My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Sembilan Bulan


__ADS_3

Reno menghentikan langkah mendadak, menoleh ke arah papanya. "Pa! kenapa kita tidak sekalian makan bersama di luar saja? kita tidak pernah melakukan hal itu. Berhubung kali ini papa yang membayar, aku akan menghubungi istriku lebih dulu!" ucap Reno menemuka ide di kepala.


"Siapa yang bilang kalau papa akan membayar?! bukankah tamu harusnya di jamu oleh pemilik rumah?!" jawab Bobby, putranya hanya tersenyum menutup bibir, meraih ponsel dan menghubungi istrinya.


Bobby menggelengkan kepala, tapi ia juga tersenyum. Berdiri menantikan putranya, lelaki itu mengirim pesan pada orang suruhannya untuk segera melaporkan apa diperintahkan tadi. Tidak akan percaya ketika itu tidak ada bukti berupa foto, Bobby pun meminta pada anak buahnya.


Sementara Reno, dia masih coba menghubungi ponsel tak dijawab. Entah ke mana istrinya, selalu saja meminta agar ia menunggu ketika coba menghubungi di siang hari. "Apa yang kamu lakukan sebenarnya?! kenapa sulit sekali menghubungimu?!" tegas Reno begitu panggilan terhubung.


"Aku sedang memesan makanan, kenapa kamu menghubungiku?" sahut Anita.


"Di mana?!" tanya Reno, tak ada pemberitahuan untuk istrinya ke luar dari rumah.


"Di tempat makan dekat toko kue, mama ingin makan ayam makanya aku ajak ke sini. Maaf, lupa mengabari karena aku buru-buru tadi. Setelah selesai aku akan pulang," jawab Anita.


"Tunggu aku di sana! pergi tidak pamit, apa kamu lupa sudah menikah sekarang?! tingkah laku sudah seperti anak kuda saja, ke luar sesuka hati! tunggu aku, jangan pergi sebelum aku datang! pesankan aku makanan seperti dulu, tapi jangan terlalu pedas!" tegasnya mengakhiri panggilan.


"Enak saja pergi sesuka hati, memang dia lupa kalau sudah punya suami setampan ini?! apa dia berencana untuk mencari yang lain?! tidak bisa dibiarkan!" umpat Reno seraya berjalan.


"Bagaimana?" tanya Bobby.


"Dia sudah pergi, kita akan datang ke sana. Selalu mengatakan kalau harus berpamitan ketika ingin ke mana-mana, tapi dia bertingkah sesuka hati! kalau aku ... pasti dia sudah ceramah panjang lebar di rumah dan tidak memberiku kesempatan membuat anak!" jelas Reno menggebu-gebu.


"Kamu sedang mencuri kesempatan untuk curhat? seperti anak muda," ucap Bobby memiringkan kepala untuk melihat wajah lelaki tengah menekan tombol lift.


"Hehehe, mana ada? aku hanya menyalurkan emosi saja," cengengesan Reno. "Sebaiknya kita pergi, sebelum dia mengomel nanti!"

__ADS_1


"Bukankah dia yang mengomel sedari tadi?" gumam lirih Bobby, tak terdengar oleh lelaki masih sibuk menggerutu seorang diri.


Anita memang ke luar daei rumah dan tak mengabari, dia saja menyeret putranya untuk ikut karena mama mertuanya menghubungi, dan berkata jika berada di tengah jalan. Perut tiba-tiba lapar, itu alasan diberikan oleh Maira. Padahal, ia ingin untuk Arga ke luar dari rumah dan menikmati waktu, agar tak selalu terkurung di rumah setelah apa terjadi. Kabar tentang cucunya yang diam saja di rumah, juga sampai di telinganya, sehingga Maira menghubungi dan beralasan tepat.


Reno menggerutu sendiri, karena ia mengingat semua ucapan istrinya, agar menghubungi satu sama lain ketika ingin pergi, ke mana pun dan dengan siapa pun. Bukan untuk mengekang, hanya agar tahu dan tidak menimbulkan kekhawatiran nantinya. Tapi, sekarang justru Anita pergi tanpa pamit, lelaki dianggap lebih mirip ibu-ibu kurang uang kembalian oleh papanya itu, masih saja menggerutu sendiri selama mereka berjalan.


Di tempat lain, Anita menatap ponsel terheran. Seingatnya, Lisa mengirimkan video ketika dirinya makan tadi, dan itu tak bisa dikatakan sangat lama. "Apa dia sedang kelaparan?" gumamnya, lalu memesankan untuk sang suami pada pelayan masih ada di meja tempatnya.


"Kenapa banyak sekali? kamu sedang hamil? apa kamu sedang mengidam sekarang?" cecar Maira.


"Hehehe, tidak. Ini tadi papanya Arga yang menghubungi, katanya mau datang kemari dan minta dipesankan juga." Anita tertawa bodoh.


"Bukankah papa baru saja makan?" tanya Arga.


"Itu dia, mama juga heran. Lebih baik pesankan saja," bisik Anita tapi masih terdengar mertuanya.


"Bukan. Aku tidak sedang hamil, Ma. Ini tidak ada hubungannya dengan itu," ucap Anita.


"Ah, kamu pasti tidak menyadarinya. Ini pasti Reno sedang mengidam. Pesankan yang banyak untuknya, apa saja yang dia mau." Maira meyakini pemikirannya.


Anita melemaskan tubuh, tak berguna menjelaskan. Putranya justru tersenyum melihat sang mama tak berdaya. Itu adalah hal menyeramkan bagi Anita, ketika ia harus dipertanyakan kehamilan dan bahkan sang mertua justru meyakini kecurigaannya sendiri. Dia hanya menurut untuk memesan beberapa makanan, entah siapa yang akan menghabiskan, dia dan Arga sudah makan dan berniat menemani saja tadi.


Berbincang bertiga membahas banyak hal bersama, tak lepas dari seorang adik yang terus dipertanyakan pada Arga. Bocah itu justru terlihat antusias, melemaskan tubuh Anita pasrah dan hanya mendengarkan sembari bibir melengkung ke bawah. Ternyata benar apa dikatakan orang, ketika dia belum menikah, maka akan dipertanyakan kapan menikah. Sudah menikah, dipertanyakan kapan punya anak. Setelah punya anak, dipertanyakan kapan punya anak lagi. Sungguh melelahkan, apa lagi mama dan mama mertuanya bersikap tak jauh berbeda.


****

__ADS_1


Pembicaraan ketiganya berlangsung lama, sampai makanan datang disajikan dan tak lama datang dua orang memasang senyum lebar. Seperti biasa, Reno akan bersikap seperti anak TK yang baru ke luar dari sekolah dan melihat ibunya menjemput. Dia berlari dan langsung memeluk, mencubit pipi Arga yang ada ada di samping mamanya.


"Sayang, kamu tahu? papa dan mama datang kemari, karena mereka ingin mengadakan resepsi besar-besaran untuk kita!" ucap Reno berbinar, melebarkan tangan saat berkata besar-besaran. Tersedak Maira tengah menikmati jus, menoleh ke arah suaminya.


"Papa mengatakan hal itu?!" tanya Maira.


"Sudahlah, jangan bertanya. Seperti tidak tahu putra kita saja," sahut Bobby, meraih gelas istrinya dan menikmati jus dari sedotan sama.


"Bukankah terlambat untuk resepsi? mama sedang hamil dan tidak boleh kelelahan kata nenek," ucap Arga ditatap langsung oleh sang mama dengan gigi mengerat.


"Benarkah?! kamu sedang hamil?! berapa bulan?! itu laki-laki apa perempuan?!" cecar Reno melebarkan kedua mata, memegang kedua lengan istrinya.


"Sembilan bulan!" kata Arga menekankan kalimat.


"Aaaaah! selam—," bahagia lelaki itu ingin memeluk, terhenti ketika ingin berucap selamat.


"Kamu mengerjai papa?! mana mungkin mama hamil sembilan bulan?! apa kamu pikir hamil bisa disembunyikan di dalam dada?!" tegas Reno, dipukul oleh istrinya cepat. "Lihatlah, perutmu tidak besar tapi dadamu yang besar, bagaimana bisa kamu hamil sembilan bulan?!" ucapnya membenarkan, tatapan terarah pada dada, dan kembali mendapat pukulan sang istri.


"Jaga bicaramu! kamu tidak lihat ada siapa di sini?!" geram Anita menahan suara. Reno menoleh ke putranya juga kedua orang merasa malu mendengar ucapan terlontar darinya.


"Hahaha, aku tidak mengatakan apa-apa. Dia yang mengatakannya sendiri," tawa bodoh Reno menunjuk istrinya.


"Memalukan!" menggeleng kepala maira dan Bobby bersamaan.


"Sini, Sayang. Kita makan bersama ya? jangan seperti papamu ketika sudah besar, itu akan mencoreng nama baik keluarga. Kemari lah," tutur Maira meraih tangan cucunya.

__ADS_1


Reno memajukan bibir, kepalanya perlahan turun ke arah dada istrinya, namun Anita justru menghindar ke samping, mengernyit alis Reno menyadari jika ia bersandar pada angin. Keempatnya tertawa karena tingkah Reno, menikmati makanan bersama. Sepertinya, resepsi akan dibahas nanti, padahal tadi sudah begitu semangat ingin menceritakan banyak hal tentang rencana dalam kepala. Tapi, mood nya sudah tidak ada sekarang, dan lebih memilih makan dengan sang istri dipaksa menyuapi.


__ADS_2