My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Arga dan Reno


__ADS_3

Di tempat lain, Rara mulai terbangun. Kedua matanya terbuka perlahan, sekujur tubuh rasanya sakit dan begitu lelah. Kedua kaki terbuka lebar, terlalu kaku untuk dapat ia tutup rapat.


Mencari ponselnya di atas tempat tidur, berniat melihat pukul berapa sekarang. Tapi Rara justru terkejut saat menatap layar ponsel hanya ada warna hitam dengan retakan sangat banyak. Semakin menjadi ketika dirinya tahu jika yang ia pegang hanya bagian layar saja.


"A—apa yang terjadi dengan ponselku?!" tersentak Rara, seketika bangun dan merasakan sakit tak tertahan. "Au!" pekiknya.


Tak ada selimut menutupi tubuh, Rara terbelalak sempurna. Ia tak bisa untuk duduk lebih lama, sungguh menyakitkan bagian tubuh dipergunakan untuk duduk. "Ada apa sebenarnya? di mana dia?" parau Rara, tak mendapati siapa pun dalam kamar.


Sebuah video masih berputar tanpa jeda sedari tadi, mengulang otomatis dan kini di tatap jelas oleh Rara. Itu adalah video ketika ia sedang dinikmati oleh empat orang sekaligus, tubuh mereka berukuran besar menyerupai monster. Video terpampang jelas di dinding berukuran luas. "Tidak! apa yang terjadi sebenarnya?!" ucapnya cemas.


"A—aku harus mencarinya," gemetar bibir Rara.


Berusaha turun dari ranjang, terlalu sulit untuknya menggerakkan kaki. Tidak ada, pakaiannya tidak ada di kamar. Tas juga tidak ada, semua tidak ada. Rara semakin panik, sekuat tenaga berjalan menyusuri kamar tanpa pakaian, menuju kamar mandi untuk mencari keberadaan Reno.


Tapi, yang ia dapat adalah keterkejutan tanpa pernah dibayangkan. Melewati kaca besar setelah dirinya membuka pintu kamar mandi, sekilas Rara melihat tubuhnya dan langsung berhenti mengamati. Luka sangat banyak di atas kulit putihnya, seperti baru saja mendapat cambuk.


Lagi-lagi ia bertanya apa yang terjadi, bibirnya gemetar bersama sekujur tubuh melemas. Perlahan tubuhnya turun dan bersimpuh di atas lantai, air mata mengucur dari kedua mata. Kaca besar itu menunjukkan jelas luka lebam dari cambukan sabuk atau sekedar gigitan.


Reno memang membayar orang-orang dengan kelakuan menyimpang untuk mendapat kepuasan, ia sengaja karena ingin membalas Rara jauh lebih parah dari apa yang dilakukan pada Anita.


Sekarang, tangis Rara tak sanggup terhenti dan semakin kencang. Berteriak layaknya orang gila di dalam kamar mandi, entah bagaiman ia bisa dalam keadaan semacam ini.


...----------------...


Waktu berlalu, dan Reno masih berada di atas tempat tidur Anita. Menggeliatkan tubuh, menarik seseorang di sampingnya, Reno mendekap erat. Namun, ia rasakan ada yang tak sama dari tubuh tengah dipeluk sekarang.


"Kenapa tubuhmu aneh?" parau Reno, kedua mata terbuka perlahan. Teriakan kencang seketika terdengar, saat ia mendapati orang berbeda. "A—apa yang kamu lakukan di sini?!"

__ADS_1


"Hehehe, papa terkejut? ah, lebih tepatnya kecewa." Arga cengengesan menatap papanya.


"Di—di mana mamamu?" tanya Reno menjauhkan tubuh.


"Di bawah. Aku harus menjaga papa, dari tiga jam lalu. Sebenarnya, papa tidur apa pingsan?" santai bocah dengan ponsel di tangan.


"Tiga jam?!" terbelalak Reno, mengangkat tiga jarinya.


"Papa tidur delapan jam lebih. Sekarang cepat mandi, atau mama akan membatalkan pernikahan!" kata Arga, tersadar cepat lelaki yang baru saja mengingat jika hari ini adalah pernikahannya.


Reno turun dan berlari ke dua arah berbeda seperti orang kebingungan dengan menggaruk kepala. Arga menunjuk ke satu arah, di mana kamar mandi berada, dan Reno langsung berjalan ke arah telunjuk Arga menunjuk.


"Bagaimana bisa aku ketiduran sangat lama?!" gerutunya sembari melepaskan pakaian cepat.


Shower langsung dinyalakan, Reno membasahi tubuhnya. Meraih sabun yang ada tak jauh dari tempatnya berdiri, lelaki itu membuka tutup botol. "Tidak ada aroma lain?!" protesnya mencium aroma kiwi. "Sudahlah, tidak ada waktu!"


Arga menyiapkan pakaian untuk papanya, pakaian yang sudah dipersiapkan oleh sang nenek dan ia bawa untuk menemui lelaki memang ditinggalkan seorang diri dalam kamar. Tubuh sangat lelah, Reno tak menyadari jika dirinya pulas hingga delapan jam lamanya.


"Papa tidak mandi?" tanya Arga, melihat papanya sudah keluar dengan handuk pada pinggang.


"Mandi! enak saja tidak mandi!" jawab Reno tak terima.


Arga mengernyitkan hidung, mandi yang sangat singkat dan tak ada sepuluh menit. Kembali berbaring dan melanjutkan permainan, menunggu sampai papanya usai bersiap. "Jangan buru-buru, nanti terjepit." Ucapnya mengingatkan.


"Tidak ada waktu lagi!" sahut Reno dengan cepat kilat mengenakan kemeja. "Lagi pula, kenapa kamu tidak membangunkan dari tadi?!"


"Mama melarangku," sahut Arga tak berpaling dari ponsel.

__ADS_1


"Terus saja mainan ponsel! milik siapa itu?!" kesal Reno. "Masih kecil sudah pegang ponsel!"


"Ini untuk bekerja, mama membelikannya." Arga menjawab santai.


"Benarkah? kenapa papa tidak tahu? tulis nomormu di ponsel papa sekarang!" jawab Reno, menoleh sembari memasukkan kemeja dalam celana.


"Tidak mau, ini untuk bekerja." Arga menjawab lirih.


"Kita juga rekan bisnis! aku butuh menghubungimu kapanpun!" tegas Reno. "Ah, sudahlah! kita lanjutkan nanti!"


Sembari merapikan pakaian, mulutnya tak henti menggerutu tentang putranya sendiri. Beralih ke depan meja rias, menyisir rambut ke arah belakang, lalu meraih jas dan juga putranya bersamaan. Reno menyeret Arga untuk keluar kamar, langkahnya buru-buru.


"Tidak ada orang," ucap Reno tak mendapati siapapun di rumah Harish. "Bukankah kamu bilang mama di bawah?" menoleh ke arah putranya.


"Mama memang di bawah, tapi bukan di rumah ini. Mama di rumah papa bersama yang lain," santai Arga menjawab. Reno merapatkan gigi, menaikkan satu kaki kanan dan hendak melepaskan sepatu.


"Kalau saja bukan anakku, sudah ...," geram Reno.


Napasnya terbuang kasar, Reno menarik cepat tangan Arga dan keluar dari rumah. Lagi-lagi tak ada orang, hanya ada satu mobil di depan. "Di mana semua orang? sopir, bodyguard?" tanya Reno.


"Tidak ada, hanya kita berdua. Sudah cepat pergi," sahut Arga berjalan ke pintu samping kemudi.


"Aku tidak percaya ini! lihat saja, aku akan memecat kalian semua!" kesal Reno.


Jika biasanya ia keluar rumah selalu ada yang membungkuk hormat, membukakan pintu mobil dan ia hanya tinggal duduk, tidak untuk sekarang. Reno harus membuka sendiri pintu, mengemudikan kendaraan.


Harusnya sudah curiga, ketika putranya meletakkan kunci mobil di atas setelan kemeja dan jas, tapi Reno tak memiliki waktu untuk sekedar mencurigai. Reno tidak mau lebih terlambat lagi, atau pernikahan akan terus diundur tanpa keinginan.

__ADS_1


Memacu kendaraan cepat, pedal gas diinjaknya sangat kuat. Arga terlihat begitu tenang, masih setia dengan permainan dalam ponsel. Seakan ia tengah berada di dunia lain, sedikit pun tak terpengaruh dengan situasi yang ada dan membiarkan papanya kalang kabut sendiri.


__ADS_2