My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Ketulusan Reno


__ADS_3

Menunggu beberapa saat sampai makanan dihidangkan Reno di ruang makan, lelaki itu tampak tersenyum lebar dengan kebangsaan tersirat ketika meletakkan piring berisi tumis baru saja ia buat. Arga saling tatap bersama mamanya, jelas keraguan di antara mereka ditunjukkan.


"Makan! apa lagi yang kamu tunggu?!" tegas Reno pada putranya, duduk di sampingnya mengapit bersama sang istri.


Arga menoleh, senyum terpasang paksa sembari meraih garpu sudah dipersiapkan untuknya. "Papa yakin, ini bisa di makan?" ragu Arga berbicara.


"Tentu saja! papa adalah orang yang bisa melakukan apa pun tanpa kegagalan! rasakan saja, ini pasti sangat nikmat di banding masakan koki terkenal dunia!" bangga Reno.


Arga menelan saliva, dia mengalihkan pandangan pada tumis di depannya. Terdapat beberapa warna hitam kecil-kecil, jelas itu adalah bawang yang tadi sempat tercium bau gosong. Mengambil sedikit untuk ia masukkan dalam mulut, tapi diraih cepat oleh Anita dan menggeser piring ke depannya.


"Biar mama duku yang coba," ucapnya.


"Enak saja! buat sendiri sana! aku membuatkan khusus untuk putraku!" tarik Reno pada piring serta garpu.


"Aku harus mencobanya lebih dulu sebelum putraku, aku tidak ingin dia keracunan makanan dan masuk rumah sakit." Anita berusaha menarik piring masih ditahan tangan suaminya.


"Kamu pikir aku papa yang gila, akan meracuni putranya sendiri?! masak sendiri, jangan makan masakan ku!" tak ingin kalah Reno. "Enak saja tinggal makan!" gerutunya menambahkan.


"Baguslah, aku masih terselamatkan dari rumah sakit." Anita berbicara sangat lirih memalingkan wajah, sehingga tak terdengar apa dikatakan.


Reno memegang garpu dan menyuapi putranya, wajah tampak meyakinkan tak bisa dikecewakan oleh bocah yang menurut untuk mulut dimasukkan makanan. Seketika wajah berubah ekspresi, rasa masakan itu benar-benar sangat parah. Arga meraih segelas air putih untuk mendorong sampai ke tenggorokan, walau begitu ingin memuntahkan.


"Kamu baik-baik saja? apa mual? sakit perut?" tanya Anita beruntun.

__ADS_1


"Ka—kamu sakit perut?" timpal Reno mulai cemas.


"Sekarang giliranku menyuapi papa, oke?" ucap Arga tanpa menjawab pertanyaan. Kilat keraguan dipancarkan oleh Anita, mengamati tangan sang anak yang mengambilkan makanan.


Reno berubah tak yakin dengan apa sudah dibuat, tapi menerima suapan dari putranya. Tak terhitung sampai detik berjalan, makanan baru saja masuk itu langsung dikeluarkan, dan Reno kelimpungan mencari air minum. "Ini makanan apa sampah sebenarnya?!" ucapnya setelah meneguk air putih sampai habis satu gelas.


"Hahaha, bukankah itu masakanmu sendiri?" ledek Anita.


"Jangan di makan! kamu bisa meninggal nanti! masakan sudah seperi campuran sampah!" kata Reno menyingkirkan piring di depan putranya.


"Papa sudah membuatkan ini untukku, tidak sopan kalau aku tidak memakannya." Arga menarik kembali piring, menyantap dengan cepat masakan dari lelaki masih coba mencegah. Anita memercingkan wajah, kasihan juga bangga terselip bersamaan.


Kasihan ketika putranya harus makan makanan yang entah seperti apa hancur dari rasanya, bangga akan anak yang bisa menghargai kerja keras orang lain. Reno pun menunjukkan ekspresi sama, lalu ia meraih garpu dan melahap bersama putranya.


Tapi, itu justru membuat Anita bahagia, karena suaminya tak sama seperti lelaki yang dulu begitu angkuh dan hanya tahu marah-marah saja. Kasih sayang terhadap Arga ditunjukkan sangat nyata, tanpa sedikit pun ada celah untuk putra mereka mengeluh akan kurangnya kasih sayang.


Satu piring mereka habiskan cepat, lalu meneguk air putih satu gelas penuh yang dituangkan lagi oleh Anita. Mendorong piring kosong bersamaan, rasanya tak ingin lagi menatap atau bahkan mencium aroma tertinggal. "Ah, ini benar-benar sangat hancur!" batin Reno, mengusap perut tiba-tiba terasa mulas.


Lelaki itu berdiri mendorong kursi, berlari kencang menuju kamar mandi. Perut terasa di aduk sekarang ini, tak sanggup untuknya menahan lagi. Anita dan Arga terheran, lalu tersenyum bersama. Ya, lelaki itu keracunan masakan sendiri, tapi tidak dengan Arga yang terbiasa makan apa saja dari masa hidupnya susah.


"Kamu tidak sakit?" tanya Anita menatap wajah putranya.


"Tidak, Ma. Masakannya memang tidak enak, tapi ketulusan papa yang terpenting dan membuatnya bisa dinikmati." Arga tersenyum. "Papa sudah berusaha dengan baik, tidak semua harus berhasil di awal kan, Ma?" timpalnya.

__ADS_1


Anita tersenyum dalam mata berkaca-kaca, mengusap lembut sisi wajah putranya. "Mama bangga memiliki anak sepertimu."


Didikan Anita terhadapnya diingat sangat jelas, jika tak semua bisa langsung berhasil dalam satu kali percobaan. Banyak hal harus dilalui untuk menuju sebuah keberhasilan, proses yang pasti akan selalu dikenang sampai nanti lanjut usia.


Mungkin beberapa orang hanya akan peduli dengan hasilnya saja, tapi seseorang yang tahu bagaimana itu perjuangan, tak akan pernah hanya melihat hasil semata sebagai tolak ukur kegagalan atau keberhasilan.


Kala Reno sedang bolak balik ke kamar mandi, Anita justru berbincang dengan putranya di ruang makan. Meminta dengan sangat lembut agar sang anak mau menceritakan banyak hal tanpa pernah memendam, ia tetaplah anak kecil meski seberapa cerdas otaknya. Tak ada orang yang bisa untuk benar-benar sendiri, semua membutuhkan orang lain.


***


Tidak lama keduanya berbincang, Reno kembali dengan wajah lemas memegangi perutnya. Duduk terkapar di atas sofa ruang tengah, dihampiri oleh Anita dengan membawa obat di tangan. Arga lebih dulu mendekati papanya, lelaki itu memejamkan kedua mata dengan kedua kaki lurus di atas lantai. "Perutku, rasanya seperti orang akan mati." Reno berucap, terdengar seperti orang baru saja mengeluarkan tenaga besar.


"Minumlah ini," ucap Anita, berdiri menyerahkan obat pada suaminya. Tak bertanya dan langsung mengambil lalu meneguk minum, Reno tak mencurigai untuk sang istri melakukan kesalahan. Itu memang obat sakit perut, yang akan meredakan rasa tak nyaman dirasakan oleh Reno.


Anita duduk meraih tubuh suaminya untuk berbaring di atas pangkuan, membelai rambut ke atas dan mengusap perut Reno yang masih dipegang. "Perlu aku panggilkan dokter?" tanya Anita, dijawab gelengan kepala.


"Seperti ini saja," ucapnya mengubah posisi dan memeluk sang istri, menyusupkan wajah pada perut.


"Terima kasih banyak, Pa. Arga sangat menyayangi papa," batin bocah tetap menatap papanya. Namun, seperti tak cukup hanya dengan berterima kasih saja, melihat seperti apa perjuangan dari lelaki itu membuatnya bahagia dan mengorbankan diri tanpa peduli akan apa terjadi padanya nanti.


**Ada yang berminat buat ikutan PO buku BRANDON kah? kalau ada, silakan DM ya (Phi_Cute94). Harga tidak sampai 100.000, diusahakan untuk dibawahnya. Tapi, harta juga tergantung dari total kata ya, kalau lebih murah berarti total kata tidak terlalu banyak.** PO Ditunggu Sampai Hari Senin ya. Karena banyak mengandung adegan vulgar, diharapkan yang udah nikah aja yang beli. Udah diingetin ya, kalau maksa terus coba-coba ya tanggung sendiri dosanya.


Tidak terbit di online, karena sadistis sudah dilarang, dan novel itu mengandung unsur sadis dan bab dewasa. Sebenarnya novel Cinta Dalam Kebencian yang sudah terbit disini juga harus direvisi, tapi saya malas buat revisi(beban terberat itu).

__ADS_1


__ADS_2