My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Amarah Memuncak


__ADS_3

Di malam hari, Arga baru kembali bersama Reno. Memasuki rumah dengan pelayan menyambut hormat, keduanya melewati begitu saja. Arga langsung menapaki anak tangga, dia sudah merasa lelah duduk seharian dan ingin berbaring meluruskan punggung.


Sementara Reno yang tak melihat adanya perempuan selalu berlari menghampiri putranya, menghentikan langkah. Jari telunjuk kanan ia ayunkan, mendekat seorang pelayang tadi ikut menyambut. "Di mana Anita?" tanya Reno langsung.


"Nyonya Anita belum pulang, Tuan." Pelayan membungkukkan tubuh.


"Apa?!" teriak Reno, melihat arloji di tangannya.


"Tadi nyonya sudah mengatakan kalau akan pulang terlambat, Tuan." Kepala pelayan menghampiri, jelas ia dengar teriakan bersuara berat yang khas. "Mobilnya di rumah, tapi Nyonya tidak ada."


Reno menarik dalam napas dan membuang kasar. Ini sudah hampir pukul sepuluh malam, tapi Anita belum kembali. Reno melepaskan dasi juga jas hitam dikenakan, di raih oleh pelayan sigap tanpa perintah.


Berbalik badan untuk keluar, menyingsing lengan kemeja hitam seraya berjalan. Tidak ada lagi kata terucap, mobil Anita memang ada di rumah. Sempat Reno berpikir jika wanita itu ada di rumah, nyatanya tidak.


Berdiri di teras menanti, itu tak cukup dilakukan. Reno menyusuri halaman rumah berhias lampu-lampu taman di kedua sisi dirinya melangkah. Halaman itu berhiaskan taman indah, selalu di rawat tanpa pernah dibiarkan satu ilalang saja untuk tumbuh.


Meraih ponsel dalam saku celana, ia menghubungi pengawal yang ditugaskan untuk mengikuti Anita. "Apa saja yang kau lakukan sebenarnya?! bagaimana bisa, aku tidak menerima laporan apa pun tentang Anita?! apa kau ingin mati?!" panggilan terhubung, seketika teriakan dipergunakan untuk bertanya.


"Sa—saya sudah mengirimkan laporan, Tuan. Saya juga sudah mengirimkan lokasi," terdengar ketakutan pria di ujung panggilan.


"Tidak berguna!" bentak Reno, mematikan panggilan.


Laporan apa yang dimaksudkan, doa tak menerima apa pun tentang diri Anita. Terus melebarkan langkah, ponsel ia masukkan dalam saku celana. Menggerutu tentang seseorang yang bahkan tak mengabari dirinya, padahal jelas diperingatkan untuk meminta izin setiap melakukan apa pun.


Pagar dibukakan oleh penjaga atas perintah, Reno memutuskan untuk menanti di luar pagar rumahnya. Lengkap pengawal dengan senjata di depan, tak mengerti apa yang tengah dilakukan oleh Tuan mereka yang tampak cemas.

__ADS_1


Ya, dia memang terlihat cemas yang bahkan tak sanggup disembunyikan dari paras tampannya. Reno mondar-mandir layaknya setrikaan, terus mengangkat tangan di mana arloji mahal melingkar sempurna pada tangannya.


Setiap apa yang dipakai olehnya, seakan barang itu memang tercipta untuknya. Seperti pakaian yang begitu pas, menambah nilai tersendiri untuk penampilan dari seseorang yang hanya akan mengenakan satu kali pakaian, lalu membuang tanpa ada kata sayang.


...----------------...


Menanti hingga setengah jam, Reno melihat cahaya lampu mobil berjalan ke arahnya. Mata tajam terpasang, meletakkan tangan pada kedua saku celana. Berdiri tegap menantikan, sampai mobil berwarna putih terhenti di depannya.


Anita di dalam mobil tampak ketakutan dengan aura sanggup ia lihat, turun dan berucap terima kasih. Anita tak lepas menatap keangkuhan seorang pemimpin kejam itu. Bukannya menyambut perempuan dinantikan dalam kegelisahan, Reno mendekati mobil lalu membuka pintu.


"Keluar!" geramnya, mengetahui lelaki yang ada di balik kemudi.


Menyeretnya seperti peliharaan, Reno mendaratkan pukulan keras tepat pada wajah. Kerah tak dilepas, pukulan diberikan sekali lagi dalam tatapan pembunuh diberikan. Anita berlari, menahan lengan Reno. "Hentikan!" teriak Anita.


Reno hendak memukul, menoleh tajam pada Anita. Rahangnya mengerat kuat, kilatan amarah terlihat semakin jelas dalam wajah yang juga memerah. "Urus dia!" perintah Reno pada penjaga, menghempaskan tubuh lelaki dengan darah pada bibir sampai membentur mobil.


"Lepaskan!" meronta kembali Anita, menyentak lengan agar bisa terbebas dari cengkeraman penuh emosi.


Berhasil terlepas setelah berulang kali mencoba, Anita memegang lengan terasa sakit. Reno menoleh ke arahnya, rahang masih mengerat bersama sorot tajam menyeramkan, tak ubahnya singa kelaparan siap memangsa buruan.


"Apa yang kau lakukan dengannya?! kau tidak tahu sudah pukul berapa sekarang?! pantaskah seorang ibu, keluar sampai larut seperti ini?!" bentak Reno.


"Itu bukan urusanmu!" teriak Anita. "Kenapa kamu justru memukulnya?!"


"Jangan pernah membela laki-laki lain di depanku!" amarah Reno semakin jelas, teriakan lebih kencang dari sebelumnya.

__ADS_1


"Sudah aku katakan untuk tidak pernah berhubungan dengan laki-laki lain, apa kau sangat bodoh sampai tidak memahaminya?! susul Reno.


"Itu bukan urusanmu! apa pun yang aku lakukan tidak ada hubungan denganmu! jangan mengaturku, karena aku bukan istrimu!" teriak Anita.


"Kalau begitu jadilah istriku!" cepat Reno menjawab dengan teriakan.


"Jangan pernah bermimpi!" tekan Anita dalam kalimat, meninggalkan Reno seorang diri. Ia berlari, tak lagi berjalan karena takut dengan emosi meluap tanpa kendali.


Reno melangkah sangat lebar untuk mengejar, namun semakin kencang Anita berlari ke arah rumah. "Berhenti!" teriak Reno. "Aku bilang berhenti!"


Tidak, Anita tidak berhenti dan terus berlari memegang tas tangan warna hitam. Ia tidak boleh berhenti, atau sama saja dengan ia siap di bunuh malam ini juga. Anita memasuki rumah, segera menapaki anak tangga menuju ke kamar tanpa menggubris sapaan diberikan.


Mengenakan heels untuk berlari, sukses membuat Anita hampir terjatuh. Namun tak ada waktu mengurusi sakit dirasakan, Anita tidak sekalipun berhenti dari langkahnya.


Pintu kamar di buka, segera Anita masuk. Belum sampai tertutup sempurna, tangan kuat Reno mendorongnya. Anita terjatuh ke atas lantai, ketika ia terdorong oleh pintu coba di tutup.


Reno meraih kasar lengan Anita untuk perempuan itu berdiri. "Katakan apa yang sudah kau lakukan dengannya! kau tidur dengannya sampai pulang larut seperti ini?!" teriak lagi Reno, begitu keras hingga terdengar oleh telinga Arga yang ada di kamar sebelah.


"Berapa kali harus aku bilang, itu bukan urusanmu!" jawab Anita.


Reno sangat terpancing emosi, dia menatap dalam kedua mata Anita dan beralih ke bibir tak pernah dihiasi lipstik di atasnya. Langsung mencumbu perempuan dengan kedua tangan meronta, tenaga Reno terlalu kuat di lawan.


Dilempar tubuh Anita ke atas ranjang berukuran luas, seketika lelaki itu menimpa tubuh Anita dan mencumbu semakin beringas. "Jangan, aku mohon. Jangan lakukan itu," pinta Anita dalam tangis.


Reno tak berhenti, justru semakin liar ia melakukan. Blouse putih membalut tubuh indah Anita pun dilepaskan paksa, semakin kencang tangis Anita dalam permohonan. "Aku mohon lepaskan aku," ucapnya bersama air mata berderai.

__ADS_1


Merasakan isakan tangis pada dada, Reno menghentikan apa dilakukan. Ditatapnya wajah berurai air mata itu, ada sayatan-sayatan tak dipahami terasa dalam dadanya. "Bukan ini yang aku harapkan darimu, Anita." Reno berucap lirih.


__ADS_2