
Sandra yang baru bangun dari tidurnya dikejutkan dengan suara ayah yang memanggilnya dibalik pintu kamar. Langsung saja dia bergegas membuka pintu guna melihat pria kesayangannya itu yang sudah pulang dari perantauannya.
"ayahhhhh"
Teriak Sandra ketika melihat ayah berdiri di depannya. Langsung saja dia memeluk pria yang sudah berumur setengah abad itu dengan erat. Jujur semalam dia begitu khawatir dengan keadaan ayahnya. Dia merasa jika sang ayah sedang dalam kesusahan. Namun ternyata dia salah, buktinya ayah sudah kembali ke rumah dengan selamat.
"hahah, anak ayah sudah besar. Bukan lagi anak kecil lima tahun yang suka digendong"
Ujar ayah membalas pelukan Sandra
"tapi ayah, Sandra juga anak kecil jika dengan ayah"
Sandra belum melepas pelukannya. Jika saja dia tidak ditegur ibunya, mungkin dia akan terus memeluk ayahnya seharian.
"Aduhhh ayah masih lelah kok sudah dipeluk, sudah sana-sana, makan dulu kemudian mandi"
Ujar ibuk sambil mengandeng tangan ayah menuju meja makan.
"ahhh ibukk"
Rengek Sandra kesal.
Pak Hamid hanya tertawa ketika melihat raut wajah kesal dari putrinya itu. Dia tidak menyangka jika waktu telah berlalu begitu cepat. Anak kecil yang dulunya sering merasa takut jika ditinggal sendirian sekarang sudah dewasa. Dia begitu bersyukur karena Sandra sudah bisa melewati hari-harinya dengan baik.
Sepintas pak Hamid melihat bayangan lewat kaca jendela yang langsung mengarah ke kebun belakang. Sesosok pemuda sedang duduk di batang pohon sambil memperhatikan keluarga Sandra dari jauh. Melihat hal itu pak Hamid tersenyum simpul. Tapi kemudian senyum itu menghilang ketika dia mulai mengingat sesuatu.
"sandraa jangan lupa baca mantraaaa"
Teriak pak Hamid sambil berjalan di depan kamar Sandra.
"yaaahh? Di kamar mandi?"
Sandra tak habis pikir dengan ayahnya yang menyuruh membaca pelindung di dalam kamar mandi.
"sudah baca saja"
Pak Hamid kembali ke meja makan sambil membalas tatapan penasaran dari istrinya dengan senyuman. Sekilas dia melihat ke arah pohon tempat Dre duduk. Ternyata pemuda itu masih di tempatnya. Namun tatapannya beralih ke arah pak Hamid.
"mari makan buk"
__ADS_1
Ucap pak Hamid yang tidak mengubris Dreanda yang menatapnya dari tadi.
*******
"hari ini jadwal aku padat banget"
Ujar Mira sambil menyesap jus mangga di depannya.
" lah, perasaan dari dulu juga begitu"
Sahut Sandra sambil memakan bubur ayam.
"enggak say, kali ini sedikit berbeda. Kau kenal kan pak Hendra pemilik toko tempat aku kerja?"
"iyaa, emang kenapa?"
Tanya Sandra penasaran.
"nah lusa dia mau adakan pesta pernikahannya, aku sama anak-anak disuruh siapkan berbagai macam kue penutup untuk para tamunya"
Ujar Mira sambil tertawa.
Sandra tampak terkejut mendengar kabar dari Mira.
"kan udah cerai bulan lalu"
Mira terlihat biasa saja mengatakan hal itu.
"hah? Secepat itu?"
"yaa kan orang kaya, siapapun juga mau sama dia. Walaupun sudah tua begitu"
Mira kembali menyesap jus mangganya yang mulai habis.
"katanya juga sih, calonnya itu anak kuliahan. Bayangkan say dia nikah seumuran anaknya"
Kali ini Sandra benar-benar terkejut mendengar ucapan Mira. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa pernikahan pak Hendra.
"hahah, santai aja lah. Banyak kok yang kayak gitu"
__ADS_1
Mira tertawa ketika melihat wajah terkejut Sandra yang kelihatan lucu.
Sandra tiba-tiba saja langsung menatap Mira yang sedari tadi tertawa. Dia terlihat berpikir sesuatu. Mira yang ditatap begitu merasa sedikit risih dan mulai menunjukkan kemarahannya.
"apaan sih San?"
"ohh jangan-jangan kamu juga mau yaa nikah sama pak Hendra?"
Tanya Sandra sambil menyeringai
"ehh enak aja, ogah aku sama aki-aki. Lagian ya begini-begini aku masih demen sama yang namanya brondong"
Ujar Mira sambil menaikkan sebelah kakinya ke atas bangku. Khas gaya pemuda.
"ya juga sih yaa, kalau sama Mahesa?"
Tanya Sandra kembali. Mahesa adalah anak pak Hendra yang sesekali juga bekerja di toko kue bersama Mira.
Mendengar nama Mahesa, langsung saja Mira menurunkan kakinya dan mulai duduk santun seperti cewek-cewek kebanyakan. Seperti nama itu membuat dia sadar akan kodratnya sebagai perempuan.
"kalau itu sih, lain lagi ceritanya. Jadi yang kedua aja aku pun mau"
Mira berkata sambil melirik kiri-kanan. Takut jika perkataannya di dengar orang.
"hahahaha, parah sih kamu"
Sandra tertawa lepas mendengar ucapan Mira barusan. Tentu saja dengan nama Mahesa, seorang Mira dapat dibuat luluh dengan mudahnya. Sandra yakin jika suatu saat sahabatnya itu pasti akan mendapatkan cinta pertamanya itu.
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa