My Smart Baby Boy

My Smart Baby Boy
Jadilah Seperti Papa


__ADS_3

...Pagi hari sekitar pukul delapan......


Reno menuruni anak tangga, meregangkan otot-otot tubuhnya dengan kedua tangan ia angkat ke atas. Hanya mengenakan celana pendek hitam serta kaos oblong senada, lelaki itu turun seorang diri tanpa sang istri.


Sudah ada Lisa juga Arga di ruang tengah, Reno menghampiri kedua orang yang langsung menghentikan pembicaraan begitu lelaki dengan rambut terarah ke belakang itu tiba. "Selamat pagi, Tuan." Lisa menyapa lebih dulu, anggukan lirih diberikan oleh Reno sebagai jawaban dan langsung duduk di samping putranya.


"Di mana mama?" tanya Arga, melihat ke arah anak tangga.


"Masih tidur," santai Reno sembari meraih sebuah dokumen dari tangan sekretarisnya.


"Tidak biasanya ... mama kelelahan?" tanya Arga, seketika menoleh Reno.


"He! kenapa kamu bertanya seperti itu?!" tegas Reno langsung.


"Apa yang salah? wajar kalau mama kelelahan, kemarin acaranya juga sampai malam. Mama juga membantu untuk persiapannya," terang Arga, tertawa Reno akan pemikiran bodohnya.


Reno tak berpikir ke arah sana, langsung saja ia menangkap hal lain atas perkataan lelah dari putranya. Lisa tersenyum menundukkan kepala, seakan ia tahu kesalahpahaman dari Tuannya itu. Arga menyipitkan kedua mata, memajukan kepala dan mengamati lekat leher papanya. Merasa aneh, Reno pun menjauhkan tubuh ke samping kiri. "Apa?!"


"Leher papa merah," ucap Arga seraya menyentuh leher papanya dengan telunjuk. "Bukan nyamuk," gumam Arga.


Reno mengernyitkan kedua alis, meraba sisi lehernya sendiri. Beralih untuk menatap Lisa, bertanya melalui sorot matanya. Lisa membungkuk dan seketika tersenyum, begitu melihat warna merah yang dimaksudkan oleh putra bosnya.


Ponsel diraih oleh Lisa dari saku blazer putih yang ia kenakan, menyalakan kamera dan menunjukkan pada Tuannya. Bukan kurang ajar, hanya saja tak mungkin ia mengatakan langsung. Reno melihat pada layar ponsel dengan kamera depan aktif, ia menyeringai dan mengusap kembali leher.


Arga tak memahami arti dari senyuman dengan wajah bersemu merah itu, memilih untuk tak bertanya dan mengambil laptop untuk memeriksa perkembangan gamenya juga game dari perusahaan yang menjadi tanggung jawabnya.

__ADS_1


"Berikan laporan perusahaan siang ini! terutama tentang selisih yang kau temukan kemarin!" perintahnya pada Lisa, memberikan dokumen baru saja ia pelajari dan tandatangani.


"Baik, Tuan. Saya sudah mengumpulkan beberapa datanya," sahut Lisa. "Kalau begitu, saya permisi dulu."


Tak ada jawaban selain anggukan kepala dari lelaki berwajah angkuh nan dingin itu. Lisa meninggalkan kediaman Reno, berpamitan pada ayah dan anak tetap berada di sofa ruang tengah berdampingan.


Reno menutup paksa laptop di atas pangkuan putranya, tersenyum tanpa dosa ketika Arga menoleh dalam raut wajah kesal. "Ambilkan pena dan kertas di ruang kerja," ucap Reno tetap menyeringai tanpa rasa bersalah.


Arga mendengus kesal, tanpa kata langsung berdiri dan berjalan ke ruang kerja dengan terpaksa. "Dasar pemarah, siapa yang dia contoh sebenarnya? mama dan papanya sangat lemah lembut, tapi dia? sulit dipercaya," kata Reno mengamati setiap langkah tak ikhlas putranya sembari menggelengkan kepala. "Wataknya sangat buruk!"


"Harusnya, dia mencontoh papanya. Penyayang, lembut, baik hati, perhatian, tampan, lugu, dan tentunya kaya raya. Pastinya juga rajin menabung anak," gumam Reno. "Ah, tapi bagian belakang lebih baik tidak. Aku yang akan kesusahan nanti!"


Reno mengomel sendiri, menilai seperti apa putranya yang dianggap pemarah. Sampai Arga kembali dan menyodorkan kertas juga pena ke arahnya, tatapan serta hatinya masih saja membandingkan Arga dengan dirinya yang tak henti dianggap sangat baik, tak ubahnya malaikat.


Arga sudah malas, kehilangan moodnya dan berniat pergi. Tapi dihentikan oleh Reno dan memaksanya duduk, menatap dengan sorot peringatan tegas. Lagi-lagi, Arga mendengus kesal lalu melipat tangan pada dada.


"Ini! baca semua dan lakukan!" katanya tegas, meletakkan kertas pada pangkuan putranya.


Malas Arga untuk melakukan apa diminta, sampai papanya menarik tangan dan memindahkan kertas pada tangan sembari mengomel sendiri. Setiap kata tertulis dengan nomor-nomor berurutan, dibaca oleh Arga lalu menoleh pada sang papa yang tengah meneguk kopi sudah dipersiapkan pelayan begitu melihatnya turun tadi.


"Papa yakin?" tanya Arga, kedua alis Reno terangkat, bibir masih menyeruput kopi hitam kesukaan. "Untuk apa semua ini?"


"Tuliskan juga apa yang kamu inginkan. Bukankah, waktu kita menandatangani surat kerja sama, kamu bilang akan mengatakan permintaanmu nanti? tuliskan sekarang," kata Reno sembari meletakkan cangkir ke atas meja.


Bocah berkaos biru tua itu memperhatikan papanya, namun justru isyarat untuk dirinya mulai menulis diberikan. Hari ini adalah kehidupan baru untuk mereka bertiga, Reno menuliskan banyak hal yang ingin dilakukan bersama putranya dan tentu dengan tulisan kapital tanpa protes.

__ADS_1


Bermain futsal, menonton TV, bermain game, jalan-jalan dan banyak hal lain yang biasanya dilakukan ayah dan anak laki-lakinya, dituliskan oleh Reno. Ada hal lain yang belum ia tuliskan walau sangat ingin, yaitu mengantar putranya ke sekolah dan menghadiri rapat orang tua. Itu keinginan sederhana yang tak sanggup ia ungkapkan melalui kata atau tulisan sekarang.


"Sudah," ucap Arga mengembalikan kertas juga pena. Reno meraih, dibaca hanya ada satu kata saja tertulis. Keluarga, hanya itu yang dituliskan oleh bocah yang memang sangat iri dengan orang lain yang memiliki keluarga.


"Hanya ini? kamu tidak ingin yang lain?" lembut Reno.


"Tidak. Aku bisa mencari harta, tapi aku tidak bisa mencari keluarga. Aku harap, papa memenuhi permintaanku tanpa syarat." Arga menoleh.


"Ah, dasar anak sombong!" ucap Reno bersama bulir air mata keluar lalu memeluk putranya. "Papa akan melakukan yang terbaik."


Arga membalas pelukan itu, dia tersenyum dengan doa serta harapan terucap dari lubuk hati terdalam, tentang keluarga yang ia harapkan. Entah mengapa Reno begitu mudah tersentuh, dan sering terlihat rapuh semenjak kehadiran Arga juga Anita. Ketakutan dalam diri pun terbangun sempurna, akan dirinya yang mungkin tanpa sengaja menyakiti kembali.


Terus saja berkata pada dirinya, untuk bisa melakukan apa yang terbaik dari semua yang terbaik untuk istri dan anaknya. Namun, tetaplah ia seorang manusia biasa, di mana kekuasaan dan harta tak sanggup mengatur Tuhan dengan segala jalan tertulis untuknya. Akan tetapi, ia masih selalu berharap pada Sang Pengatur Kehidupan, untuk membuatnya tak pernah menggoreskan luka sekali lagi.


"Bisakah, kamu menjadi seperti papa? sekali saja?" tanya Reno, masih tetap memeluk putranya.


"Maksudnya?" tak paham Arga.


"Jadilah lemah lembut seperti papa, jangan suka marah-marah. Itu tidak baik untukmu!" ucap Reno dan seketika pelukan dilepaskan oleh Arga. Tertawa ia mendengar kalimat yang begitu lucu, kepalan tangan lirih diberikan Reno pada lengan.


"Kenapa?! apanya yang lucu?!" kesal Reno. "Kamu harus bisa mencontoh papa, meskipun hanya sedikit." timpal Reno, semakin kencang tawa Arga terdengar. Reno berdesis, seperti biasa ketika ia tak sanggup marah. "Menjengkelkan!" gerutunya.


**Jangan lupa like, komentar dan vote.


...⬇️⬇️⬇️ B A C A_D U L U ⬇️⬇️⬇️**...

__ADS_1


...👉Kelanjutan Novel "Brandon" dan Novel "Dimas Rena" bisa cek IG Phi_Cute94. Sudah up 2 untuk Dimas, sudah up 41 untuk Brandon.👈...


__ADS_2