
Kembali ke rumah setelah cukup mengisi perut, Reno tak kembali ke kantir dan menyerahkan pekerjaan pada Lisa untuk dibawakan ke rumah nanti sebagain yang memang membutuhkan dirinya untuk menyelesaikan.
Menggunkan kendaraan berbeda, Bobby menceritakan pada Maira apa yang terjadi di kantor dan juga apa dilakukan pada Vano bersama keluarganya, begitu juga Rara yang sekarang tengah dicari oleh orang-orang Bobby.
“Lalu, apa mereka tidak akan mengganggu hidup reno lagi? Mama tidak ingin kalau dia sampai menderita sekali lagi,” tutur Maira.
“Tidak. Papa akan memastikan untuk hal itu tidak akan pernah terjadi. Papa sendiri ingin untuk Reno bisa bahagia, paling tidak itu akan mengurangi sedikit rasa bersalah papa ketika dulu tak bisa menemani pertumbuhannya.” Bobby berucap, mengingat seperti apa dia meninggalkan lebih sering untuk urusan bisnis dari pada menemani putranya.
“Papa benar. Mama juga merasa bersalah untum hal itu, dan semua tidak bisa lagi untuk kita ulang. Jika saja bisa kembali ...,” ucap Maira menggantung.
Bobby meraih tangan istrinya, tentu saja waktu tak bisa untuk diubah kembali. Semua telah berlalu, tak seharusnya ada penyesalan. Tapi, tetap saja penyesalan itu hadir, bersama rasa bersalah atas kasih sayang yang mungkin tak bisa dikatakan cukup apda Reno kecil.
Masa di mana ia sedang bertumbuh dan membutuhkan orang tua, namun ternyata orang tua disibukkan oelh bisnis masing-masing yang tak bisa ditinggalkan. Masa kecil yang tak akan mungkin terjadi kedua kalinya, seakan ingin untuk sebuah keajaiban datang dan mengirim mereka pada masa lalu.
“Pa, apa papa serius dengan rencana resepsi itu? Apa semua tidak akan membahayakan Arga dan Anita nanti?” teringat Maira akan kabar diberikan putranya begitu datang tadi. Kecemasan melanda Maira bersama ketakutan lain, namun ia berharap jika tak akan pernah terjadi sama seperti apa ditakutkan.
“Itu akan lebih baik diadakan, Ma. Paling tidak, semua orang tahu kalau Anita adalah istri reno, dan mereka akan berpikir untuk mengusik hidupnya seperti apa dilakukan oleh Vano dan Rara. Mereka juga tidak akan percaya kalau reno sudah menikah dengan Anita, meskipun kita menjelaskan sampai mulut berbusa, sebeluma da berita yang tersebar. Papa juga ingin merasakan bagaimana rasanya menikahkan anak,” senyum Bobby.
__ADS_1
“Ya ... kebahagiaan orang tua, menikahkan anak, yang ternyata sudah pandai membuat anak. Nikmat mana lagi yang harus diragukan sekarang?” tutur Maira menghela napas panjang, lalu menoleh dan tertawa bersama suaminya.
Sepertinya, tak akan ada yang bisa digoda untuk sebuah malam pertama. Karena Reno dan Anita, tak bisa melakukan apa itu malam pertama setelah memiliki anak sebesar Arga. Tapi, itulah kehidupan yang tak seindah angan eprnah dibuatnya dulu.
Maira pernah memimpikan untuk bisa menggoda Reno dan melihat wajah malu-malu putranya ketika menjadi pengantin baru, seperti apa dilakukan pada anak teman arisan atau teman bisnisnya. Tapi, itu tidak akan ada lagi kecuali menggoda untuk kelahiran keturunan lain dari benih lelaki yang kini mengemudikan kendaraan untuk anak istrinya dengan sesekali melirik wajah cantik sang istri.
“Apa? Kamu ingin bicara apa?” tanya Anita, merasa risih untuk diperhatikan.
“Tidak ada. Aku tidak ingin mengatakan apa-apa, kenapa kamu sangat sensitif?” sahut lelaki di balik kemudi itu.
“Papa ingin bertanya, apa mama benar hamil atau tidak. Tapi papa terlalu takut untuk bertanya,” santai bocah tengah duduk seorang diri di baris kedua.
Arga bergidik geli ketika harus menerima kedipan mata satu yang membuatnya merinding hebat. Reno melihat putranya bergidik, menegratkan gigi dan melebarkan kedua mata, memaki dalam hati.
“Kamu ingin bertanya hal itu? Sekarang aku bertanya lebih dulu, apa kamu sudah membuatku hamil?” ucap Anita.
“Aku selalu berusaha membuatmu hamil, tapi mana aku tahu itu berhasil atau tidak. Kamu sendiri yang terus menghindar akhir-akhir ini, dan aku kesusahan untuk membuat anak.” Reno menjawab dengan santainya.
__ADS_1
“Ma, Pa. Ayolah, di sini ada anak di abwah umur yang tidak harus mendengar semua hal itu. Tidakkah kalian kasihan padaku, kalau harus mendengar semua yang tak seharusnya?” sela Arga, menjulus lidah kedua orang tuanya di depan bersamaan, pundak pun terangkat.
“Ah, anak mama yang tampan. Lain kali, kamu harus mendengarkan musik dalam volume yang tinggi saat bersama papa,” ucap Anita, menoleh cepat Reno ke arahnya.
“Kenapa aku?! Bukankah kamu yang mengatakannya tadi?!” protes Reno.
“Sudahlah, mama juga sekarang jadi seperti papa. Perasaan, dulu mama sangat pendiam, tapi semenjak bersama papa, jadi sangat berubah. Apa benar kata orang, kalau kita akan mengikuti seperti apa orang yang bergaul dengan kita?” sahut Arga.
“Hahaha, maksudmu mama mengikuti papa?” tawa Anita.
“Kamu ingin bilang kalau papa memberikan dampak yang buruk, begitu?! Justru karena mama sering bersama papa, makanya jadi lebih dewasa sekarang. Coba ingat bagaimana pertama kita bertemu dan kamu harus menyembiunyikan mama di balik tubuh seperti anak kecil? Apa kamu mau kalau mama seperti itu terus? Sangat baik sekarang dia bisa menghadapi orang!” panjang lebar Reno berucap.
“Aduh, tenggorokanku sampai sakit menjelaskan padamu!” keluh Reno, mengambil sebotol air mineral tersedia di dalam mobil dan meneguknya.
“Papa sangat tahu apa yang aku maksud, kenapa melencengnya sangat jauh?” gumam Arga lirih, bisa didengar oleh sang mama yang masih menoleh ke arahnya. Anita tertawa lepas, dia memukul lirih lutut putranya saking gemas.
Ya, jika diingat seperti apa Anita ketika pertama bertemu dengan Reno dulu, jelas itu jauh berbeda dengan Anita sekarang yang berani mengahdapi orang. Tapi, bukan itu yang dimaksudkan oleh Arga, tapi pembahasan dewasa yang telah dianggapnya berbeda dari sang mama dan lebih mirip papanya.
__ADS_1
Arga meyakini jika perkataan pernah didengar adalah kebenaran. Jika sebuah pergaulan akan mempengaruhi pola pikir manusia dan juga kebisaan secara perlahan tapi pasti.
Untuk itulah, memiliki satu kawan bergaul yang baik dan sering mengingatkan kebaikan , akan jauh lebih berharga dari pada memiliki banyak kawan yang hanya akan menjerumuskan ke jalan tak baik. Tak berbeda dengan mamanya yang berubah ketika mulai bergaul lebih sering dengan suami tercinta.