
Beberapa hari setelah hari itu, Reno tampak menyibukkan diri di kantor. Ini sudah pukul 14.00 tapi ia belum juga beranjak dari kursi kebesarannya. Pena pun masih ia pegang, bersama kedua mata tertuju pada dokumen di atas meja.
Pintu terketuk dari luar menyadarkannya, masuk seorang perempuan cantik berbalut pakaian kerja seba nude. "Permisi, Tuan." Lisa mendekat ke arah meja, meletakkan apa yang ia bawa. Bukan meja tempat Reno meletakkan banyak berkas, tapi meja lain yang ada dalam ruangan sama.
"Istriku atau putraku sekarang?" tanya Reno, berdiri dari posisi duduknya meninggalkan semua pekerjaan. Lisa tersenyum, tak perlu untuknya mengatakan siapa yang telah menghubungi dan mengurus untuk makan dan segala keperluan dari Reno.
"Tuan muda Arga meminta agar Anda tidak melupakan makan siang, Nyonya Anita meminta agar saya memaksa Tuan makan. Keduanya mengingatkan untuk vitamin Anda, Tuan." Lisa berucap. "Tuan muda Arga ingin untuk dikirimkan video saat Anda makan."
Reno tersenyum lalu duduk, menatap apa dihidangkan untuknya. "Lakukan semua yang diinginkan putraku!" perintahnya pada Lisa. "Kebahagiaan dan ketenangannya, adalah tujuan hidupku sekarang."
"Baik, Tuan." Lisa mengiyakan, meraih ponsel dalam saku blazer.
Rasa kagum terhadap Reno semakin besar darinya, lelaki itu tak pernah menyembunyikan perasaan sayang terhadap keluarga. Ya, siapa pun yang mengetahui akan merasa iri pada sepasang ibu dan anak itu.
Terutama pada Arga, bocah yang sudah jelas terjamin masa depannya, bocah yang ditempatkan kebahagiaan di atas segalanya, bahkan nyawa pun akan siap dipertaruhkan demi putra kesayangannya.
Bukan hari ini saja Arta dan Anita meminta Lisa untuk memaksa Reno makan atau minum vitamin, sehingga lelaki dalam hati berbunga itu tak bisa menolak. Bukan marah atau risih, justru itu kerap membuat Reno sangat bahagia.
Kala keduanya tengah berada dalam ruangan untuk menikmati makan, karena Tuan muda itu enggan makan tanpa adanya kawan, sehingga mengajak Lisa turut menyantap makanan. Terdengar suara keributan dari luar, teriakan pun sanggup memekik telinga.
__ADS_1
Entah seberapa tinggi volume suara digunakan, jelas itu bukanlah seperti orang normal yang akan berteriak untuk memanggil temannya. Ruangan Reno bukanlah ruangan yang akan menerima suara kebisingan dalam batas wajar, ruangan itu pun cukup luas dan tempatnya duduk bukanlah di balik pintu.
"Biar saya lihat,* ucap Lisa.
"Tidak perlu, biarkan saja. Habiskan makananmu lebih dulu," tutur Reno mencegah seseorang sudah melepaskan alat makan dan siap berjalan. Lisa menuruti ucapan Tuannya, membiarkan suara teriakan di luar terus saja meninggi dan meninggi lagi.
Melanjutkan kembali untuk makan, mengabaikan tentang seorang pria yang sengaja datang untuk bertemu dengannya. Siapa lagi jika bukan Johny, pria yang datang dalam keadaan lusuh dan hancur, memaksa untuk masuk ke dalam perusahaan meskipun ia sudah di cegah semenjak ada di depan.
Berlari menerobos penjagaan di depan, tidak mempedulikan ketika dirinya harus dikejar tak ubahnya penjahat. Anaknya terusir dari rumah sakit, rumah sudah tak ada lagi dan istrinya histeris karena harus jatuh miskin. Nekat untuk datang, dan kini ia marah-marah karena terus di cegah.
Johny menerobos pintu masih tertutup, masuk ke dalam dan diabaikan oleh lelaki masih santai menyantap makanan. Seketika menekuk kedua lutut bersimpuh, merangkak dengan tangan terlipat di depan wajah. Akan tetapi, masih saja Tuan muda itu bersikap tenang seolah tak ada orang dalam ruangan itu selain Lisa juga dirinya.
"Tuan, saya mohon ampuni saya dan juga keluarga saya. Tolong jangan lakukan ini pada kami," memohon Johny. "Hukum kami dengan cara apa pun, tapi tolong jangan lakukan hal ini pada kami, Tuan. Kasihanilah anak saya, dia sudah tidak bisa melakukan apa-apa dan sekarang terusir dari rumah sakit. Dia masih membutuhkan pengobatan, dan istri saya juga tidak bisa menerima semua keadaan ini. Saya takut dia akan menjadi gila. Tolong hukum kami dengan cara apa saja," kembali memohon pria menatap penuh harap dalam wajah memelas.
"Ambilkan saus itu untukku," ucap Reno pada sekretarisnya, mengabaikan setiap suara tak ingin didengar.
"Tuan, saya mohon pada Anda jangan lakukan semua ini pada kami. Di mana kami akan tinggal setelah ini?" masih tetap berbicara pria berkemeja putih belum memejamkan kedua mata berhari-hari ini.
Tetap saja Johny memohon walau diabaikan, dia bersujud dengan air mata. Semua tak pernah dipikirkan untuk ia lakukan seumur hidup, memohon dan diabaikan. Padahal, selama ini ia selalu mendapatkan kehormatan, semua hanya tinggal tunjuk dan memerintah.
__ADS_1
Namun sekarang, semua itu tak ada lagi, bahkan kendaraan pun tak lagi dimiliki untuk menemani wibawa dimiliki. Untuk sekedar datang ke perusahaan Reno saja, lelaki itu harus menaiki angkutan umum. Tidak ada satu pun dari rekan bisnisnya membantu, mereka tak ingin bermasalah dengan Reno dan dijadikan sama untuk nasib kehidupannya.
"Apa kau sudah tuli sekarang?! kau tidak mendengar aku berbicara?!" geram pria mudah terpancing emosi itu, dia berdiri menatap amarah pada Reno. Kerah kemeja ia raih, menariknya dan seketika Lisa berdiri untuk mencegah. Tapi, tangan Reno digunakan sebagai isyarat untuk melarangnya.
"Kau! kembalikan semua milikku atau semua yang kau miliki akan kuhancurkan sekarang juga!" amarah Johny, mata berkilat-kilat tajam. "Perempuan tidak berguna itu sudah bermain di belakangmu, dia tidur dengan putraku dan memiliki anak dengannya! dan, Kau! kau bahkan sangat menjijikkan dengan meniduri kekasih orang lain sampai dia hamil sekarang! kau memperkosanya!" semakin meninggi nada suara Johny.
Reno menatapnya tajam, tangan mencengkeram kerah kemeja hitamnya, diturunkan kasar. Tidak masalah untuknya dihina sekarang karena luapan emosi, tapi tidak untuk anak dan istrinya. "Jaga bicaramu, sebelum mulutmu kehilangan fungsinya!" geram Reno.
"Cuh!" meludah pria itu dalam ruangan, tepat di samping sepatu mengkilat Reno. "Apa yang bisa kau lakukan padaku?! semua keburukanmu pada putraku akan segera diketahui oleh seluruh dunia ini! kau tidak lebih dari seorang pembunuh dan pemerkosa! sungguh rendah dan menjijikkan!"
"Jilat ludahmu di lantaiku sekarang juga!" geram Reno dalam suara tertahan.
"Sampah!" hina Johny.
"JILAT!" teriak kencang Reno, mendorong kepala tertunduk, lalu ditahan kuat. "Jilat dan telan ludahmu sekarang juga!" ucapnya menekan kalimat.
Johny meronta untuk bangkit, dia tidak suka ketika harus tunduk dan memohon. Semua itu memancing emosinya, terlebih ketika ia tak dihiraukan untuk setiap kalimat terucap. Menekan tengkuk Johny semakin rendah, mengubahnya dengan kaki lalu mendorong sampai wajah terjatuh ke atas lantai. Siapa yang akan bisa menandingi tenaganya, terlebih ketika Tuan muda itu berselimut emosi.
~Follow IG Phi_Cute94~ untuk informasi seputar novel.
__ADS_1