
Setiap wajah Anita di kecup oleh Divya meluapkan kerinduan yang tak lagi terbendung. Harish yang selama ini terkenal keras, mengeluarkan banyak air mata dalam kata sesal terucap.
Berpindah ke ruang tamu dan mengajak putri mereka duduk bersama, kedua tangan Anita di genggam oleh dua orang di samping tubuhnya. Arga dan Reno masih setia menyaksikan air mata kebahagiaan dari ketiganya.
Orang tua tetaplah orang tua, tak akan pernah benar-benar marah dan memiliki keluasan maaf luar biasa. Seperti apa pun anak pernah mengecewakan, anak akan tetap dicintai tanpa pernah berubah.
Begitu pula Anita yang tak memiliki rasa sakit hati, dan justru berterimakasih. Karena dari pengusiran yang dilakukan dalam sikap tegas, ia belajar tentang bagaimana mandiri dan bagaimana cara berjuang dalam kehidupan.
Semua tidaklah indah seperti ketika dirinya meminta dan diberikan tanpa susah payah, ada perjuangan untuk bisa mendapatkan sesuatu. Dan di sana pula Anita menyadari akan banyak hal, jika masih banyak orang yang menganggap harta adalah nilai utama menghormati seseorang.
Meski ada pula ketulusan dari orang-orang yang tak memiliki hubungan darah dengannya. Anita pun menyadari seberapa besar perjuangan orang tua dalam membesarkan anak, dan tak pantas bagi mereka mendapat air mata juga rasa kecewa.
Mereka pantas untuk di bahagiakan, tanpa pernah menimbang akan apa yang sudah diberi atau tidak. Semua bukan tentang materi, tapi tentang kasih sayang yang tak pernah terganti. Tentang waktu dan impian yang rela hilang, hanya demi seorang anak yang menjadi tanggung jawab serta aset paling berharga.
Waktu mengajarkan banyak hal bersama hidup yang tak selalu manis. Kepahitan yang ada pun, bukan sebuah hukuman, tapi sebuah cara untuk pembelajaran diri di mana seorang manusia tak diperbolehkan menyerah dan harus tetap berusaha dengan lebih keras dari sebelumnya.
Reno masih bersama Arga, terpikirkan tentang bagaimana cara Anita dan putranya hidup selama ini. Bagaimana cara Anita menunjukkan senyum dalam kerinduan menyiksa bersama rasa sakit yang tak pernah diungkapkan.
Wanita adalah makhluk paling istimewa, sanggup menunjukkan senyuman meski hati tengah terluka dengan sangat parah. Dia sanggup menghibur dan berkata baik-baik saja dalam sebuah kehancuran. Ingin Reno membahagiakan tanpa pernah mengurai air mata juga menggores luka sekali lagi pada seseorang yang ia cintai.
“Maaf, bisakah berhenti sebentar? Beri saya waktu untuk bicara, karena saya bukan penikmat drama.” Reno menyela, tertawa kecil Anita bersama kedua orang tuanya, dan Arga melirik saja.
“Saya ingin mengatakan, kalau dia yang ada di antara kalian adalah orang yang sudah membuat saya gila. Jadi, kalau kalian tidak ingin melihat seorang pengusaha tampan dan kaya raya ini gila, biarkan saya menikahinya hari ini juga. Saya tidak menyukai penolakan,” susulnya.
“Begitu cara melamar?” gumam Arga, terdengar telinga papanya.
“Ini harus kamu pelajari, jangan menunjukkan kalau kamu sangat membutuhkan seseorang. Atau kamu akan diinjak-injak,” bisik Reno.
“Bukankah, kalimat papa sudah menunjukkan kalau sangat membutuhkan?” santai Arga, diinjak kakinya cepat.
__ADS_1
“Diam saja!” protes Reno.
“Ma, lihatlah ini. Aku diinjak,” adu bocah tengah mengangkat satu kaki kanan.
“Apa mama akan menikah dengannya? Bisa-bisa aku di rebus nanti,” kata Arga lagi.
“He! Dasar anak menjengkelkan! Apa seperti itu caramu membantu orang tua?! Papa sudah berusaha dengan baik, tapi kamu menghancurkannya!” protes Reno menarik putranya duduk.
Anita tersenyum lebar, pertengkaran dari dua orang di depannya terlihat menyenangkan. “Kemarilah, Sayang.” Anita mengarahkan satu tangan kanan. Arga dan Reno berdiri bersamaan.
“Aku! Sayang, itu papa! Bukan kamu!” kata Reno.
“Aku, Pa!” tak ingin kalah Arga.
Keduanya berdebat tentang siapa yang dipanggil sayang, namun tawa dari Anita bersama Harish dan Divya semakin lebar. Ya, sempat terkejut juga karena melihat Tuan muda angkuh itu bisa bersikap layaknya anak kecil.
“Sudah, kamu jadi melamarku tidak?” kata Anita menghentikan perdebatan.
"Duduk!” katanya pada Arga.
Seketika lenyap semua kata dalam benak, reno bingung harus mengatakan apa. Tampak berpikir, namun tak sanggup untuk mengumpulkan semua yang telah buyar dari benaknya sendiri. “Ah, sudahlah!” menggeleng Reno, malas untuk berpikir lebih lama.
“Jadi, bagaimana? Apa boleh menikah?” tanyanya langsung. “Aku sudah bilang, tidak menyukai penolakan!”
“Kamu sedang melamar, apa menggertak orang?!” terdengar suara dari arah pintu, semua menatap.
“Ah, kenapa mereka kemari?” malas Reno.
“Aku yang menghubungi. Bukankah lamaran harus ada dua keluarga?” sahut Arga.
__ADS_1
“Ya! Tepat waktu!” kata Reno lirik namun menekan.
Semua saling memeluk, memberi sapaan satu sama lain. Arga memang menghubungi, meminta untuk kakek dan neneknya datang juga. Kesempatan tak akan datang kedua kali, kapan lagi momen kebersamaan bisa tercipta tanpa kesibukan yang dia sendiri mengabaikan hari ini.
Sendirinya pun ingin untuk kedua orang tuanya segera melangsungkan pernikahan, agar keluarga kecil didambakan segera terwujud. Reno jelas tak mengetahui tentang rencana putranya, dia langsung menciut tatkala melihat kedua orang tuanya—terutama sang mama yang begitu membenci keangkuhannya.
"Ulangi lagi!" kata Maira begitu ia duduk, mengisyaratkan mata pada putranya.
"Apanya?" tanya Reno malas.
"Lamarannya, ulangi sekali lagi dengan bahasa yang baik dan benar. Tunjukkan seberapa serius papa untuk menikahi mama," terang Arga.
"Aku hanya berpura-pura bodoh, kenapa kamu jelaskan?!" bisik Reno, sejujurnya tahu apa dimaksud. Hanya saja ia tak suka mengulangi hal sama berulang kali.
"Anak sama papa, kenapa jadi lebih pintar anaknya?" goda Bobby.
Reno memajukan bibir sempurna, dia menarik napas dalam lalu membuang kasar. Ah, sungguh menyebalkan harus mengulangi hal sama sekali lagi. Itu bukanlah gayanya sama sekali. Tapi kali ini, harus diberi toleransi.
"Anita, saya tahu kalau saya bukan laki-laki yang baik. Tapi, kamu juga harus melihat seperti apa wajah saya dan tubuh saya yang indah. Kamu juga harus melihat seberapa berkuasanya saya, jadi pertimbangkan hal itu sebelum menolak saya. Anita, saya mencintaimu dan ingin membangun rumah tangga denganmu. Apa kamu bersedia?" ucap Reno panjang lebar, menahan tawa semua di ruang tamu.
"Ya! saya menerimanya, karena saya juga mencintaimu! hanya itu jawaban yang harus kamu katakan!" kata Reno mengeratkan gigi dengan peringatan.
"Hahaha, kamu melamar tapi seperti orang mau membunuh saja." Anita terbahak lepas.
"Jawab saja! apa susahnya?!" kata Reno, tak suka menunggu.
Maira bergumam tanpa henti, memaki putranya dalam hati bersama sang suami yang juga melakukan hal sama. Arga sendiri ingin terbahak, tapi itulah papanya dengan keangkuhan dan sikap tak sabaran yang ia kenal.
"Aku hitung sampai satu!" geram Reno tetap dengan gigi mengerat.
__ADS_1
Yang lupa like bagian atas, scroll lagi ya.