat pada tubuhnya, Reno sejenak memberikan udara pada dada terasa panas berkeringat.


"Sudah aku katakan kalau aku bukan anak kecil lagi, kenapa papa memaksakan diri? papa sudah berumur, tidak baik melakukan hal seperti tadi. Papa ingin tidak bangun karena sakit pinggang?" tutur Arga memperhatikan papanya.


"Kamu benar-benar berat!" ucap Reno tersengal karena napas tak teratur. "Sekarang, gendong papa ke dalam!" timpalnya mengulurkan tangan.


"Hehehe, mana aku sanggup? tubuh papa lima kali lebih besar dariku," cengengesan Arga, tapi justru membuat Reno mengukir senyum dan bukannya kesal atas ucapan tubuh lima kali lebih besar.


"Tersenyumlah seperti itu, papa menyukainya." Reno berucap menunjuk bibir sang anak.


"Papa baru mengatakan untuk tersenyum saja! kenapa kamu malah menangis sekarang?!" protes Reno.


Arga tak menjawab, ia memeluk papanya dari samping. "Arga sayang papa, tolong jangan pernah berubah dan jangan pernah meninggalkanku seperti dulu. Aku ingin selalu bersama papa dan mama," tulis bocah itu berurai air mata.


Reno menarik tangan, membalas pelukan daei putranya. "Maafkan semua yang pernah papa lakukan, itu tidak akan pernah terjadi. Kamu akan selalu memiliki keluarga seperti anak lain, dan kamu akan selalu memiliki alasan untuk bahagia setiap hari. Jangan memikirkan apa pun, semua katakan saja pada papa. Kita bisa menjadi sahabat, bukan?"


Arga mengangguk, pelukan ia eratkan. Tidak tahu mengapa dia begitu ingin menangis dan mengatakan hal tak pernah ingin disampaikan sama sekali. Bibir bergerak begitu saja, mengeluarkan permohonan atas diri seseorang tak pernah diperbolehkan untuk pergi dari hidupnya.

__ADS_1


Dia takut, jika sesuatu terjadi dan membuat papanya pergi. Dia tak ingin semua terulang kembali, dan membuatnya berada di titik nol lagi. "Jangan berkelahi, aku tidak ingin papa terluka dan meninggalkanku selamanya."


"Papa tidak berjanji untuk itu. Karena pasti tidak akan bisa menepati saat ada yang menyentuhmu atau mama. Papa akan rela mengorbankan apa pun demi kalian, termasuk juga nyawa. Tapi, papa berjanji untuk berusaha selalu hidup bersama kalian, dan memaksa untuk Tuhan mengizinkan hal itu terjadi." Reno mengusap lengan putranya.


"Pa ...," panggil Arga panjang.


"Hm, singkat lelaki masih mengusap lembut lengan.


"Papa berkeringat, dan itu tidak enak." Arga berucap, segera dilepaskan pelukan oleh Reno.


"Apa begini caranya?! kamu sudah membuat papa masuk dalam ketulusan, lalu melemparkan ke bara api?!" protes Reno melebarkan mata.


"Itu benar-benar bau," ucap Arga dan turun dari ayunan mencapit hidung, meninggalkan papanya seorang diri.


"He! Berhenti!" teriak Reno. "Dia benar-benar keterlaluan!" gerutunya.


Berdiri dan berlari mengejar sang anak, Reno langsung mengangkat tubuh Arga dan meletakkan pada pundak seperti orang membawa karung. Protes tak di dengar, terus saja menggendong ke dalam rumah. Anita mendengar keributan, menyeka air mata dan langsung memasang senyuman.


"Apa yang kamu lakukan? Dia bisa terjatuh nanti!" kata Anita melihat seraya berjalan.


"Lihatlah anak nakal ini, dia benar-benar menyukai saat menendangku jatuh dari langit lewat kata-katanya!" sahut Reno menurunkan sang anak.


"Perutku mual, papa mengangkat ku terbalik." Arga menghempaskan tubuh ke sofa, Reno menyusul segera.

__ADS_1


"Sakit? apa itu benar? bagian mana?" cecar lelaki dengan tangan memegang perut.


"Hahaha, tidak ada!" tawa Arga, langsung ditekan kepalanya menggunakan lengan dan mengarahkan wajah ke ketiak. Arga memprotes hebat, meronta dengan kaki terus berayun.


__ADS_2